Story Ferina

Story Ferina
Bab 12



Tama terdiam. Dia tahu cewek itu memendam perasaan terhadap’y.


“Maaf, Fer. Gue nggak bermaksud bikin lo marah.” Tama membelai rambut Ferina lembut. “Lo jangan nangis lagi, ya, kita lanjutin perjalanan. Bentar lagi nyampe kok.”


Ferina mengusap air mata’y, kemudian mengangguk. “Gue juga minta maaf.” Kata’y kemudian.


Tama melihat Ferina sudah tenang. Dia pun mengemudi dengan santai. Dia takut cewek di samping’y akan meninggalkan’y.


Ferina menatap langit senja yang mulai memerah dan lampu2 jalan yang berpijar.


Ferina tidak melontarkan satu patah kata pun sampai Tama memarkir mobil’y di tanah lapang. Ternyata Ferina tertidur lelap. Ditatap’y cewek itu lamaaa… sekali. Hanya dalam hitungan hari cewek itu telah membuat’y rindu setengah mati.


“Fer… Ferina.” Tama menepuk-nepuk bahu Ferina.


“Ferina…” Tama memanggil lembut. “Ferinandraaaa.”


Ferina tersentak. “Hmmmmh…” dia menggeliat dan kembali tertidur.


“Kita udah nyampe, Fer.” Tama membelai rambut Ferina.


“Ngg…? Nyampe? Nyampe mana?” Ferina berusaha duduk tegak.


“Kita udah nyampe Parangtritis lagi nih!” kata Tama sambil mengambil jaket di jok belakang, jaket yang dulu di berikan Ferina untuk’y. Kemudian dia menyodorkan tas kertas ke pangkuan Ferina.


Mereka sudah tiba di pantai yang pernah didatangi’y sebelum’y bersama Tama.


“Ini apa?” Tanya Ferina sambil membuka kantong kertas itu.


“Buat lo, Fer. Soal’y di sini dingin banget. Inget, kan?” jelas’y. “Dan gue nggak mau lo masuk angin trus sakit.”


Ferina menarik sweter hijau lembut yang sangat manis dari dalam kantong kertas. “Wow… Bagus banget…”


“Makasih, ya.” Kata’y sambil mengenakan sweter.


Ferina kembali memandangi pantai. Dari sini lautan terlihat jauh lebih indah dan menenangkan.


Tama mengenakan jaket pemberian Ferina, lalu mengajak’y keluar mobil.


Tama heran Ferina tahu. “Benar.” Jawab’y singkat.


Mereka pasti jauh lebih dekat daripada yang disangka’y.


Tama menggenggam tangan Ferina, mengajak Ferina mendekat pantai. Hanya ada mereka dan ombak.


Mereka melangkah dalam diam. Tama duduk di pasir dan Ferina mengikuti dalam diam.


“Jangan pernah tinggalin gue kayak begitu lagi.” Ferina memecah keheningan.


Ferina teringat sekilas bayangan Faren yang mengatakan hal senada kepada’y.


“Gue memang mau minta maaf soal itu.” Kata Tama sungguh2. “Maaf, gue udah bikin lo marah. Bikin lo kecewa.”


Dan untuk itulah kita di sini, Ferina berkata dalam hati.


“Maaf.” Ulang Tama. “Waktu itu gue kalut. Ngeliat Tiffany seperti itu, bikin gue nggak bisa ninggalin dia. Gue serbasalah, dan gue terdesak oleh pilihan. Gue sadar Tiffany tanggung jawab gue, jadi…”


Lo memilih Tiffany, di dalam hati Ferina melanjutkan kata2 yang tak sanggup diutarakn cowok itu. Persaan’y kembali sesak.


“Tanggung jawab?” Ferina bertanya pelan.


“Benar, Tiffany memang bukan pacar gue, tapi apa pun yang terjadi pada’y, gue nggak bisa mengabaikan’y, karena…


“Udah! Lo jangan terbelit-belit! Nggak usah pake ucapan2 klise segala! Nggak usah merangkai kata indah kayak pujangga buat sekadar ngomongin ini!” akhir’y Ferina meledak juga.


“KALAU LO PENGIN CERITAIN KISAH INDAH LO SAMA TIFFANY, APA PUN TUJUAN LO, LANGSUNG AJA! GUE DENGERIN! BIAR LO PUAS! BIAR LO Senang!” bentak Ferina seraya bangkit berdiri.


“Fer…?” kata Tama seraya meraih tangan’y.


“UDAH!!” Ferina merenggut tangan’y dan berlari menuju ombak.


Tama bangkit berdiri dan berlari menyusul’y. “TAPI INI BUKAN TENTANG GUE DAN TIFFANY, FER!” seru’y.


“LALU SIAPA LAGI?” Ferina nggak mau kalah.