Story Ferina

Story Ferina
Bab 2



Selanjutnya.....


“Trus kenapa…” suara cowok itu terdengar putus asa.


“Sebenar’y gue nggak pengin ada yang tahu keberadaan gue. Lo satu2’y yang gue kasih tahu, lo ngerti, kan?”


“Trus gimana dengan An…”


“Jangan sebut nama dia lagi!”


“Lo sebenar’y ada apa sih sama dia?! Bukan’y hubungan kalian baik2 aja? Atau sebenar’y memang ada masalah? Lo kenapa sih, Fer? Selama ini kalau lo ada masalah sama dia, lo selalu cerita ke gue. Lo bener2 bikin gue nggak ngerti.”


“Yang jelas, Nda, gue nggak bisa bernapas kalau masih di sana. Apalagi nyokap gue, ini semata gue lakukan demi nyokap gue!”


“Sekalian lo lari dari masalah lo, kan?” tuding Yanda.


“Mau gimana lagi? Gue juga merasa lebih nyaman di sini. Gue pengin membuka lembaran baru hidup gue. Gue sadar kok, semua orang bilang gue berubah, dan gue rasa, di sini gue bisa jadi diri gue sendiri.”


“…”


“Nda, lo tahu kan, yang gue alamin itu berat banget? Gue terlalu lemah untuk menerima semua itu. Gue nggak sanggup, Nda. Gue pengin terbebas, gue pengin lupain masa lalu.” Ujar Ferina.


“Fer, maafin gue ya… seharus’y gue lebih ngertiin elo, sebagai sahabat gue emang egois, gue marasa gagal…”


“Lo nggak salah kok. Bagi gue, sebagai sahabat elo udah melakukan yang terbaik.”


“Thanks. Fer, gue harap lo nemuin apa yang lo cari di sana. Gue harap lo bahagia, tapi jangan pernah lo lupain gue. Ntar kalau gue ke Jogja, lo mau kan, ketemu gue?”


“Sip banget, Nda. Lo selama’y tetap sahabat gue. Udah dulu, ya…”


Ferina memutuskan telepon dan terdiam.


Zrrrt… zrrrt…


Getaran ponsel mengejutkan Ferina dari isakan’y.


“Lo nggak nangis kan, Fer?” Tanya Yanda.


“Nggak kok.” Dusta Ferina.


“Nggak perlu bohong, Fer. Lo bikin gue khawatir.”


“Gue nggak pa2, Nda. Gue baik2 aja.”


“Lo nggak baik2 aja. Gue tahu ini berat banget buat lo. Walapupun selama ini gue mengenal lo sebagai cewek yang tegar, ceria, dan… agak jail.” Cowok itu tersenyum hampa. “Kalau saja gue bisa selalu ada buat bantu lo...”


“Lo nggak perlu merasa bersalah gitu. Di sini gue akan mengembalikan semua itu. Semua kebahagiaan yang sempat hilang dan jati diri gue yang seakan tenggelam. Semua itu akan lebih baik kalau gue di sini.”


“Gue senang dengar’y, Fer. Itu baru lo banget. Ya udah, lo tidur ya… gue nggak pengin lo sakit.”


“Makasih ya, Nda. Lo perhatian banget sama gue.”


“Makasih juga karena lo masih menganggap gue sahabat terbaik lo.”


“Pasti, nggak ada yang bisa menggantikan itu.” Sahut Ferina.


Ferina terisak semakin dalam sambil menyembunyikan wajah di antara lutut.


Malam itu pun dia kembali menumpahkan kekecewaan’y, sama seperti malam2 sebelum’y. Namun Ferina berjanji, ini terakhir kali dia melakukan’y.


***


Pada Minggu pagi yang sangat cerah itu, Ferina terbangun dan meregangkan otot2’y yang kaku sehabis terbaring semalaman di sofa. Dia terlalu lelah karena menangis.


Dia mencuci muka di wastafel dan bercermin. Mata’y tampak sembap. Dia pun masuk ke kamar mandi.


Setelah itu dia beranjak ke dapur, dan melihat Mama sudah asyik dengan kesibukan pagi’y.


“Bikin apa sih, Ma?”


“Kue tart. Ambil telur di kulkas, Sayang.” Ujar Mama sambil menimbang tepung.


“Berapa?” Tanya Ferina.


Ferina memperhatikan tangan terampil mama’y saat mengolah adonan.


Ferina memperhatikan mama’y yang sangat tenang tanpa beban.


“… if tomorrow never comes…” Ferina bersenandung.


“Nah, sekarang kita sarapan yuk. Mama udah masak nasi goreng spesial kesukaan kita.” Ajak Wulan penuh semangat.


“Oh ya?!” ujar Ferina senang.


Ferina mengambil piring dan menjangkau mangkuk nasi goreng yang kaya dengan beragam variasi.


“Hmmm… lezaaat.” Decak Ferina puas. “Masakan Mama enak terus Numero uno deh!” ujar’y. “Kata orang2 di TV, two thumbs up!”


Wulan tersenyum kecil melihat kelakuan putri’y.


“Ferina jadi pengin belajar masak, jadi pintar kayak Mama, biar nanti bisa buka toko kue kayak Cake Resort, waaah!” tanpa sadar Ferina sudah berkhayal jauh sekali.


“Hei, habisin makan’y dulu.” Tegur Wulan.


“Oh ya, omong2, Cake Resort Mama yang di Semarang nggak tutup, kan?”


“Ya nggak dong, toko kita kan udah banyak pelanggan’y, sayang kalau bikin mereka kecewa. Kan ada Oom Surya dan Tanta Arini yang ngawasin di sana.” Jelas Wulan. “Jadi cerita’y, Mama mau coba buka cabang di sini. Oom Surya udah cariin tempat yang bagus buat Mama. Toko kita kan sudah cukup di kenal, jadi rasa’y kita tidak perlu memulai dari nol. Mudah2an semua berjalan lancar sesuai rencana.”


“Amin…” kata Ferina sungguh2.


Cake Resort adalah toko kue Wulan yang sudah dirintis sejak lama dan sukses.


Ting!


Sebuah suara melengking menandakan kue sudah matang. Aroma lembut langsung menguar di seantero dapur. “Hmmm…”


Ferina membantu mama’y mengoleskan krim dan menghias kue.


“Nah, habis ini tinggal dimasukkan ke kotak.” Kata Wulan.


Ferina mengernyit tidak mengerti. “Untuk apa?”


Wulan tersenyum simpul. “Kita kan belum berkenalan dengan tetangga. Apalagi tetangga kita cuma satu, karena di depan rumah kita penginapan, dan si sisi lain juga cuma jalan.”


“Oh…” Ferina mengangguk mengerti.


Nggak terasa sudah seminggu Ferina dan Wulan tinggal di rumah baru. Ferina sering mengajak Rana si anak tetangga untuk bermain di rumah.


Sore itu Ferina kegerahan. Ferina menghampiri kulkas. Nyaris kosong.


“Mama… kulkas’y kosong!” erang Ferina.


Wulan bergegas datang. “Kalau begitu, kamu ke supermarket deh. Mau, kan?” bujuk Wulan. “Mama kan capek habis mengurus toko.”


“Boleh deh!” kata’y bersemangat. “Tapi gimana pergi’y? Ferina kan nggaktahu di mana letak supermarket?”


Wulan berpikir sejenak. “Oh, kalau nggak salah tadi Manda bilang dia mau keluar ada urusan, mungkin bisa barengan. Coba kamu tanya ke sebelah gih, biar Mama bikin catatan belanja’y dulu!”


“Oke.” Ujar Ferina sambil buru2 keluar.


Baru saja Wulan selesai mencatat, Ferina sudah muncul lagi.


“Ma, cepet! Tante Manda udah mau berangkat! Kata’y bisa lewat supermarket tapi agak jauh. Cepet, Ma!” Ferina berteriak.


“Ini.” Ujar Wulan. Ferina pun berlalu secepat kilat.


Sesampai di supermarket, Ferina segera asyik menyusuri rak2 penuh berbagai macam cokelat, permen, kerupuk, dan segala gurih2 dan nggak bikin eneg.


Setelah keranjang penuh, Ferina menyerah dan segera antre di ksair. Dengan sabar dia menunggu sampai akhir’y mendapat giliran.


“Malam, Mbak.” Sapa si mbak kasir, sambil mengeluarkan belanjaan Ferina.


“Malam.” Jawab Ferina cuek. Ferina memandang pintu kaca dan ternyata langit sudah hitam total.


Akhir’y si mbak kasir menyerahkan belanjaan Ferina yang sudah dihitung.