Story Ferina

Story Ferina
Bab 10



Dari sana Ferina menuju perpustakaan. Sebenar’y sedekat apa sih mereka, sejauh apa sih cowok itu terjebak dalam labirin kehidupan Tiffany? Akhir’y Ferina mendengar bel tanda istirahat bergema.


“Hhhhh…” dia mendesah malas. Ferina tidak ingin kembali ke kelas. Apa guna’y juga kalau sahabat’y sendiri sedang nggak mau ngomong dengan’y.


Tak lama kemudian Ferina melihat Haikal masuk ke perpustakaan. Sebuah ide cemerlang mengusik pikiran Ferina. Mungkin dia bisa mendapatkan petunjuk dari cowok itu.


“Hai!” sapa Ferina.


“Hai juga.” Balas Haikal dan kembali menekuni buku’y.


“Serius banget sih!”


“Tumben lo sendirian. Biasa’y bareng Tiara, kan? Dan selalu mencari buku di rak itu.” Ujar Haikal sambil menunjuk rak kesayangan Tiara, tempat dia biasa mengawasi Haikal.


Kok dia tahu? Batin Ferina.


“Oh ya?” Ferina pura2 terkejut.


“Ehm, begini, gue cuma mau nanya sesuatu.” Ferina buru2 mengalihkan pembicaraan.


“Kayak’y serius?” Haikal menutup buku. “Tapi gue nggak jamin bisa menjawab pertanyaan lo.”


“Ya, ntar liat aja!” balas Ferina. “Gue cuma pengin tahu apa aja yang lo ketahui tentang Tiffany. Karena gue yakin lo tahu banyak tentang dia. Apalagi lo selalu nguntit dia setiap pulang sekolah.”


Ekspresi Haikal berubah.


“Gue bukan penguntit! Dan gue nggak suka lo nuduh gue seenak jidat lo!” tukas Haikal tersinggung.


“Oh, maaf. Maksud gue ya… ngikutin orang diam2 gitu deh. Jadi apa?”


“Maksud lo?” tukas Haikal ketus.


“Ya, semua yang lo ketahui tentang Tiffany!” Ferina kehilangan kesabaran.


“Nggak ada!” Haikal jelas masih tersinggung.


“Hah?! Lo yakin?” balas Ferina jengkel. “Gue tahu kok selama ini lo selalu mengamati Tiffany, dan selalu ingin tahu apa aja yang dilakukan’y. Tapi sayang’y, lo udah ngelewatin satu kejadian penting kemarin.”


Haikal memandang Ferina penuh tanda Tanya.


“Memang’y kemarin ada apa?” desak Haikal.


“Wah, gue nggak bisa kasih tahu lo. Mengingat kata lo tadi, lo nggak tahu apa pun tentang Tiffany.” Ferina sok jual mahal.


“Oke dehm kita barter informasi. Tapi lo duluan!” kata Haikal menyerah.


“Jadi?”


“Ehm… jadi begini.” Kata Ferina. “Oke, gini. Kemarin gue liat Tiffany nyamperin Tama sambil menangis. Dan gue liat mereka… pelukan.” Hati Ferina serasa dicubit.


Dia yakin Haikal pasti merasakan hal yang sama.


“Dan aneh’y, hari ini mereka sama2 nggak masuk sekolah.”


“…”


Haikal hanya menunduk.


“Gue ngerti perasaan lo. Karena itu gue ingin tahu informasi tentang Tiffany. Mungkin aja kita mendapat petunjuk tentang keberadaan mereka, ya kan?” kata Ferina melunak.


“Kenapa sih lo peduli banget sama Tiffany?” Tanya Haikal.


Ferina langsung terdiam telak2.


“Eh, cuma kebetulan kok. Kebetulan aja gue liat Tiffany kayak’y lagi ada masalah, lalu kebetulan gue tahu mereka nggak masuk hari ini, trus kebetulan gue liat lo di sini, dan gue jadi kepingin ngasih tahu hal ini ke elo. Soal’y gue yakin, informasi ini pasti penting banget buat lo.” Ferina mencoba mengelak. “Yah, kebetulan kadang2 memang sangat berharga.” Lanjut’y risi.


“Makasih banget ya, ternyata lo peduli banget sama gue.” Kata Haikal sungguh2.


“Iya. Nama’y juga teman.” Ferina jadi salah tingkah.


“Tapi sayang’y gue bener2 nggak punya informasi penting yang berkaitan dengan itu.” Haikal sangat menyesal. “Kalau aja gue tahu lebih banyak…”


“Lo sabar ya, Kal.” Kata’y simpatik. Tiba2 terdengar bunyi bel istirahat tanda istiraha usai. “Eh, udah bel. Gue duluan, ya.” Kata Ferina.


Haikal mengangguk pelam. Cewek itu… selalu saja membuat’y berdebar-debar.