
Lama mereka sama2 terdiam. “Oke, gue akan dengerin lo.” Kata Ferina tenang.
Mereka kembali ke tempat tadi dan duduk sesaat dalam diam. Pelan langit mulai gelap.
“Ini tentang Tiffany, dan mama’y.” Tama mulai bicara. “Mama Tiffany sudah lama dirawat di panti rehabilitasi.” Lanjut Tama pelan. “Seharus’y nggak lama lagi mama’y sudah bisa pulang dan berkumpul lagi bersama Tiffany. Tapi hari itu Tiffany mendapat kabar kalau mama’y… mencoba bunuh diri lagi.”
“Lagi?” ujar Ferina spontan.
“Ya, untuk kedua kali. Gue juga nggak tahu pasti kenapa mama’y bisa bertindak seperti itu. Padahal hanya dia milik Tiffany saat ini. Gue tahu derita batin yang dialami Tiffany jauh lebih berat daripada yang bisa gue banyangkan. Walaupun dia selalu berusaha meyakinkan gue bahwa dia baik2 aja, gue nggak terlalu yakin. Gue sampai nggak habis piker kenapa cewek seperti Tiffany bisa tegar menghadapi semua ini.”
“Tiffany hanya memiliki mama’y?”
“Begitulah. Tapi Tiffany nggak cerita banyak tentang itu. Yang gue tahu, Tiffany berasal dari keluarga broken home. Waktu orangtua’y bercerai, Tiffany dipaksa mama’y ikut dengan’y, meskipun hal itu sangat bertentangan dengan keinginan’y sendiri. Mereka pun pindah ke sini dan tinggal di apartemen.”
“Sejak itu hidup Tiffany berantakan. Karier mama’y hancur dan dia memperlakukan putri’y dengan buruk. Tiffany menjadi tempat pelampiasan kekecewaan’y. Saat dilanda masalah, mama’y selalu lari ke pesta2, minum2, merokok, dan nge-drug. Dan saat itu dia nggak ingat siapa diri’y lagi, apalagi
Tiffany, putri satu2’y. Dan itulah yang dihadapi Tiffany nyaris setiap hari.”
Ferina nggak tahu harus bilang apa.
“Dan selama itulah gue selalu berusaha menjadi sahabat Tiffany. Gue berusaha selalu ada saat dia membutuhkan teman, saat dia sendirian atau ketakutan.”
Sekelabat rasa cemburu kembali membakar hati Ferina.
“Gue membantu sebisa gue. Ketika Tiffany tahu mama’y nge-drug, dia langsung lari ke gue. Akhir’y, gue minta tolong ortu gue buat nolongin nyokap Tiffany yang sempat nyaris overdosis. Sejak itu mama Tiffany aman bersama ortu gue, terutama Nyokap. Dan selama itu pula Tiffany dititipin ke gue. Gue ngejaga dan ngawasin dia. Biar Tiffany nggak salah arah. Biar dia nggak macam2. Karena gue sendiri sadar Tiffany labil dan nekat.”
“Keadaan mama Tiffany gimana?” Tanya Ferina.
“Baru melewati masa kritis, jadi kami bisa pulang dari pusat rehabilitasi. Tapi dia masih belum sadar, jadi masih harus dirawat.”
“Trus kenapa kalian balik?” Tanya Ferina heran.
“Besok ada ulangan. Jadi kami memutuskan untuk pulang dulu.” Jawab Tama.
“Trus Tiffany? Apa dia nggak pa2 ditinggal… sendiri?”
“Nggak masalah. Malah sebenar’y dialah yang nyaranin gue untuk menemui lo.”
Cowok itu langsung melanjutkan. “Dia mengatakan sebelum gue sempat meminya’y.”
Ferina tertegun.
“Kenapa?”
“Entahlah.” Sahut Tama pasrah. “Tapi yang jelas, Tiffany nggak buta, nggak tuli, dan dia juga punya perasaan. Dia sadar perbuatan’y salah karena terlalu memonopoli gue, dan menghalangi cewek2 lain yang ingin berteman dengan gue. Namun di sisi lain dia juga sadar ada satu hal yang nggak bisa dia halanghalangi . Dan itu adalah… perasaan gue.”
Wajah Ferina memanas dan darah’y berdesir.
“Mungkin selama ini gue memang nggak peduli apa yang diinginkan Tiffany. Gue juga nggak peduli sama cewek2 yang batal mendekati gue lantaran takut sama Tiffany. Semua itu nggak penting buat gue.” Kata Tama.