
“Ferina… Mama tunggu di luar, kamu malah di sini. Ayo, berangkat!” seru Wulan sabar.
Ferina menoleh, lalu mengangguk. Sebentar lagi dia akan meninggalkan tempat ini, tempat dia banyak menghabiskan sore’y dengan tenang. Tempat yang paling banyak memberi’y curahan inspirasi dan kedamaian hati bersama orang2 yang disayangi’y.
Dia melangkah menuju pintu keluar. Ferina menghampiri piano itu, mengusap’y pelan sepenuh perasaan. Piano ini takkan pernah berdenting lagi, takkan melantunkan melodi yang menghanyutkan perasaan orang2 yang mendengar’y.
Seharian pun takkan cukup untuk’y mengungkit kenangan rumah ini.
Ferina menatap pintu kamar’y yang terletak di seberang sofa keluarga.
Ferina duduk di atas tempat tidur dan memandang berkeliling. Dia menghampiri sisi lemari yang sudah kosong, Ferina menarik buku kecil yang nyaris terlupakan itu: diary bergambar Emo Bear berwarna biru kusam.
Diary itu pernah basah oleh air mata’y. Ferina memasukkan diary itu ke dalam tas dan mengunci pintu.
Dia tiba di pintu yang terpentang lebar dan melewati’y. Kini dia telah selangkah meninggalkan rumah.
“Sudah?” Wulan berkata penuh empati.
Ferina mengangguk. “Sudah.”
Wulan menarik gerendel pintu dan menutup’y dengan bunyi debam pelan. Dia mengeluarkan kunci dengan gantungan berkilau.
“Ma, biar Ferina saja yang mengunci’y. Boleh, kan?” pinta Ferina.
Wulan tersenyum. “Tentu, Sayang.”
Ferina memasukkan anak kunci itu ke lubang dan memutar’y. Pintu terkunci sempurna.
Mereka melangkah melintasi halaman sambil bergandengan tangan, saling menguatkan. Akhir’y Ferina merasa emosi’y sedikit mereda. Ah, semakin jauh meninggalkan semua ini, semakin baik, batin’y.
“Ferina boleh minta sesuatu, Ma?”
“Katakan saja, Sayang.” Wulan merangkul pundak putri’y.
“Ferina ingin piano itu dibawa.”
Wulan terdiam sejenak.
“Nggak boleh?” Tanya Ferina.
“Nggak kok, itu bisa diurus secepat’y” kilah Wulan akhir’y. “Omong2, kamu sudah memberitahu Daddy soal kepindahan kita?”
“Tentu saja. Semalam Ferina sudah meng-e-mail Daddy. Tapi Ferina nggak yakin Daddy akan membaca’y dalam waktu dekat. Daddy masih sibuk dengan proyek Yunani’y. Menyebalkan, kan?”
“Suatu hari nanti dia juga akan kembali kepada kita, Sayang.” Kata Wulan yakin.
***
Rumah itu jauh lebih sederhana. Sangat cocok untuk mereka berdua. Rumah itu memang tipe minimalis. Sangat praktis dan modern.
“Rumah kita?” Tanya Ferina tanpa bisa menyembunyikan kekaguman.
“Yap, welcome home.” Seru Wulan.
Mereka masuk. Rumah itu sangat sejuk dan tenang.
Ferina menjatuhkan diri ke sofa dan menyalakan TV, mencari channel kesukaan anak nongkrong se-Indonesia dan ikut bernyanyi.
Wulan sibuk di dapur, tempat favorit’y di rumah, tempat dia menghabiskan lebih dari separuh hidup’y.
Zrrt… Zrrrt…
Ferina menarik ponsel dari saku celana’y.
“Ma! Telepon dari Oom Surya…!!” seru’y tanpa beranjak dari sofa.
“Huh… si Mama!” kata Ferina seraya berlari ke dapur. “Nih, Ma!”
“Ihh… pencetin! Pencetin! Mama kan nggak ngerti!” kata Wulan panik.
Ferina tersenyum geli. “Nih, udah. Udah.” Kata’y sambil menyerahkan ponsel touch screen’y.
“Halo? Ya? Ya, baru sampai… Lumayan melelahkan… Suka, apalagi Ferina… iya. Makasih ya.” Wulan menyerahkan ponsel itu ke tangan Ferina.
“Oom Surya bilang apa?”
“Cuma memastikan kita udah sampai, trus nanya kita suka rumah’y atau enggak. Gitu…” jelas Wulan.
“Sip banget, malah!” celetuk Ferina.
**********
“Fer, udah larut banget, bobo gih!” tegur Wulan lembut.
“Masih kepingin nonton, Ma.” Jawab Ferina malas2an.
“Ah, masa? Dari tadi Mama perhatiin kamu nggak mengikuti film’y tuh.” Sambung Wulan.
“Mama rese ah, sok perhatian segala… orang dari tadi nonton kok!” Ferina membela diri sekena’y sambil menyembunyikan diary. “Memang’y Mama tahu dari mana?”
“Pertama, kalau nonton film lucu, kamu pasti ketawa ngakak sampai nggak kenal orang dan lemparin bantal ke TV.” Wulan tersenyum geli. “Tapi dari tadi kayak’y film’y nggak ngaruh sama kamu. Nggak kayak biasa. Trus dari pandangan kamu aja ketebak banget kamu lagi mikirin yang lain. Daripada kayak begini, mending kamu bobo gih.”
“Ah… nggak! Masih pengin nonton, Ma!” ujar Ferina.
“Ya udah…” Wulan mengalah. “Mama mau tidur dulu ya, tapi kamu jangan kemalaman, oke?”
“Oke deh, Ma…” sahut Ferina.
Sudah setengah dua belas, tapi dia belum mengantuk. Ferina meraih ponsel dan memencet beberapa angka yang sangat dikenal’y, lalu menunggu.
“Halo?” sebuah suara yang sangat akrab menyahut di seberang sana.
“Halo…” jawab Ferina.
“Ini siapa?” suara itu kembali terdengar di sela2 suara ribut di latar belakang.
“Ferina. Pa kabar lo, Nda?”
“Ferina? Hei, ke mana aja lo seminggu ini? Gue hubungi nomor lo nggak pernah aktif. Lo ke mana sih? Gue nyariin lo, tau nggak?” cowok bernama Yanda itu memberondong’y dengan nada menuduh.
“Ribut banget…” komentar Ferina.
“Biasa, anak2 lagi ngumpul. Bentar, gue keluar dulu.” Ujar cowok itu.
“Nah, sekarang jawab pertanyaan gue. Ke mana aja lo selama ini, dan kenapa nomor lo nggak aktif lagi?”
“Udah gue buang, sekarang gue pakain yang ini. Dan satu hal, lo jangan ngasih tau nomor ini ke siapa pun.” Ujar Ferina.
“Emang kenapa? Lo bener2 bikin gue bingung!” komentar Yanda. “Barusan gue juga dengar dari anak2 kalau lo mau pindah sekolah gitu. Gue heran sekaligus kaget, tapi gue nggak percaya sebelum gue klarifikasi dulu ke elo. Gue harap sih itu berita nggak bener, ya kan, Fer?”
“Mmm… berita ini bener kok. Sekarang… ngg… gue udah di Jogja.” Sahut Ferina.
“What?! Jangan bercanda, Fer!” cowok itu benar2 nggak percaya. “Lo kok nggak cerita sih? Gue kan sohib lo, dan selama ini kita saling percaya. Akhir2 ini lo bener2 berubah. Drastis! Lo udah nggak terus terang lagi ke gue, lo nggak ngasih gue kesempatan buat bantuin lo keluar dari masalah lo lagi. Lo gimana sih, Fer? Gue kehilangan lo, tau nggak sih? Dan sekarang gue harus nerima kenyataan lo udah pindah tanpa pamit ke gue. Apa lo nggak nganggep gue lagi, Fer? Jujur, sekarang gue jadi kecewa sama lo.” Cerocos cowok itu. “Gue ngerti apa yang lo alami itu…”
“Udah, Nda!” potong Ferina. “Gue nggak pengin ngebahas itu lagi. Nggak penting!”
Tahu cowok itu sangat kaget, Ferina pun terdiam. “Maafin gue, Nda. Gue nggak bermaksud begitu, gue nggak bilang2 karena gue takut nanti’y gue berubah pikiran. Soal’y selama ini cuma lo yang bisa ngerti gue, dan selalu jujur sama gue. Cuma lo yang bisa gue percaya…”