
Dalam sedetik mereka sudah melesat dengan kecepatan tinggi. Ferina memeluk cowok itu lebih erat. Dia tidak memerhatikan jalan yang mereka lalui, melainkan menyandarkan kepala’y di punggung Tama. Lalu memejamkan mata.
“Lo aman2 aja, kan?” Tama setengah berteriak.
“Iya!” sahut Ferina, suara’y gemetar.
Tama menambah laju motor. Gila! Kayak lagi balapan.
“GUE TAKUUUUTT…!!!”
Mendengar itu Tama segera menurunkan kecepatan dan menepi. Tubuh Ferina sedikit bergetar. “Lo nggak pa2, Fer?!” Tanya Tama cemas.
“Gue… gue… udah nggak pa2.” Sahut’y terbata.
Tama menoleh dan mnatap cewek itu cemas. “Nggak pa2, kan?” ulang’y sambil menekan bahu Ferina lembut.
Ferina memandang sisi kiri’y dengan tatapan nyaris nggak percaya. “Laut.” Wajah’y kontan sumringah dan sangat senang. Melihat itu, Tama tersenyum lega.
“Kita belum sampai, tapi udah lumayan dekat.” Kata’y seraya terus menatap Ferina. Cewek itu sangat manis saat tersenyum.
“Kita jalan lagi?” usul’y.
Ferina mengangguk. “Nggak pakai ngebut lagi, ya.” Mereka pun melaju. Bulan purnama mulai naik. Tak lama kemudian Tama menghentikan motor’y di depan kafe.
“Yuk!” ajak Tama. Dia menggenggam tangan Ferina dan menarik’y ke sisi’y.
Mereka memasuki kafe. Suasana di dalam juga sangat tenang, musik yang lembut terdengar sangat menenangkan. Mereka duduk di bagian kafe yang terbuka. Di sana mereka dapat memandang langit dan laut dengan bebas.
“Bagus bangeeet…” seru Ferina. “Gue nggak tahu ada tempat yang begini bagus. Makasih banget udah ngajak ke sini, ya!”
“Sama2. Lihat lo kayak gini bikin gue bahagia. Gue belum pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.” Kata Tama.
Ferina menatap cowok itu sesaat dan tersenyum penuh arti. Ditatap’y laut yang disinari cahaya bulan.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, dia sungguh2 merasa tenang dan jiwa’y tenteram. Dia merasa bebas, seakan-akan menemukan diri’y yang baru, diri’y yang terlepas dari segala kesedihan yang selalu mendera dan menekan’y.
“Tahu nggak apa yang gue pikirkan saat ini?” Tanya Tama.
“Apa?” Ferina terus menatap laut.
“Hah?!” Ferina terperangah. “Emang sekarang udah jam berapa?”
“Liat aja jam tangan lo.”
Dengan was2 Ferina menatap jam tangan’y.
“My God!” dia nyaris berteriak.
Meski malam telah larut dan tubuh’y sangat letih, Ferina bahagia.
Ketika sudah berbaring di tempat tidur, pikiran Ferina melayang entah ke mana. Diraih’y ponsel.
“Halo…” suara Yanda terdengar sangat berat.
“Udah tidur, ya?”
“Nggak ada alasan buat begadang soal’y.”
“Kalau sekarang ada, gimana?”
“Mau cerita apa?” Yanda terdengar bersemangat. Sejak kematian Faren, Ferina seolah menutup diri rapat2 dan tak pernah lagi berbagi cerita.
“Nggak ada. Mau tahu kabar lo aja.”
Yanda langsung kecewa. “Oh, baik aja kok. Lo?”
“Nggak tahu.”
“Kenapa nggak tahu? Apa lo masih belum bisa curhat sama gue lagi?” Yanda terdiam sebentar. “Tahu nggak? Dia nanyain lo terus.”
“Biar aja.” Tukas Ferina. “Nggak penting.”
“Nggak penting? Tapi gue jadi’y yang repot. Lo tahu, kan, gue nggak bisa bohong? Dia terus menginterogasi gue. Dia tahu gue pura2 nggak tahu. Sampai2 dia mengobrak-abrik contact di HP gue. Untung nama lo gue samarin.”
“Baguslah.” Komentar Ferina.