
“Namun semua itu nggak berlaku sejak gue kenal lo, Fer. Gue nggak mau lo diperlakukan dengan buruk oleh Tiffany karena kita dekat. Gue melarang Tiffany melakukan’y. Gue tahu dia kecewa. Tapi gue juga nggak tahu harus bagaimana, apalagi Tiffany nggak mau tahu, tetap keras kepala, dan menutup mata terhadap apa yang gue rasakan.”
Tama menatap Ferina lurus2 sampai cewek itu menunduk dan nyaris salah tingkah.
“Rasa itu tidak pernah singgah di hati gue sebelum’y. Perasaan yang mungkin nggak selalu indah untuk dirasakan apalagi kalau lo jauh dari gue. Lo nggak tahu gimana resah’y gue waktu ninggalin lo kemarin. Tapi di sisi lain gue merasa bertanggung jawab terhadap Tiffany. Gue jadi serbasalah.”
Ferina tetap bergeming.
“Fer.” Tama menyapa Ferina yang membatu. “Ferinandra…?”
“Hmmm… yah, maaf.” Ujar Ferina buru2, malu sendiri. Tama melihat kilatan aneh di mata Ferina setiap kali memanggil’y dengan nama itu.
“Tiffany titip ini sebelum gue pergi. Kata’y buat elo. Gue nggak tahu apa isi’y, tapi gue udah janji akan menyampaikan’y ke elo.”
Dengan bimbang Ferina membuka lipata kertas itu. Apa sih mau’y Tiffany? Batin’y.
Gue tahu, nggak semua yang kita inginkan selalu dapat diraih. Dan gue tahu, nggak selalu orang yang kita cintai bisa mencintai. Waktu terus bergulir dan akhir’y gue sadar, dia telah menemukan cinta’y.
Mungkin inilah saat’y dia menyelami hati’y sendiri, walaupun hati gue sakit. Entah kenapa, melihat dia hampa tanpa cinta’y, hati gue lebih sakit lagi. Gue masih ingin melihat’y tersenyum dan tertawa lepas, walaupun itu bukan buat gue, walaupun itu bikin hati gue sakit.
Walaupun gue belum sepenuh’y yakin atas keputusan gue ini, namun kali ini gue membiarkan dia menemui cinta’y.
Tiffany.
“Apa Tiffany ngomong kasar?” Tanya Tama.
“Nggak kok.” Jawab Ferina. “Mungkin sedikit banyak gue bisa ngerti perasaan’y. Gue juga nggak bisa berkomentar banyak. Sebenar’y yang dialami Tiffany nggak jauh berbeda dengan yang gue alami. Beda’y gue hanya sedikit lebih beruntung, mungkin.”
“Maksud lo, Fer?”
Ferina memeluk kaki’y dan menopangkan dagu’y di lutut. Kemudian dia menatap langit, mengharapkan keberanian untuk bersuara, keberanian untuk menyampaikan perasaan.
Tama kembali memandang Ferina dan berkata. “Fer, apa pun penilaian lo terhadap gue setelah ini, gue mungkin nggak peduli. Karena gue cuma pengin lo tahu, kalau gue… kalau gue sayang elo…”
Degup jantung Ferina sangat kuat dan dekat. Tama merangkul’y dekat ke tubuh’y.
Ferina tidak mengatakan apa2. Bahasa diam’y sudah lebih dari cukup bagi Tama.
Tama merangkul Ferina semakin erat. “Makasih ya.” Ujar cowok itu lembut. ***
Tiffany baru saja menyelesaikan ulangan yang membuat’y pusing setengah mati. Sekarang dia pusing dan mual.
“Tama, gue ke kamar mandi dulu.” Kata’y buru2 dan langsung lari.
Huek… huek…
Tiffany muntah2 di wastafel. Dia mengeringkan wajah dengan tisu.
Zrrt… zrrt…
Tiffany menekan tombol hijau di HP’y yang bergetar.
“Ya. Saya sendiri. Apa?! Sekarang juga? Baiklah.”
Dengan panik Tiffany keluar kamar mandi dan menuju kelas. Mama’y kembali kritis.