
Sial! Dia tidak menemukan Tama. Tiffany menghubungi ponsel cowok itu, tapi tidak berhasil. Dengan gusar dia merenggut tas’y, lalu berjalan secepat mungkin menuju ruang piket dan meminta surat izin.
“Fan! Lo mau ke mana?” Haikal tahu2 muncul di hadapan’y. “Lo kenapa, Fan? Ada apa?” Tanya Haikal cemas.
“Bukan urusan lo! Minggir!” bentak Tiffany. Dia kembali melangkah.
“Nggak!” Haikal menggenggam tangan Tiffany sangat erat.
“Hei! Apa2an sih lo?! Lo nyakitin gue, tahu! Lepasin!” Tiffany meronta melawan.
“Apa sih mau lo?” tantang Tiffany.
“Gue cuma kepingin lo berhenti bersikap kayak gini ke gue!” tukas Haikal. “Gue pengin lo bicara lagi ke gue, dan kita kayak dulu lagi. Gue pengin kita kembali bersama. Gue mohon.” Suara Haikal melunak.
“In your dreams!” tukas Tiffany ketus. “Gue nggak butuh lo atau siapa pun yang bersama lo! Ngerti?”
“Lo dulu nggak kayak gini.” Kata Haikal.
“Makasih buat perhatian lo.” Shaut Tiffany.
“Gue menyesal, Fan. Gue…”
“Maaf gue buru2, dan gue nggak punya waktu mendengarkan rentetan penyesalan lo. Permisi!”
“Gue sayang lo. Dan gue yakin lo juga masih sayang sama gue. Karena gue kenal gimana lo, Fan. Lebih daripada siapa pun.” Bisik Haikal.
Ferina menopang dagu’y dengan malas. Perpustakaan sangat sepi. Dia mulai mengerjakan soal fisika.
“Tidak ada toleransi lagi! Dengan sangat menyesal saya tidak mengizinkan
Anda mengikuti kelas saat ini. Selesaikan semua soal halaman 111 dan tulis kalimat perjanjian sebanyak 100 kali dan harus disertai stempel perpustakaan!“ kata Bu Hanna sangat tegas. “Silakan keluar karena saya akan melanjutkan materi!”
Tanpa sadar Ferina melamun dan nyaris ketiduran di kelas Bu Hanna.
Bosan mencoba menyelesaikan soal yang begitu rumit, Ferina mulai menulis kalimat perjanjian dengan hati2.
Belum separuh jalan Ferina sudah amat sangat bosan.
“Fer, gue pengin ngomong sama lo.” Sebuah suara menyentakkan Ferina.
“Lo kenapa, Kal?” Tanya Ferina.
“Nggak kok, gue cuma pengin ngomong sama lo aja.” Jawab Haikal.
“Ngomong? Ngomong apa?”
“Mmm… Tiffany.”
“Jadi lo bener2 pengin tahu lebih banyak tentang Tiffany?”
Haikal mengangguk pelan.
“Memang’y penting buat lo?”
“Iya, Tiffany penting banget buat gue!” jawab Haikal. “Lo nggak tahu betapa berarti’y dia bagi gue!”
“Iya, iya, gue ngerti kok.” Ujar Ferina sabar. Bayangan jail melintas di benak’y yang lagi ngadat.
“Tolongin gue, please…” kata Haikal lagi.
Ferina menimbang-nimbang sejenak. “Tapi… dengan dua syarat, gimana?” “Syarat? Syarat apa?!” Haikal seakan kehabisan kesabaran.
“Hmm… pertama, lo harus berhasil bawa kabur gue dari sekolah. Gue suntuk banget di sini.” Ferina memandang Haikal sekilas.
“Trus yang kedua… kita tukeran informasi tentang Tiffany, gue yakin lo juga tahu beberapa hal tentang dia. Nah, gimana?” usul Ferina.
Kenapa harus begitu?” protes Haikal.
“Karena cuma itu yang bisa bikin gue mau cerita sama lo!” jawab Ferina sok jual mahal. “Kalau nggak mau ya udah, gue juga mau ngerjain ini nih. Sibuk!” ujar’y.
“Ya udah, gue setuju.” Haikal menyerah. Dia sendiri bingung bagaimana cara’y kabur dari sekolah.
Ferina tersenyum simpul. Bisa jadi Tiffany masa lalu Haikal, alias mantan’y.
“Siiip… deh!” bisik Ferina. “Anak2 biasa’y manjat pagar di belakang labor kimia buat cabut. Termasuk gue.” Lanjut’y.
Jantung Haikal berdegup kencang, dia ragu. Bagaimana kalau tidak berjalan lancar? Akhir’y Haikal memutuskan untuk meladeni ide gila Ferina.
“Yuk.” Ajak Ferina penuh semangat.