Story Ferina

Story Ferina
Bab 5



“Sst… Fer!” sebuah sikutan membuat Ferina kaget.


“Ihhh… lo apaan sih, Ra.” Ferina mendesis sebal. “Bikin jantungan, tau!”


“Sst… liat tuh!” Tiara menunjuk bangku di sudut perpustakaan. Haikal. Ferina cuma geleng2 kepala.


Nggak terasa satu bulan sudah berlalu. Ferina sekarang lebih dekat dengan Tiara, cewek imut yang suka banget sama Haikal yang udah jadi idola’y sejak pertama sekolah. Beberapa kali Ferina sempat memergoki cowok itu menatap Tiffany dari jauh. Tatapan’y pun gimana… gitu. Huh… kasihan, pikir Ferina.


“Emang ngapain lagi dia?” ujar Ferina.


“Cakep banget… apalagi kalau lagi baca buku sains gitu…” sahut Tiara. “Apalagi kalau…”


“Ih, biasa aja, kali!” potong Ferina.


“Tapi gue sukaaa…”


Ferina tidak berkomentar dan kembali menekuni deretan buku. Karena Haikal cowok tipikal kutu buku yang hobi nongkrong di perpus, maka nyaris setiap hari Ferina di tarik Tiara ke situ, ngumpet di balik rak, trus dia sendiri akan menatap cowok itu nggak habis2’y.


“Fer, Fer!” Tiara kembali menyikut Ferina.


“Apa lagi sih?”


“Itu…”


“Itu apa?” Tanya Ferina.


“Si Haikal kenapa tuh?”


“Kenapa gimana?” kata Ferina sambil menoleh pada Tiara. Sekarang Haikal mengangkat buku’y hingga menutup wajah, jelas sedang mengawasi sesuatu.


“Dia melihat ke arah sana.” Ujar Ferina.


Deg!


Ferina melihat Tiffany sedang bercerita dengan suara sangat pelan dengan Tama. Mereka mendekatkan kepala. Entah kenapa rasa cemburu tiba2 muncul begitu saja di hati Ferina. Semenjak dia bersekolah di sini Tama selalu berusaha menemui’y, bagi Ferina semua itu belum terlalu berarti. Tama seperti’y terlalu terikat dengan Tiffany. Cowok itu seperti’y terlalu menuruti keinginan Tiffany, meskipun itu nggak sesusai dengan keinginan hati’y.


“Kenapa…” Ferina mendengar isakan kecil di dekat kaki’y.


“Kenapa apa?” Tanya Ferina lembut sambil menyentuh bahu Tiara.


“Kenapa cowok yang gue taksir justru merhatiin cewek lain? Dan kenapa harus si nenek sihir itu, coba.” Kata Tiara diselingi isakan’y.


“Udah, kita keluar aja yuk.” Ajak Ferina.


“Huh, mana panas, nggak ada teman, lagi. Garing!” Dia ingin menunggu matahari sedikit redup untuk berjalan kaki menuju halte yang lumayan jauh.


“Mau gue antar pulang, Fer?” suara Haikal membuat Ferina tersentak.


“Lho, lo belum pulang?” balas Ferina heran.


“Baru mau nih. Tadi gue lupa balikin buku pepustakaan maka’y nggak langsung pulang.”


“Oh…” kata Ferina paham. “Boleh juga.”


Dalam lima menit Ferina sudah duduk di boncengan Haikal. Tiba2 Haikal mengerem motor’y dan berbalik arah secepat dia bisa.


“Ada apa sih?” Tanya Ferina.


Haikal sedang membuntuti Honda Jazz hijau metalik. Entah siapa penumpang mobil itu.


Akhir’y mobil itu berhenti di depan kafe yang tidak terlalu ramai. Dengan penasaran Ferina menunggu sampai pintu mobil akhir’y terbuka.


Sialan! Cewek nenek sihir itu lagi! Ferina lagi2 panas melihat cowok yang turun dari sisi lain mobil. Tama.


“Mau ngapain?” Tanya Ferina.


Haikal tidak menjawab.


“Lo aneh, tahu nggak?! Ngapain juga lo mengharapkan Tiffany sampai kayak gini? Mending lo nanggepin orang yang justru sangat peduli sama lo!” kata Ferina tegas. Dia teringat Tiara yang hanya bisa kecewa dengan sikap Haikal yang nggak pernah memedulikan’y.


“Memang’y ada gitu yang peduli sama gue?” Tanya Haikal.


“Kal… buka dong mata dan hati lo itu. Cewek di dunia ini nggak cuma Tiffany!”


“Tau kok.” Sahut Haikal. “Langsung pulang?”


“Pulang aja deh.” Jawab Ferina.


***


“Benar2 malam yang indah!” decak Ferina.


“Aku juga suka langit malam! Apalagi kalau ada bulan’y, ada bintang’y, pasti indah banget. Ya kan, Kak?” sahut Rana.


Ferina sedang memotong sayuran. Malam itu Ferina dan mama’y di undang ikut acara barbekyu di halaman belakang rumah tetangga’y itu. Acara itu untuk merayakan kenaikan jabatan papa Rana, juga kehamilan Manda. AKhir’y Rana bakal dapet adik.


Malam itu penampilan Ferina super santai, dengan celana pendek dan kaus putih polos yang ringan. Rambut’y yang panjang diikat rapi.


“Ih… aku nggak suka paprika.” Celetuk Rana. “Hampir semua sayuran aku nggak suka.”


“Kakak kenapa?” Tanya Rana cemas. “Kak?!” ulang’y. “KAKAAAAKKK!!”


“Eh iya… nggak pa2.” Sahut Ferina. Benak’y bergegas lari ke Faren, saudara kembar’y yang telah meninggalkan’y.


Tiba2 HP Ferina bergetar. Tama.


“Halo…” jawab Ferina malas2an.


“Fer, lo nggak di rumah?” Tanya Tama.


“Nggak, gue di rumah sebelah. Kenapa?”


“Gue ada di depan rumah lo. Lo keluar, ya? Nggak lama kok.”


“Oke”


Jantung Ferina berdebar-debar. Ferina mendapati cowok super keren itu berdiri di samping moror.


Tama mendongak dan tersenyum hangat.


“Hei, tumben datang malam2 begini?” Tanya Ferina.


“Mmm… gue nggak mengganggu, kan?”


“Menurut lo?” kata Ferina santai.


Tama tersenyum kecil. “Lagi makan, ya?”


“Kok tahu?” Tanya Ferina heran.


“Nih…” dengan ibu jari’y cowok itu menghapus noda saus di sudut bibir Ferina.


“Makan aja masih kayak anak kecil. Berlepotan.”


Ferina tersipu.


“Eh… nggak pa2 tahu.” Tama menenagkan’y.


“Trus, ada apa?”


“Oh ya, ban motor gue tadi kempis, kalau ke bengkel jauh, paling deket ke rumah lo. Maka’y gue kemari. Boleh nggak nitip motor gue untuk malam ini aja?” jelas Tama.


“Oh…” Ferina sedikit kecewa.


“Ngg… boleh, kan?” Tama jadi nggak yakin setelah melihat ekspresi Ferina. “Oh, nggak pa2!”


Cowok itu pun mendorong motor’y ke pekarangan rumah Ferina.


“Umm… kayak’y gue balik sekarang aja, ya.” Kata Tama.


“Hah? Segitu doang?”


“Oh ya, makasih banget…”


“Bukan itu maksud gue.” Kilah Ferina. “Mmm… tapi ya udah deh kalau elo memang mau buru2 pulang.”


Cowok itu terlihat kikuk. “Bukan begitu, gue nggak mau ganggu acara lo. Itu aja.” Ujar’y serius. “Mmm… sebenar’y gue mau ngasih surprise ngajak lo keluar, tapi kayak’y gue lagi nggak hoki. Apalagi ternyata lo juga ada acara. Mana udah kemalaman, lagi.” jelas Tama. “Besok2 gue bikin janji dulu deh biar nggak berantakan” lanjut’y.


“Oh begitu ya. Nggak pa2, lagi.”


“Maaf ya.”


“It’s okay.” Sahut Ferina.


“Oh ya, jaket lo. Gue udah lama pengin balikin, tapi…”


“Eits, nggak usah dilepas. Pakai aja, gue nggak pernah pakai kok. Udah gue bilang, kan, kegedean.”


Cowok itu menatap Ferina penuh makna. “Makasih, ya.” Bisik’y.


“Fer…!” suara Tiara membuat Ferina yang sedang menggambar terkaget-kaget.


“Hmmm?”


“Lo kok kayak nggak penasaran gitu sih?” Tanya Tiara manyun.


Ferina menegakkan kepala. “Emang ada cerita apa?” Tanya Ferina.


“Gue lagi senang banget, tahu nggak?”


“Tahu…” sahut Ferina. “Banget! Emang ada apa sih? Ada bagi2 sembako, ya?”


“Ih… bukan!” tukas Tiara gemas. “Tadi gue ngomong lagi sama Haikal! Senang banget! Abis orang’y asyik banget, tahu nggak?”


“Tahu…” jawab Ferina.