Story Ferina

Story Ferina
Bab 11



Haikal sebenar’y menyimpan rahasia terbesar Tiffany. Tak seorang pun boleh mengetahui’y… bahkan tidak orang yang terdekat dengan’y saat ini…


Haikal melangkah keluar perpustakaan, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata tak henti mengawasi’y.


“Oh, jadi begini maksud lo, Fer?” bisik Tiara pahit. Mata’y basah dan dia nggak beranjak dari rak buku tempat’y mengawasih Haikal dan Ferina sejak tadi. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Haikal menatap Ferina, walaupun dia nggak tahu bagaimana Ferina membalas tatapan itu.


“Akhir’y gue tahu juga kan, Fer? Pantas lo ngga mau cerita ke gue.”


***


Siang itu Ferina asyik main kartu dengan mama’y. Wajah’y penuh coreng moreng adonan kue yang memang sengaja disisihkan untuk permainan kartu ini.


Ferina mengeluarkan kartuyang menurut’y dapat mengubah nasib’y.


“Hmmm.” Wulan tersenyum penuh kemenangan.


Jangan bilang Mama…


“Mama menang lagi!” seru Wulan. Bel pintu berbunyi nyaring.


“Aku harus buka pintu.” Kata Ferina.


Ferina membuka pintu dengan santai’y. Namun seketika wajah’y langsung dingin.


Tama yang berdiri di depan pintu nyaris tidak mengenali makhluk yang menatap’y sangar itu. Nyaris seluruh wajah’y berlepotan lapisan kental, lengket, dan berwarna kuning. Sungguh sangat nggak indah dipandang mata, pikir cowok itu geli.


“Ehm… apakah saya sedang berhadapan dengan cewek manis bernama Ferinandra?” Tanya Tama menahan tawa.


Ferina merasakan sensasi aneh saat Tama menyebutkan nama itu. “Nggak, kamu salah orang!” tukas’y judes.


“Ferinaaa…” bujuk Tama.


“Apaan sih?” tanya’y ketus.


“Ehm… lo lagi sibuk, kan?” Tama berusaha mengalihkan pandangan.


“Lumayan.” Sahut Ferina singkat. “Lo kenapa sih? Mau ngetawain gue?


Memang’y ada yang salah dengan tampang gue, heh?” tantang’y sebal.


“Hmmmmph… hahahaha… mmph…” Tama membekap mulut, berusaha


menahan tawa. “Ya, maaf deh kalau gue bikin lo sebel karena ganggu acara maskeran lo yang belum kelar. Gue tunggu sampai selesai aja deh!” kata’y sambil menahan geli.


Tahu2 setetes adonan kental jatuh dari wajah Ferina. Ferina merasa konyol sendiri.


“oh, TIDAAAKKK…” refleks Ferina berteriak menahan malu. Dia berbalik dan berlari ke wastafel untuk menyelamatkan harga diri’y yang nyaris tak bersisa.


“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” umpat Ferina sebal! Bisa2’y aku tampil sebodoh ini di depan cowok yang kutaksir?


“Ya udah. Mama ke belakang dulu, ya, kayak’y kue Mama udah matang tuh.” Ujar’y seraya berdiri. “Jangan cemberut gitu dong.” Tegur Wulan.


“Fer, sebenar’y gue mau ngajak lo keluar. Lo mau, kan?” pinta cowok itu tanpa basa-basi.


“Ke mana?”


“Ada deh, yang pasti lo nggak bakal kecewa deh. Mau, kan?”


Ferina pura2 mikir.


“Mama bilang apa?” Ferina balik bertanya. Dia yakin cowok ini sudah membahas niat’y ini dengan mama’y.


Tama tersenyum dan memandang Ferina. “Kata Mama, boleh.”


 


Ferina nggak banyak bicara. Dia penasaran dengan mobil yang dikendarai Tama ini. Seperti’y kok familier ya. Honda Jazz hijau metalik. Ferina yakin banget pernah melihat mobil ini. Tapi entah di mana…


“AC’y nggak hidup kan, Fer? Kayak’y kok dingin banget, ya.” Tama memecah kebisuan.


“Apaan sih!” cetus Ferina sebal.


“Eh, nggak jauh dari sini ada bakso super enak lho…” Tama tidak meladeni kejengkelan Ferina. “Kata’y bisa bikin hangat suasana yang dingin gitu deh!” lanjut’y sok polos.


“Bawel banget.” Gumam Ferina sok jaim.


“Tapi beneran enak lho, Fer.” Kata Tama.


Ferina tetap diam.


“Ini dia tempat bakso’y.” kata Tama sambil menepikan mobil. “Kalau pengin coba, kita bisa makan di sini dulu.” Dia menawarkan.


“Lo bisa berhenti pura2 nggak sih?” Ferina berusaha menahan emosi. “Tujuan awal’y nggak ke sini, kan?”


“Emang nggak, habis suasana’y dingin sih. Kan perlu diangetin dulu.” Ujar Tama.


“Fer.” Ujar Tama sambil menyentuh bahu Ferina.


Refleks Ferina menepis tangan cowok itu kuat2. “LO APA2AN SIH?!” sergah Ferina gusar.


“Fer… lo kenapa sih?” Tama tetap berusaha tenang.


“Fer…” Tama mendesah. “Lo kenapa? Gue salah, ya? Gue bikin lo marah? Gue bikin lo…”


“IYA! GUE EMANG MARAH, GUE SEDIH,GUE KECEWA, PUAS?!” Ferina berteriak. Tangis’y pecah.