
Geng Antarespica dan geng Rigelius kini saling berhadapan. Kedua geng tersebut sepertinya akan tawuran. Bukan namanya geng Rigelius kalau tidak membuat masalah dengan geng lain.
Kedua geng tersebut akan tawuran dikarenakan Alvaro dan Nando membuat kerusuhan di wilayah Antarespica. Alhasil para anggota Antarespica marah dan geram kepada mereka berdua.
"Kalian itu bisa gak sih gak usah cari masalah?! Apa masalah dalam hidup kalian kurang sehingga kalian masih cari masalah?" Nada bicara Albris mengejek.
"Gak usah banyak bacot deh, lo!" Alvaro sudah emosi.
"Yang kebanyakan bacot itu gue atau lo?!"
Alvaro yang sudah naik pitam langsung menyerang Albris terlebih dahulu. Untungnya Albris dapat menghindari serangan Alvaro. Tak hanya mereka berdua saja yang berkelahi, tapi anggota geng mereka berdua juga melakukan tawuran.
Antarespica, geng yang dipimpin Alvredo Abrisam Alaric yang jarang sekali membuat rusuh. Mereka tipe geng yang tidak bisa dikatakan baik, tapi tidak bisa juga dikatakan geng yang tidak baik. Mereka jarang melawan ataupun menyerang geng lain kalau mereka tidak membangunkan singa dari kandangnya.
Lain halnya dengan Antarespica, geng Rigelius dipimpin oleh Alvaro Argi Agustino yang gemar sekali mencari masalah dan suka mengganggu siapa saja tanpa pandang bulu. Rigelius lebih sering bentrokan dengan geng OrionAlthair ketimbang dengan Antarespica. Alvaro dan Vano bisa dibilang musuh bebuyutan sejak kecil.
***
Lina dan Silva berjalan melewati lapangan sekolah yang masih sepi, belum banyak siswa yang berangkat. Sejak tadi Lina selalu mengoceh sedangkan Silva hanya diam saja, entah mendengarkan atau tidak ocehan Lina.
"Sil, lo kenapa?" tanya Lina.
"Gak kenapa-napa, kok," jawab Silva.
"Lo bisa cerita sama gue."
Silva menggelengkan kepala, dia benar-benar tidak mau menceritakan apa pun kepada Lina. Lina bisa memahaminya, Silva belum siap untuk menceritakannya. Saat mereka berdua hendak menaiki tangga, mereka melihat Danial dan Vano yang berdiri di anak tangga paling atas.
"Kita lewat jalan lain saja," ucap Silva langsung membalikkan badan.
Vano yang melihat Silva berbalik arah, dengan cepat menuruni anak tangga dan berdiri di hadapan Silva. "Kenapa lo balik arah?" tanya Vano.
"Minggir!"
"Gue gak mau minggir."
"Cepetan minggir! Gue mau lewat."
"Sekali gue bilang enggak yang berarti enggak."
"Lo pikir sekolah ini punya nenek moyang lo, sehingga lo bisa berbuat apa saja, gitu?"
Vano tidak menanggapi ucapan Silva, cewek itu sepertinya sedang menghindarinya. "Lo masih marah?"
"Ngapain gue marah? Bikin penyakit hati saja," jawab Silva cuek.
Vano langsung menarik tangan Silva dan membawanya pergi, Lina yang hendak mengejarnya, tangannya dicekal oleh Danial.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya," ucap Danial.
"Lepasin tangan gue!" Danial langsung melepas cekalan tangannya.
"Lo bilang masalah? Masalah apa?" tanya Lina.
"Apa balasannya jika gue menceritakan semuanya?" tanya Danial.
"Berapa uang yang lo mau?"
"Gue gak butuh uangmu, nona."
"Terus yang lo mau apa? Jangan bertele-tele deh!"
Danial berjalan maju mendekati Lina, sedangkan Lina berjalan mundur menjauhi Danial. Tubuh Lina sudah menabrak tembok dan posisi Danial semakin dekat, cowok itu memajukan wajahnya sehingga jarak wajahnya dengan wajah Lina kurang lebih 5 cm.
"Lo mau apa?" tanya Lina gemetar ketakutan.
"Lo suka nonton drama Korea gak? Biasanya kalau sudah begini mereka mau ngapain?"
"Stres lo ya?" Lina menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Lo tenang saja, gue gak akan apa-apain lo sebelum lo sah jadi istri gue," bisik Danial di telinga Lina lalu pergi.
Lina menurunkan tangannya, dia mengentak-entakkan kakinya kesal. "Stres tuh anak, bisa-bisa membuat gue pindah sekolah."
Danial yang mendengar ucapan Lina langsung menghentikan langkahnya. "Lo mau pindah sekolah?" tanya Danial memicingkan matanya.
"Iya, gue bisa pindah kapan pun yang gue mau." Lina langsung pergi menuju ke kelasnya.
***
Vano membawa Silva ke kelas XI IIS 2 dan langsung mengunci pintunya dari dalam, tidak membiarkan siapa pun boleh masuk. Silva tidak tahu maksud Vano membawanya ke kelasnya.
"Lo ngapain sih bawa gue kesini?" tanya Silva sengit.
"Lo marah?" tanya Vano.
"Apa urusannya buat lo?"
"Nggak ada."
"Minggir!"
"Nggak!"
"Cepetan minggir!"
"Bayar dulu."
"Please Van, lo minggir! Gue gak mau lagi berurusan jauh dengan lo, geng OrionAlthair dan geng Rigelius. Karena kalian, hidup gue gak tenang sekarang. So, gue mohon sama lo."
Vano memberikan jalan supaya Silva dapat lewat. Cewek itu berjalan melewatinya, tapi dengan cepat Vano menarik tangan Silva hingga cewek itu berdiri di hadapannya.
"Gue gak akan pernah lepasin lo," bisik Vano di telinga Silva.
***
Lina mengaduk-aduk jus mangganya sembari melamun, dia memikirkan perkataan Danial saat mengatakan jika dia tidak akan melakukan apa pun sebelum dirinya sah menjadi istrinya. Entah kenapa dia terus-terusan memikirkan kalimat itu.
"Lin, lo kenapa sih?" tanya Ariena.
"Pasti dia melamun mikirin gue," ucap Danial yang baru saja tiba di kantin.
Lina menoleh ke arah Danial tapi setelah itu dia fokus melihat makanannya dan jus mangganya yang dari tadi dia aduk-aduk tanpa ada niatan untuk meminumnya. Danial duduk di sebelah Lina, dan cewek itu tidak menghiraukan keberadaannya.
"Udahlah lo gak usah pusing-pusing mikirin gue," bisik Danial kepada Lina.
Lina melirik tajam kepada Danial. "Lo jadi orang gak usah ke gr an deh!" Lina langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Lin, lo mau ke mana?" tanya Risma.
"Mau nemenin Silva," jawab Lina.
"Emangnya Silva di mana?" tanya Danial.
"Ish lo itu cowok tapi keponya minta ampun," jawab Ariena sengak.
Lina ikut Silva di perpustakaan yang sedang belajar Matematika untuk ikut olimpiade. Silva mengerutkan keningnya melihat Lina datang dengan wajah lesu tidak seperti biasanya yang selalu ceria.
"What happen?" tanya Silva.
"Sil, menurut lo Danial itu cowoknya gimana sih?"
Silva menutup bukunya dan berpindah posisi berada di depan Lina. "Emangnya kenapa?"
"Masa tadi pas lo dibawa pergi sama Vano, Danial ngedeketin gue dan bilang kalau dia tidak akan ngapa-ngapain gue sebelum gue sah jadi istrinya. Maksudnya apa coba?"
"Mungkin saja Danial seriusan mau mendapatkan cinta lo."
"Iya tapi kan gue gak suka sama dia."
"Coba deh lo buka hati buat dia."
"Gak ah, gue takut sakit hati kaya dulu lagi." Lina trauma dengan masa lalunya sewaktu pacaran dia sering dikhianati dan dibohongi oleh pacarnya.
"Bomat lah, gue gak peduli."
Di lain tempat, Danial yang entah kesambet apa sudah membuat ribut dengan mengambil paksa buku catatan yang dibawa Ariena. Cewek itu berlari mengejar Danial yang berlari membawa buku catatan tersebut.
"Danial! Balikin bukunya!" teriak Ariena.
"Gak mau," ucap Danial.
Danial berhenti di samping tempat sampah.
"Eh lo mau apain tuh buku?" tanya Ariena panik.
"Mau gue buang ke tempat sampah," jawab Danial santai.
"Eh lo bakal kena amukan sa—”
"Gue nggak peduli." Danial tidak main-main dengan ucapannya. Dia membuang buku catatan tersebut ke tempat sampah.
Ariena menepuk jidatnya karena Danial membuang buku tersebut, sedangkan Danial hanya tertawa bersama teman-temannya.
"DANIAL!!!" teriak seorang cewek yang tak asing di telinga.
Danial sontak kaget mendengar teriakan tersebut. Cewek itu mendekat kepada Danial dan langsung menjewer telinganya dengan keras hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"KENAPA LO BUANG BUKU CATATAN GUE KE TEMPAT SAMPAH?!" tanya Lina berapi-api. Ya cewek yang menjewer telinga Danial adalah Lina.
"I ... itu buku catatan punya lo?" tanya Danial.
"Ya iyalah, lo pikir punya siapa? Punya Ariena? Ya jelas bukanlah!"
"Gue gak tahu kalau buku itu punya lo."
"Lo itu benar-benar cowok nyebelin. Lo harus tanggung jawab! Salin semua yang ada di dalam buku itu dan harus sama persis, bagian halaman, judulnya, spasi, dan lainnya. Harus sama persis!" Lina langsung pergi dari hadapan Danial. "Oh ya satu lagi," Lina membalikkan badan. "Gue kasih lo waktu tiga hari buat nyelesain itu jika tidak selesai, lo siap-siap aja buat bagian yang terburuk."
Ancaman Lina terdengar tidak main-main, cewek itu bisa terkenal sangat sadis kepada siapa pun. Danial menggerutui dirinya sendiri.
"Mampus lo, Dan," ejek Rezvan.
"Ini semua gara-gara ulah lo. Kalau saja lo gak ngasih tantangan buat buang buku catatan seseorang," kata Danial kesal.
"Berani berbuat, berani juga bertanggung jawab." Kenzo menepuk pundak Danial.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Lina dan Silva melaksanakan piket terlebih dahulu sedangkan Risma pulang duluan dengan Bisma dan Ariena pulang duluan karena ada acara keluarga. Setelah beberapa menit, mereka berdua selesai piket lalu keluar dari kelas. Saat keluar mereka dikejutkan dengan Danial dan Vano yang berdiri di tembok dekat pintu.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Lina bingung.
"Nungguin kalian," jawab Vano melirik kepada Silva.
"Kita bukan anak kecil lagi, kita bisa pulang sendiri."
"Tapi kalau kalian pas di jalan dicegat oleh anak Rigelius gimana? Siapa yang mau nolongin kalian?" Danial menakut-nakuti mereka.
"Lo gak mau peristiwa kemarin terulang lagi, kan, Sil?" Silva langsung menatap Vano saat mendengar ucapannya.
Lina melihat ke arah Silva. "Memangnya kemarin ada kejadian apa?" tanya Lina.
"Udah lupakan saja, Lin! Gue gak mau bahas itu lagi," jawab Silva.
Mereka berempat berjalan menuruni anak tangga. Silva sejak tadi menundukkan kepala, entah apa yang ada di pikirannya, dia sama sekali tidak mau menatap Vano dan dia menjaga jarak dengannya.
Saat berjalan di tengah lapangan, tiba-tiba kaki Silva merasa sakit akibat kejadian kemarin saat dia disandera oleh Alvaro. Kakinya terkena kayu karena kemarahan Alvaro.
"Aduh," ucap Silva pelan tapi Vano cukup mendengarnya.
"Lo kenapa?" tanya Vano cuek.
"Kaki gue sakit gara-gara kemarin," jawab Silva polos.
Danial menarik tangan Lina pergi duluan, dia membiarkan Vano dan Silva berdua. Dia tidak mau Lina tahu kalau sahabatnya kemarin dijadikan sandera oleh Alvaro.
"Lo kenapa sih, Dan?" tanya Lina.
"Gak kenapa-napa," jawab Danial santai.
"Gue harusnya di sana bantuin Silva."
"Udah lo tenang saja! Biar Vano yang mengurusnya."
"Hah? Vano? Gak salah?" tanya Lina meremehkan.
"Iya lah, kayaknya perlakuan Vano kepada Silva itu agak beda-beda gimana gitu, kaya ada manis-manisnya."
"Heh! Lo pikir sedang iklan air mineral apa?"
"Lah emangnya salah ya perkataan gue?"
"Dasar korban iklan."
"I don't care." Danial bersikap bodo amat. "Ya udah, ayo, gue antar lo pulang."
"Kalau gue pulang sama lo, terus mobil gue gimana? Tolol banget sih lo."
"Mana kunci mobil lo? Biar gue yang menyetir."
"Terus motor lo?"
"Tenang aja, gue tadi berangkat sekolah nebeng sama Vano."
"Dan sekarang lo pulang sekolah mau nebeng sama gue? Dasar kere." Lina memberikan kunci mobilnya kepada Danial.
***
Vano melihat luka di kaki Silva yang membiru. Dia tidak tahu kalau Alvaro berbuat seperti kepada cewek, dia melampiaskan kemarahannya kepada orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang dialaminya.
"Kenapa kemarin lo gak bilang kalau Alvaro nyakitin lo?" tanya Vano.
"Ngapain juga gue bilang ke lo? Lo kan bukan siapa-siapa gue," jawab Silva.
Vano membenarkan ucapan Silva, dia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan cewek itu. "Lo bisa jalan?" tanyanya.
"Bisa." Silva mencoba berdiri tapi kakinya malah semakin tambah sakit. "Aww." Silva kesakitan.
"Kalau gak bisa jalan ya gak usah dipaksakan!"
"Gue pasti bisa."
"Kalau lo paksa, bisa-bisa kaki lo malah tambah sakit."
"Terus gue harus apa?"
Vano berjongkok membelakangi Silva. "Naik ke punggung gue!" perintah Vano.
"Buat apa?" tanya Silva.
"Jangan banyak tanya! Cepetan naik ke punggung gue!"
Silva ragu-ragu naik ke punggung Vano, tapi dia harus bersikap positive thinking. Silva naik ke punggung Vano, dan cowok itu menggendongnya menuju ke mobil miliknya. Tanpa disadari, ada seseorang yang mengawasi mereka berdua.
"Gue harus memberi pelajaran kepada cewek itu karena telah berani mendekati Vano. Tidak biasanya Vano bersikap seintens itu dengan seseorang apalagi seorang cewek," ucap orang tersebut.
***