Silvano

Silvano
Peduli or Kasihan?



Acara SMA Andromeda kali ini adalah wasanawarsa untuk kelas dua belas. Dan hanya kelas dua belas bersama orang tuanya yang berangkat. Sedangkan siswa yang lain diliburkan. Tapi setelah acara tersebut, bakal diadakan acara fashion show nanti malam.


Silva menemani sahabatnya pergi ke butik untuk memilih baju yang bagus supaya bisa menang dalam lomba fashion show. Ariena, Lina, dan Risma asyik memilih bajunya sendiri-sendiri. Silva hanya menunggunya di tempat tunggu.


"Sil, baju ini bagus gak?" Lina menunjukkan long dress lengan pendek berwarna ungu kepada Silva.


"Lo kan punya tubuh yang bagus, dan kulit lo putih, jadi bagus-bagus saja lo pakai itu," jawab Silva.


"Kalau ini?" Kini giliran Risma menunjukkan long dress lengan pendek berwarna merah.


"Itu bagus, tapi yakin lo gak kedinginan nanti malam?"


"Gak lah."


"Lo gak pilih baju?" tanya Ariena.


"Gue udah dibuatkan sendiri sama mama gue."


Mereka bertiga lalu membungkus pesannya masing-masing. Setelah itu, Silva memutuskan untuk pulang ke rumah karena dia ingin istirahat karena beberapa hari ini dia sangat sibuk dengan pekerjaan OSIS.


Di sisi lain, Alvaro duduk di dekat kolam renang rumahnya. Dia masih saja berusaha mencari keberadaan adiknya. Rindu. Itulah yang dirasakan olehnya, adik kesayangannya telah pergi entah ke mana akibat kesalahannya.


"Pak Bimo," kata Alvaro.


"Ada apa, tuan muda?" tanya Pak Bimo.


"Cari tahu semua informasi tentang dia." Alvaro menunjukkan foto Silva.


"Siap laksanakan, tuan muda."


Pak Bimo segera mencari tahu semua informasi tentang Silva. Sedangkan dilain tempat, Vano tengah berkumpul bersama dengan teman-temannya di warung bu Cungkring. Cuma ada delapan orang di tempat tersebut karena yang lainnya sedang sibuk sendiri-sendiri.


"Van, lo nanti mau gandeng siapa?" tanya Rezvan.


"Gandeng Silva atau Renata?" tanya Danial.


Vano langsung menatap tajam kepada Danial. "Kenapa lo bawa-bawa nama Renata?"


"Ya elah, Van. Sensi amat lo."


"Hubungan lo sama Renata apa sih?" tanya Kenzo.


"Gue cuma kasihan sama dia."


"Kasihan atau peduli?" Sindir Danial.


"Diam aja lo sat!"


Vano langsung pergi dari tempat tersebut. Dia mencoba menelepon Silva beberapa kali tapi cewek itu tidak mengangkatnya sekali pun. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumahnya.


Saat tiba di rumahnya. Di sana dia melihat bu Kirana sedang membuat busana pesta. Vano mengetuk pintu.


"Permisi tante," ucap Vano


"Eh ada nak Vano. Mari masuk." Bu Kirana mempersilahkan Vano masuk.


Vano masuk ke rumah dan dia duduk di salah satu sofa. "Silvanya ada?"


"Aduh... Silva-nya sedang tidur. Katanya dia capek dan badannya sakit semua."


"Kok bisa gitu?"


"Beberapa hari ini dia kerja keras ditambah lagi dia harus mengurus beberapa kegiatan OSIS di sekolah."


"Oh kalau gitu saya pergi saja." Vano berpamitan pulang.


Saat hendak naik ke motornya, dia mendapatkan telepon dari Renata yang memintanya supaya datang ke rumahnya. Vano langsung pergi ke rumah Renata.


Sesampai di sana, dia melihat rumah Renata yang berantakan, pecahan kaca berada dimana-mana. Rumahnya seperti kapal pecah yang membuat Vano heran, siapa yang melakukan itu semua, apa Renata?


"Siapa yang lakuin ini semua?" tanya Vano.


"Papa angkat gue," jawab Renata lirih.


"Lo gak apa-apa, kan?"


"Gue takut kalau dia kembali lagi ke sini."


Vano membawa Renata duduk di teras belakang rumah. "Coba lo ceritain semuanya."


"Gue gak berani."


"Ya sudah. Gimana kalau kita keliling Salatiga dan mencari busana buat lo pakai nanti malam?"


"Gak repotin lo?"


"Kalau repotin, gue bakal nawarin lo."


Renata mengangguk setuju. Dia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil dompetnya. Setelah itu dia pergi bersama Vano keliling Salatiga dan keliling beberapa butik dan toko pakaian.


***


 


 


Arifin dan Danial sedang dalam perjalanan menuju ke markas OrionAlthair. Tiba-tiba mereka dihadang oleh Alvaro bersama dengan Arkhan, ketua Rigelius sebelum Alvaro.


Arifin dan Danial turun dari motornya. Mereka tahu maksud Alvaro menghadangnya bersama Arkhan pasti untuk balas dendam karena markas Rigelius sudah beberapa kali diporak-porandakan oleh Vano.


"Mau apa lo?" tanya Danial tanpa rasa takut.


"Gue mau nantang kalian semua," jawab Alvaro santai dan sedikit sombong.


Arifin terkekeh. "Gak salah? Kalian itu gak punya malu? Setiap nantang kita pasti kalian selalu saja kalah."


Alvaro tidak terima mendengar ucapan Arifin yang meremehkan dan merendahkan harga dirinya dan gengnya.


"Gue tunggu kalian semua di lapangan Gebrak." Arkhan langsung pergi.


"Ok. Gue yakin kalau kalian pasti bakal kalah seperti biasanya."


Alvaro yang mendengar Danial meremehkannya, hendak memukul cowok itu, tapi justru Arkhan duluanlah yang melakukannya. Danial tidak bisa apa-apa ketika dipukul oleh Arkhan. Dia mantan ketua Rigelius yang terkenal, brutal, kuat. Dan yang bisa menandinginya adalah Danzel, ketua OrionAlthair sebelum Vano.


Arkhan memegang erat kerah baju Danial dan melotot tajam kepadanya. Arifin yang melihatnya hanya menelan salivanya.


"Lo aja kalah sama gue, gimana ceritanya nanti geng lo mau menang? Jangan pernah meremehkan kemampuan lawan." Satu pukulan mendarat di perut Danial.


Arkhan dan Alvaro pergi dari tempat tersebut. Arifin membantu Danial berdiri. Cowok itu sudah babak belur semua akibat ulah Arkhan yang memukulinya tanpa ampun.


Danial mencoba menghubungi nomor ponsel Vano, tapi nomor cowok itu tidak aktif meskipun Danial sudah mencobanya berulang kali dan hasilnya tetap nihil. Tak habis akal, Danial menelepon ke nomor Silva dan untungnya cewek itu mengangkat teleponnya.


"Hallo, Sil," kata Danial.


"Waalaikumsalam," ucap Silva di seberang sana.


"Sorry, lupa. Vano bersama lo?"


"Gak, tadi sih dia kesini tapi pas gue tidur. Terus dia pergi."


"Dia di mana sekarang?"


"Gue gak tahu, gue bakal coba menghubunginya. Tapi emangnya ada apa?"


"Ini masalah geng."


"Oh... gue tutup dulu teleponnya."


"Please, angkat, Van!" Monolog Silva.


Beberapa menit kemudian, Vano menelepon Silva. Cewek itu segera mengangkat teleponnya.


"Ada apa? Kangen?" tanya Vano dari seberang.


"Gr amat lo," sengak Silva.


"Terus lo ngapain telepon gue?"


"Van, bajunya bagus gak?" tanya Renata.


Dari telepon itu Silva bisa mendengar jelas suara Renata. "Lo lagi sama Renata?"


"Iya, gue nemenin dia mencari pakaian buat—"


"Maaf, gue ganggu kalian. Gue cuma mau mengabari lo kalau geng lo lagi membutuhkan lo." Silva langsung menutup teleponnya sepihak.


Vano yang baru saja ingin menjelaskan semuanya, mengurungkan niatnya. Dia meminta Renata untuk pulang sendiri dan dia harus pergi segera ke markas OrionAlthair. Pikiran Vano terus memikirkan Silva, apa cewek itu akan marah kepadanya?


Sesampai di markas, Vano melihat Danial yang sedang diobati oleh Kenzo. "Ada apa? Kenapa lo babak belur begitu?"


Danial berdiri di hadapan Vano. "Lo dari mana saja, sat?! Gue udah coba buat menghubungi lo tapi lo gak menjawabnya satu pun!"


"Gue—“


"Lo sama Renata, kan? Geng ini lebih membutuhkan lo daripada dia, Van! Kita semua ditantang Arkhan di lapangan Gebrak, sekarang!"


"Lalu kita tunggu apa lagi? Kita pergi ke sana sekarang juga."


"Otak lo ke mana? Kita gak bakal mungkin menang melawan Arkhan."


Vano tersenyum miring. "Terus kita juga harus panggil Danzel kesini? Kalau kita panggil dia kesini, apa bedanya kita sama mereka? Sama-sama pengecut."


"Gue yakin bisa membuat Arkhan bungkam."


Vano langsung pergi diikuti anggota OrionAlthair yang lainnya. Mereka beramai-ramai pergi ke lapangan Gebrak. Di sana bakal terjadi pertempuran antara dua geng yang terkenal di Salatiga.


"Datang juga, lo." Arkhan menatap Vano meremehkan dan sifat angkuh serta sombongnya terlihat.


"Gue pasti bakal datang. Gue bukan pengecut seperti Alvaro dan Nando," kata Vano menusuk dihati.


"Maksud lo apa?!"


"Alvaro datang ke markas bikin onar, tapi dia dapat ditaklukkan di sana, sedangkan Nando, dia menyuruh anak buah gue buat hancurin markas gue, tanpa berani datang langsung. Dan sekarang mereka mengajak lo buat menghadapi kita. Itu kalau bukan pengecut, terus apa namanya?"


Arkhan langsung memukul wajah Vano dengan keras hingga membuatnya mundur beberapa langkah karena dia belum siap menerima serangan.


"Kita selesaikan ini dengan jantan!"


***


 


 


Malam hari, Vano datang ke sekolah bersama dengan Silva. Penampilan Vano dan Silva sangat serasi. Vano memakai jas berwarna putih, celana hitam panjang. Sedangkan Silva memakai long dress buatan ibunya sendiri. Penampilan lebih sederhana dari yang lainnya, dia tidak terlalu memakai make up yang tebal.


Vano menggandeng tangan Silva melewati lapangan yang sudah dipenuhi banyak orang. Orang-orang iri melihat keserasian mereka berdua, tetapi ada beberapa netizen yang mencibir mereka, terutama Silva yang dinilai tidak pantas dengan Vano.


 


 


'Vano sama Silva cocok banget.'


'Mereka pacaran kah?'


'Vano gak pantas buat Vano. Bagai langit dan bumi.'


'Vano itu cocok sama Regina atau gak Raina.'


'Vano aja terlihat cool. Sedangkan Silva, bajunya aja gak ada bagus-bagusnya sama sekali. Gak level.'


 


 


Regina tersenyum puas mendengar cibiran yang dilontarkan untuk Silva. Dia menghampiri Silva, pandangannya melihat dari atas sampai bawah.


"Lebih baik lo pulang saja, lo itu gak pantas di sini," ucap Regina merendahkan.


"Kenapa gak pantas? Apa yang salah dengan baju gue?" tanya Silva santai.


"Heh! Lo lihat sekeliling lo." Regina menunjuk beberapa orang yang mengerumuni mereka berdua. "Baju lo itu gak level dengan kita. Palingan baju lo itu harganya murahan, gak sama dengan baju-baju kita yang mahal."


Vano bisa saja langsung membungkam mulut Regina, tapi dia tidak melukakan hal itu karena dia yakin jika Silva sendiri bisa membuat bungkam cewek sombong itu. Mendengar hinaan Regina, Silva diam sebentar, bukan berarti dia tidak bisa melawan.


"Gue akui, mungkin harga baju gue gak semahal baju kalian semua yang bisa mencapai berjuta-jutaan, bermilyar-milyaran, bahkan bertriliun-triliun. Lagian gue masih punya otak yang gue gunakan untuk mikir, buat apa beli baju semahal itu? Buat pamer? Iya? Percuma. Kalian menghambur-hamburkan uang buat hal yang gak berguna."


"Daripada menghamburkan uang untuk membeli baju semahal itu, lebih baik bisa digunakan untuk menabung, demi masa depan, kan?" Silva berhasil membungkam mereka yang tadi mengatakan bajunya gak pantas.


"Gue cuma mau bilang sama kalian. Baju gue justru lebih berharga dan mahal dari baju kalian semua. Karena apa? Karena baju ini dibuat dengan tangan ibu gue sendiri. Dalam pembuatan baju ini ada rasa kasih sayang seorang ibu yang harganya jauh lebih mahal dan tidak ada yang bisa menandinginya. Apakah baju kalian sama seperti itu? Gak, kan? Meskipun baju gue gak pantas di mata kalian, tapi bagi gue baju ini tetap pantas karena butuh perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk membuatnya. Dan ada kasih sayang yang tulus dari seorang ibu."


Semua orang terdiam mendengar perkataan Silva. Kata-kata Silva benar-benar menusuk hati para pendengarnya. Regina yang tadinya meremehkan Silva akhirnya bungkam sendiri. Dia sadar bahwa dia tidak mempunyai apa yang dimiliki oleh Silva.


Vano membawa Silva pergi dari kerumunan tersebut. Dia membawa Silva menemui teman-temannya. Para teman Silva maupun Vano sama-sama bengong ketika melihat Vano menggandeng tangan Silva bak pasangan romantis.


"Ada yang bisa menjelaskan semuanya?" tanya Ariena heran.


"Kalian berdua jadian?" tanya Rezvan.


"Kalau jadian, cocok lah," lanjut Arifin.


Vano dan Silva hanya saling pandang dan tertawa. "Iya, kita baru jadian tadi siang," ungkap Vano terang-terangan.


"Berarti bakal ada party makan-makan dong." Andhra bersemangat.


"Itu sudah disediakan banyak makanan." Silva menunjuk hidangan yang tersedia.


"Ya elah, kalian jadian pas banget pas dengan acara ini, jadinya gak ngeluarin biaya buat traktir kita."


"Rezeki anak sholeh."


Mereka semua tertawa bersama. Jarang sekali ada momen seperti itu. Berkumpul bersama, melupakan semua masalah yang ada. Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal di hati Silva. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Sesampai di kamar mandi, tiba-tiba isak tangis Silva keluar begitu saja. Dia menangis histeris tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Silva menangis cukup lama dan dia baru keluar dari kamar mandi setelah tiga puluh menit lebih. Saat keluar, dia melihat Raina berdiri di samping tembok kamar mandi.


“Habis nangis lo?” sengak Raina.


“Apa urusannya buat lo?” ketus Silva.


“Berani banget lo bicara dengan nada ketus ke gue! Tapi ... hari ini gue maafin lo karena lo habis nangis.”


“Maksud lo apa?!”


“Lo pasti menangis mengingat foto kebersamaan Vano dengan Renata tadi malam, kan?”


Silva hanya diam saja. Yang dikatakan Renata memang tidak salah. Dia sangat terkejut saat Renata mengirim foto kebersamaan Vano dengan Renata tadi malam. Dia berusaha berpikiran positif. Namun, hatinya tetap merasa sangat sakit dan hancur.


“Lebih baik lo berhati-hati pada Renata. Lo jangan menganggap dia remah, karena apa? Karena yang terlihat bagus di luar belum tentu bagus di dalam.” Raina langsung pergi meninggalkan Silva.


“Maksudnya apa coba?” tanya Silva bingung.


***