
Albris ikut nongkrong di markas adiknya. Cowok itu cepat akrab dengan teman-teman Vano, terutama Rezvan. Mereka berdua jika dipadupadankan bisa menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh.
"Bang, sejak kapan lo jadi ketua Antarespica?" tanya Rezvan.
"Sejak gue kelas sebelas sampai sekarang," jawab Albris.
"Udah punya pacar belum, bang?" tanya Andhra.
"Pacar? Gak punya, tapi kalau mantan sama gebetan, punya."
"Gebetan lo ada berapa?"
"Ada enam."
"Gila, gak jauh beda sama Rezvan."
Disisi lain, Alvaro sedang berkumpul dengan anak buahnya di markas. Seperti biasanya, Nando dan yang lainnya selalu meminum minuman keras, merokok. Cuma Alvaro saja yang tidak seperti mereka, dia hanya ikut-ikutan kumpul.
"Var, lo gak mau balas dendam sama Vano?" tanya Nando.
"Belum saatnya," jawab Alvaro santai.
"Terus kapan lo mau balas dendam sama dia? Atau jangan-jangan lo takut sama Vano?" Alvaro langsung menarik kerah baju Nando. Dia merasa harga dirinya telah direndahkan.
"Gue gak pernah takut sama Vano. Gue gak pengecut kaya lo!"
Nando terkekeh. "Buktikan kata-kata lo!"
"Gue udah bilang belum saatnya!"
"Bilang aja lo takut! Dasar cemen!"
Alvaro menonjok wajah Nando dengan sangat keras. "Lo itu yang cemen. Lo menyuruh Faisal buat hancurin markas OrionAlthair dan lo juga menyuruh dia buat fitnah gue bahwa gue yang menyuruh dia buat hancurin markasnya."
"Gue udah muak dengan lo, Var. Setiap kita berhadapan dengan OrionAlthair, pasti kita selalu kalah."
Alvaro diam saja, pikirannya sedang menyusun rencana. "Farhan dan Vito, kalian bawa Silva ke sini!"
"Seriusan? Bisa-bisa Vano mengamuk lagi kalau kita bawa Silva dibawa kesini," ucap Farhan.
"Biar gue urus masalah Vano. Satu lawan satu."
Farhan dan Vito segera melaksanakan perintah dari Alvaro, ketua mereka. Alvaro lalu pergi dari tempat tersebut karena merasa sesak dan dia tidak nyaman dengan bau asap rokok. Sebelum pergi, Alvaro mengirim pesan singkat kepada Farhan.
Farhan membaca pesan dari Alvaro, setelah itu dia membawa Silva ke tempat yang sudah ditentukan oleh Alvaro. Silva dalam keadaan tak sadarkan diri. Vito meletakkan Silva di sofa yang berada di markas Alvaro, bukan markas geng Rigelius. Markas tersebut biasa dijadikan tempat berkumpul untuk Alvaro, Farhan, dan Vito. Hanya mereka bertiga yang tahu tempat tersebut.
"Gak lo apa-apain, kan?" tanya Alvaro datar.
"Tenang aja bos, dia gak lecet sedikit pun," jawab Vito.
"Kalian pergi saja, gue mau bicara empat mata dengannya."
Farhan dan Vito segera keluar sambil berjaga-jaga kalau saja ada orang yang tiba-tiba datang. Bersamaan dengan kepergian mereka, Silva sadarkan diri dan mengerjapkan matanya dua kali karena melihat Alvaro berada di sampingnya.
"Kok gue ada di sini?" tanya Silva bingung.
"Sorry, gue yang nyuruh anak buah gue buat bawa lo kesini," jawab Alvaro.
"Lo kan bisa minta gue datang baik-baik kesini. Gak perlu nyuruh anak buah lo!"
"Gue takut lo gak mau datang ke sini."
"Kalau lo mintanya baik-baik, ya pasti gue bakal datang lah." Silva berkata sengak.
Alvaro hanya diam saja. Dia memberikan Silva minuman tapi gadis itu menolaknya mentah-mentah. Silva memijat pelipisnya karena kepalanya merasa pusing akibat ulah Farhan dan Vito yang memukul kepala dengan kayu.
"Gue mau tanya sama lo," kata Alvaro to the point.
"Tanya apa?" tanya Silva sedikit waswas.
"Lo adik gue, kan?"
Mata Silva melotot. Dia tidak percaya kalau Alvaro bakal mengatakan hal itu. "G... gu... gue bukan adik lo," jawab Silva terbata-bata.
Alvaro mengangkat tangan kiri Silva. "Gelang ini cukup membuktikan kalau lo itu adik gue."
Silva mencoba melepas cengkeraman Alvaro. "Kenapa lo begitu yakin dengan gelang ini?"
"Karena gue sendirilah yang memberikan gelang ini ke adik gue."
"Gelang kaya gini itu banyak di pasaran."
"Lo lihat baik-baik!" Alvaro menunjuk ke arah gelangnya. "Bandul dari gelang ini ada pesawat dan love. Dalam love ini, ada ukiran huruf S. Gue sengaja memesan seperti itu untuk membedakan dengan yang lain."
Silva menelan salvinanya dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran. "Gelang ini tidak cukup membuktikan kalau gue adik lo. Kalau gue benar-benar adik lo, buat apa gue menyembunyikannya dari lo?"
Alvaro terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Silva. "Sederhana saja, adik gue pasti marah besar sama gue."
"Al, gue tegasin ke lo kalau gue bukan adik lo. Dan gelang ini gue dikasih sama teman cewek gue waktu SMP."
"Teman lo? Dia di mana sekarang?"
"Gue gak tahu dia di mana, setelah dia kasih gelang ini ke gue, dia langsung pergi tanpa ada kabar. Dia pernah berpesan ke gue buat jagain gelang ini untuknya."
Alvaro terduduk lemas di lantai. Dia mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal. "Lo gak bohong, kan?"
"Buat apa gue bohong, Al?"
Alvaro sudah tidak tahu mau mencari adiknya di mana lagi. Dia sudah frustrasi kehilangan adik satu-satunya. Harusnya dia tidak melakukan kesalahan fatal itu, tapi mau bagaimana lagi? Kayu sudah jadi abu dan tidak bisa kembali lagi menjadi kayu, kan?
"Gue bakal bantu lo buat nyari adik lo." Silva menepuk-nepuk pundak Alvaro.
"Gue gak tahu harus mencari dia di mana lagi."
Silva tersenyum kepada Alvaro. Entah mengapa mendengar ucapan Silva dan melihat senyumannya, hatinya sedikit tenang.
"Gue akan antar lo pulang."
Alvaro mengantar Silva dengan naik motornya. Dia bisa saja menyuruh Farhan atau Vito buat mengantarnya, tapi dia tidak mau mereka terkena masalah jika mereka bertemu dengan Vano di jalan.
Vano yang tengah mengendarai motornya tidak sengaja melihat Alvaro memboncengkan Silva di dekat lampu merah. Vano memutuskan untuk mengejar Alvaro. Dia menyalip Alvaro lalu berhenti di hadapannya berjarak kurang lebih tiga meter. Alvaro menghentikan motornya dan menghampiri Vano yang sepertinya sudah menunggunya.
"Lo mau bawa Silva ke mana?" tanya Vano.
"Gue mau antar dia pulang," jawab Alvaro santai.
"Bohong!"
"Sebenarnya gue tadi mau buat dia sebagai sandera tapi gue gak sekejam itu."
Vano yang murka mendengar bahwa Silva akan dijadikan sandera oleh Alvaro, langsung menonjok wajah Alvaro. Alvaro yang tidak siap menerima pukulan, tubuhnya mundur beberapa langkah. Vano terus maju dan memukul Alvaro.
Silva yang melihat perkelahian antara Vano dengan Alvaro mencoba untuk melerai mereka. Namun usahanya sia-sia saja, Vano sudah murka dan tidak mengendalikan emosinya. Dia tetap saja memukuli Alvaro yang sudah tak berdaya. Saat Vano hendak melayangkan pukulannya, Silva langsung berdiri di hadapan Vano hingga cowok itu menurunkan tangannya.
"Minggir!" bentak Vano.
"Gak! Lo gak bisa mukulin anak orang gitu saja!" Silva menaikkan oktaf bicaranya.
"Dia sudah mau jadiin lo sandera."
"Dia gak jadiin gue sandera, kalau itu benar, kenapa gue bisa berdiri di hadapan lo sekarang?!"
"Jangan buat gue murka! Cepat minggir!"
"Gue gak akan biarin lo mukulin Alvaro lagi. Kalian berdua itu sahabat sejak kecil, tapi kenapa kalian terus saja berkelahi? Apa gak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah selain berkelahi?"
"Silva, minggir!"
"Lo gak dengar gue ngomong? Gue gak akan minggir! Alvaro gak seburuk yang lo kira." Silva memapah Alvaro pergi.
Vano mengepalkan tangannya tanda marah. Kenapa Silva lebih memilih membela Alvaro. Daripada emosinya tambah memuncak, Vano memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Silva mengobati luka yang ada di wajah Alvaro. Cowok itu mengaduh kesakitan ketika Silva menempelkan obat merah di bagian yang terluka. Alvaro tak habis pikir kenapa dia malah membela dirinya?
"Kenapa lo belain gue?" tanya Alvaro.
Silva meletakkan kapas yang dia pegang. "Gue yakin lo itu sebenarnya orang baik," jawab Silva.
"Kalau tebakan lo salah gimana? Bisa saja kan besok-besok gue bakal jadi orang yang kejam."
"Var, meskipun lo kejam, tapi gue tetap yakin kalau dalam hati kecil lo itu masih ada kebaikan, tapi lo cuma gengsi aja."
Alvaro diam saja. Ucapan Silva ada benarnya juga. Selama ini dia terlalu gengsi untuk berbuat kebaikan.
"Gue gak tahu alasan lo gengsi untuk berbuat kebaikan," kata Silva.
"Gue dulu orang baik, tapi kebaikan gue dimanfaatkan oleh orang yang gue percaya. Sejak saat itu gue gak mau berbuat kebaikan."
Silva menahan tawanya mendengar penjelasan Alvaro. "Terus lo gak mau berbuat kebaikan gitu? Harusnya lo beri pelajaran kepada orang itu dengan kebaikan lo. Bukannya malah berhenti berbuat kebaikan."
"Gue gak tahu hati lo terbuat apa. Lo masih bisa saja sabar dan mau memaafkan orang."
"Allah saja Maha Pemaaf, terus kenapa gue yang hanya hamba-Nya gak bisa memaafkan?"
***
Vano diminta oleh ayahnya untuk menemani Regina pergi ke mana saja yang dia mau. Sebenarnya dia sangat malas bersama dengan cewek itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lagian dia juga mau diajak oleh Regina supaya dia bisa melupakan masalahnya dengan Silva.
"Van, lo kenapa?" tanya Regina.
"Apa pentingnya buat lo?" Jawab Vano sengak.
"Itu penting bagi gue."
Vano malas menanggapi ucapan Regina. Dia mengikuti Regina yang berbelanja banyak barang, mulai dari baju, tas, sepatu, make up, dan masih banyak lagi. Saat sedang jalan, Vano tidak sengaja melihat Silva yang bersama dengan Devan.
Devan dan Silva pergi ke mal untuk membeli hadiah dan beberapa barang lain. Mereka berdua terlihat sangat dekat, saling bercanda tawa dan tertawa bersama. Vano merasa tidak ikhlas jika Silva pergi dengan cowok lain.
"Van, itu Silva, kan?" tanya Regina sengaja jadi kompor.
"Gue juga punya mata kali," kata Vano sengak.
"Mereka cocok banget, ya?" Vano melirik tajam ke arah Regina.
"Ya kan, Devan itu ketos, pinter dan baik. Sedangkan Silva itu cantik, polos, pinter, dan salah satu anggota pengurus OSIS." Regina sengaja memanas-manasi Vano.
"Seluruh sekolah juga sudah tahu kalau Devan itu suka sama Silva. Dan gue dapat kabar kalau Devan bakal nembak Silva. So, saingan gue gugur satu."
"Jangan harap Devan bisa mendapatkan Silva. Dan gue peringatkan ke lo, sampai kapan pun gue gak bakal cinta sama lo." Vano pergi meninggalkan Regina sendirian.
Regina mengentak-entakkan kakinya kesal. "Van! Lo mau ke mana?! Jangan tinggalin gue sendirian!" teriak Regina yang entah didengar oleh Vano atau tidak.
***