Silvano

Silvano
Rumah Nenek



Vano sedang bermain game bersama dengan Albris dan menghiraukan adiknya yang minta ditemani untuk belajar. Mereka berdua telah larut dalam dunianya sendiri-sendiri. Bu Karina yang melihat tingkah kedua putranya hanya geleng-geleng kepala.


"Albris, Vano," panggil Bu karina dengan lembut.


Albris dan Vano masih tetap fokus dengan gamenya. "Ada apa, Ma?" tanya mereka serempak.


"Kalian bukannya mengajari adiknya belajar malah main game sendiri."


"Kan Ava sudah ada guru privat, Ma."


"Ya kan gak setiap hari dia datang, Vano. Harusnya kalian sebagai kakaknya yang mengajari adiknya bukan orang lain. Avariella punya dua kakak tapi gak bisa diandalkan semua."


Albris dan Vano hanya saling pandang lalu mereka malah melanjutkan bermain game.


"Lama-lama game kalian mama jual baru tahu rasa."


"Jangan dong, Ma."


"Makanya salah satu dari kalian temani Avariella belajar."


"Bang Albris aja, kan otaknya lebih encer dan dia juga lebih tua. Lebih banyak pengalaman."


"Kok gue sih?" Protes Albris.


"Albris, yang dikatakan Vano ada benarnya, kamu cepat temani adikmu belajar!" perintah Bu Karina.


Albris mau tidak mau harus menemani adiknya belajar sedangkan Vano masih sibuk melanjutkan gamenya.


"Vano, kamu juga belajar!"


"Gak ada PR atau ulangan, Ma."


"Masa kamu belajarnya cuma kalau ada PR dan ulangan doang. Niat sekolah gak sih, kamu?!"


Vano mendengus kesal, dia langsung pergi ke kamar dan membanting pintu kamarnya karena kesal. Tapi bukannya belajar, dia malah mengambil gitar dan memainkannya. Vano mengambil ponselnya, dia melihat foto tiga orang cowok dan satu orang cewek. Foto itu diambil saat mereka masih sekitar umur empat sampai lima tahun.


"Vano!" panggil bu Karina.


"Ada apa, Ma?" tanya Vano sedikit berteriak.


"Nenek mau ngomong sama kamu."


Vano turun ke ruang keluarga. Dia mengambil telepon mamanya. "Assalamualaikum, nek," sapa Vano ramah.


"Waalaikumsalam, gimana kabarmu?" Jawab nenek.


"Alhamdulillah baik. Ada apa ya, nek?"


"Besok kamu ke rumah nenek ya? Kan kamu sekolahnya libur."


"Insyaallah, nek. Udah dulu ya, nek? Vano udah ngantuk, mau tidur. Vano sayang nenek."


"Good night. Have a nice dream! Nenek juga sayang Vano."


***


 


 


Silva tengah makan malam bersama kedua orang tuanya dan Alvaro. Cowok itu masih di rumah Silva karena dia belum sepenuhnya sembuh dan dia tidak mau kena amarah dari ayahnya karena wajahnya babak belur seperti itu.


"Siapa namamu, nak?" tanya Pak Azam.


"Alvaro Argi Agustino, paman," jawab Alvaro sopan.


Silva tersedak makanan yang dia makan saat Alvaro menyebutkan nama lengkapnya.


"Kamu kenapa to, nduk?" Bu Kirana memberikan segelas minum kepada Silva sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Gak kenapa-napa kok, Ma," ucap Silva.


"Nama gue sebagus itukah sampai-sampai membuat lo tersedak?" Ledek Alvaro.


"Gr amat lo jadi orang," sengak Silva.


Makan malam selesai, Pak Azam dan Bu Kirana pergi ke kamar terlebih dahulu sedangkan Silva dan Alvaro masih setia berada di meja makan.


"Bukannya lo itu Silva yang pernah gue jadikan sandera, kan?" tanya Alvaro.


"Iya," jawab Silva singkat dan ketus.


"Gue pernah jahat ke lo tapi kenapa lo mau nolongin gue?"


Silva menghembuskan napasnya. "Kalau gue membalas perbuatan lo dengan kejahatan, lalu apa bedanya gue sama lo? Lagian nabi Muhammad SAW, mengajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan."


"Agama lo lumayan juga."


"Agama gue belum ada apa-apanya, gue masih perlu banyak belajar lagi."


Silva membereskan piring-piring bekas makan malam tadi lalu mencucinya. Alvaro kagum dengan cewek itu. Entah kenapa dia jadi merindukan sosok wanita yang selama ini dia cari.


Setelah selesai mencuci piring, Silva duduk di sofa sembari menonton tv sambil memakan camilan. Alvaro duduk di sofa lain dan ikut menonton tv.


"Lo sama Vano itu dekat ya?" tanya Alvaro.


"Gak, gue kenal dia baru satu bulan lebih padahal kita satu sekolahan hampir dua tahun," jawab Silva.


"Tapi kenapa Vano sangat perhatian ke lo?"


"Hanya Allah dan hatinya yang tahu."


Alvaro hanya geleng-geleng kepala. Dia memilih untuk diam dan menonton tv. Tanpa sengaja dia melihat gelang perak yang dipakai Silva, dia merasa tidak asing dengan gelangnya dan seperti pernah melihatnya, tapi di mana?


Ponsel Silva bergetar, ada pesan masuk dari Vano.


 


 


From: Vano


Besok gue jemput ke rumah lo jam satu siang.


 


 


Hah? Mau ke mana?


 


 


Kita lihat saja besok.


 


 


Kalau gue gak mau gimana?


 


 


Pokoknya harus mau.Gue gak menerima penolakan.


 


 


Dasar pemaksaan!


 


 


I don't care. Alvaro masih ada di rumah lo?


 


 


Masih, dia lagi sama gue nonton tv.


 


 


Lebih baik lo jauh-jauh dari dia.


 


 


 


 


Tapi gue gak suka lo dekat sama dia.


 


 


Heh! Lo cemburu gue dekat sama dia?


 


 


 


 


Siapa juga yang cemburu?


 


 


Terserah lo deh. Malas ngomong sama orang kaya lo.


 


 


 


 


Silva langsung menonaktifkan ponselnya. Sedari tadi Alvaro hanya diam saja. Silva memperhatikan cowok itu, sepertinya dia sedang melamun memikirkan sesuatu.


"Woi Var! Lo ngalamunin apa?" tanya Silva.


"Gak ada," jawab Alvaro bohong.


"Kenapa lo belum pulang ke rumah lo? Nanti kalau ortu lo nyariin gimana?"


"Mereka gak akan nyariin gue."


"Kenapa?"


"Tujuan gue datang ke kota ini cuma satu, yaitu mencari dan menemukan keberadaan adik gue yang sudah menghilang hampir sepuluh tahun."


"Kenapa adik lo bisa hilang?"


"Kepo banget sih, lo."


Silva melempar kulit kacang kepada Alvaro. "Lo sih, kalau cerita setengah-setengah, gak tuntas."


"Buat apa gue ceritain masalah gue sama lo? Kan lo bukan siapa-siapa gue."


"Yaelah. Siapa tahu aja gue bisa bantu buat nemuin adik lo yang hilang itu."


Alvaro terdiam sebentar, dia mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya. "Semua itu karena kesalahan gue. Gue cuma ingin adik gue satu-satunya pulang."


"Semoga dia cepat pulang."


***


 


 


Vano sudah berada di rumah Silva, dia yang meminta izin ke pak Azam untuk mengajak Silva pergi ke rumah neneknya yang berada di Magelang. Saat itu kebetulan Alvaro sudah pergi karena dia tidak mau merepotkan Silva dan keluarganya jadi Vano tidak bertemu dengannya. Setelah mendapat izin dari pak Azam, Silva baru mau pergi dengan Vano.


Silva masuk ke mobil Vano, dia bilang akan menginap sehari dua hari di rumah neneknya, jadi Silva terpaksa membawa beberapa pakaian ganti. Silva masih tidak habis pikir, dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa Vano justru mengajaknya untuk ke rumah neneknya?


"Lo sama Alvaro semalam ngapain aja?" tanya Vano.


Silva mengerutkan keningnya. "Kepo," jawab Silva.


Vano fokus menyetir, jalanan lumayan ramai tapi lancar. Tidak terlalu macet. Selama perjalanan, Silva memilih untuk tidur karena perjalanan akan memakan waktu satu jam lebih. Vano mendengus kesal karena Silva malah tidur pulas.


Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih tiga puluh menit, Vano tiba di rumah neneknya yang berada di Magelang. Silva mengekor di belakang Vano masuk ke dalam rumah neneknya yang bisa dibilang cukup mewah.


"Assalamualaikum, nenek." Vano dan Silva bergantian mencium tangan neneknya.


"Waalaikumsalam." Nenek langsung memeluk erat cucu kesayangannya itu.


Nenek melihat Silva dari atas sampai bawah. "Dia siapa, Van? Istrimu?"


Vano hanya tertawa. "Doakan saja, nek," bisik Vano di telinga nenek.


"Saya Silva, nek. Temannya Vano, bukan istrinya. Kami kan masih SMA, masa sudah menikah," kata Silva lembut.


"Kan siapa tahu aja kalian berdua dijodohkan. Lagian Vano kalau kesini jarang bawa orang apalagi cewek," kata nenek.


Pipi Silva sepertinya memerah akibat mendengar ucapan nenek Vano, jadi dia adalah cewek pertama yang dibawa Vano menemui neneknya.


"Vano, kamu menginap di sini, kan?" tanya Vano.


"Bukan Vano saja, nek, tapi Silva juga akan menginap di sini," jawab Vano.


Mereka bertiga lalu pergi ke taman belakang. Di sana ada banyak berbagai macam bunga dan kupu-kupu. Sungguh indah. Silva banyak mengobrol dengan nenek Vano, sepertinya mereka berdua sangat cocok. Apalagi tipikal Silva yang mudah bergaul dengan orang lain, sopan santun, dan lemah lembut membuat nenek merasa nyaman bersamanya.


"Nek, Vano pergi ke kamar dulu ya? Capek habis nyetir." Nenek mengangguk setuju, Vano lalu pergi ke kamarnya.


Silva duduk di rumput jepang yang ada di taman tersebut. "Nek, Vano itu cucu kesayangan nenek, ya?" tanya Silva.


"Iya begitulah, karena saat kelahirannya, keluarga yang semula terpecah belah dapat bergabung kembali," tutur nenek.


Silva hanya menganggukkan kepala sebagai tanda dia mengerti dengan penjelasan nenek.


"Kamu itu pacarnya Vano?" tanya nenek.


Silva menggelengkan kepala. "Bukan, nek."


"Terus apanya? Vano tidak mungkin mengajak sembarang cewek ke sini."


"Kami cuma teman. Tapi gak tahu ke depannya seperti apa."


"Seingat nenek, cuma ada dua cewek yang Vano ajak kesini."


"Siapa saja, nek?" Mendadak Silva menjadi sangat ingin tahu.


"Sahabatnya sejak kecil dan kamu. Oh ya, kamu mau makan?"


"Mau, asalkan sama nenek."


Silva dan nenek lalu pergi masuk ke rumah. Nenek menunggu Silva memasak makanan. Tak butuh waktu yang lama, masakan tersebut telah matang dan tersaji di meja makan. Baunya sangat harum, bahkan Vano sampai terbangun dari tidurnya dan menuju meja makan.


"Ini masakan siapa harum banget? Nenek ya?" tanya Vano.


"Bukan, tapi Silva," jawab nenek.


"Mari makan." Mereka semua makan siang bersama.


Setelah selesai makan siang, Vano mengajak neneknya dan Silva jalan-jalan keliling desa. Saat sedang asyik menikmati pemandangan alam Magelang, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang berteriak minta tolong karena tasnya dicopet oleh pencopet.


Vano yang mendengar hal itu langsung mencegat pencopet itu. Akhirnya terjadi perkelahian antara Vano dengan pencopet tersebut. Meskipun Vano beberapa kali terkena pukulan, tapi dia dapat mengalahkan pencopet itu dan mengambilkan tas yang dicopet.


"Vano hebat juga," ucap neneknya.


"Iyalah, nek. Dia kan ketua geng OrionAlthair dan dia hampir setiap hari berkelahi dengan Alvaro dari geng Rigelius," kata Silva.


"Vano dan Alvaro masih sering berantem?"


"Setiap hari malah, nek. Bahkan sampai wajah mereka berdarah dan banyak memar."


Raut wajah nenek seketika berubah murung. "Padahal dia dan Alvaro dulunya sahabat yang sangat dekat, tapi—lupakan saja!"


"Tapi kenapa, nek?"


"Mending kamu tanya kepada Vano sendiri."


Silva hanya membuang napasnya. Dia masih belum tahu alasan Alvaro dan Vano sering berkelahi padahal dulunya mereka sahabat sejak kecil yang sangat dekat.


 


 


***