Silvano

Silvano
Larangan



"Vano, papa minta kamu jauhi Silva!" Pak Aldo berkata tegas.


"Kenapa papa minta aku buat jauhi dia?" tanya Vano tidak terima.


"Dia itu gak pantas buat kamu!"


"Terus siapa yang pantas buat aku? Regina? Raina?!"


"Iya, benar. Kamu harus pilih di antara mereka!"


"Tapi aku pilih Silva daripada cewek kaya Regina dan Raina yang tidak tahu sopan santun dan hanya selalu mencari kepopuleran."


Pak Aldo langsung menampar pipi Vano dengan keras sehingga pipi Vano terasa kebas dan merah. "Kamu harus pilih Regina atau Raina!"


Pak Aldo langsung pergi dari hadapan Vano. Bu Karina langsung menghampiri Vano dan memeluknya.


"Mama dukung pilihanmu," bisik Bu Karina di telinga Vano.


“Terima kasih, Ma.”


“Kamu harus memperjuangkan Silva, ok?”


Pak Aldo mendengar ucapan bu Karina, dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Vano dan berkata, “Vano, jika kamu masih mendekati Silva ... maka dia bakal celaka. Papa tidak akan segan-segan untuk membuat hidupnya hancur dan dia bakal dikeluarkan dari sekolah serta dia tidak akan diterima di sekolah mana pun. Apakah kamu mau dia menderita seperti itu? Papa juga bisa membuat dia dan keluarganya sangat menderita. Bahkan papa juga bisa membuat mereka kehilangan nyawa.”


***


 


 


Silva berlarian menuju gerbang sekolah. Hari ini dia hampir saja terlambat. Saat masuk ke gerbang, tepat bel masuk berbunyi. Silva berlari menuju kelasnya, saat berlari di koridor, Silva tidak sengaja bertabrakan dengan Vano.


"Lain kali hati-hati," ucap Vano tanpa ekspresi.


Silva merasa ada yang aneh dengan sikap Vano, biasanya dia tidak secuek itu padanya, tapi kenapa dia cuek seperti tadi? "Ngapain gue peduli sama dia? Lagian udah biasa kalau Vano cuek sama cewek," monolog Silva.


Silva masuk ke kelasnya, untung saja belum ada guru yang masuk. Dia duduk di bangku sebelah Lina. Cewek itu sepertinya sedang sibuk dengan laptopnya.


"Lo ngerjain apa?" tanya Silva.


"Proposal," jawab Lina.


"Ariena, waktu itu lo mau cerita apa tentang Renata?" tanya Risma.


"Hooh. Lo mau cerita apa?" Lina ikut kepo.


"Gue dengar sih dia jadi korban pelecehan seksual dan korban bullying," jawab Ariena.


"Dan katanya dia juga pernah hampir bunuh diri," lanjut Ariena.


"Ngeri banget," kata Risma.


"Terus maksud Vano buat deketin Renata dengan kita-kita apa?"


"Kata Bisma sih, supaya kita bisa bantu dia buat keluar dari masalahnya."


"Gue setuju. Korban pelecehan seksual dan korban bullying harusnya diberi semangat dan dukungan bukannya malah dihina dan diejek." Silva ikut berkomentar.


"Lo yakin mau bantuin dia?" tanya Ariena sedikit tidak percaya.


"Yakin tidak yakin harus yakin," jawab Silva.


Pak Hasyim masuk ke kelas XI MIA 1 yang seketika membuat kelas tersebut tenang seketika. Lain halnya di kelas XI IIS 2 yang sangat ramai padahal sudah ada guru yang masuk dan mengajar.


Para siswa XI IIS 2 sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang bermain ponsel, bermain pesawat-pesawatan, ada yang dengan PD-nya tidur nyenyak sampai ke alam mimpi, ada yang malah corat-coret meja dengan menggunakan tipe ex, ada yang malah makan camilan, dan masih banyak hal lainnya.


"Kalian itu bisa menghormati saya sebagai guru gak sih?!" Bu Donna sedikit emosi karena merasa tidak dihargai sama sekali. "Ini itu waktunya jam belajar bukan waktu istirahat. Jika kalian mau main atau makan, ya nanti kalau sudah waktunya istirahat. Sekarang kalian fokus ke pelajaran!"


Semua siswa lalu fokus ke bukunya masing-masing. "Kerjakan hal 150 dalam waktu 30 menit!"


"Bu, masa cuma tiga puluh  menit doang?" Protes seluruh siswa.


"Yang jadi guru siapa? Saya atau kalian? Lagian kalian itu banyak protes, saya kasih tugas cuma sepuluh soal dan jawabannya sudah ada di buku cetak semua."


"Tapi kan waktunya kurang, Bu."


"Kalian itu jangan terus-terusan menyalahkan waktu. Waktu itu tidak pernah salah, cuma kalian aja yang tidak bisa memanajemen waktu dengan baik."


"Tapi—"


"Gak ada tapi-tapian! Kerjakan sekarang atau kalian cuma saya beri waktu lima belas menit?"


Ancaman Bu Donna langsung membuat para siswa terdiam dan memilih untuk mengerjakan tugas daripada waktu mereka semakin dibuat sedikit karena terlalu banyak protes. Para siswa menulis dengan mengebut yang penting cepat selesai tanpa memedulikan apakah tulisan mereka bisa dibaca atau tidak.


Vano dan Danial menyontek jawaban milik Kenzo. Kenzo, cowok paling pintar sekelas dan sejurusan IIS, otaknya encer tidak seperti teman-temannya yang lain. Kenzo menulis jawabannya dengan cepat hingga membuat Vano dan Danial kewalahan menyesuaikan jawaban.


"Zo, pelan-pelan napa nulisnya," ucap Danial kesal.


"Gue udah pelan, Dan. Makanya belajar biar bisa ngerjain, gak bergantung sama jawaban gue terus," sengak Kenzo.


"Lanjut terus debatnya," kata Vano.


"Danial, Kenzo, dan Vano kenapa ribut-ribut sendiri?!" tanya Bu Donna.


"Gak ada apa-apa, Bu. Cuma mau pinjam bolpoin," jawab Danial asal.


"Kalau kalian ketahuan menyontek, maka nilai yang didapat akan dibagi dengan jumlah orang ikut menyontek."


"Yah kok gitu sih, Bu?!"


"Kalian itu punya otak seharusnya buat mikir, jangan mengandalkan orang lain mulu apalagi mengandalkan mbah Google. Duwe utek nak ra gawe mikir ya percuma."


Para siswa satu persatu mengumpulkan tugas masing-masing. Setelah semua dikumpulkan, Bu Donna melanjutkan materi pelajaran. Lagi-lagi banyak siswa yang tidur karena malas mendengar penjelasan tentang pelajaran Sejarah yang lebih banyak ceritanya.


Tak lama terdengar pemberitahuan bahwa semua guru segera kumpul di ruang guru. Bu Donna dengan senang hati segera datang ke ruang guru karena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah siswa kelas XI IIS 2. Saat Bu Donna sudah keluar, para siswa langsung menutup pintu kelas dan menguncinya, tak lupa juga mereka menutup korden jendela.


"Yes jamkos," sorak Arifin dan Andhra.


"Jamkos kok malah seneng," sindir Kenzo.


"Sekali-kali lah, Zo. Buat refreshing," kata Rezvan.


"Kan jamkos, gimana kalau ngantin, gue lapar nih," ajak Fadhil.


"Iya."


"Kesambet apa lo, Dhil? Tumben mau traktir kita," kata Bisma.


Fadhil hanya cengar-cengir. Mereka lalu pergi ke kantin bersama kecuali Kenzo yang masih fokus membaca buku LKS. Saat melewati koridor, Vano tidak sengaja melihat Silva bersama dengan Devan. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, kentara dari wajah Silva yang tersenyum bahagia.


Silva dan Devan berjalan melewati lapangan utama sekolah. Mereka baru saja kembali dari ruang OSIS--menyiapkan ruangan untuk rapat yang diadakan nanti saat jam istirahat.


"Sil, gue mau ngomong sama lo," kata Devan.


"Ngomong apa?" tanya Silva.


"Gue sebenarnya mau mengatakannya sejak lama, tapi gue baru berani mengatakannya sekarang—gue suka sama lo."


Langkah kaki Silva terhenti mendengar Devan menyatakan perasaannya. Dia akui dulu dia suka sama Devan, dia cowok yang baik, pintar, ramah, gak suka bikin ribut, gak suka bolos, dan dia adalah ketua OSIS. Tapi entah mengapa Silva—merasa tidak enak. Silva belum memberikan jawaban kepada Vano, dan sekarang malah Devan menyatakan cintanya.


"Dev, gue ke kelas duluan."


***


 


 


Rapat OSIS berjalan dengan lancar. Silva berjalan di lorong dan melihat Vano bersama dengan Regina. Silva terpaksa berbalik arah untuk menghindari mereka. Sebenarnya Vano melihat Silva yang berbalik arah seperti menghindarinya dan Regina.


Vano berusaha mengejar Silva. Dia terus-terusan meminta Silva untuk berhenti sebentar, tapi cewek itu sengaja menulikan telinganya. Dia terus saja berjalan tanpa memperhatikan Vano yang sejak tadi memintanya untuk berhenti. Vano akhirnya berdiri di hadapan Silva.


"Minggir!" tegas Silva.


"Gue mau bicara sama lo," kata Vano.


"Bicara apa?"


"Lo punya hubungan apa dengan Devan?"


"Gue sama Devan—cuma teman."


"Teman tapi mesra, apa maksudnya?"


"Terserah lo mau percaya atau enggak. Tapi hubungan gue dengan Devan cuma teman, gak lebih."


"Apa buktinya?"


"Lo mau gue buktikan bagaimana?"


"Lo harus jadi pacar gue."


Mata Silva membulat sempurna. "Sorry, Van. Gue gak bisa."


Silva berjalan melewati Vano. Cowok itu tetap terus mengejar Silva.


"Kenapa gak bisa?" tanya Vano.


"Gue belum ada perasaan apa-apa ke lo. Jadi, gue—"


 


 


"Kalau lo nolak berarti lo suka sama Devan."


"Van! Gue pernah bilang ke lo buat kasih gue waktu. Gue gak mau gegabah mengambil keputusan yang nantinya bisa membuat hidup gue hancur."


Kata-kata Silva benar-benar menohok bagi Vano. Cewek itu sepertinya masih takut untuk menjalin hubungan dengannya.


"Kalau lo mau gue jadi pacar lo, maka sebaiknya lo harus minta izin sama papa gue." Silva memberikan saran kepada Vano.


"Kenapa harus izin?" tanya Vano.


"Karena papa gue gak suka kalau gue pacaran, termasuk gue juga gak suka pacaran." Silva melanjutkan jalannya, tapi langkahnya terhenti kembali. "Oh ya, buat dapatin izin dari papa gue gak mudah. Apalagi papa sangat protektif ke putri semata wayangnya."


"Ok, gue bakal dapatin izin dari papa lo."


"Silakan saja dicoba. Semoga berhasil. Gue cuma ngingetin kalau papa gue itu seorang Tentara, jadi—lo pasti tahu lah."


Silva tidak terlalu serius dengan perkataannya karena dia ingin membuat Vano menjauh darinya. Dia tidak mau diteror terus-terusan oleh Regina dan Raina. Selama ini mereka berdua meneror Silva dengan selalu mengirim pesan ancaman kepadanya.


Silva sudah muak dengan teror pesan dari Regina dan Raina, makanya dia berusaha menjauh dari Vano, tapi emangnya dia bisa? Silva membuang jauh-jauh pikirannya tentang Vano, dia memikirkan bagaimana cara membantu Alvaro menemukan adiknya. Padahal dia sendiri sudah tahu kebenarannya.


"Lin, lo tahu tentang Alvaro gak?" tanya Silva yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi.


"Kenapa lo tanya tentang Alvaro? Jangan-jangan lo naksir ya sama dia?" tanya Lina kepo.


"Gak mungkinlah," elak Silva. "Punya infonya gak?"


"Gue tahu sedikit tentang dia," ucap Ariena ikut nimbrung.


"Lo itu emang tahu segalanya," kata Risma.


"Alvaro itu sebenarnya masih baru di kota Salatiga. Gue dengar sih dia kesini karena mencari adiknya tapi gue gak yakin sama alasan itu. Dia itu orang paling beda di geng Rigelius, dan Nando itu gak pernah mau patuh dengannya."


"Kalau adik Alvaro itu gimana?"


"Gak tahu yang pasti, tapi katanya dia dulu membuang adiknya."


"Seriusan?"


"Mana gue tahu. Lo tanya aja sama orangnya langsung."


Silva terdiam. Dia memperhatikan gelang yang dipakainya sekarang. Alvaro pernah mengatakan kalau dia memberikan gelang yang sama kepada adiknya. Apakah benar Silva adik Alvaro?


***