
Kegiatan kelas dua belas di SMA Andromeda semakin padat. Semua siswa harus fokus pada try out dan beberapa ujian-ujian lainnya. Silva juga lebih fokus terhadap pelajarannya. Dia mencoba melupakan Vano dengan berbagai cara.
"Sil," ucap Risma.
Silva hanya menjawab dengan deheman.
"Belajar mulu, ayo pergi ke kantin."
"Gak ah, males. Kalau lo mau ke kantin, pergi saja." Silva tetap fokus pada buku-bukunya.
Ariena, Lina, Risma, dan Silva berada di perpustakaan sekolah. Mereka semua mengisi waktu luang di perpustakaan. Tapi hanya Silva saja yang tetap fokus terhadap bukunya, sedangkan yang lainnya malah asyik dengan ponselnya.
"Sil, lihat itu! Ada Vano sama Renata," kata Ariena.
"Biarin aja, gue gak peduli," ucap Silva cuek.
"Kenapa lo jadi cuek kaya gini?" tanya Risma.
"Silva itu udah putus sama Vano. Jadi, biarkan saja jika cowok itu bahagia dengan cewek lain," jawab Lina.
"Lo benaran udah gak peduli dengan Vano lagi?" tanya Ariena memastikan.
Silva melepas kacamata baca yang dia pakai dan melihat ke arah Ariena. "Gue gak mau ikut campur dalam urusan Vano. Gue gak peduli sama cowok itu, mau dia jungkir balik, mau sekarat, gue gak peduli. Gue cuma mau fokus ke sekolah supaya gue bisa mewujudkan cita-cita dan karier gue lancar."
Silva menutup bukunya lalu beranjak pergi dari perpustakaan. Dia berpapasan dengan Vano dan Renata di koridor, tapi Silva bersikap seolah-olah tidak melihat mereka berdua.
Vano menoleh ke belakang-- berharap Silva menoleh ke belakang juga, tapi harapannya itu sirna, karena cewek itu terus berjalan dan tidak menoleh sama sekali.
"Lo ke kelas aja, gue mau pergi ngumpul sama teman gue." Vano pergi meninggalkan Renata.
Vano pergi menemui teman-temannya yang berada di kantin. Wajah Vano terlihat tidak bersemangat yang mengundang berbagai pertanyaan dari semua temannya.
"Galau juga, kan? Makanya hargai cewek yang mencintai lo dengan tulus." Rezvan sengaja menyindir Vano lalu dia pergi dari kantin.
"Mau ke mana lo, Rez?" tanya Fadhil.
"Balik ke kelas," jawab Rezvan saat dia sampai di depan pintu kantin.
Dari tempatnya, Vano melihat Silva berjalan bersama dengan Haikal. Cewek itu jauh terlihat bahagia ketika bersama Haikal. Kenzo hanya menepuk-nepuk pundak Vano.
"Nyesel gak, lo, lepasin cewek kaya Silva?" tanya Kenzo.
"Gue gak rela lihat dia bahagia sama cowok lain," kata Vano jujur.
"Salah lo sendiri, cewek kaya Silva kok gak dipertahanin. Lagian lo gak ingat perjuangan buat dapetin cintanya?" Arifin berkata santai.
"Gue itu rela lepasin dia supaya dia bisa bahagia. Kalau dia bersama gue, dia pasti terlibat banyak masalah dan gak bakal bahagia. Tapi, gue malah sakit melihat dia bahagia dengan cowok lain."
"GOBLOK BANGET LO, VAN!"
Vano menutup telinga mendengar teriakan dari teman-temannya. Wajar saja teman-temannya meneriakinya begitu, Vano jadi cowok juga goblok banget.
"Lo itu kalau masalah hati harus belajar lagi sama ahlinya deh." Andhra memberikan saran.
"Melawan siapa saja lo berani, tapi kalau urusan cewek, nyali lo langsung ciut." Bisma sengaja mengucapkan hal itu.
Silva duduk di salah satu kursi yang masih kosong, sedangkan Haikal pergi memesan makanan. Vano memperhatikan cewek itu dari tempatnya.
"Lebih baik lo samperin dia," saran Kenzo.
Vano baru menghampiri Silva ketika dia disuruh oleh Kenzo. Cowok itu duduk di hadapan Silva. Silva hanya melirik ke arah Vano, dan dia bersikap seakan cowok itu tidak ada di hadapannya.
"Sil," ucap Vano lembut.
Silva tidak menghiraukan ucapan Vano dan fokus pada ponselnya.
"Silva," kata Vano lagi tapi cewek itu masih saja tetap tidak menghiraukannya.
"Silva Rivana Agustina." Vano menggenggam tangan kiri Silva.
Silva menyentak tangan Vano dengan kasar dan menatap tajam ke arahnya. "Jangan pegang-pegang gue!"
"Kenapa lo mutusin gue secepat ini?"
"Maaf, gue gak mau berjuang sendirian, Van. Gue gak cuma berusaha buat mendapat hati lo, tapi juga cinta lo."
"Semoga lo bahagia dengan cowok lain."
"Semoga lo juga bahagia dengan cewek yang mampu membuat lo meninggalkan orang yang membuat lo nyaman." Silva berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Vano.
***
Terjadi perkelahian antara Danial dengan Fadhil di belakang sekolah. Danial memukul wajah dan perut Fadhil dengan brutal. Fadhil jatuh tersungkur ke tanah.
"Berani banget lo mau merebut Lina dari gue! Padahal lo tahu sendiri kalau gue butuh usaha yang keras buat dapatin dan deketin dia!" Danial menaikkan oktaf bicaranya.
"Lo salah paham, Dan," kata Fadhil membela dirinya.
"Salah paham apa, hah?! Jelas-jelas gue melihat lo berduaan dengan dia di bioskop, di kafe dan kalian sering jalan berdua, kan?"
"Yang lo lihat itu gak seperti yang lo pikirkan."
"Halah! Lo bisa bilang baik-baik kan, kalau lo suka sama Lina. Gak perlu pakai nikung teman sendiri."
"Gue gak percaya lo bisa lakuin hal itu ke gue. Enak ya jadi lo? Lo gak usah berjuang keras tapi langsung mendapat tanggapan yang baik dari Lina, sedangkan gue? Gue udah mencoba berbagai cara supaya Lina mau membuka hatinya buat gue, tapi tetap saja sangat sulit mendapatkan hatinya."
"Dan, gue sama Lina—"
Danial langsung menarik kerah baju Fadhil. Dia hendak memukul wajahnya, tapi ada suara seseorang yang menghentikan aksinya tersebut.
"Danial!" Lina berteriak ketika melihat cowok itu.
Danial mendorong tubuh Fadhil. Cowok itu menatap ke arah Lina. Tatapan itu tidak seperti biasanya kalau dia menatap Lina.
"Kenapa?!" tanya Danial sengit.
"Kenapa lo ngelakuin hal ini ke Fadhil?" tanya Lina balik.
"Punya hak apa lo buat ngatur siapa yang boleh dekat dengan gue?"
"Ya gue gak terima saja kalau dia begitu mudah mendekati lo, sedangkan gue? Lo selalu menolak gue!"
Plakk
Lina menampar pipi Danial dengan keras. Cewek itu sepertinya kecewa dengan Danial. Dia memang belakangan ini dekat dengan Fadhil bukan berarti dia punya hubungan dengannya.
"Gue udah coba buka hati ke lo, saat gue udah mulai suka sama lo, tetapi lo malah menghancurkan kepercayaan gue." Lina langsung membawa Fadhil pergi dari hadapan Danial.
***
Vano melihat Danial yang murung di rooftop sekolah. Vano tadi mendapat kabar bahwa Danial berkelahi dengan Fadhil, makanya dia segera mencari keberadaan Danial.
"Lo kenapa?" tanya Vano.
"Gak kenapa-napa kok," jawab Danial.
"Jangan jadi kayak cewek deh, bilangnya gak kenapa-napa, tapi aslinya kenapa-napa."
"Lina sepertinya suka sama Fadhil, begitu juga sebaliknya. Apa mending gue mundur saja?"
"Cewek di luar sana masih banyak, lo bisa cari pengganti Lina."
"Tapi... susah mencari pengganti Lina, sama susahnya cari pengganti Silva, kan?"
"Gue memang laki-laki bodoh yang mau melepas Silva dengan mudahnya. Gue merasa gak pernah menganggap dia ada. Padahal, dia yang selalu menemani dan mendampingi gue saat keadaan gue terpuruk."
"Mendingan kita move on aja dari mereka berdua."
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Vano dan Danial kembali ke kelas. Mereka berpapasan dengan bu Rissa.
"Danial, kamu ke ruang BK sekarang juga," perintah bu Rissa.
Danial pasti bakal kena sidang karena dia tadi berkelahi dengan Fadhil di belakang sekolah. Cowok itu langsung menjalankan titah dari bu Rissa, dia pergi ke ruang BK. Sesampai di sana, dia melihat Fadhil juga berada di sana.
"Kenapa kalian berkelahi?" tanya Pak Hasyim.
Danial dan Fadhil sama-sama diam dan menundukkan kepala. Mereka tidak takut menatap pak Hasyim, cuma saja mereka malas menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka. Lagian mereka berkelahi juga karena masalah pribadi.
"Jangan bilang kalian berkelahi cuma gara-gara cewek." Bu Rissa bergantian menatap tajam Danial dan Fadhil.
"Memang itu kenyataannya kok, Bu," ucap Danial santai.
"Kalian itu, ya?! Cuma masalah cewek sampai berkelahi seperti itu! Kalau kalian mengulanginya lagi, ibu akan menskors kalian dan bisa-bisa kalian dikeluarkan dari sekolah ini."
"Maaf, Bu."
"Sekarang kalian boleh pergi."
Danial dan Fadhil keluar dari rumah BK. Mereka berjalan menuju ke parkiran, di sana Danial melihat Lina sedang bersama dengan teman-temannya. Danial hanya melewati cewek itu tanpa ada niatan untuk menyapa bahkan menoleh ke arahnya.
"Gak biasanya Danial bersikap cuek seperti itu," ucap Silva.
"Udah biarin aja. Syukur deh kalau dia cuek ke gue, jadinya dia gak ganggu hidup gue lagi," kata Lina santai.
"Lo lagi ada masalah sama dia?" tanya Risma.
"Gak ada. Cuma terjadi kesalahpahaman di antara gue sama dia."
"Teman-teman gue kayaknya lagi patah hati semua, deh. Silva baru saja putus dengan Vano, Lina bertengkar lagi dengan Danial, sedangkan Risma sama Bisma sampai sekarang masih langgeng-langgeng saja," ujar Ariena.
"Terus lo kapan mau punya pacar?" tanya Lina, Risma dan Silva kompak.
"Gue udah punya pacar, kok," jawab Ariena santai.
"Siapa?!" Sekali lagi Lina, Risma dan Silva berkata kompak.
Ariena dihampiri oleh seseorang yang membuat ketiga temannya melongo melihat kedekatan mereka berdua. Bahkan mereka bertiga tidak menyangka kalau Ariena pacaran dengan dia.
"Rezvan?!" Lina, Risma, dan Silva saling pandang.
"Iya, dia pacar gue," kata Ariena.
"Kok bisa?!"
"Kalian bertiga jangan pada kaget gitu dong! Lagian gue sama Ariena baru jadian kurang lebih satu minggu," kata Rezvan santai.
"Ariena, kenapa lo gak cerita ke kita kalau lo udah jadian sama Rezvan?!"
"Sorry... gue nunggu waktu yang tepat."
"Jaga Ariena baik-baik, Rez! Awas saja jika lo mempermainkan hatinya seperti pacar-pacar lo sebelumnya." Lina mengancam Rezvan.
"Gue usahain. Lagian cuma Ariena yang mampu menghadapi sikap gue."
"Semoga langgeng sampai pelaminan. Kalau gitu gue pulang dulu, soalnya kakak gue sudah jemput." Silva berpamitan pulang terlebih dahulu karena Alvaro sudah menjemputnya.
"Kakak? Siapa?" tanya Ariena, Lina, dan Risma bingung.
"Alvaro, dia kakak kandung Silva. Dia itu anak kandung dari pak Agus dan bu Tina," jawab Rezvan.
"Terus pak Azam dan bu Kirana?" tanya Risma.
"Mereka orang selama ini merawat Silva. Dulu Silva pernah dibuang sama Alvaro karena dia iri kepada Silva, adiknya itu jauh mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dibanding dirinya."
"Kalau Silva itu adiknya Alvaro, berarti Silva juga teman Vano sejak kecil dong?" Tebakan Lina tidak sepenuhnya salah.
***