
Suara derum sepeda motor dan klakson-klakson bergema di sepanjang jalan yang membuat jalanan semakin macet. Sekumpulan geng motor dengan anggotanya yang memakai jaket hitam berlambang Griffin di dada sebelah kiri, memadati jalanan. Semua motor itu memasuki kawasan sekolah SMA Andromeda.
Semua orang memberikan jalan untuk dilewati mereka. Parkiran sekolah yang semula hanya ada beberapa motor, seketika menjadi penuh dengan motor geng OrionAlthair. Banyak cewek yang berbisik-bisik ketika melihat seorang cowok yang memakai kacamata hitam, bertubuh tinggi dan kekar, rambutnya sedikit berantakan, turun dari motor satria biru miliknya.
'Gila tuh cowok, ganteng bingits!!'
'Sumpah, gantengnya gak ketolongan.'
'Gantengnya ngalahin artis korea, cuy.'
'Dia kan ketua OrionAlthair yang baru, kan?'
'Wah bisa cuci mata nih.'
Cowok yang menjadi trending topik tersebut hanya berlalu lalang tanpa mempedulikan suara histeris cewek-cewek yang mengidolakannya. Cowok itu pergi dari parkiran diikuti oleh anggota OrionAlthair. Nama OrionAlthair sudah sangat terkenal di SMA Andromeda.
Vano Viandra Putra, adalah ketua geng OrionAlthair tersebut. Dia sangat terkenal sikapnya yang nakal, suka tawuran, kadang pemarah tapi kadang cueknya minta ampun, dia bisa saja keluar masuk BK tujuh kali dalam sehari, dia sering bolos. Meskipun begitu, dia tipe cowok yang masih bersih, bebas dari rokok dan barang haram lainnya.
OrionAlthair mempunyai delapan anggota inti yang sangat terkenal dengan ketampanan dan keberanian mereka. Mereka terkenal brutal kepada lawan tapi ramah kepada teman. Delapan orang tersebut, banyak menjadi idola para cewek SMA Andromeda terutama Vano.
"Gila, histeris banget cewek-cewek lihat si Vano," ucap Bisma heran.
"Ya elah lo itu heran banget, bukannya sudah biasa kalau Vano jadi idola para cewek," kata Fadhil sewot.
"Sewot amat sih, lo," ketus Bisma.
Vano tidak menanggapi ucapan temannya tersebut. Dia masih memakai kacamata hitamnya dan jaket OrionAlthair. Saat berjalan di koridor, dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang cewek.
Brukk!!!
Beberapa buku yang dibawa cewek itu berjatuhan di lantai. Vano dan cewek itu berjongkok untuk mengambil buku tersebut.
"Maaf, saya gak sengaja," ucap cewek itu.
Vano membuka kacamatanya dan menatap cewek tersebut. "Lain kali hati-hati," ucap Vano memberikan buku cewek tersebut lalu pergi.
Cewek itu hanya menatap kepergian Vano, dia heran dengan cowok itu biasanya dia langsung marah jika ada seorang yang sengaja atau tidak menabraknya, tapi kenapa dia tadi hanya cuek saja?
***
Suasana kelas XI IIS 2 seperti pasar, ribut, ricuh, banyak suara teriak-teriakan dari pojok depan sampai pojok belakang, bahkan seketika kelas menjadi lapangan permainan mendadak. Para cowok ada yang bermain sepak bola, dan ada yang bermain badminton di dalam kelas.
Suasana bertambah ramai ketika Andhra dan Rezvan yang bernyanyi. Masih mending jika suara mereka bagus, tapi meskipun mereka berdua terkenal ganteng, suara mereka malah merdu alias merusak dunia.
"Betapa mudahnya hatimu mendua," Rezvan bernyanyi fales.
"Melow banget lagu lo," ejek Kenzo.
"Dasar bucin," sengak Abel.
"Dia kan playboy tingkat dewa," tutur Danial.
"Enak aja lo kalau ngomong," ucap Rezvan tidak terima. "Gue itu orangnya setia."
"Iya lo itu setia, alias setiap tikungan pasti ada," sindir Bisma.
"Sotoy lo."
"Soto enak dimakan."
"Sotoy goblok, bukan soto!"
"Sewot amat lo, suka-suka gue dong!"
Vano hanya melihat teman-temannya ribut sendiri-sendiri, dia tidak berniat sama sekali untuk ikut menimbrung bersama.
Di lain tempat, Silva dan Lina beru saja mau keluar dari ruang guru setelah mengumpulkan tugas Kimia. Saat hendak keluar, Bu Diyah memanggil mereka sehingga kedua cewek itu menghentikan langkahnya.
"Silva, Lina," panggil Bu Diyah.
"Iya, ada apa, Bu?" tanya Silva.
"Tolong kalian pergi ke kelas XI IIS 2 untuk memberikan tugas Ekonomi. Saya ada urusan sebentar dan akan masuk ke kelas itu setelah urusannya selesai," jawab Bu Diyah.
Silva dan Lina saling pandang, mereka mendengar kelas X IIS 2 saja sudah merinding, bagaimana tidak, kelas itu merupakan kelas inti geng OrionAlthair dan kelas yang terkenal dengan kenakalan dan keberisikannya.
"Apa kalian mau?" tanya Bu Diyah.
"Iya udah, Bu. Kita bakal kesana," ucap Silva.
"Tapi kita cuma disuruh buat ngasih tugasnya doang kan, Bu?" tanya Lina ragu-ragu.
"Ibu sih inginnya kalian menunggu disana sebentar, karena kalau mereka tidak ditunggu pasti gak bakal ada yang mau ngerjain," jawab Bu Diyah.
"Tapi, bagaimana dengan pelajaran kita?"
"Nanti saya yang akan ijinkan guru mapel."
"Baiklah kalau gitu, kami pergi dulu."
Bu Diyah memberikan tugas Ekonomi. Silva menerima tugas itu lalu pergi dari ruang guru menuju ke kelas X IIS 2 diikuti oleh Lina. Saat sampai di depan kelas, mereka mendengar suara yang sangat berisik dari dalam kelas.
"Gila, ini kelas atau pasar sih?" Lina heran mendengarnya.
"Malah lebih ramai daripada pasar," kata Silva.
"Sil, lo aja ya, yang masuk ke dalam dan gue balik ke kelas."
"Eh enak aja lo. Lo harus temani gue."
"Lo masuk duluan gih."
"Gak ah, lo duluan aja yang masuk."
"Lo aja!"
"Lo!"
"Lo."
Silva dan Lina malah dorong-dorongan menyuruh masuk ke kelas. Mereka berdua tidak ada yang berani masuk ke kelas X IIS 2. Lina mendorong tubuh Silva hingga dia menabrak tubuh seorang cowok. Karena hal itu kertas yang dibawa Silva beterbangan semua. Silva mendongak melihat cowok berada di hadapannya.
Silva mati kutu di hadapan cowok tersebut. Vano adalah cowok yang berada dihadapannya. Silva sudah ketakutan melihat ekspresi wajah Vano yang bisa dibilang menyeramkan, dia menduga Vano pasti marah kepadanya.
"Ngapain lo ada di sini?" tanya Vano dingin.
"E... i...tu," ucap Silva terbata-bata karena ketakutan.
"Kalau ngomong yang jelas dong!" tegas Vano.
"Kita ke sini disuruh sama bu Diyah untuk memberikan tugas Ekonomi dan menunggu kalian sampai bu Diyah datang," kata Lina lalu mengambil kertas yang berserakan.
Silva membantu mengambil kertas tugas tersebut. Vano hanya berdiri di depan pintu dan hanya memperhatikan kedua cewek itu tanpa ada niatan untuk membantunya. Setelah selesai mengumpulkan kertasnya, Lina dan Silva langsung masuk ke kelas.
Kelas yang tadinya ricuh seketika menjadi diam saat Lina dan Silva masuk ke kelas. Mereka berdua menjadi pusat perhatian seluruh kelas. Bagaiman mungkin anak MIA datang ke kelas IIS.
"Eh ada cecans," goda Rezvan.
"Dasar hidung belang," sindir Andhra.
"Minta nomer ponselnya dong cantik," kata Danial.
Lina dan Silva ingin cepat-cepat pergi dari kelas tersebut, dia tidak tahan mendengar ucapan anak IIS 2.
"Kita di sini karena disuruh sama bu Diyah untuk memberikan tugas Ekonomi dan berada di sini sampai bu Diyah datang," ucap Lina lalu membagikan kertas tugasnya.
Vano masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. Silva memberikan tugas tersebut di atas meja Vano, cowok itu melihatnya beberapa saat lalu mengalihkan pandangannya ke tugas tersebut.
Semua siswa langsung berkumpul, ada yang berkumpul di depan, di belakang, di samping kanan dan kiri untuk mengerjakan bersama tugas tersebut. Silva dan Lina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka.
Abel, Andhra, Bisma, Danial, Fadhil, Rezvan, dan Vano berkumpul mengelilingi Kenzo untuk menyontek pekerjaannya. Di antara mereka berdelapan, Kenzo lah yang mempunyai otak encer dan cepat dalam memahami soal. Mereka bertujuh sibuk menyontek pekerjaan Kenzo.
Vano tidak terlalu fokus dalam menyalin tugas, dia malah mengamati Silva yang sedang asyik mengobrol dengan Lina. Rezvan dan Daniel hanya memperhatikan gerak-gerik ketua mereka.
"Eh si Vano lihatin siapa sih?" tanya Daniel berbisik bisik.
"Salah satu dari anak MIA itu." Rezvan menunjuk Silva dan Lina dengan dagunya.
"Lo pernah dengar teori 3 detik atau 5 detik atau 8 detik atau apalah itu?"
"Kagak pernah."
"Kudet banget lo," sindir Rezvan. "Teori 8 detik menyatakan bahwa jika pria menatap wanita lebih dari 8 detik, maka si pria tersebut dinyatakan tertarik dengan si wanita," tutur Rezvan.
"Lah terus?"
"Nah, kalau buat si Vano itu cocoknya teori 3 detik."
"Itu apalagi?"
"Si Vano kan gak suka lihatin cewek lebih dari 3 detik, nah itu berarti gue bisa pastikan kalau dia tertarik dengan salah satu cewek MIA itu."
"Kalian berdua dari tadi bisik-bisik ngomongin apaan sih?" tanya Andhra.
"Ngomongin masa depan kita," jawab Rezvan asal.
"Dasar gay."
"Kalian bisa berhenti debat gak? Gue pusing mikirin jawabannya nih," tegur Kenzo.
"Maaf pak Kenzo," ucap Rezvan cengengesan.
Tak lama setelah itu Bu Diyah datang, Lina dan Silva mencium tangan guru tersebut lalu kembali ke kelasnya. Saat keluar dari kelas X IIS 2, mereka bisa bernapas lega. Untung saja mereka tidak mengalami hal yang aneh-aneh.
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluardari kelasnya masing-masing. OrionAlthair bergegas pergi dari sekolah dengan buru-buru, mungkin mereka akan tawuran lagi dengan geng Rigelius dari SMK Acapella.
Silva berjalan menuju ke halte bus, yang lumayan jauh dari sekolah. Saat ditengah jalan, dia melihat geng Rigelius membawa banyak anak buah dan membawa senjata seperti kayu, tongkat kasti, dan yang lainnya. Silva bisa memperkirakan akan adanya tawuran antara OrionAlthair dengan Rigelius.
"Hallo cantik," goda seorang cowok dari geng Rigelius.
Silva tidak mempedulikan cowok itu dan terus berjalan menuju ke halte bus yang jaraknya masih beberapa meter lagi. Cowok itu mengikuti Silva dan terus menggodanya hingga membuat telinga Silva menjadi panas.
"Bisa diam gak sih, lo?!" bentak Silva.
"Nyantai dong, cantik cantik tapi kok galak."
"Lo pergi dari sini!"
"Gue gak mau, lo anak Andromeda, kan?"
"Kalau iya emangnya kenapa?!"
"Gue akan bawa lo ke ketua Rigelius."
Cowok itu menarik paksa tangan Silva. Cewek itu berusaha sekuat tenaga untuk bisa kabur, dia menginjak kaki cowok itu dengan keras hingga membuatnya mengaduh kesakitan dan melepas pegangan tangannya. Silva tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk kabur.
Silva berlari secepat cepatnya untuk menghindari cowok itu yang masih mengejarnya. Naas nya dari arah depan ada anggota Rigelius yang lainnya dan menghadang Silva. Silva tidak tahu harus berbuat apa.
"Mau lari ke mana lo?"
"Kalian mau apain gue?" tanya Silva.
"Mau jadiin lo tawanan."
"Lo pikir gue ini apa hingga mau dijadiin tawanan? Kaya perang aja."
Anggota Rigelius tersebut langsung menyeret Silva pergi. Cewek itu berteriak histeris minta tolong.
"TOLONG!!!"
"Percuma saja lo minta tolong, karena tidak ada yang akan menolongmu."
Silva meronta ronta supaya dibebaskan dan dibiarkan pergi, tetapi anggota Rigelius itu tidak mempedulikannya dan terus menyeret cewek itu pergi.
"Lepaskan dia!" ucap seorang cowok.
Silva dan anggota Rigelius menoleh ke arah sumber suara tersebut. Orang tersebut adalah Vano, ketua geng OrionAlthair yang sudah sangat terkenal dikalangan sekolah maupun kalangan masyarakat.
"Wih, ada ketua OrionAlthair nih," ucap salah seorang anggota Rigelius.
"Kalian itu cemen banget jadi cowok, beraninya bawa tawanan cewek. Dasar pecundang," ejek Vano.
"Jaga omongan lo!"
Terjadi pertengkaran antara Vano dengan beberapa anggota Rigelius. Vano memukul mereka tanpa ampun hingga membuat lawan mereka babak belur dan melarikan diri. Vano lalu menghampiri Silva.
"Lo gak apa-apa?" tanya Vano cuek.
"Gue gak apa-apa," jawab Silva. "Terima kasih udah menolongku."
"Simpan kata terima kasih lo itu, gue gak butuh," kata Vano sengit.
"Kalau lo gak butuh juga gak apa-apa. Gue hanya ingin membiasakan diri menggunakan menggunakan 3 kata ajaib yaitu, maaf, tolong, terima kasih. Ketiga kata itu memang sangat simple, tapi banyak orang sudah melupakan kata ajaib itu."
Vano terdiam beberapa saat. "Lo pulang sama siapa?"
"Gue bisa pulang sendiri."
"Biar gue antar, kalau lo kenapa-napa di jalan gara-gara dicelakain anggota Rigelius, Gue gak mau tanggung jawab."
"Gue bisa pulang sendiri."
"Ya udah terserah lo. Hati-hati aja kalau lo kenapa-napa di jalan."
"Ucapan adalah doa, jadi jagalah ucapanmu!"
Silva pergi meninggalkan Vano sendirian. Cowok itu heran dengan Silva, biasanya para cewek berebutan supaya diantar pulang olehnya tetapi kenapa tidak dengan Silva? Dan kenapa cewek itu sepertinya tidak terlalu suka dengan dirinya.
***
Geng OrionAlthair sepertinya akan menemui geng motor lain di sebuah gedung yang sudah tidak terpakai lagi. Dua orang pria bertubuh kekar, tinggi, dengan pakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam, saling berhadapan diikuti oleh anak buahnya di belakang.
"Jadi lo ketua anggota OrionAlthair?" tanya Alvredo.
"Iya, kenapa? Lo bukannya juga ketua geng, kan?" Sindir cowok itu.
"Vano Viandra Putra, sekarang menjadi seorang ketua geng OrionAlthair. Hebat." Alvredo menatap ke arah Vano dan tersenyum.
"Gue bangga kalau lo bisa menjadi ketua geng OrionAlthair, lo harus bisa menjadi ketua yang hebat."
Vano hanya tersenyum miring. "Gue bakal buktikan kalau gue bisa menjadi ketua yang hebat, melebihi lo, bang."
Vano dan Alvredo bersalaman. Sebenarnya mereka berdua adalah kakak beradik, tetapi mereka berdua terlihat seperti teman atau musuh. Vano, seorang ketua geng OrionAlthair sedangkan Alvredo, ketua geng Antarespica. Kedua geng itu sangat terkenal dengan siswa yang berani, nakal, dan brutal.
"Kalau ada yang berani macam-macam sama lo, bilang aja ke gue, gue bakal selalu siap buat lo," ucap Alvredo lalu memakai kembali kacamatanya dan pergi di ikuti anak buahnya.
***
OrionAlthair sekarang tengah berkumpul di markas mereka. Para alumni angkatan terdahulu juga ikut bergabung bersama mereka guna merayakan hari jadi OrionAlthair yang ke tujuh. Mereka semua merayakan dengan cara makan makan dan bercanda bersama. Ada seorang cewek yang baru saja datang kesana.
"Vano!" panggil cewek tersebut.
Vano yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia sepertinya tidak suka dengan kehadiran cewek tersebut.
"Ada apa?!" tanya Vano malas.
"Gue mau gabung, boleh?" tanya Regina.
"Lo, kan anggota OrionAlthair, jadi kalau lo mau gabung, ya silahkan saja." Vano menjawab sengak lalu berpindah tempat duduk di samping Danzel, ketua OrionAlthair sebelumnya.
Regina Regina Alisha Nefertiti, salah satu primadona OrionAlthair dan SMA Andromeda. Semua orang sudah tahu kalau dia menyukai Vano, dia selalu mengejar-ngejar Vano, tapi cowok itu tidak pernah peduli dengannya.
Vano duduk di samping Danzel dan Danial sembari meneguk segelas air.
"Gue mau mengasih amanah ke lo, Van, yaitu untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan mengayomi anak buahnya, tahan menghadapi sikap-sikap anak buahnya, dan jangan pernah menyerang siapa pun sebelum mereka menyerang terlebih dahulu," kata Danzel.
"Baik, bang. Gue akan berusaha menjalankan amanah dari lo."
***