Silvano

Silvano
Labrak



Silva berjalan melewati koridor yang masih sepi. Sepertinya dia berangkat sekolah terlalu pagi tapi itu tidak menjadi masalah baginya daripada terlambat dan pasti kena hukuman dari pak Hasyim.


Tiba-tiba ada yang merangkul pundak Silva dari samping. Sontak Silva sangat terkejut dengan hal itu ditambah orang yang merangkulnya adalah Regina, sang primadona di SMA Andromeda.


"Pagi-pagi banget berangkatnya," ucap Regina.


"Regina, ngapain lo di sini?" tanya Silva.


"Ini kan sekolah umum, jadi gak masalah dong gue ada di sini," jawaban Regina memang benar.


Silva merasa aneh dengan sikap Regina, dia merasa ada yang tidak beres. Perasaan Silva menjadi tidak tenang. Apalagi dia juga malas berurusan dengan Regina.


"Lo ganjen ke Vano ya, kan?" tanya Regina sangat santai.


"Siapa juga sih yang ganjen ke Vano," jawab Silva.


Regina langsung menarik rambut Silva ke belakang. Silva meringis kesakitan karena perbuatan Regina.


"Gue peringatkan ke lo supaya jauhi Vano!"


"Gue udah berusaha menjauhinya."


"Lo berusaha menjauhinya atau berusaha mendekatinya?"


"Siapa juga sih yang mau dekat sama cowok kaya Vano? Cowok yang berandalan, suka berantem, suka tawuran, suka bolos."


Mendengar Silva menjelek-jelekkan Vano, Regina langsung mendorong tubuh Silva ke tembok hingga kepala Silva berdarah karena membentur tembok.


"Awas aja kalau lo menjelek-jelekkan Vano, lo bakal habis di tangan gue. Dan gue bisa melakukan sesuatu yang lebih kejam ke lo jika lo dekat-dekat sama Vano." Silva hanya terdiam mendengar ancaman Regina.


Silva tahu bahwa Regina tidak pernah main-main dengan ucapannya sama dengan Vano, mereka most wanted di sekolah tapi mereka berdua sangat kejam, lebih kejam dari ibu tiri.


***


 


 


"VANO! ARIFIN! ANDHRA! BISMA! DANIAL! FADHIL! REZVAN!" teriak Bu Rissa melihat mereka melompat masuk dari gerbang belakang sekolah.


"Matilah kita. Ketahuan sama bu Rissa yang galaknya kayak kak Ros," ucap Andhra.


Bu Rissa menghampiri mereka semua dengan tatapan penuh amarah. Dia sudah berusaha sabar menghadapi murid-murid seperti Vano dkk. "Kalian itu sering banget terlambat," ucap Bu Rissa berkacak pinggang.


Mereka semua terdiam dan menundukkan kepala, tapi bukan berarti mereka takut, justru mereka malas mendengarkan ocehan dari Bu Rissa yang terus-terusan memarahi mereka.


"Kenapa kalian malah diam saja?!" Gertak Bu Rissa.


"Kalau kita jawab, nanti kita dibilang berani sama guru, sekarang kita diam kita juga dimarahi. Terus kita harus apa, Bu?" Ucapan Vano sangat santai.


"Sekarang kalian ikut saya ke BK!" Titah Bu Rissa langsung dilaksanakan oleh mereka semua yang terlambat.


***


 


 


Kenzo duduk di bangkunya dengan headset terpasang di kedua telinganya sembari membaca buku cetak Geografi. Cuma cowok itu yang tidak ikut terlambat bersama teman-temannya. Cowok itu sudah berangkat sejak pagi dan dia tadi tidak sengaja melihat Regina yang melabrak Silva.


Vano dkk yang baru masuk ke kelas setelah di hukum oleh bu Rissa langsung membaringkan tubuhnya di atas lantai. Kenzo hanya diam saja memperhatikan tingkah ketujuh temannya itu.


"Minum, gue butuh minum," ucap Arifin seperti orang kehausan sebulan.


"Heh, kalau lo gak beli ya gak bakal ada minum. Lo pikir minuman bisa datang sendiri," sindir Bisma.


"Dan, lo pergi ke kantin beli minuman!" perintah Vano.


"Yang lain aja, Van. Gue capek," tolak Danial.


Regina datang menghampiri Vano dan memberikan minuman kepada cowok itu. Vano langsung berdiri dan mengambil botol minuman tersebut. Dalam hati Regina sangat senang bukan main karena Vano mau menerima minuman yang diberikannya, tapi perasaan itu langsung berubah kecewa karena Vano memberikan minuman itu kepada Arifin dan cowok itu langsung menghabiskan minumannya.


"Kok minumannya malah dikasih ke Arifin sih?!" protes Regina.


"Harusnya lo bawa tujuh botol minuman, biar adil. Masa lo bawa cuma satu botol buat gue, terus teman-teman gue cuma ngelihat gue minum minuman yang lo kasih, gitu?" Ucapan Vano langsung membuat Regina terdiam seketika.


Vano berdiri dan langsung keluar kelas menuju kantin yang berada tidak jauh dari kelasnya. Danial dan Kenzo juga ikut pergi ke kantin menemani Vano. Hari ini mereka free dari pelajaran karena para guru sedang mengadakan rapat.


Vano duduk sambil minum minuman kaleng di kantin belakang pojok. Kenzo dan Danial duduk di samping bos mereka. "Tadi Regina melabrak seseorang," ucap Kenzo dingin.


"Siapa" tanya Danial kepo.


"Silva," jawab Kenzo datar tanpa ekspresi.


Vano terlonjak kaget. "Serius lo?"


"Iya, Regina labrak Silva karena dia pikir Silva ganjen ke lo. Dia tadi bahkan mendorong tubuh Silva ke tembok sampai kepalanya berdarah."


"Kelewatan banget tuh cewek, kalau Silva gagar otak, gimana?" Danial berkata asal.


Vano memperhatikan Silva yang berjalan dari arah toilet bersama dengan Ariena dan Lina. Vano memperhatikan Silva sampai tidak berkedip. Hari ini Silva membiarkan rambutnya tergerai dan poni menutup pelipis sebelah kanan cewek itu.


Danial bersiul ketika cewek-cewek itu berjalan melewati kantin. Lina langsung menatap tajam ke arah cowok itu sedangkan Silva dan Ariena tampak acuh tak acuh.


"Tatapannya tajam seperti elang," ucap Danial.


"Lo nyamain gue dengan elang?" tanya Lina tidak terima.


"Eh maksud gue bukan seperti itu, tapi—" Danial tidak tahu harus berkata apa.


"Tapi apa?!"


"Jangan galak-galak dong sama calon suami sendiri."


Lina bergidik ngeri mendengar ucapan Danial. "Jijik lo! Sejak kapan lo jadi calon suami gue?"


"Sejak lo masih berada di kandungan ibu lo."


Silva berjalan duluan, dia tidak mau mendengar perdebatan antara Lina dengan Danial. Ariena dan Lina langsung mengejar cewek itu. Mereka heran dengan tingkah Silva.


***


 


 


"Ta! Balikin buku gue!" Silva berjinjit mengambil bukunya yang dibawa Arta.


"Lo ambil saja kalau bisa." Arta semakin meninggikan tangannya.


"Lo jadi orang jangan rese deh! Cepat balikin buku gue!"


"Ambil sendiri!"


Silva semakin kesal dengan Arta, dia langsung memukul dengan keras punggung Arta hingga cowok itu mengaduh kesakitan.


"Salah lo sendiri," ucap Silva.


"Karena lo sudah mukul punggung gue, maka gue gak akan balikin buku lo."


Arta langsung pergi membawa buku Silva. Cewek itu berlari kecil sembari meminta bukunya dikembalikan. Saat di pertigaan koridor, tiba-tiba saja Arta terjatuh karena kakinya dijegal oleh seseorang.


"Cowok macam apa kau? Sukanya ganggu cewek." Vano mengambil buku yang dibawa Arta. Ya, orang yang menjegal Arta ialah Vano.


Silva menghampiri mereka berdua.


"Awas kalau lo ganggu orang lagi," ancam Vano kepada Arta. Vano menoleh ke arah Silva. "Ini buku lo."


Silva mengambil bukunya setelah itu dia membalikkan badan dan bergegas pergi.


"Sama-sama!" teriak Vano.


Silva menghentikan langkahnya." Terima kasih," ucap Silva tanpa menoleh.


Vano menyejajarkan langkahnya dengan langkah Silva, cewek itu berjalan sangat cepat dan dia menundukkan kepalanya. Vano melirik ke arah Silva, cewek itu sepertinya risi berdekatan dengannya.


"Lo gak suka—" ucapan Vano terpotong.


"Gak," sela Silva cepat.


"Masa sih lo gak suka belajar?"


Silva menghentikan langkahnya. "Lo ngapain mengikuti gue, bukannya masuk kelas?"


"Males aja, sekarang pelajarannya bu Diah, gue gak suka ekonomi."


"Lo kan masih pelajar, tugas lo ya belajar entah itu suka ataupun tidak suka."


"Kenapa lo selalu ngingetin gue buat selalu belajar?" tanya Vano.


"Biar lo punya masa depan," jawab Silva asal.


Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Regina mengikuti mereka berdua. Rasanya dia ingin mencaci maki Silva karena telah berani mendekati Vano. Regina merasa aneh dengan Vano, tidak biasanya dia bersikap seperti itu kepada cewek.


***


 


 


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu. Silva baru saja keluar dari kelas, tapi tiba-tiba ada yang menyeret tangannya menuju ke kamar mandi. Regina dan Rainalah yang telah menyeret Silva.


"Ngapain kalian membawa gue kesini?" tanya Silva sedikit ketakutan.


"Menurut lo kita mau ngapain?" jawab Regina santai.


"Please, gue mau pulang sekarang."


Raina menarik rambut Silva dengan keras. "Lo boleh pulang setelah gue memberi pelajaran ke lo."


"Lo bagusnya diberi pelajaran apa, ya?" tanya Regina. "Gunting saja, kan cocok buat cewek ganjen kaya lo."


Regina mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Silva mencoba memberontak dan dia membuat Raina terbentur ke tembok.


"Sorry, Rai. Gue gak sengaja," ucap Silva.


"Lo bilang gak sengaja?!" Raina langsung menampar pipi Silva dengan sangat keras.


Seketika pipi Silva terasa sangat kebas. Dia memegang pipi yang habis ditampar oleh Raina. "Gue beneran gak sengaja lakuin itu," ucap Silva.


"Gue gak peduli." Raina mengambil alih gunting yang dibawa Regina.


Raina menggunting beberapa bagian rok cewek itu. Silva memohon kepada mereka berdua untuk tidak melakukan hal itu, tapi mereka berdua tidak memedulikannya. Regina malah menyobek baju seragam yang dikenakan oleh Silva.


"Ups," ucap Regina seolah-olah tidak sengaja.


"Kenapa kalian lakuin hal ini ke gue?" tanya Silva.


"Karena lo telah berani ganjen ke Vano," jawab Raina.


"Gue—”


"Udahlah lo diam saja! Kalau lo berani melapor hal ini ke guru atau kepala sekolah maka hidup pasti bakal kelar," ancam Regina.


Raina dan Regina lalu keluar dari kamar mandi. Mereka tertawa puas setelah melakukan hal itu, entah setan mana yang merasuki tubuh mereka, sehingga mereka tanpa merasa berdosa melakukan perbuatan kejam tersebut.


Silva bersandar di tembok kamar mandi, dia menekuk lututnya dan meletakkan kepalanya di atasnya sembari menangis. Tangisan Silva terhenti saat seseorang memeluknya.


"Maafin gue," ucap orang tersebut.


Silva menoleh ke samping. Vano, ada di sini? Bagaimana cowok itu tahu keberadaannya. Silva tak habis pikir, seorang Vano mengucapkan maaf.


"Lo ngapain di sini?" tanya Silva.


"Lo baik-baik saja?" tanya Vano.


"Lo ngapain di sini?" tanya Silva sekali lagi.


"Baju lo robek, pakai jaket gue!" Bukannya malah menjawab pertanyaan Vano, dia malah melantur.


Vano memakaikan jaket ke tubuh Silva untuk menutupi bajunya yang dirobek oleh Raina dan Regina. Vano membantu Silva berdiri dan membawa cewek itu pergi dari tempat tersebut.


Vano mengantarkan Silva pulang dengan meminjam mobil Kenzo. Selama dalam perjalanan mereka berdua hanya diam saja. Silva entah melamunkan apa sejak tadi dia hanya diam membisu. Vano juga diam, dia tidak tahu harus berbicara apa.


"Lo kena masalah karena gue, ya?" tanya Vano polos padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Gak kok," jawab Silva.


"Jangan buat gue semakin merasa bersalah ke lo!"


"Gue punya permintaan kecil buat lo."


"Permintaan apa?"


"Lebih baik kita selesaikan urusan kita. Anggap saja kita tidak pernah bertemu, gue bakal jauhi lo dan gue minta lo buat gak deketin gue lagi."


"Gak bisa gitu. Gue gak bakal ngejuhi lo."


"Lo harus mengerti Van! Gue gak mau berurusan lagi dengan Raina maupun Regina."


"Lo gak perlu takut dengan mereka berdua. Sampai kapan pun gue gak bakal memenuhi permintaan lo itu."


***