Silvano

Silvano
Jalan-Jalan



Langit senja memang indah, berwarna oranye bercampur dengan cahaya matahari yang hampir tenggelam membuat kolaborasi yang sangat indah. Sebentar lagi sore akan berganti dengan malam, matahari akan berganti bulan dan bintang.


Vano merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Dia memejamkan matanya, badannya terasa sakit semua. Vano memikirkan masa kecilnya, ada bayangan dari masa kecilnya. Dua orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan yang begitu dekat dan sangat akrab.


Vano mengambil bingkai foto di dalam laci meja, dia memandang foto tersebut beberapa saat. "Lo ada di mana?" tanyanya dalam hati.


Di sisi lain, Lina dan Silva berangkat bersama menuju rumah Risma. Mereka akan menginap di rumah sahabatnya itu dan kebetulan besok adalah hari Minggu, jadi sekaligus mereka akan malmingan bersama.


"Si Ariena udah ada di sana?" tanya Silva.


"Dia mah udah ada di sana sejak pulang sekolah tadi," jawab Lina sembari fokus menyetir mobil.


"Btw, bimbel berjalan lancar?"


"Lancar kok. Sekarang gue sama kakak gue berencana mau buat les privat. Lo mau jadi salah satu gurunya?"


"Emangnya boleh?"


"Tentu saja boleh. Kalau gue sama kakak gue yang nanganin sendiri pasti kewalahan."


"Ya udah deh, gue usahain."


Mobil Lina masuk ke halaman rumah Risma. Mereka berdua lalu turun dari mobil dan masuk ke rumah. Saat masuk, mereka melihat banyak tisu berserakan, Risma dan Ariena sepertinya terhanyut menonton K-Drama.


"Gila, ini rumah atau tempat pembuangan sampah?" Sindir Lina.


"TPS baru," ucap Silva bercanda.


"TPS, tempat penitipan sayang," kata Ariena.


"Sayang kok dititip titipkan kaya barang belanjaan aja."


Silva dan Lina ikut nimbrung bersama dengan Ariena dan Risma. Walaupun mereka berdua tidak terlalu suka K-Drama mereka tetap memperhatikan film yang ditonton.


"Kok gue kagak paham sama alurnya sih," ucap Lina bingung.


"Ho’ oh, alurnya maju mundur bikin pusing," kata Silva membenarkan.


"Makanya nonton dari episode awal, biar paham," saran Risma.


"Gue aja yang nonton dari episode awal kagak paham-paham juga," celutuk Ariena.


"Lo aja yang nonton dari episode awal saja kagak paham, apalagi kita yang baru saja nonton."


Lina dan Silva memilih untuk bermain ponsel saja daripada ikut baper melihat K-Drama. Lina mendapat pesan dari Danial, tapi cewek itu langsung menghapus pesannya tanpa dibaca.


"Sebenarnya kenapa sih Vano sama Alvaro sering berantem?" tanya Silva penasaran.


"Kurang tahu juga, kata Bisma sebenarnya Vano dan Alvaro itu teman sejak kecil. Hubungan mereka renggang karena cewek, kalau gak salah," jawab Risma.


"Cewek? Siapa cewek itu?" tanya Lina.


"Gak ada yang tahu, termasuk Danial. Katanya sih cewek itu sudah menghilang selama 10 tahun lebih."


"Gue pernah dengar, kalau Vano itu mencari cewek itu tapi sampai sekarang belum ketemu. Pantas saja dia tidak mau dekat dengan cewek lain karena dia pengen setia sama cewek itu," ucap Ariena menambahkan.


"Orang yang bisa mendapatkan Vano adalah cewek yang beruntung."


"Kenapa?"


"Meskipun dia brandalan, tapi kalau soal hati dia bisa dipercaya. Dia itu gak suka menyakiti cewek, sekali dia jatuh cinta maka dia akan memperjuangkan cintanya itu."


"Oh ya, kalau Raina sama Regina itu apa hubungannya dengan Vano?"


"Mereka berdua kan juga termasuk anggota OrionAlthair dan mereka sudah menyukai Vano sejak lama."


Semua orang hanya menganggukkan kepala sebagai tanda paham. Bel rumah Risma berbunyi. "Siapa yang datang?" tanya Lina.


"Bisma, mungkin. Soalnya tadi gue minta dia buat ngantarin makanan ke sini," jawab Ariena.


"Bisma datangnya sendiri atau sama yang lain?" tanya Silva.


"Sama temannya mungkin."


Risma berjalan menuju ke pintu. Saat membuka pintu ternyata dugaannya benar. Bisma datang bersama dengan beberapa anggota inti OrionAlthair, cuma Vano yang tidak ada di sana.


"Buset, banyak banget orangnya," ucap Risma kaget.


"Hehehe ... kita semua mau numpang makan gratis," celutuk Arifin.


"Makan? Makan apa?"


"Makan hati," jawab Rezvan.


Risma mengajak masuk ke tujuh orang tersebut. Mereka langsung duduk lesehan di ruang tamu.


"Lina sama Silva mana?" tanya Risma.


"Kabur," jawab Ariena polos.


"Kabur ke mana?" tanya Fadhil.


"Pulang, mungkin."


"Kok bisa-bisanya sih mereka kabur?"


"Katanya sih, Lina malas ketemu sama Danial."


Di sisi lain, Lina dan Silva sebenarnya tidak kabur. Mereka pergi berkeliling komplek perumahan, lewat pintu belakang rumah Risma. Alasan mereka pergi dari rumah tersebut adalah mereka malas bertemu dengan geng OrionAlthair. Terutama Lina malas ketemu sama Danial.


Akan tetapi naasnya Lina dan Silva bertemu dengan geng Rigelius. Keadaan geng tersebut sepertinya sedang mabuk berat, sangat kentara dari tingkah mereka yang sudah melantur. Lina dan Silva menelan salivanya ketika berpapasan dengan mereka.


"Hy cewek-cewek cantik. Malam-malam kok jalan berdua sih," ucap Nando.


Lina dan Silva membalikkan badan hendak memutar balik, tapi mereka malah dicegat oleh anak Rigelius yang lainnya.


"Biarkan kami pergi," pinta Lina.


"Ngebiarin kalian pergi berarti kami melepas mangsa," kata Nando terkekeh.


"Mau kalian apa sih?"


"Mau kita kalian."


Lina dan Silva saling pandang. Mereka berdua tidak tahu harus berbuat apa. Saat dua orang anak Rigelius mendekati mereka, tiba-tiba ada seberkas cahaya terang yang menyilaukan mata.


"Gue pernah bilang ke kalian, jangan pernah macam-macam sama cewek," ucap Vano dengan lantang.


Anak Rigelius berkumpul menjadi satu, mereka tahu persis siapa yang akan mereka hadapi. Dia adalah Vano, orang yang sudah dua kali memorak-porandakan markas Rigelius seorang diri.


"Danial, lo bawa kedua cewek itu pergi!" perintah Vano kepada Danial.


Danial mengangguk lalu membawa Lina dan Silva menjauh dari tempat tersebut. Vano berkelahi sendirian melawan anak-anak Rigelius. Meskipun Vano kalah jumlah, tapi dia bisa mengalahkan anak Rigelius. Bahkan Nando juga babak belur lagi.


Vano menghampiri Danial, Lina, dan Silva setelah membuat anak Rigelius lari tunggang langgang. Vano duduk di sebelah Silva, wajahnya babak belur, sikunya juga berdarah.


"Van, lo obati luka lo itu," ucap Danial.


"Nanti saja di rumah," kata Vano.


Lina dan Silva hanya diam saja. Mereka berdua merasa bersalah karena menyebabkan Vano babak belur seperti itu. "Makasih Van, lo udah nolongin kita," ucap Lina.


"Bukan masalah yang besar. Lagian kenapa kalian keluar malam-malam?"


"Cari udara segar," jawab Lina dan Silva asal.


"Dan, bawa mereka kembali ke rumah Risma."


Danial dan Lina pergi keluar dari tempat tersebut, sedangkan Silva masih duduk di samping Vano.


"Kenapa lo gak ikut sama mereka?" tanya Vano.


Silva hanya menggelengkan kepala.


"Atau jangan-jangan lo mau dekat-dekat sama gue?" tanya Vano dengan pd.


Silva memutar kedua bola matanya malas. "Amit-amit jabang bayi."


"Gue bakal obati kalau sudah ada di rumah," kata Vano ketus.


Silva menemukan barang yang dicarinya. Dia duduk di sebelah Vano dan membuka kotak P3K tersebut. Silva meneteskan beberapa tetes obat merah ke atas kapas.


"Biar gue obati sekarang." Silva menempelkan kapas yang sudah diberi obat merah ke sudut bibir Vano.


"Pelan-pelan mengobatinya," ucap Vano sambil menahan perih.


"Kurang pelan gimana sih, Van?" Silva berdecak kesal.


Silva memberikan hansaplast di pelipis Vano yang terluka. Cowok itu hanya memperhatikan Silva. Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu, mereka bertatapan selama beberapa detik lalu setelah itu Silva mengalihkan pandangannya. Takut dosa.


"Siniin siku lo biar gue obati sekalian!" perintah Silva.


Vano meluruskan tangannya ke samping. Silva membersihkan luka Vano terlebih dahulu agar tidak infeksi.


"Lo bawa air gak?" tanya Silva.


"Ya gak bawalah," jawab Vano sewot.


"Nyantai aja kali jawabnya." Silva pergi keluar mencari air.


Setelah mendapatkan air, dia kembali menemui Vano, cewek itu memberikan beberapa tetes air di luka Vano.


"Perih, kampret," kata Vano.


"Kalau perih makanya jangan sering berantem," sengak Silva.


"Ngapain sih lo selalu menyuruh gue buat gak berantem? Lo kan bukan siapa-siapa gue."


Silva terdiam, yang dikatakan Vano ada benarnya juga. Dia lebih memilih untuk fokus mengobati luka Vano. Silva meniup luka Vano supaya tidak terasa perih.


"Gue boleh tanya?" tanya Vano.


"Boleh," jawab Silva.


"Lo udah punya pacar?"


"Belum pernah."


Vano tertawa mendengar pengakuan Silva.


"Kenapa lo tertawa? Apanya yang lucu?"


"Lo yang lucu."


"Emangnya lo sendiri sudah punya pacar?"


"Belum juga sih."


"Seriusan? Cowok kaya lo gak punya pacar?" tanya Silva sedikit berteriak.


"Bsw kali!"


"Lo sendiri kenapa gak punya pacar?"


"Kenapa lo gak jadi pacar gue aja?"


Silva terkekeh." Jangan bercanda deh! Siapa juga sih yang mau sama cewek kaya gue, cantik juga tidak."


"Pasti ada, semua manusia diciptakan berpasang-pasangan, kan?"


"Iya. Kenapa lo gak punya pacar? Kan banyak cewek yang suka sama lo."


"Memang banyak cewek yang suka sama gue, tapi kan kebanyakan dari mereka cuma suka dari fisik dan harta. Nggak ada yang sepenuhnya tulus cinta sama gue."


"Curhat nih ceritanya?"


"Gak!"


"Lo berantem itu dapat apa?"


"Gak dapat apa-apa."


"Terus ngapain lo berantem?" Silva langsung terdiam saat Vano menatapnya dengan tatapan tidak suka.


Silva menundukkan kepala, dia tidak berani bertanya apa pun lagi, dia sadar orang yang bersamanya adalah ketua geng OrionAlthair yang terkenal brutal.


"Gue boleh tanya lagi?" Silva meminta persetujuan Vano sebelum bertanya.


"Tanya aja." Vano memperbolehkan Silva bertanya.


"Lo sama Alvaro teman dari kecil, kan? Kenapa kalian sering berantem?"


Vano menghela napas, Silva menanyakan hal yang sudah tergolong privasi. "Enggak kenapa-napa," jawab Vano.


Silva cukup paham. Dia seharusnya tidak menanyakan hal itu kepada Vano.


"Malmingan yuk," ajak Vano.


"Berdua saja?" tanya Silva.


"Ya iyalah."


"Gak ah, nanti gue dikira pacar lo."


"Iya gpp dong."


"Gak ah, gue jadi pacar lo gak bakal tenang."


Vano hanya terkekeh dengan jawaban Silva. Dia langsung menarik tangan Silva keluar dari rumah kosong tersebut.


"Mau jalan-jalan ke mana sih?" tanya Silva.


"Keliling Salatiga," jawab Vano. "Ke Biztro, mau?"


"Iya gpp."


***


 


 


Lina dan Danial makan malam bersama di kafe Merah Putih. Sebenarnya Lina malas makan malam bersama dengan Danial, tapi mau tidak mau dia harus mau.


"Cowok idaman lo itu seperti apa sih?" tanya Danial.


"Seperti nabi Muhammad," jawab Lina.


"Emangnya laki-laki zaman sekarang ada yang sifatnya seperti nabi Muhammad?"


"Gak harus sama persis, yang terpenting dia memiliki akhlakul karimah."


"Berarti gue gak termasuk, ya?"


"Baru nyadar lo?!" sindir Lina.


Danial berusaha sabar dengan Lina, bagaimanapun caranya dia harus bisa membuat Lina menjadi miliknya. "Kenzo itu masih sepupu lo, kan?"


"Iya, emangnya kenapa?"


"Gpp, tanya doang."


"Gimana kabar adik lo?"


"Baik, katanya dia pengen ketemu sama lo."


"Yang pengen ketemu sama gue, adik lo atau lo?"


"Dua-duanya bisa."


Lina hanya memutar kedua bola matanya malas. Saat ini dia tidak mau membuka hati untuk siapa pun, jadi perjuangan Danial akan lebih susah.


***