Silvano

Silvano
Kecewa Lagi



Hari ini Vano akan mengajak Silva datang ke pesta ulang tahun Avariella. Sebenarnya Silva masih ragu-ragu untuk datang ke sana, apalagi dengan Vano. Dia tahu bahwa papa Vano tidak suka jika anaknya itu memiliki hubungan dengan dirinya.


Vano menggandeng tangan Silva, mereka seperti pasangan yang sangat serasi. Dengan melakukan hal tersebut, cukup membuat Silva merasa sedikit tenang dan tidak gugup sama sekali.


"Selamat ulang tahun, Avariella." Silva memberikan kado untuk Avariella.


"Makasih kak Silva." Avariella mengambil kado tersebut dan memeluk Silva dengan erat.


"Abang gak dipeluk juga?" tanya Vano.


"Gak mau. Abang bau," jawab Avariella.


"Enak aja ngatain abang bau!"


Silva hanya menahan tawa melihat perdebatan antara kakak beradik itu. Vano lalu mengajak Silva duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Cowok itu juga mengambilkan makanan untuk Silva.


"Selamat malam semua." Suara pak Aldo menyambut semua tamu-tamunya.


Semua tamu undangan yang hadir langsung memperhatikan ke arah pak Aldo yang sudah berdiri di atas panggung bersama Avariella dan bu Karina. Bu Karina memberikan isyarat supaya Vano ikut bersama mereka.


"Gue ke sana sebentar, ya?" Pamit Vano.


"Ok."


Vano juga ikut berdiri di atas panggung bersama dengan keluarga kecilnya. Tetapi keluarga itu tidak lengkap karena Albris tidak bisa hadir karena dia berada di luar kota untuk kuliah.


Acara pesta ulang tahun dimulai dengan Avariella meniup lilin dan memotong kuenya. Setelah itu semua tamu undangan ikut menikmati pesta tersebut.


"Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak ibu semua. Saya akan menyampaikan sebuah pengumuman penting bagi semuanya, terutama bagi Vano."


Silva bingung dengan ucapan pak Aldo. Pengumuman apa yang akan diberikannya kepada semua orang?


"Saya ingin memberitahukan kabar bahagia lain juga. Anak saya, Vano Viandra Putra kini menjalin hubungan dengan Renata Aurellia. Saya sangat bahagia dengan hubungan mereka berdua. Sekian, terima kasih. Selamat menikmati hidangannya."


Silva sangat terkejut mendengar pengumuman dari pak Aldo. Vano mempunyai hubungan dengan Renata? Lalu buat apa dia minta balikan kemarin dan mengajaknya datang ke acara ini? Mau bikin dirinya malu?


Silva mengepalkan tangannya menahan amarahnya. Dia benar-benar kecewa dengan semua ini. Dia lelah hatinya dipermainkan oleh cowok itu. Kemarin-kemarin Vano selalu bisa membuat hatinya terbang setinggi langit, lalu setelah itu dia membuat hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya.


"Lo gak pantas mendapatkan cowok seperti Vano," ucap Alvaro yang sejak kapan sudah berada di sebelah Silva.


"Lo benar. Gue gak pantas buat dia." Silva berdiri dari tempat duduknya.


Silva pergi begitu saja. Tapi Vano menarik tangannya dan membawanya ke hadapan papanya. Di sana Silva bisa melihat Renata yang bersikap sok polos.


"Pa, kenapa papa ngomong kalau Vano punya hubungan dengan Renata?!"


"Papa gak mau kamu berhubungan dengan cewek seperti dia." Pak Aldo menunjuk ke arah Silva.


"Pa! Silva kurang apa sih? Sampai kapan pun Vano akan tetap bersama Silva. Vano tidak akan pernah mau dengan cewek lain!"


"Vano! Sekarang kamu berani membantah keputusan papa?!" Pak Aldo berkata tegas.


"Dia itu gak pantas buat kamu, Vano. Dia kurang cantik, kurang kaya, kurang segala-galanya dibanding Renata." Pak Aldo melanjutkan ucapannya.


"Pak Aldo!" Alvaro tiba-tiba datang dan menarik tangan Silva—membawanya berdiri di sampingnya.


"Saya tidak akan terima jika bapak menghina Silva seperti itu. Itu sama saja bapak telah menghina keluarga kami." Alvaro menatap tajam ke arah Pak Aldo.


"Maksud kamu apa?" tanya Vano.


"Silva adalah adik saya. Jadi, bapak gak usah menghina dia lagi!"


Alvaro membawa Silva pergi, Vano hendak mengejar mereka tapi Renata menghentikannya. Dia beralasan kalau dia butuh dirinya untuk menyembuhkan trauma yang dialami.


Di gerbang rumah Vano, Silva melepas high-heels yang ia kenakan. Dia berusaha menahan air matanya supaya tidak lancang keluar begitu saja. Alvaro langsung membawa Silva ke pelukannya. Akhirnya gadis itu menangis histeris dalam pelukan Alvaro.


"Kenapa semua ini terjadi dalam hidup gue?" Silva terisak dalam pelukan Alvaro.


"Lo gak boleh patah semangat. Ada gue, kakak lo yang akan selalu mendukung lo dan gak akan pernah membiarkan lo terluka."


Silva melepas pelukan Alvaro. "Kakak lo bilang?!" Silva berkata dengan nada sengit.


"Kakak macam apa yang meninggalkan adiknya sendirian di taman hiburan yang penuh dengan orang banyak?! Apa lo gak mikir bagaimana nasibnya kelak? Bagaimana jika dia diculik oleh orang lalu disuruh untuk mengemis di pinggir jalan, atau lebih mirisnya dibawa pergi dan diambil organ dalamnya?"


"Maafin gue Sil, gue khilaf. Gue bukan kakak yang baik buat lo. Gue melakukan itu semua karena terbakar rasa cemburu. Papa dan mama selalu memperlakukan lo dengan baik, sedangkan dengan gue? Mereka tidak pernah perhatian lagi semenjak lo hadir dalam kehidupan kita."


"Asal lo tahu. Gue selalu bangga punya kakak seperti lo, yang selalu ada buat adiknya, selalu membela adiknya, sampai semua itu lo hancurkan dengan cara lo membuang gue. Saat itu gue benar-benar kecewa sama lo, Al!"


Silva meluapkan semua yang ada di dalam hatinya. Dia bisa merasa lega setelah mengeluarkan semua beban itu dalam hatinya. Kini dia tidak perlu lagi menutupi fakta kalau dirinya adalah adik Alvaro.


"Sil, gue mau ngomong sama lo," kata Vano dengan lembut.


"Lebih baik lo gak usah ganggu adik gue lagi!" Alvaro berdiri di hadapan Vano.


"Var, biar gue bicara sebentar sama cowok brengsek ini," ucap Silva sembari menatap sengit ke arah Vano.


"Baiklah. Gue tunggu lo di sana." Alvaro menunjukkan mobilnya yang terparkir di seberang jalan.


Silva mengangguk mengerti, setelah itu Alvaro menunggu dari dalam mobilnya dan melihat hal apa yang akan terjadi di antara Silva dengan Vano.


"Sil, aku mau lo ngertiin aku. Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Renata. Yang dikatakan papa tadi itu sungguh di luar dugaanku. Aku minta maaf sama kamu."


"Minta maaf? Lo bilang maaf mah gampang, tapi lo tau?! Perkataan papa lo bikin gue sakit hati."


"Please, maafin papa. Aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi."


"Kenapa lo harus datang ke kehidupan gue?! Kenapa lo harus buat gue jatuh cinta sama lo?! Bikin gue cinta sampai kaya gini tapi jika akhirnya lo ninggalin gue, buat apa, Van?!"


Vano hanya diam saja mendengar semua keluhan Silva. Cewek yang ada di hadapannya mengeluarkan air mata karena dirinya, dan kini dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dasar cowok gak guna.


"Kita break aja dulu, Van. Jangan temui gue selama beberapa hari ke depan!" Silva langsung pergi dari hadapan Vano dan berlari masuk ke dalam mobil Alvaro.


Alvaro langsung membawa Silva pergi dari tempat tersebut. Vano memaki-maki dirinya sendiri. Kenapa dia tidak bisa teguh pada perasaannya sendiri?


"Sudahlah, Sil. Buat apa lo nangisin cowok kaya Vano?" Alvaro membawa Silva ke tempat yang sepi.


"Bagaimanapun juga, dia cinta pertama gue."


"Lo lupain aja d—"


"Jangan bahas dia lagi. Gue muak dengannya!"


Alvaro tidak melanjutkan ucapannya. Dia membiarkan Silva menangis di dalam pelukannya dan siap sedia memberikan pundaknya sebagai tempat bersandar baginya.


"Mau pulang ke rumah?" tanya Alvaro setelah Silva berhenti menangis.


"Gue belum siap," jawab Silva.


"Kenapa?"


"Gue butuh waktu, jadi gue mohon jangan kasih tahu siapa-siapa tentang hubungan kita, bisa?"


Alvaro mendengus kesal, bagaimana tidak? Setelah sekian lama dia bisa bertemu lagi dengan adiknya, tetapi adiknya belum mau kembali ke rumah.


"Aku usahakan. Oh ya, ada orang yang ingin kakak kenalkan padamu. Dan kemungkinan besar, kamu akan senang melihatnya."


Silva menebak-nebak siapa orang yang dimaksud Alvaro. "Siapa?"


"Besok aku jemput kamu jam sembilan, kita akan jemput dia di bandara."


"Kira-kira siapa orangnya?" Silva mencoba berpikir.


"Besok bakal tahu kok."


Alvaro mengambil sebuah kotak. "Kamu pakai ini." Dia memberikan sebuah kalung kepadanya.


"Ini kan kalung pemberian ayah," ucap Silva.


"Iya, masih ingat, kan? Kenapa papa memberikan kalung ini?"


"Sebagai tanda anggota keluarga dan supaya aku bisa mengingat cita-cita yang aku impikan?"


"Pintar." Alvaro memakaikan kalung tersebut di leher Silva.


"Jaga baik-baik kalung ini, karena apa? Karena kamu salah satu anggota keluarga kami. Kamu adalah adik yang paling hebat, aku beruntung mempunyai adik seperti kamu."


"Tapi aku gak beruntung punya kakak yang sering berantem." Silva sengaja menyindir Alvaro.


Alvaro hanya melirik tidak suka kepada Silva. Dia lalu mengacak-acak rambutnya dan mencubit pipinya dengan gemas. Setelah itu Alvaro mengantar Silva pulang ke rumahnya.


"Jangan lupa, besok jam sembilan pagi."


"Insyaallah, jangan telat jemput juga!"


"Ok. Siapkan mental dan fisik ketemu orang itu, karena dia jauh lebih tampan dari Vano."


***