
Vano dan teman-temannya duduk di depan kelas sembari menggoda cewek-cewek yang berlalu lalang. Di antara mereka semua, Rezvanlah yang paling parah melontarkan godaannya. Vano dan Kenzo, yang merupakan tipe cowok yang jarang menggoda cewek hanya diam saja.
Tanpa menggodanya, para ceweklah yang akan duluan mendekati Kenzo dan Vano yang merupakan most wanted boy di SMA Andromeda. Vano terkenal karena dia merupakan ketua geng OrionAlthair dan sering bikin onar sekaligus bisa keluar masuk BK lebih dari tujuh kali dalam sehari, sedangkan Kenzo terkenal karena kepintarannya dan dia juga merupakan sahabat Vano.
"Neng, neng," ucap Rezvan.
"Maaf, nama saya Mita, bukan Neneng," sengak seorang siswi.
Ketujuh teman Rezvan dan cewek tersebut tertawa ngakak. "Gatot," ucap Danial.
"Nyantai bro, baru pemanasan." Rezvan berdiri mencegat seorang siswi.
"Cewek cantik, kamu kehilangan sesuatu," ucap Rezvan yang membuat cewek itu celingak celinguk mencari sesuatu.
"Gak kok," kata siswi tersebut.
"Kamu gak sadar ya? Kamu kehilangan aku, pacar kamu."
Pipi siswi tersebut langsung memerah seperti kepiting rebus ketika mendengar ucapan Rezvan. Siswi tersebut tersenyum malu-malu. Rezvan mengedipkan sebelah matanya genit yang membuat siswi tersebut benar-benar baper dan langsung pergi.
"Wanjirr," ucap Arifin.
"Parah bener lo, baperin anak orang," kata Vano.
"Gue juga mau coba ah." Danial berdiri menghampiri seorang siswi yang berjalan sendirian di dekat kelas mereka.
"Hai cantik, bisakah aku meminta sesuatu?" tanya Danial.
"Meminta apa?" tanya Siswi tersebut agak ketakutan dan berjalan mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan Danial.
"Aku minta kamu jangan gerak sekarang!"
"Ok." Siswi tersebut menuruti ucapan Danial.
"Sekarang kamu jangan bergerak!" Danial dan siswi tersebut saling memandang tanpa berkedip. "Kamu tahu gak kenapa?"
"Kenapa emangnya?"
"Aku takut kamu ninggalin aku pas lagi sayang-sayangnya."
Siswi tersebut dibuat baper oleh Danial, dia tersipu malu lalu mundur beberapa langkah. Danial hanya tersenyum kepada siswi tersebut, dia melambaikan tangan dan langsung pergi.
"Dan, Lina kalau lihat lo gombalin cewek gimana?" tanya Bisma.
"Lina kan gak ada di sini," jawab Danial santai.
"Siapa bilang? Lo lihat itu!" Andhra menunjuk Lina yang berada di koridor dekat kelas XI IIS 2.
Lina tadi memang sengaja melihat bagaimana Danial menggoda seorang cewek. Setelah selesai melihatnya, Lina dan Ariena berjalan melewati Danial dkk. Mereka berdua hanya cuek dengan keberadaan anak OrionAlthair.
"Hai Lina," sapa Danial tapi hanya dicuekkin oleh Lina.
"Oh kasihan oh kasihan aduh kasihan." Rezvan bersenandung.
"Lo manggil pak Kasiyan?" tanya Arifin polos.
"Siapa juga yang manggil guru itu."
"Siapa tadi yang menyebut nama saya?" tanya Pak Kasiyan yang baru saja datang.
"Arifin, Pak. Katanya, dia kangen diulang lagi sama bapak," jawab Rezvan.
Pak Kasiyan mendekat kepada Arifin. "Kamu kangen saya mengajar di kelasmu?"
"Iya lah, Pak. Bapak kan kalau mengajar pasti seru," ucap Arifin.
Pak Kasiyan hanya mangut-mangut sembari menepuk-nepuk pundak Arifin lalu berlalu pergi ke ruang guru.
"Sejak kapan diajar sama pak Kasiyan jadi seru?" tanya Bisma heran.
"Saking serunya sampai-sampai semua seisi kelas langsung teler jika dia mengajar," jawab Arifin sengak.
"Gak baik ngomongin orang. Bagaimanapun juga pak Kasiyan itu guru kalian, orang tua kita di sekolah," kata Kenzo.
"Gue pergi dulu," pamit Vano.
"Mau pergi ke mana, bos?" tanya Andhra sedikit berteriak.
"Mau tahu banget sama urusan orang lo," kata Rezvan menyindir.
Vano pergi berjalan menuruni anak tangga dengan terburu-buru hingga bahunya tidak sengaja bersenggolan dengan bahu seorang siswi. "Maaf, saya gak sengaja," ucap Vano datar.
"Saya juga minta maaf," kata siswi tersebut.
"Lo kayaknya cewek yang tadi malam, kan?"
"Kamu Vano?"
"Iya, gue Vano."
*Flashback On*
Sepulang mengantar Silva pulang ke rumahnya, Vano tidak sengaja melihat seorang cewek yang dibawa paksa oleh dua orang. Cewek itu berusaha memberontak dan meronta meminta agar dilepaskan. Bukannya kasihan, kedua orang tersebut malah menampar cewek tersebut.
Vano yang tidak tega melihat seorang cewek disakiti langsung menghentikan mobilnya dan menghajar kedua orang tersebut. Perkelahian tak dapat dielakkan, kedua orang tersebut cukup kuat karena bisa membuat Vano hampir kalah, tapi bukan Vano namanya kalau dia tidak bersikap brutal.
Akibat ulah Vano, kedua orang tersebut mengalami patah tulang kaki dan tangan. Mereka langsung melarikan diri karena sudah tidak bisa bertarung melawan Vano lagi. Vano lalu menghampiri cewek tersebut.
"Lo gak apa-apa?" tanya Vano cuek.
"Iya. Makasih—"
"Vano."
"Terima kasih, Vano."
"Bukan hal besar. Siapa nama lo?"
"Renata Aurellia."
"Gue gak nanya nama lengkap lo."
Renata hanya terdiam mendengar ucapan Vano. Hatinya dongkol mendengar ucapan Vano yang tidak sopan.
"Gue antar lo pulang."
"Tapi—"
"Kalau kedua orang tadi kembali, siapa yang akan nolongin lo? Kuntilanak? Pocong? Genderuwo?"
"Baik lah." Renata masuk ke mobil Vano. Cowok itu mengantarnya pulang sampai rumahnya dengan selamat.
*Flashback Off*
***
Bel istirahat baru saja berbunyi, Silva dkk sudah berada di kantin sembari menyantap semangkuk soto ayam. Kantin lumayan sepi dari biasanya, karena para siswa lebih memilih untuk membawa bekal makanan sendiri. Selain untuk mengirit pengeluaran sekaligus supaya uang jajan mereka dapat ditabung, mereka juga malas jika setiap istirahat pasti berdesak-desakkan di kantin.
Silva melihat Vano baru saja datang ke kantin bersama seorang cewek? Tunggu dulu, dia siapanya Vano? Pacarnya? Kalau pacarnya, buat apa Vano kemarin malam nembak Silva?
"Dia siapanya Vano?" tanya Lina.
"Pacarnya, mungkin," jawab Silva.
"Masa sih?" Protes Ariena.
Saat Ariena mau menjelaskan, Vano tiba-tiba duduk bergabung dengan mereka semua sehingga membuat mereka langsung terdiam.
"Gue boleh gabung?" tanya Vano.
"Boleh," jawab Ariena.
"Kalau dia?" tanya Vano menunjuk cewek yang bersamanya.
"Tentu saja boleh, inikan tempat umum jadinya siapa saja boleh bergabung di sini," kata Lina sedikit sengak.
Cewek tersebut duduk di sebelah Vano. Vano sejak tadi memperhatikan Silva yang hanya diam saja dan tidak tertarik untuk ikut dalam pembicaraan.
"Nama gue Renata Aurellia, kalian bisa panggil gue Renata." Renata memperkenalkan diri.
"Salken Ren, nama gue Ariena." Ariena memperkenalkan dirinya.
"Kalau gue Risma."
"Gue Lina."
"Senang bisa kenal dengan kalian."
Lina menyikut lengan Silva, dia merasa aneh dengan sikap sahabatnya itu yang sejak tadi diam.
"Ada apa?" tanya Silva polos.
"Lo gak—" Lina tidak melanjutkan ucapannya karena Silva menyelanya.
"Astaga gue lupa." Silva bangkit dari tempat duduknya lalu pergi dari kantin secepat kilat.
"Ada apa dengannya?" tanya Vano.
"Biasalah, pasti mau menemui Devan," jawab Lina.
"Devan?"
"Palingan cuma modus Devan buat pdkt sama Silva. Semua orang sudah tahu kalau dia suka sama Silva. Masa lo gak tahu sih?" Ariena menjelaskan.
"Sejak kapan Devan suka sama Silva?"
"Lo jadi orang kepo banget."
Vano bangkit dari tempat duduknya dan memilih ikut bergabung dengan teman-temannya yang berada di kantin belakang sekolah. Andhra duduk di pojokkan sambil menghisap rokok, sedangkan yang lainnya enak-enakkan menyantap mie instan.
"Cewek tadi siapa, bos?" tanya Andhra.
"Dia Renata," jawab Vano datar.
"Renata yang korban pelecehan seksual itu?" tanya Bisma memastikan.
"Kayak nya iya."
"Kenapa lo mengenalkan sama Lina dkk?" tanya Kenzo.
"Mereka orang baik, pasti mereka bisa mendukung Renata buat sembuh dari trauma."
Terdengar bel berbunyi tiga kali, tandanya bel pulang. Semua siswa yang berada di kantin bersorak ria. Termasuk Arifin dan Andhra sampai meloncat-loncat kegirangan di atas meja kantin. Kenzo dan Vano hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua seperti monyet.
Vano berjalan ke kelasnya untuk mengambil tas. Saat di lorong, dia melihat Silva yang berjalan bersama dengan Devan. Vano lalu menghampiri mereka berdua lebih tepatnya menghampiri Silva.
"Sil, gue tunggu lo di parkiran," kata Vano dengan menunjukkan wajah datar.
"Devan, gue pergi dulu." Silva berjalan menuju ke kelasnya diikuti Vano.
"Udah punya jawabannya belum?" tanya Vano.
Silva menggelengkan kepalanya. Dia masuk ke kelasnya dan memasukkan buku ke dalam tas.
"Renata itu siapa? Cewek lo?" tanya Silva.
Vano mengerutkan kening. "Lo cemburu?"
"Gak. Gue cuma nanya. Kalian berdua cocok."
Vano memegang pundak Silva. Kini posisi mereka berdua berhadapan. "Gue cuma nyaman sama lo. Renata itu cuma cewek yang gue tolong karena dia mau dibawa paksa sama dua orang preman. Dan dia itu korban pelecehan seksual."
Silva terkejut saat Vano menyebutkan kalimat terakhirnya. "Jadi—"
Vano mencubit pipi Silva dengan gemas. "Jadi dia bukan cewek gue. Makanya jangan langsung cemburu."
Silva memegang kedua pipinya yang terasa sakit akibat ulah Vano. "Sorry, gak sempurna."
Vano hanya terkekeh dengan tingkah Silva. Entah kenapa Vano selalu saja gemas dengan cewek itu. Silva, satu-satunya cewek yang berhasil membuatnya merasa nyaman.
Vano dan Silva tiba di parkiran, mereka berdua bertemu dengan Renata. Cewek itu sepertinya tidak punya semangat sama sekali. Vano menghampirinya karena dia alasan cewek itu murung.
"Ada apa?" tanya Vano.
"Gak ada apa-apa," jawab Renata.
Silva mendekati mereka berdua. "Hai Renata," sapa Silva.
Renata menanggapinya tersenyum.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Vano.
"Sendiri," jawab Renata.
"Kenapa lo gak antarin dia pulang?" tanya Silva.
"Terus lo gimana?"
"Gue bisa pulang sendiri."
"Tapi—"
"Vano!" Vano hanya menghembuskan napasnya janggah.
Vano segera naik ke motornya diikuti Renata. Silva hanya diam melihat kepergian mereka berdua. Ada rasa ikhlas tidak ikhlas ketika dia menyuruh Vano mengantar pulang Renata.
"Gak mungkin gue cemburu sama Vano," monolog Silva.
Silva berjalan menuju halte bus, dia duduk di bangku—kakinya dia hentak-hentakkan. Silva mengambil ponselnya dan melihat-lihat pesan masuk.
"Kenapa belum pulang?" tanya seorang dengan suara beratnya.
Silva mendongak melihat orang tersebut. "Lo kenapa di sini?" tanyanya sedikit takut.
"Lo gak usah takut, gue gak bakal ngapa-ngapain lo."
"Kan cuma jaga-jaga, waktu itu lo udah pernah buat gue sebagai sandera."
Seseorang yang bersama dengan Silva adalah Alvaro. Entah sejak kapan cowok itu sudah berada di sana.
"Vano ke mana?" tanya Alvaro.
"Kenapa lo nyari dia? Mau berantem lagi?"
Alvaro hanya terkekeh. "Gak, tujuan gue kesini bukan karena dia."
"Terus siapa?"
"Lupakan saja! Mau gue antar pulang?"
"Mau sih kalau gratis."
"Kenapa Vano gak ngantarin lo pulang?"
"Dia tadi gue suruh buat ngantarin Renata."
"Lo itu terlalu polos jadi cewek."
Silva tidak paham dengan maksud ucapan cowok itu, tapi dia tidak terlalu memedulikannya.
***