
Silva masih setia menunggu Vano yang masih belum juga sadarkan diri beberapa hari ini. Dia bahkan rela tidur di sofa ruangan Vano agar dia tetap bersama Vano. Untungnya sekolah juga tidak ada kegiatan apa pun, hanya tinggal menunggu penerimaan rapor.
Lina dan Ariena datang membesuk Vano. Meskipun mereka tidak terlalu dekat dengan Vano, bagaimanapun juga mereka teman satu sekolahan dan satu angkatan, cuma beda kelas dan jurusan saja.
"Kira-kira, Vano lagi apa, ya?" Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Ariena.
Lina hanya menepuk jidatnya-- tidak menyangka mempunyai teman sebodoh itu. "Dia sedang koma, Rin. Otak lo taruh mana sih? Anak MIA 1 tapi kok kaya gitu."
"Yang gue maksud itu seperti di film Asal kau bahagia itu loh. Meskipun koma, tapi jiwanya sedang berkelana di suatu tempat."
Silva hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Ariena. "Rin, sepertinya lo jadi korban film deh."
"Tau nih anak. Kebanyakan nonton sinetron mulu." Lina berkata kesal.
"Serba salah."
Silva hanya diam saja. Dia tidak terlalu bersemangat mengobrol. Lina dan Ariena yang paham dengan keadaan Silva—mereka berpamitan pulang karena tidak mau mengganggu Vano.
"Kita pamit pulang dulu. Jangan lupa makan." Lina berpamitan.
"Jaga diri lo baik-baik." Ariena memberikan saran.
"Makasih, ya? Kalian sahabat terbaik gue."
Ariena dan Lina lalu keluar dari ruang rawat Vano dan hanya menyisakan Vano dengan Silva. Vano masih belum juga membuka matanya, hal itu membuat Silva sangat khawatir dan merasa bersalah kepada Vano.
Bahkan selama beberapa hari ini, Silva jarang makan alias tidak nafsu makan sama sekali. Dia tidak peduli dengan keadaannya sendiri, dia hanya ingin Vano bisa sembuh seperti semula-- menghabiskan waktu bersama.
"Van, sampai kapan lo mau terus-terusan kayak gini?" Silva berbicara sendiri.
"Lo gak kasihan apa sama gue?"
"Please, buka mata lo."
Bu Karina datang untuk melihat keadaan putranya. Dia sangat kasihan melihat Silva yang sepertinya merasa sangat sedih.
"Lebih baik kamu istirahat saja, nak." Bu Karina memberikan saran.
"Gak, tante. Silva gak capek kok," tolak Silva.
"Kamu gak pergi ke sekolah?"
"Di sekolah mau ngapain, tante? Gak ada kegiatan selain classmate."
"Lebih baik kamu pergi ke sekolah, biar tante yang menunggu Vano."
"Baiklah, tante. Silva pamit ke sekolah dulu. Kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku, ya?"
"Iya, nanti bakal tante kabari."
Silva mencium tangan Bu Karina. Dia mau pergi berangkat ke sekolah. Meskipun sudah jam delapan pagi, gerbang SMA Andromeda belum tutup karena kegiatan sekolah adalah bebas. Jadi Silva tenang berangkat siang.
Sesampai di kelasnya, dia duduk di sebelah Risma. Dia mendengarkan musik melalui earphone sambil membaca sebuah novel. Silva melakukan hal tersebut supaya bisa menghilangkan rasa lelahnya.
"Vano belum sadar?" tanya Risma.
"Belum," jawab Silva.
"Ini semua salah gue." Silva menutup novel yang dia baca.
"Ini bukan salah lo, Sil. Ini semua sudah takdir, jadi jangan salahkan diri lo sendiri," kata Lina.
"Yang dikatakan Lina ada benarnya. Lebih baik kita ke kantin," ajak Ariena.
"Temen lo lagi sedih tapi lo masih sempat-sempatnya ngajak ke kantin?" Lina tidak percaya dengan Ariena.
"Kan gue lapar."
"Kalian saja yang pergi ke kantin. Gue lagi gak mood."
Lina langsung menarik tangan Silva. "Masa kita pergi ke kantin sedangkan lo gak? Ya gak bakal seru lah, Sil."
Silva dan Ariena duduk kursi kantin yang masih kosong. Kantinnya hampir penuh karena para siswa lebih memilih menongkrong di kantin daripada di kelas. Lina dan Risma bertugas memesan makanan.
Tak lama, Lina dan Risma membawa nampan berisi 4 mangkok bakso dan 4 jus yang berbeda. Silva diberi jus alpukat, kesukaannya. Mereka menikmati makanannya, terkecuali Silva. Dia hanya mengaduk-aduk bakso yang di hadapannya, bahkan tatapannya pun kosong. Raganya berada di tempat itu, tetapi pikirannya berada di tempat lain.
"Kasihan tuh si Silva," ucap Rezvan yang dari tadi melihat sikap Silva yang aneh.
"Gue yakin seratus persen kalau dia itu benar-benar cinta dan sayang banget sama Vano," kata Danial.
"Gue berdoa aja yang terbaik untuk Vano." Kenzo ikut berkomentar.
"Berdoa dimulai," ucap Arifin.
Keenam temannya memandang ke arah dengan tatapan yang tidak biasanya. "Kenapa kalian lihatin gue kaya gitu? Ada yang salah?" tanya Arifin bingung.
"Lo pikir ini mau mulai pelajaran, pakai acara berdoa mulai segala," kata Fadhil sewot.
"Tau tuh anak." Andhra juga ikut-ikutan sewot.
Silva pamit pergi ke toilet sebentar. Saat di jalan, dia tidak sengaja bertabrakan dengan Regina, dan cewek itu dengan sengaja menumpahkan minuman yang dia bawa.
"Ups... sorry," kata Regina tanpa merasa bersalah.
Silva tidak menanggapi Regina. Dia tidak mau berurusan dengan cewek itu. Silva berjalan melewati Regina, tapi dia malah menarik tangan Silva dan membenturkan dengan kasar tubuh cewek itu ke tembok.
"Lo berani main-main sama gue?" Regina menarik rambut Silva dengan kencang.
Silva menahan rasa sakitnya. "Gue gak mau berurusan dengan lo, Re."
Plakkk
Regina menampar pipi Silva dengan sangat keras hingga membuat pipi Silva terasa panas dan kebas. Bahkan tangan Regina saja terasa sakit setelah melayangkan tamparan itu.
"Sekarang gak ada yang lindungi lo lagi. Karena apa? Karena orang yang selalu lindungi lo lagi terbaring lemah di rumah sakit." Regina menatap tajam ke arah Silva.
"Awas aja sampai lo berani ngadu ke Vano atau ke guru. Lo ngelakuin hal itu, nyawa lo bakal habis di tangan gue." Ancaman Regina tidak main-main.
Silva terduduk lemas di dekat pintu toilet. Dia tidak pernah bersikap selemah ini. Dia tidak tahu harus melakukan apa? Pikirannya benar-benar kacau balau. Dia lalu membasuh mukanya selama beberapa kali. Setelah itu dia berjalan di lorong kelas, dan dia mendengar sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
"Gue udah puas sekarang. Vano menerima akibat yang setimpal, dia belum sadarkan diri selama beberapa hari. Dan... gue lah yang sengaja menabrak dia dengan mobil gue." Silva mendengar percakapan Devan dengan seseorang melalui telepon.
Silva juga tadi merekam semuanya, jadi dia punya bukti bahwa Devan adalah pelaku dari kecelakaan yang menimpa Vano. Silva tidak menyangka sama sekali kalau Devan tega melakukan hal tersebut kepada Vano.
Silva segera pergi dari tempat tersebut. Dia pergi mengambil tasnya lalu pergi kembali ke rumah sakit. Dia memperlihatkan video yang dia rekam tadi kepada bu Karina. Bu Karina juga sama syoknya dengan Silva.
"Saya gak terima hal ini. Dia harus dijebloskan ke penjara," kata Bu Karina.
"Jangan, tante. Kita bisa selesaikan masalah ini secara kekeluargaan."
"Saya salut sama kamu. Kamu lebih memilih menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik."
"Jika cara baik-baik bisa menyelesaikan masalah, buat apa kita menyelesaikan masalah dengan kekerasan? Itulah yang selalu ayah saya katakan kepada saya."
"Saya keluar sebentar, mau memberi info tadi ke papa Vano."
Bu Karina keluar dari ruang rawat Vano. Silva duduk di kursi sebelah tempat tidur Vano. Dia menggenggam erat satu tangan Vano. Dulu tangan itulah yang selalu membuat tubuhnya menjadi hangat. Kini giliran dirinya untuk memberikan kehangatan kepada Vano.
"Cepat sadar, ya? Gue kangen banget sama lo." Silva meletakkan kepalanya di sebelah tubuh Vano.
Jari telunjuk Vano bergerak, matanya perlahan-lahan terbuka. Dia melihat orang yang sangat tidak asing baginya—Silva, cewek itu tertidur ketika menunggunya. Tanpa disadari, senyuman manis terbentuk di sudut bibir Vano.
Vano mengelus rambut Silva dengan penuh kasih sayang. Dia tidak menyangka jika dia bakal rela seperti itu. Merasa ada yang menyentuh tangannya, Silva mengangkat kepalanya dan terkejut saat melihat Vano sudah sadarkan diri.
"Vano! Akhirnya lo sadar juga." Silva langsung memeluk erat Vano.
"Ck... lo kangen ya sama gue?" Vano masih bisa-bisanya menggoda Silva.
"Lo udah berhasil membuat gue takut kehilangan lo," ucap Silva pelan.
"Lo ngomong apa? Gue gak dengar." Vano berpura-pura saja.
Silva mencubit lengan tangan Vano hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan. "Gue bakal panggil dokter."
Saat Silva hendak memanggil dokter, Vano malah menarik tangan Silva hingga cewek itu terjatuh di atasnya. Mata mereka saling bertemu dan bertatapan. Jantung Silva berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Yang gue butuhkan bukan dokter, tapi gue butuh lo." Kata-kata Vano berhasil membuat Silva tersipu malu dan jantungnya semakin deg-degan.
Silva membenarkan posisinya. Dia duduk di kursinya lagi. "Dasar gombal."
"Tapi lo suka, kan?"
"Siapa juga sih yang suka sama gombalan lo itu."
Vano hanya tertawa renyah. Dia suka sekali menggoda Silva hingga membuat cewek itu salting dan tersipu malu.
"Van, gue minta maaf." Silva menundukkan kepalanya-- tidak berani menatap cowok itu.
"Minta maaf? Buat apa?" tanya Vano tidak mengerti.
"Gara-gara gue, lo jadi kaya gini."
Vano menggenggam tangan Silva. Dia sedikit sulit melihat ke arah cewek itu karena di lehernya terpasang cervical collar yang berguna sebagai alat terapi untuk menyetel kembali sumsum tulang belakang yang dimungkinkan cedera, sehingga rasa sakit yang diderita bisa berkurang.
"Ini bukan salah lo. Jadi, jangan salahkan diri lo sendiri."
"Tapi--" Vano meletakkan jari telunjuknya di bibir Silva.
"Gak ada tapi-tapian. Gue tegaskan kalau ini bukan salah lo."
Silva tidak mau membantah kata-kata Vano lagi.
"Baju lo kenapa seperti ketumpahan minuman?" tanya Vano yang melihat baju Silva ada noda minuman.
"Tadi gue minum, dan gak sengaja tumpah," jawab Silva bohong.
"Dia bohong deh, Van." Kenzo baru saja masuk bersama Danial.
Silva terkejut dengan kedatangan Kenzo. Bagaimana cowok itu tahu kalau dirinya sedang berbohong.
"Emangnya apa yang terjadi?" tanya Vano penasaran.
"Lo tonton video ini." Kenzo menyerahkan ponselnya yang berisi Video saat Regina melabrak Silva tadi.
"Regina udah benar-benar kelewatan," geram Vano. "Mentang-mentang gue gak ada, terus dia bisa menyakiti cewek gue seenaknya."
"Udahlah, Van. Gak usah urus masalah itu. Lagian gue baik-baik saja kok."
"Sekarang lo harus sembuh dulu baru lo bisa bikin Regina menyesali perbuatan nya," saran Kenzo.
"Kenzo!" tegur Silva.
Kenzo hanya mengeluarkan cengiran khasnya dan mengangkat tangannya membentuk tanda piece.
***