Silvano

Silvano
Silva Rivana Agustina



Silva dan Ariena berangkat bersama menuju rumah Lina karena mereka akan mengerjakan tugas Fisika dan Biologi. Saat di tengah jalan, mereka melihat Risma yang berboncengan dengan seorang cowok.


"Itu bukannya Risma?" Ariena menunjuk seorang cewek yang memakai baju atasan berwarna peach dan celana jeans.


Silva mengikuti pandangan yang ditunjukan Ariena. "Hooh, tapi cowok itu bukannya ...."


"Bisma." Silva dan Ariena berkata bersamaan.


"Gila, mereka ada hubungan apa?" tanya Ariena.


"Mana gue tahu."


Ariena mengikuti di belakang Bisma dan Risma yang juga menuju ke rumah Lina. Ariena menjaga jarak supaya mereka berdua tidak menyadarinya. Motor Bisma berhenti di depan pagar rumah Lina, Risma turun dari motor lalu masuk ke rumah Lina.


Ariena dan Silva turun dari mobil dan masuk ke rumah Lina. Lina dan Risma sedang mengobrol saat kedua temannya itu datang. Silva menghampiri mereka sedangkan Ariena malah sibuk sendiri dengan ponselnya.


"Wah, bakal party makan-makan nih," sindir Ariena.


"Maksudnya?" tanya Lina tidak tahu maksud Ariena.


"Kan ada yang habis jadian, ya kan, Ris?" Ariena menoleh ke arah Risma.


Risma hanya tersenyum, dia mengerti maksud Ariena.


"Bentar, Risma jadian sama siapa?" tanya Lina.


"Bisma," jawab Silva cepat.


Lina terkejut mendengarnya, sahabatnya menjadi pacar dari salah satu anggota inti OrionAlthair. "Seriusan?" tanya Lina tidak percaya.


"Iya, tadi kita berdua lihat Bisma ngantarin Risma kesini," kata Silva.


"Kok bisa sih lo jadian sama Bisma?"


Risma dan yang lainnya duduk melingkar mengelilingi meja bundar.


"Kalian kan tahu sendiri sejak SMP gue udah kenal dekat dengan Bisma, nah tadi pulang sekolah dia nyatain cintanya ke gue dan gak ada salahnya, kan gue terima cintanya," ujar Risma.


"Ih lo beruntung banget bisa pacaran sama Bisma," kata Ariena.


"Bukannya pacaran itu nambah dosa, terus kenapa lo malah bilang beruntung?" sengak Silva.


"Kan anak muda jaman sekarang kebanyakan kaya gitu, pacaran dulu tapi gak tahu bakal sampai ke pelaminan atau gak," ucap Lina.


"Ih Ris, gue iri sama lo," rengek Ariena.


"Lo ngiri maka gue akan nganan," ucap Risma bercanda.


Ariena mencubit lengan Risma hingga membuat cewek itu mengaduh kesakitan. "Gue gak bercanda."


"Udahlah, jangan bahas cowok mulu, kaya gak ada topik yang lain," sindir Silva.


"Topik itu bukannya ketua OSIS di sekolah kita itu, ya?" celutuk Risma


"Itu Taufik, pea!" kata Lina gemas.


"Kan namanya sebelas duabelas gitu loh."


"Udah udah, mendingan kita ngerjain PR Fisika dan Biologi saja, dan besok ulangan harian Matematika, kan?" ucap Silva.


"Yups betul."


Mereka membuka bukunya masing-masing dan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru sekaligus belajar Matematika. Tapi tiga puluh menit kemudian, mereka malah sibuk dengan ponselnya masing-masing dan cuma Silva yang masih fokus dengan bukunya.


Risma malah chat-an dengan Bisma, sedangkan Ariena dan Lina malah main tik tok bersama sambil nyanyi tidak jelas. Silva hanya mendengus kesal melihat kelakuan sahabatnya itu.


Sekarang ini, jika semua sudah memegang ponsel masing-masing maka mereka akan melupakan semuanya. Termasuk tugas sekolah.


"Eh Ris, PJ dong," tagih Ariena.


"PJ apaan?" tanya Risma sok polos.


"Lo kan baru saja jadian, masa gak mau traktir kita," ucap Lina.


"Ya udah, gue beli makanan dulu," kata Risma. Dia menoleh ke arah Silva yang masih fokus dengan bukunya. "Sil, temanin gue beli makanan yuk," ajak Risma.


"Beli dimana?" tanya Silva.


"Di supermarket terdekat," jawab Risma.


"Baiklah, ayo."


Risma dan Silva keluar dari rumah Lina. Mereka berdua berjalan menuju ke supermarket yang ada di ujung jalan gang. Saat sampai, Risma langsung mengambil aneka snack dan aneka minuman. Silva tidak berkomentar apapun dengan sikap Risma yang bisa dibilang berlebihan.


Saat hendak menuju ke kasir, Risma dan Silva bertemu dengan Bisma, Danial, dan Rezavan. Entah bagaimana bisa mereka bertiga ada di supermarket tersebut.


"Hy manis," goda Bisma kepada Risma.


"Kan mau jagain bidadari ku."


"Oh, jadi kamu tadi mengikuti aku?"


"Iya bisa dibilang begitu deh."


"Soswet banget."


"Belanjanya sudah? Aku saja yang bayar semuanya." Bisma langsung membawa belanjaan Risma ke kasir lalu membayarnya.


Danial, Silva, dan Rezvan hanya melihat dan mengikuti Risma dan Bisma yang berjalan sambil bergandengan tangan.


"Beruntung banget tuh si Bisma," ucap Rezvan melas.


"Lah kok?" tanya Danial.


"Masa dia udah punya pacar dan gue masih jomblo."


Silva dan Danial sontak langsung menoleh ke arah Rezvan. Mereka aneh jika Rezvan bilang kalau dia masih jomblo, padahal dia terkenal dengan sikap playboy tingkat dewa bahkan dia bisa mempunyai pacar lebih dari tiga.


"Lo jomblo? Gue langsung syukuran tujuh hari tujuh malam," ucap Daniel.


"Beneran lo mau syukuran selama itu?"


"Itu kan sebagai tanda rasa syukur gue karena sahabat gue udah tobat dari sikap playboynya."


Rezvan melirik ke arah Silva yang berjalan disampingnya. "Btw, nama lo siapa?" tanya Rezvan.


"Silva," jawab Silva singkat.


"Nama panjangnya?" tanya Danial.


"Silvaaaaaaaaa."


"Bukan itu maksud gue, tapi siapa nama lengkap lo?"


Silva tidak menghiraukan pertanyaan Danial. Danial hanya bersikap cuek saja karena tidak ditanggapi oleh cewek itu. Mereka berjalan menuju ke rumah Lina, saat hendak masuk ke gerbang rumah, Silva berlari menyelamatkan seorang anak yang hampir saja tertabrak motor hingga membuat sikunya berdarah.


Rezvan dan Danial langsung berlari menghampiri mereka. Anak itu menangis di gendongan Silva. Silva mencoba menenangkan anak tersebut yang masih ketakutan. Ada seorang ibu yang menghampiri Silva dan menggendong anak tersebut.


"Makasih nak, sudah menyelamatkan anak saya," kata ibu itu.


"Iya sama-sama, Bu. Sesama manusia harus saling tolong menolong. Lain kali jaga anaknya hati-hati, jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi."


"Iya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


Ibu tersebut lalu pergi membawa anaknya pulang ke rumah. Silva tidak menghiraukan lututnya yang berdarah. Rezvan geleng-geleng kepala melihat sikap heroik Silva.


"Kok lo mau banget membantu orang yang gak lo kenal?" tanya Danial.


"Bukankah agama kita mengajarkan untuk selalu membantu orang-orang yang membutuhkan? Meskipun gue gak kenal dengan mereka, tapi kita semua bersaudara dalam beragama."


"Tapi kan, lo membahayakan diri lo sendiri!" protes Rezvan.


"Manusia itu makhluk sosial, bukan makhluk individual, kalian anak IPS, kan? Jadi pasti sudah paham dengan yang gue maksud."


Silva langsung masuk ke rumah Lina, bergabung dengan yang lainnya diikuti oleh Danial dan Rezvan.


"Kenapa disini jadi ada tiga orang inti OrionAlthair?" tanya Lina bingung.


"Kita mah mau ngawasi Bisma, takut dia ngapa-ngapain ceweknya," jawab Rezvan asal.


"Lo itu kalau ngomong asal ceplos aja," sindir Danial.


"Sak sir-sir ku."


"Sil, siku lo kenapa berdarah?" tanya Ariena yang melihat siku sahabatnya berdarah.


"Gak kenapa-napa, kok," jawab Silva.


"Mendingan lo obatin dulu daripada entar jadi infeksi," saran Risma.


"Iya, lo ambil saja kotak P3K di lemari dapur," kata Lina.


Silva mengikuti saran temannya, dia pergi ke dapur dan membersihkan lukanya terlebih dahulu setelah itu mengobatinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Lina.


"Tadi dia nyelamatin seorang anak yang hampir saja tertabrak motor," jawab Danial. Jujur.


"Silva selalu saja begitu, dia itu selalu memikirkan orang lain tapi dia tidak pernah memikirkan keadaan dirinya sendiri," ucap Ariena.


***