
Silva telah selesai belajar, cewek itu kini duduk memandang laptopnya, jari jemarinya lincah mengetik membentuk suatu irama. Silva mempunyai hobi menulis cerita selain itu dia juga suka menggambar. Pikirannya fokus menatap monitor laptopnya. Pikirannya memikirkan rangkaian jalan cerita. Pikirannya buyar karena tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada notifikasi pesan Whatsapp.
From: 081903950xxx
Silva?
Kening Silva berkerut, ada pesan dari nomor tak dikenal. Dia memutuskan untuk tidak menjawab pesan tersebut. Silva kembali fokus dengan monitor di depannya. Tapi ponselnya bergetar lagi, ada pesan dari nomor yang sama.
From: 081903950xxx
Kenapa cuma diread doang?
Silva akhirnya memutuskan untuk menjawab pesan tersebut.
To: 081903950xxx
Iya, ini siapa?
Ini gue, Vano.
Gak mungkin! Jangan bercanda deh! Gak lucu.
Ini beneran gue, gak percaya banget sih lo!
Lo dapat nomor gue dari mana?
Dari Risma.
Dia masih tidak percaya jika Vano yang mengirimkan pesan tersebut. Silva langsung menelepon Risma.
"Hallo Ris," ucap Silva.
"Iya Sil, ada apa?" tanya Risma.
"Kenapa lo kasih nomor gue ke Vano?!"
"Goblok banget sih Vano, kenapa dia kasih tahu ke lo, padahal gue udah bilang ke dia supaya gak kasih tahu lo."
"Dasar lo ya!"
***
Pagi ini Silva dan Risma duduk saling berhadapan. Silva menatap Risma dengan tajam bahkan Risma sendiri merasa ngeri melihat tatapan Silva yang lebih menakutkan dari tatapan siapa pun. Ariena dan Lina yang tidak tahu apa pun hanya bisa melihat mereka berdua.
"Kenapa lo kasih nomor gue ke Vano?!" tanya Silva. Emosi.
"Ya karena--" Risma bingung mau menjawab apa.
"Karena apa?!" Silva menggebrak meja hingga membuat ke tiga temannya terkejut.
"Gue minta maaf, Sil."
"Kenapaaaa lo harus kasih nomor gue ke cowok itu?" Silva merengek kesal.
"Vano minta nomor lo buat apa? Kayaknya gak mungkin deh," ucap Ariena.
"Gue gak tahu buat apa. Dia semalam ngechat gue," kata Silva kesal.
"SERIUSAN LO?!" tanya Ariena dan Lina kompak banget.
"Gara-gara lo nih, Ris. Jahat banget lo kasih nomor gue ke orang kaya Vano."
"Iya kan gue gak tahu. Habisnya kemarin dia mengancam gue sih, makanya gue kasih nomor lo ke dia."
"Terus lo ngorbanin sahabat lo sendiri? Parah banget sih lo!"
"Lagian kenapa sih lo gak suka sama Vano?" tanya Lina.
"Lo kan tahu sifatnya dia, gue gak suka," jawab Silva.
"Heran gue sama lo, Vano itu ganteng, tajir, ketua geng OrionAlthair, kerenlah dia."
"Terserah lo mau ngomong apa."
***
Vano dkk berkumpul di kantin belakang. Mereka sengaja membolos bersama dan akhirnya mereka dapat hukuman bersama. Itulah kebahagiaan kecil bagi mereka, berbuat ulah bersama, dan dihukum bersama. Saat ini mereka bisa berpikir begitu, tapi bagaimana nasib mereka saat di Padang Mahsyar nanti? Tidak akan ada yang menolong mereka selain amal mereka sendiri-sendiri.
"Eh, si Rezvan udah ganti pacar lagi, ya?" tanya Danial.
"Wah bulan ini lo udah ganti pacar berapa kali, Rez?" tanya Andhra.
Rezvan hanya cengar-cengir. "Gue udah ganti pacar dua puluh kali dalam bulan ini," jawab Rezvan.
"Gila lo, udah ganti pacar sebanyak itu." Arifin geleng-geleng kepala.
"Gue gak bisa bayangin gimana perasaan ceweknya Rezvan," kata Bisma.
"Sakit banget pasti. Atau mereka malah senang bisa menjadi mantan Rezvan," ucap Fadhil.
"Awas lo Rez, nanti kena azab baru tahu rasa lo!" ucap Vano.
"Sebenarnya lo itu ada cewek yang benar-benar lo suka sepenuh hati gak sih?" tanya Kenzo.
"Ada sih, tapi gue gak yakin cewek itu suka sama gue," jawab Rezvan.
"Siapa nama cewek itu?" tanya Vano.
"Ariena Rosalinda," jawab Rezvan.
"Kenapa lo gak coba buat deketin dia?" tanya Fadhil.
"Karena dia udah punya pacar, ya gak mungkinlah gue nikung pacar orang."
"Gue salut sama lo." Vano menepuk pundak Rezvan.
"Hehehe... ngomong-ngomong kapan lo mau deketin cewek?" tanya Rezvan.
"Doain aja supaya gue berhasil," jawab Vano.
"Siapa target lo?" tanya Danial.
"Silva Rivana Agustina."
"Buset target Danial, Rezvan, dan Vano anak MIA semua, pintar dan cantik pula," kata Arifin.
"Gue doain lo semua dapetin cewek itu, gue aja udah bisa naklukin Risma," ucap Bisma.
"Pacaran, apa manfaatnya sih?" tanya Kenzo.
***
Silva dan Lina berjalan menuju ke LAB. Kimia, mereka ada praktik. Saat melewati koridor atas, mereka tidak sengaja melihat Vano dkk dihukum oleh pak Hasyim untuk push up 30 kali. Mereka dihukum karena ketahuan membolos jam pelajaran pak Hasyim.
"Kaya gitu Risma bilang keren?" tanya Silva merendahkan.
"Keren penampilan doang," ucap Lina.
Dari lapangan, Vano melihat Silva yang sekilas memperhatikannya dihukum. Vano melihat Silva dan Lina masuk ke ruang Lab. Kimia. Vano selesai menjalankan hukuman dari pak Hasyim. Dia membaringkan tubuhnya di tengah lapangan, badannya disorot sinar matahari yang terasa panas di kulit, tapi dia malah menikmatinya seperti suasana di pantai.
Ke tujuh teman-temannya juga ikut seperti yang dilakukan Vano. Cowok itu memejamkan matanya, merasakan ketenangan alam sekitar. Mata Vano langsung terbuka saat dia mendengar seseorang mengatakan hal buruk tentang gengnya.
"Lihat tuh, anak OrionAlthair semuanya pada dihukum, bikin nama gengnya tercemar saja."
Vano dengan sigap langsung berdiri dan menghampiri anak cowok yang telah mengatakan hal tersebut. Vano menarik kerah baju cowok itu dan menatapnya dengan tajam.
"Lo bilang apa tadi?" tanya Vano geram.
"Lo gak punya telinga?" jawab anak cowok itu.
Danial menarik tubuh Vano ke belakang. "Jangan buat onar, dia salah satu anggota OSIS."
"Kalau gue anak OSIS emangnya kenapa?!"
"Mau ngajak ribut, lo?"
"Siapa takut."
"Kalau terjadi apa-apa sama lo, gue gak mau tanggung jawab. Dan kalau lo melapor sama OSIS atau guru, siap-siap aja lo pulang tinggal nama doang."
Anak cowok itu langsung terdiam seketika mendengar ancaman dari Vano. Siapa yang tidak tahu mengenai kebrutalan seorang Vano Viandra Putra, sang ketua OrionAlthair. Bahkan kakaknya pun masih kalah jauh dengan Vano.
"Kenapa lo cuma diam aja pengecut?" tanya Vano meremehkan.
Cowok tersebut hendak lewat, tapi Vano mendorong tubuh cowok tersebut hingga posisi mereka berdua berhadapan. "Cemen banget lo jadi cowok."
"Gue malas berhadapan dengan lo. Lagian gue kasihan jika melihat lo dibawa ke BK dan disidang oleh OSIS."
"Banyak bacot lo." Vano langsung memukul wajah cowok itu. "Gue gak butuh belas kasihan lo."
Cowok tersebut memegang rahangnya yang habis dipukul oleh Vano. "Lo mau gue laporin ke BK?"
"Dasar tukang mengadu. Kayak anak kecil lo."
Silva dan Lina yang berjalan melewati mereka saling tatap, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi antara Vano dengan salah satu anggota pengurus OSIS.
"Ada apa ini?" tanya Silva.
"Gak ada apa-apa, kok," jawab Danial.
"Gue kagak percaya sama lo," kata Lina curiga.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Vano.
"Kenapa? Gak boleh? Ini kan tempat umum bukan tempat nenek moyang lo," jawab Lina sengak.
"Ini kenapa pada mengumpul di sini?" tanya seorang cowok yang baru saja datang.
Sontak semua orang langsung menoleh ke arahnya. "Dia siapa?" bisik Silva.
"Dia Devan, ketua OSIS yang baru," bisik Lina.
Semua orang terdiam ketika Devan datang. Vano dan Danial memilih langsung pergi meninggalkan tempat tersebut, mereka malas berurusan dengan OSIS, lagipula mereka juga capek karena habis dihukum sama pak Hasyim.
Lina dan Silva juga bergegas pergi. Mereka berdua pergi menuju toilet. Mereka berdua juga malas bertemu dengan ketua OSIS yang baru.
"Itu tadi ketua OSIS yang baru?" tanya Silva tidak percaya.
"Iya. Memangnya kenapa?" jawab Lina.
"Ya agak gimana gitu, gue rasa ketua OSIS kerjanya lebih bagus kak Taufik."
"Lo kok bandinginya sama kak Taufik ya masih bagusan dialah."
"Yang gue katakan benar, kan?"
"Ngomongin orang itu gak baik."
Silva dan Lina langsung menoleh ke sumber suara. "Ngapain lo di sini?" tanya Lina sinis.
"Mau jagain lo dan mengawasi lo," jawab Danial santai.
"Gue gak butuh, udah ada malaikat Rakib dan Atid yang selalu mengikuti gue. Dan Allah selalu mengawasi gue."
"Tapi kan lo masih butuh seorang pelindung."
"Cukup ayah gue yang jadi seorang pelindung."
"Semangat Dan, buat naklukin hati Lina," ucap Silva memberikan semangat.
"Always, Sil."
"Mau gue kasih sebuah rahasia supaya Lina takluk sama lo?"
"Rahasia apaan?"
"Silva!" Lina melotot tajam kepada Silva sedangkan Silva hanya tersenyum.
"Yah sayangnya gue gak dapat izin dari Lina."
Lina langsung menarik tangan Silva pergi dari toilet dan kembali ke Lab. Kimia untuk melanjutkan praktik lagi. Danial hanya mengacak-acak rambutnya. Dia harus berpikir keras supaya bisa naklukin hati Lina, bagaimanapun caranya dia harus bisa.
Bel istirahat telah berbunyi. Silva dkk malas pergi ke kantin karena mereka telah membawa bekal masing-masing. Mereka berkumpul bersama dan saling tukar menukar makanan. Dengan membawa bekal sendiri, selain menghemat uang, juga bisa menjaga kesehatan.
"Besok bawa bekal lagi gak?" tanya Silva.
"Bawa dong, kalau sempat," jawab Ariena.
"Harus sempat dong," kata Lina.
"Oh ya, nanti malam kalian menginap di rumah gue, ya?" Pinta Risma.
"Emangnya orang tua lo ke mana?"
"Ke luar kota. Gue kagak berani di rumah sendirian apalagi rumah gue luas."
"Lo itu udah gede masa takut sendiri di rumah. Gimana kalau lo udah punya suami terus suami lo kerja di luar kota? Masa lo mau minta ditemani tetangga."
"Ya gue bakal ikut suami gue ke luar kotalah."
"Kalau begitu caranya, terus buat apa lo mahal-mahal beli rumah?"
Silva tidak terlalu memedulikan perdebatan ketiga temannya itu. Dia lebih fokus untuk menyantap makanannya, dia sudah lapar sejak tadi. Saat sedang menikmati makanan, ada pesan masuk dari Vano.
From: Vano
Tumben gak ke kantin?
Silva hanya membaca pesan tersebut tanpa ada niatan untuk membalasnya. Dia lalu menonaktifkan ponselnya dan kembali fokus ke makanannya.
"Siapa yang nge chat, Sil?" tanya Risma kepo.
"Vano," jawab Silva jujur.
"Lo ladeninya dia?" tanya Lina.
"Gak lah, ngapain juga gue ladeni dia."
Bisma dan Danial datang ke kelas XI MIA 1 yang langsung membuat seluruh kelas menjadi heboh. Padahal baru mereka berdua, apalagi jika Vano yang datang, tidak hanya MIA 1 yang heboh, tetapi seluruh kelas XI MIA langsung berbondong-bondong datang ke MIA 1.
"Hy Ris," sapa Bisma.
"Hy juga Bis," jawab Risma.
"Ini aku bawain makanan dan minuman khusus buat kamu." Bisma meletakkan seplastik makanan dan minuman.
"Makasih banyak."
Danial menarik kursi mendekati Silva. Dia meletakkan sebungkus plastik hitam di hadapan Silva.
"Apa itu?" tanya Silva.
"Dari Vano," jawab Danial.
"Buat gue?"
"Ya iyalah buat lo, masa buat Lina."
"Heh! ngapain lo bawa-bawa nama gue?!" protes Lina.
"Selow aja beb. Gue bawain makanan buat lo." Danial memberikan makanan untuk Lina.
"Bukannya gue gak menghargai, tapi lebih baik lo kasih ke orang lain saja. Gue udah bawa makanan dari rumah, kalau gue terima makanan itu bisa-bisa gak ke makan dan bisa gue buang, kan mubazir," tolak Lina mentah-mentah.
***