School And Love'S

School And Love'S
Capter 3



❄︎❄︎❄︎❄︎❄︎


"Mana susu pisangnya katanya ada?" Sergah Jungkook marah.


Ia marah karna Tae membohonginya katanya dilapangan basket banyak makanan atau kesukaannya tapi disini kosong tidak ada apa apa.


"Diemlah, gak makan siang sekali juga tidak apa apa. Kamu udah gede dan kakak kamu gak bakalan tau" balas Tae meyakinkan Jungkook.


"Aku bukan kakakku takut marah, tapi perutku sudah lapar minta di isi"


"Sudahlah kita latihan dulu, waktu kita gak banyak" Tae merangkul pundak Jungkook.


Jungkook tak merespon, ia cemberut lantaran perutnya sudah merasa kelparan kalau ketahuan sang kakak ia bakalan dihukum sudah pasti karna Jimin sering menerapkan gaya hidup sehat kepada adiknya tidak boleh melewatkan jam makan siang atau jam jam makan berikutnya.


"Ya sudah kamu tunggu disini, aku akan mencarinya" Sela Tae melepas rengkuhannya.


"hyy ayolah masa gitu aja mau nangis, katanya jago basket" ucapan teman Tae yang lainnya.


Jungkook hanya diam tak membalas moodnya sedang jelek "Hyy aku Park Hyungsik dari kelas 11, apa kamu murid baru pindahan itu?" tanya salah satu murid.


"hmm aku Jungkook dari kelas 10" jawabnya malas.


"Apa kamu mau masuk ke timku?" Tanyanya lagi.


"Ahh baiklah"


"Oke!" Hyungsik cuma mengacungkan jempol ke arah Jungkook tanda ia setuju.


"Emm.. emm apa aku hari ini tak ikut latihan? emm t-tidak bukan tak mau. Tapi aku sangat lapar"


Jungkook tampak ragu. Ia Park Hyung Sik dari kelas 11 teman satu Gang Kim Taehyung namun dalam metode maen Basket mereka satu tim.


"Hmm boleh, tapi kalau latihan sekarang juga gak bakal keburu. Besok saja siapin dulu mental sama tubuh kamu karna Tae sering membentak dan marah marah kalau kita lelet atau berleha leha" Ucap Park Hyung Sik panjang lebar.


"Emm iya aku mengerti, Terima kasih Hyung. Emm apa aku boleh memanggilmu seperti itu"


"Ok santai, ya boleh terserah mu saja"


Hyungsik menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kelasnya yang sedikit malu malu itu, ia terus menatap punggung Jungkook sampai menghilang di balik pintu.


"Hahh.. cape gue!"


"Dari mana lu? kok lari lari tae" Tanya Hyungsik heran.


"Gue lari karna tu an...." Tae menjeda ucapannya karna orang yang ia cari tak ada.


"Emm Jungkook? lo nyari dia? dia udah pergi 1 menit yang lalu kira-kira, dia minta Izin mau makan, kasian dah pucet banget" Jawab Hyingsik seakan tau kalau tae menanyakan keberadaan anak baru itu.


"Ah siaal, shiiit. Cape cape gue lari dari kantin kesini buat nyari susu pisang beginian, ngapain juga mau aja ah Shiball..." Taehyung mengumpat tak henti.


"Sudahlah lo jadi orang jan tempramen mulu, kasian tu anak orang" sela Hyungsik lagi.


"Ya udah besok aja latihannya, sekarang gak bakal keburu mungkin bel masuk bakalan bunyi"


Akhirnya semua teman-teman Tae dan selebihnya teman Hyungsik kelas 11 bubar dari lapangan basket. Yang lain merasa kecewa ada juga yang senang karna tak jadi latihan. Taehyung dijadikan Pemimpin karna ia sangat pintar dalam olahraga terutama basket.


****


"Lu jadi orang menyebalkan juga"


"Siapa? Siapa yang ajak kamu bicara?" Orang tersebut malah balik bertanya, dengan mulut yang belepotan oleh makanan.


"Ya Lu lah, emang gue ngomong sama siapa lagi!" Tae kesal, ia langsung kembali ke mejanya.


"Haishh aneh" Jungkook tak menghiraukan umpatan umpatan Taehyung ia pokus makan dengan rakusnya.


****


Jam pelajaran terakhir akhirnya seslesai Jungkook berniat pergi "hy Jekey tunggu" seru Sintia berlari.


"Ada apa? apa kamu suka mengganggu semua orang?!" Sungut Jungkook tak suka.


"Kita pulang bareng ya!" Ajaknya.


"Gak mau, aku mau ke kantor kakak ku dulu" tolak Jungkook.


"Yahh gppa deh lain kali aja.. Bbay aku duluan"


Sintia pergi dengan melambaikan tangannya, Menurut Jungkook gadis itu cantik namun sifatnya jelek so' akrab dan bergerak sesuka hatinya.


"Hyy apa kau mau pulang bareng denganku??" sapa Jungkook.


"Tidak perlu" jawabnya datar.


"Hyy ayolah,, kenapa kamu sombong sekali, aku hanya ingin berteman" selanya mengikuti langkah gadis itu.


Gadis itu tak mengubris ajakan Jungkook ia terus berjalan lurus tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan.


"Rumahmu dimana, kenapa kamu jalan kaki?" Jungkook terus bersuara menanyakan ini itu.


"dan kamu bisa diam gak, kemanapun aku pergi itu bukan urusanmu. Satu lagi kamu jangan mengikutiku" bentak Syifa.


"Aku.. A-ku hanya ingin memiliki teman hanya itu, tidak lebih" Jungkook menunduk.


"Apa kamu tidak malu ingin berteman denganku, aku manusia udik aku babu apa kau tau? semua orang menjauhiku karna tidak mau mereka dibully. Dan kamu apa mau mu?!"


Syifa duduk menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ia tak menyangka kejadian dulu terulang kembali, Ia harus menjelaskan hal mengerikan itu lagi kepada seseorang yang ingin menjadi temannya.


Entah dari mana asal mula Sintia begitu sangat membenci Syifa dari SMP hingga sekarang ke SMA Sintia tak berubah meski apa yang ia perintahkan Syifa tetap menurutinya.


"Kita bertemannya diluar sekolah saja, bagaimana??" Jungkook memberi saran.


"Tidak perlu, aku sudah biasa sendiri" Syifa kekeh pada pendiriannya.


"Ok!.. baiklah kalau itu mau kamu, tapi apa aku boleh tau alamat rumahmu?"


"Terserah kamu lah".


****


Sesampainya rumah Jungkook membanting tas sekolahnya "Ahh melelahkan sekali" ucapnya sambil mendaratkan tubuhnya ke kursi.


"Bagus yaa! kakak tak mengajarkan kamu begitu kookie, pulang sekolah simpan tasnya ke kamar terus ganti baju, jangan diulangi lagi paham" ucap jimin menegaskan.


Jungkook beranjak dari kursi menuju kamarnya dengan rasa kesal, ia tidak tahu kalau kakaknya sudah datang karna mobilnya tidak ada di depan biasanya Jimin pulang jam 5 sore nanti tumben jam 1 siang sudah pulang.


"Ahh pasti kakak marah" desah Jungkook saat menyimpan tas ke tempatnya.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan dari luar, Jungkook beranjak dan membukanya.


"Ada apa kak?!"


"Cepat ganti baju, katanya mau baju baru" balas Jimin dan berlalu.


Jungkook berjingkrak seketika rasa kesalnya lenyap "Horeeee, aku mau jajanan yang banyak bukan baju baru saja" Jungkook berteriak sangking senangnya.


"Kak? lihat bajuku sudah kecil"


"sudah pakai itu saja"


Akhirnya kakak beradik itu berangkat menggunakan kendaraan roda empat ke tempat perbelanjaan membeli kebutuhan Jungkook serta dirinya.


****


"Maaf bu syifa telat, tadi ada piket dulu" dustanya.


"Iya gak papa nduk, lagian dari tadi gak terlalu rame jadi ibu sedikit santai" ucapnya lembut "Oyaa kamu makan dulu aja sayang" sahutnya lagi.


Syifa terlambat bukan soal piket, ia hanya butuh sendiri menangisi dirinya yang kesepian tak memiliki teman. Stelah Jungkook tak mengikutinya syifa meluapkan kekesalannya ditaman dekat sekolah sendirian.


"Emm udah kok bu tadi di sekolah"


"Pasti kamu lapar lagi, ibu udah siapin makanan tuh" tunjuk Ibu Ida ke kantung keresek.


"Ya udah aku pulang ganti baju dulu ya bu"


"Iya sayang! ehh tunggu kalau reyhan udah pulang suruh kesini anterin pesanan" Teriak ibu ida.


"Iya buu" balas Syifa di sebrang jalan.


"Permisi bu, apa kuenya ada?"


Laki-laki itu menyapa Ibu ida menanyakan kue, tapi gelagatnya mencurigakan ia celingak celinguk mencari sesuatu.


"Ada mas, ehh si aden yang kemarin bantuin ibu ya?" Tanya ibu ida.


"Ahh iya kita bertemu lagi, apa tawaran kemarin masih berlaku bu" Sergah jimin, ya itu jimin setelah berbelanja jimin ke kedai ibu ida.


"ya masih, tuh kuenya masih banyak" tunjuk ibunya syifa ke wadah yang masih penuh dengan aneka kue.


"Apa boleh saya pesan! tapi antarkan ke rumah saya"


"Boleh.. boleh, mau berapa toples den?"


"emm.. sepuluh saja karna adik saya menyukainya" Alibi Jimin.


'Semoga yang nganterin kue gadis itu' Jimin mengambil kertas kecil dan menyerahkan itu ke ibu Ida.


"Ini alamat rumah saya bu!"


"Iya nanti saya kesana hantarkan ya" ucap bu Ida dan mengambil kertas itu.


"Ehh gak usah, kasian karyawannya saja. nanti ibu cape" Sergah Jimin cepat.


"Saya tidak punya karyawan den, gappa saya bisa udah biasa kok"


"Tapi kemarin saya lihat ada" ucap Jimin lagi.


"Itu bukan karyawan saya, yang gadis itu anak saya ya dia sering bantu bantu saya disini"


"Emm ya udah anak ibu saja, lagian kasian ibu rumah saya jauh di ujung komplek" dustanya lagi.


"Tapi ini alamatnya dekat den, ya udah nanti syifa aja yang nganterin ya"


Jimin hanya tersenyum 'oh namanya syifa, nama yang cantik' gak sia sia kesini panas terik begini jadi dapat namanya kan.


"Oh ya udah terima kasih ya bu, ini DPnya selebihnya nanti saya kasih ke anak Ibu sama ongkos kirimnya" Jimin berlalu tanpa menunggu persetujuan Ibu Ida ia hanya menyimpan uang merah dua lembar.


-------------


𝙽𝚎𝚡𝚝....