
❁❁❁❁❁❁
"Kemana tuh anak, haiss bikin orang khawatir aja" sungut Jimin kala dirinya sampai rumah dan tak menemukan keberadaan Jungkook.
Jimin sudah mencari adiknya ke kamar, halaman belakang dan seluruh rumah Jimin tak lepas ia lalui "kemana dia, bahkan sepatu ataupun seragamnya nggak ada. Cuman ada tas, kemana sih kamu kookie kakak khawatir" Jimin tampak menyugar rambutnya kasar ia merasa prustasi.
"Ah ia telpon dia Jim, bego lu simpen. Haiss" gumamnya pelan sambil merogoh gawainya disaku Jas.
Satu panggilan belum diangkat, dua panggilan masih sama "Ini yang terakhir. Awas lu ya kookie" Jimin terus saja menggerutu kesal karna Jungkook tak cepat mengangkat panggilannya.
Tuut.. tuut.. tuut..
"Hallo, kamu kemana saja sih. Kakak khawatir tau, udah gede kelakuan kek bocah ngilang mulu" Sungut Jimin kala sambungan itu terhubung.
"Kamu dimana kookie? cepat pulang atau kakak bekukan lagi itu credit cartnya, cepat pu-.....
[Kookie lagi berenang di rawa mas..] jawab seseorang disebrang sana.
"Apa?? lalu ini siapa? Syifa?"
[Ya aku syifa, dari tadi hp ini berdering terus, kirain hp reyhan tapi tampilannya mas sama Jungkook ya aku angkat saja] ucap Syifa enteng.
"Jungkook sekarang dimna?"
[Dibelakang rumah lagi berenang sama Reyhan, masnya kesini aja aku gak enak lihatnya. dia gak pake baju soalnya] seru Syifa.
"ahh iya, mas kesana sekarang"
Ya syifa sempat kebelakang tadi karna mendengar gemuruh anak anak seperti main air ternyata ada Reyhan bersama Jungkook, Syifa hanya melihat sebentar karna takut ketahuan dan kembali ke dalam.
tok.. tok.. tok.. Terdengar ketukan pintu dari luar dan syifa bergegas kedepan mungkin Jimin sudah datang.
"Ya sebentar.."
"Mana anak anak..?" tanya Jimin to the point.
"Kok anak anak? dia udah gede ya" sungut syifa nampak kesal karna Jimin langsung menanyakan adiknya tanpa berbasa basi dulu.
"Ahh maaf mas panik sayang.."
"Haiss.. sayang apanya? syifa aja gak enak dengernya" ujar Syifa malu-malu tapi mau.
"Gak di ajak masuk nih?.."
"Katanya nyariin Jungkook, kebelakang aja sekalian mas juga ikutan sana" usir Syifa.
"Gak mau ah, mau sama kamu aja"
"Enak aja, dirumah gak ada siapa-siapa ibu lagi dikedai"
"ya enak dong kalau nggak ada siapa-siapa bebas.."
"Itu kemauan mas cari-cari kesempatan dalam kesempitan" Syifa mengerlingkan mata.
"Tapi kamu suka kan..?"
"Nggak, sudah sana cari adek mu"
Syifa menutup pintu dengan kasar. Tidak tau saja bahwa hatinya berdebar-debar saat ini terus saja dia mengeluarkan jurus-jurus begitu supaya aku apa coba? hah aneh dasar Park Jimin.
Jimin sudah melewati pesawahan dan nampak disebrang sana Jungkook sedang main air bersama Reyhan tampak bahagia. Belum pernah lagi Jimin melihat sang adik begitu bahagia seperti sekarang, Jimin merogoh sesuatu disaku celananya dan mengambil moment bahagia jungkook tanpa ia sadari.
"Kakak, kau...
Jungkook tak meneruskan ucapannya karna takut kakaknya marah.
"Ayo pulang.."
"Sebentar om, kita masih asik iya kan kak?"
"Aku udahan ya rey"
"Kenapa kak?"
"Kakak ku bakalan marah, ayok naik" bisik Jungkook kepada Reyhan.
"Sebentar kak.."
Jungkook sibuk memakai seragamnya kembali serta Reyhan juga sama, Ia belum mendapatkan ikan sama sekali karna mereka niatnya hanya bermain air jadi pulangnya tak dapat apa-apa.
"Kenapa main air di rawa? kan dirumah ada kolam kookie" tanya Jimin ketika Jungkook sudah dihadapannya.
"Maafin Kookie kak.." Jungkook hanya menunduk.
"Yasudah ayok pulang, kamu juga Reyhan"
"Baik om"
Ketiganya beriringan di sisi pesawahan menuju belakang rumah Syifa, Reyhan masuk rumah diikuti Jungkook yang meninggalkan kakak nya berjalan sendirian di depan.
"Ayok cep-...
Ucapan Jimin terpotong saat berbalik ke belakang rupanya Jungkook sudah menghilang lagi "Hahh, kemana dia?"
Jimin mengetuk pintu dan terbuka dari dalam dengan sendirinya rupanya pintunya tak tertutup dengan rapat, ia nyelonong masuk tanpa membuka sepatunya. Jimin celingak celinguk karna rumah ini tak ada orang hanya terdengar gemercik air saja dari kamar mandi.
"Ngapain disini terus kenapa itu sepatu gak kamu buka..?"
Jimin berbalik dan mendapati Syifa tengah membawa sapu ditangannya "A-anu Jungkook masuk rumah tadi, jadi mas menyusulnya" ucap Jimin sedikit gugup.
"Alesan saja, dia sedang mandi sama Reyhan. Kalau mau nunggu duduk disana saja dan copot sepatunya, aku abis beres-beres capek"
Sungut Syifa, ia tak terima karna ia baru selesai membersihkan rumah disuruh Bu Ida karna pagi tadi keduanya tak sempat beberes rumah.
"Nih syifa buatin kopi" Syifa memberikan secangkir kopi yang masih mengepul kepada Jimin.
"Ahh terima kasih" Jimin mengambil cangkir itu dan meletakannya di meja, ia membalikan tubuh syifa dan duduk dipangkuan Jimin "Tak perlu repot-repot Syifa" bisiknya di telinga syifa.
Syifa sempat merinding akan bisikan itu, bisa-bisanya ya dia begini tubuhnya menegang kala tangan lebar itu menyentuh tengkuk syifa supaya mendekat ke wajahnya dan sedikit lagi akan sampai. Apa yang akan dia lakukan, apakah dia akan menciumku, ahh tidak ibuuu bibir anakmu nggak akan gadis lagi.
"Omooo,, Kakak.."
dari kala suara-suara itu mengagetkan keduanya, tapi tidak dengan Jimin ia tak kaget malah dia lebih santai dan rilexs sambil menyeruput kopinya.
"Ngapain kamu disitu Rey"
"Kakak yang ngapain duduk dilahunan om Jim. Aku bilangin ibu loh"
"Nggak, nggak bukan seperti itu kejadiannya itu tak disengaja rey" ucap Syifa membela diri.
"Sudah diemlah sayang!" ucap Jimin santai.
"Hahh.. Apa om bilang? sayang? kalian pacaran?" tanya Reyhan beruntun.
"Tidak. bukan begitu rey"
Syifa terus saja mengelak pada Reyhan ia takut dilaporkan pada ibunya, nanti ia bisa di marahi apalagi dia melakukannya sejauh ini ya walau belum maen *****-*****.
"Syifa, pinjem aku kaos dong" ucap jungkook yang mengalihkan pembicaraan.
"A..ada sebentar ya" Syifa langsung menghilang.
Setelah Syifa mendapatkan kaos yang di minta Jungkook alhasil ia keluar kamar dengan membawa kaos digenggaman nya.
"A..aku hanya punya ini" ucap Syifa pelan dan menyerahkan kaus tersebut.
"Thank, kakak ipar"
Lantas Jungkook menghilang dari hadapan setelah mengatakan terima kasih kepada Syifa. kenapa ia tak komen aku ia kasih kaos pink, ah aneh sekali.
"Kamu mikirin apa sih? Jungkook gak bakal komen walau kaosnya warna apapun Juga" celetuk Jimin.
'haiss kirain udah nggak ada orang' sungut Syifa dalam hatinya, seolah-olah Jimin tau isi hati Syifa kalau ia sedang bingung memikirkan bagaimana adiknya tak komplain.
"Kenapa belum pulang?"
"Kamu ngusir.. iya?"
"Nggak, nanya doang"
"Kayaknya mas betah disini, hmm kayak ngerasa udah berumah tangga, punya istri cantik, adik yang penurut dan anak laki-laki seperti keinginan mas" sela Jimin dengan exspresi yang sulit diartikan.
Syifa mendengarkannya tampak jengah ia memalingkan wajah ke samping 'Hahh dasar kang pelet, tebar terus sampai aku nyungsep dimana gituh. kasih penjelasan tentang hubungan juga kagak, ini udah ngebayangin rumah tangga nikahin Napa. Malu ngehalu mulu' gerutu Syifa dalam hati.
"Hayooo... lagi mikirin apa kamu kok cemberut?" tanya Jimin tiba-tiba.
"Kagak ada, sudah mas pulang aja deh! lagian ibu bentar lagi pulang malu juga dilihat tetangga" sungut Syifa.
Ia berlalu tanpa mendengar ocehan Jimin yang tak terima di suruh pulang oleh Syifa. Tujuan Syifa hanya balkon rumahnya dan ia duduk di bangku yang tersedia di tempat.
'Kenapa seolah-olah aku menginginkan dirinya berada di dunia nyata ku, padahal mungkin ia perhatian hanya aku teman adiknya. Kalau pun ia menginginkan diriku ia akan mengungkapkan perasaannya atau isi hatinya, dia kan laki-laki dewasa bukan lagi berondong seperti Jungkook ataupun Taehyung, ahh otak ku rasanya mau pecah memikirkan ini.. apa ini karma atas aku menolak perasaan Tae! Ohh tuhan kenapa makin Rumiiit' Syifa bergumam dan ia mengacak rambutnya kasar.
Dikira Syifa selama ini bahagia atas lepasnya pembullyan itu, ternyata hatinya bingung dan belum mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, cinta yang tak mulus dan penolakan yang kerap ia lontarkan pada Taehyung yang membuat ia selalu berharap lebih kepada Park Jimin karna kerap mendapatkan perhatian lebih serta kesempatan kesempatan lain yang ia dapatkan bersama dirinya.
Namun Jimin tak memberi kepastian kepada Syifa, seolah-olah dia yang mengharapkan cinta itu. Memang seharusnya diutarakan bukan? bukan bergantung seperti sekarang.
"Kenapa duduk disini, sayang"
Ucapan lembut itu membuyarkan lamunan Syifa, lantas ia gelagapan dan menoleh ke asal suara karna ia sudah tahu pemilik suara lembut itu.
"Ahh.. Ibu sudah pulang, kok Syifa nggak tahu"
"Ya iya gak bakalan tau, orang kamu sibuk melamun sampai ibu pulang pun kamu tak tahu" ucap Bu Ida sambil terkekeh.
"Kenapa kamu malah disini sendirian, dibawah ada tamu kamu anggurin"
"Kenapa belum pulang?"
"Siapa yang pulang?"
"Ahh.. Nggak, nggak ya sudah ibu bersih-bersih dulu biar Syifa siapkan makan malam! Oke"
Syifa lantas pergi dari hadapan Bu Ida dan disahuti oleh candaan ibunya sambil geleng-geleng kepala, Ada aja tingkahnya dasar gadis aneh.
Ibu ida pun turun juga dan pergi menuju kamarnya, ia harus bersih-bersih karna badan nya sudah lengket oleh keringat.
❁❁❁❁❁❁
"Rey, cepat keluar. Makan malam dulu"
Syifa memanggil dan mengetuk pintu kamar adiknya, tanpa ada sahutan dari dalam Syifa lantas membuka pintu itu dan terpampang nyata disana tampak Jungkook dan Reyhan menggunakan Capitan baju dihidung serta telinganya.
"Apa-apaan kalian ini..?" bentak Syifa.
"kakak, ngapain teriak sih?" Reyhan malah balik membentak.
"Heyy kamu Juki, kenapa kamu bawa-bawa catokan rambut aku" Sungut Syifa lagi dan merebut catokan tersebut.
"Ihh apaan kamu nama aku Jungkook, enak aja bikin nama jelek. Kembalikan aku pinjam sebentar Napa, celit amat" balas Jungkook.
Ketiganya saling ejek dikamar Reyhan dan menghadirkan suara gaduh
Next...💜