
"Hay kenalin aku Jungkook, siapa namamu?"
Seorang anak laki-laki yang tampan dengan mengenakan seragam putih abu sedang menyapa wanita yang duduk dibangku dengan seragam sedikit lusuh.
"Kamu tak perlu tahu namaku" Judes wanita di depannya.
"Hy ayolah kita satu kelas sombong amat, aku juga baru disini" ucapnya sedikit memelas.
"Yang lain banyak jangan aku, nanti kena sial kalau kau terus mendekatiku" balas wanitanya itu tanpa menoleh sedikitpun.
"Haahh terserah deh!" ucap Jungkook pasrah dan berbalik menuju bangkunya yang tepatnya dibelakang gadis tersebut.
Perkenalkan namanya Jeon Jungkook anak laki-laki tampan pindahan dari sekolah kota elite bersama dengan kakaknya karna dipindah tugaskan ke kota sebelah yang bernama Park Jimin.
Jungkook masih kelas X, orang tuanya sudah lama meninggal sejak jungkook duduk di sekolah dasar dan kakaknya dijenjang kuliah. Mereka hidup dengan serba kecukupan dalam keluarga hangat, bahagia dan damai.
Stelah peninggalan kedua orangtuanya kakak jungkook menjadi manusia pendiam dan gila kerja. Dari sikap itu Jimin tetap lembut dan penuh perhatian kepada adiknya.
Mereka sudah satu bulan dikota tersebut, namun jungkook baru seminggu lalu didaftarkan sekolah dan hari ini tepatnya hari senin jungkook masuk sebagai murid baru.
"hy boleh aku kenalan?" Sapa seorang gadis cantik dengan rambut yang dikuncir satu.
"hmm, aku jungkook" iya membalas sapaan gadis itu.
"aku sintia, kamu baru ya. selamat bergabung" gadis itu tersenyum ramah kepada jungkook.
"Iya terimakasih" jawab jungkook dengan senyuman juga.
Ia sintia bersama rekan-rekannya Rena dan Okta, sintia merupakan anak kepala sekolah yang memiliki gang. Selain centil juga so'k cantik ia juga tukang memerintah siswa yang kurang mampu seakan mereka babu yang patut untuk ia suruh suruh.
****
Terutama kepada Syifa anak dari kalangan bawah dekil juga kumuh menurut sintia. yah syifa namanya gadis tadi yang disapa Jungkook, ia murid yang patuh kepada sintia dengan alasan takut dikeluarkan dari sekolah karna ancaman anak kepala sekolah itu.
"Kenalin ini sahabat-sahabat aku rena juga Okta" sahut sintia setia disamping meja jungkook.
Jungkook beserta sahabat Sintia bersalaman bergantian dengan senyuman ramah "hy jungkook" .
"kamu jangan dekat-dekat dia ya, dia babu aku dikelas ini. selain bau dia juga suka caper sama laki-laki ganteng sperti kamu" jelas sintia kepada jungkook.
Jungkook hanya mengangguk saja tanpa berkomentar apapun ia menatap punggung gadis itu dengan bergumam pelan di hatinya.
'pantesan aja dia kumuh ternyata dia babu, ah kasian jadi dia gimana ya wajahnya belum liat aku. dasar gadis sombong' batin jungkook.
Namanya Syifa Murid berprestasi berkat kepintarannya ia memiliki beasiswa di sekolah favorit dikotanya. Ia gadis cantik yang ceria selain baik ia sering membantu ibunya berjualan ketika pulang sekolah.
****
"Selamat pagi anak anak" sapa guru pelajaran pertama.
"Selamat pagi juga bu" jawab murid serentak.
"Sekarang kita masuk ke pelajaran pertama, hyy murid baru kamu sudah berkenalan dengan temanmu?!" tanya bu guru.
"Emm.. sudah bu" jawabnya berdiri sambil membungkukan sedikit tubuhnya ke depan.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?!" Tanya kakak jungkook.
"Baik, sama seperti sekolah pada umumnya kak" jawab jungkook sambil pokus ke layar datar di depan.
Ya mereka sudah selesai dari kegiatan masing masing dan hari sudah mulai petang jam 5 sore tadi Jimin sudah pulang dari tempat kerjanya dan jungkook sudah lama di rumah.
"Apa kakak senang bekerja di kota ini? apa dikantor banyak wanita cantik juga?" Tanya sangadik beruntun
"Ishh kebiasaan kalau bertanya, wanita maupun peria juga ada" Jawab jimin tanpa menoleh.
"Yang cantik ada gak?" Tanya Jungkook lagi.
"tau apa sama yang cantik, wanita cantik itu dari hatinya bukan wajahnya. udahlah kamu belajar saja, kakak mau keluar sebentar" Ucap Jimin panjang lebar dengan berjalan mengambil jaket serta kunci mobilnya yang terongok di meja nakas.
"Kakak mau kemana? pulangnya beliin makanan yaa" Teriakan jungkook kencang tanpa di sahuti oleh jimin.
Jimin keluar rumah dengan mobil kesayangannya yang ia cicil pertama memiliki pekerjaan, ia keluar hanya ingin mencari angin segar sudah sebulan ia di kota tersebut namun belum tahu tempat tempat yang menurutnya bagus.
Jalanan yang mulai gelap ia lalui dengan kendaraan beroda empat sudah satu jam ia berkeliling namun tak ada yang membuat matanya menarik, ia berhenti di depan mini market memenuhi permintaan adiknya yang minta di belikan makanan.
Laki laki berparas tampan itu turun dari mobilnya dengan memakai masker, tak sengaja ia melihat wanita muda yang berjualan kue disamping minimarket tersebut.
Awalnya ingin abay namun jimin penasaran bagai mana gadis itu berjualan kue dipinggir jalan namun pelanggannya banyak dan antre juga. Ia berjalan perlahan dan menerobos antrean mendekat pedagangnya langsung.
"Hy mas antre dong, kami sudah dari tadi sabar menunggu situ main nerobos aja" Cerocos ibu-ibu dengan perawakan sedikit gendut itu.
"duduk saja disitu, enak aja baru datang juga. iya huu" ucap semua yang antre serempak.
Jimin salah tingkah dan malu ia duduk di bangku pelastik yang ditunjuk ibu ibu tadi 'untung pakai masker jadi gak malu malu amat' gumamnya sambil menatap antrean panjang itu.
Jimin menatap punggung gadis tersebut yang sedang sibuk melayani pembelinya dengan telaten, dengan disampingnya seorang wanita sudah tak muda lagi membantu rekannya meracik yang diminta pelanggannya.
Perlahan senyuaman dibalik masker itu terbit dengan sendirinya, Jimin pokus ke depan tanpa sadar antrean yang begitu panjang tadi sudah tidak ada digantikan dengan wajah cantik didepannya.
"Mau pesan apa mas?" sapa gadis tersebut melambaikan tangan diwajah jimin.
"Emm.. Anu emm" jimin menjawab gagap karna sadar ia tengah melamun gadis dihadapannya.
"Kuenya sudah mau habis, apa masnya juga mau beli?" tanya balik sang gadis tersebut.
"Ahh iya, apa kuenya ada??" Tanya jimin sedikit malu karna ketahuan melamun.
"Ada cuma yang rasa coklat" jawabnya.
Jimin berjalan kedepan mengikuti langkah gadis itu mengambil pesanannya. Gadis itu mengayunkan keresek putih yang berisi kue yang dimaksud tadi kehadapan jimin.
"Ini mas, 10rb aja" dengan senyuman tulusnya gadis itu memberikan kue terakhirnya kepada si pembeli.
"Ahh ia makasih" ucapnya dengan memberikan satu lembar uang yang pas.
Jimin tak menyangka dirinya bisa begitu konyol bisa bisanya melamunkan gadis penjual kue itu. Tak terasa ia sudah didepan rumahnya dengan satu tangan membawa satu keresek kue yang ia beli dipinggir jalan tadi.
"Ahh kenapa aku harus melamunkannya!" gerutunya kesal.
Jimin merasa terusik oleh gadis penjual kue di pinggir jalan tadi 'dia masih muda banget, pekerja kereas manis pula' gumamnya sambil senyum-senyum sendiri di ambang pintu.
"Kakak kemna aja? ini udah malam mau bikin aku kelaparan ya. ih amit-amit senyum sendiri lagi" seloroh jungkook dengan muka masamnya.
"hahh maaf, kan ada makanan instan di kulkas dek masa gitu aja nunggu kakak. udah SMA juga" jawab jimin dan berlalu ke ruang tengah.
"Iyhh terserah kakak deh" Jungkook pun duduk kembali.
Jimin melepas jaket serta maskernya begitu duduk didekat adiknya "nih makan aja kue, buat ganjel perut kamu" ucap Jimin dengan menyerahkan kantung keresek itu.
"wah kayaknya enak dapat dari mana?" tanya jungkook lagi sambil mencicipi kue tersebut.
"Di pinggir jalan" Jawab jimin santai.
Jungkook tak menghiraukan jawaban kakaknya ia memakan kue dihadapannya begitu lahap karna ia sedang kelparan. Jungkook tak memilah milih makanan apa yang kakaknya bawa ia makan dengan senang hati.
"Ya sudah kakak ke kamar dulu, kamu habiskan kue nya bekasnya buang belajar disiplin" Ucap Jimin mengingatkan adiknya.
"Siaap maniss" jawab jungkook mengedipkann satu matanya.
Jungkook sering menyebut kakaknya itu dengan sebutan manis karna dimatanya ia laki-laki tampan dan lembut meski dihadapan yang lain beda sisi nya lagi.
************
Disisi lain Syifa beserta ibunya menutup kedai sederhananya karna jualannya hari ini ludes tak tersisa.
"Allhamdulillah ya bu akhirnya kue kita hari ini habis tak tersisa" ucap syifa kepada sang ibu.
"Iya nak ibu nggak nyangka, semoga ke depannya terus laku biar bisa bayar sekolah adek kamu yang nunggak" ucap Ibunya syifa yang menatapnya dengan linangan air mata bahagia.
"Uluuh kenapa ibu nangis, kok cengeng! harusnya ibu bahagia" syifa mengusap air mata ibunya dengan ibu jari.
"udah kita pulang pasti rehan nunggu kita di rumah, kasian pasti belum makan"
Syifa menuntun sang ibunda keluar dan mengunci kedai kecil itu. MEskipun tempatnya kecil syifa bersyukur karna itu tempat ia mencari pundi pundi rupiah bersama ibunya.
Ia harus rela membagi waktu antara sekolah belajar dan bekerja, ia sosok wanita penuh perjuangan ingin membahagiakan ibu serta adiknya.
Seharusnya ia masih gadis remaja yang penuh drama cinta dan kenangan namun menurut syifa itu tak berarti dalam khidupannya, ia lebih mendominan ke tulang punggung keluarga stelah kepergian sang ayah dua tahun silam karna penyakit ganas.
"Asssalamualikum" Salam syifa dari luar bersahutan dengan suara ibunya pelan.
"Waalaikumsalam" Jawab seseorang dibalik pintu.
Dengan segera pintu itu di tarik ada senyum bahagia dibaliknya. ya mereka sudah sampai rumah 15 menit dalam perjalanan berjalan kaki dari kedai ke rumahnya.
-----------
Next....