School And Love'S

School And Love'S
Capter 14



❁❁❁❁❁❁


Ketiganya saling ejek dikamar Reyhan, dan menghadirkan suara gaduh sampai terdengar hingga dapur tempat dimana Park Jimin dan Ibu Ida tengah menyiapkan makan malam.


"Kenapa mereka ya, berasa seperti bertengkar" sahut Ibu Ida yang sedang memindahkan sup ke mangkok.


"Ya sudah bu, saya lihat sebentar takut adik saya bikin masalah" ucap Jimin mencegah Ibu ida yang akan beranjak.


"Ah iya, silahkan nak! Jangan lama-lama nanti lauknya keburu dingin" balas Ibu ida.


Jimin bergegas ke luar ruangan dan menuju kamar Reyhan yang bersebelahan dengar kamar Syifa, Ia masuk tanpa mengetuk pintu dan mendapati Syifa dan Jungkook tengah saling jambak dan bergerutu tidak jelas.


"Yang lagi ngapain..?" tanya Jimin santai dan memasukan satu tangannya ke saku celana.


Aksi keduanya berhenti kala suara tersebut sudah keluar lewat jalannya, Jungkook melirik syifa begitupun sebaliknya. Cengkraman tersebut seketika terlepas dengan sendirinya, Rambut Jungkook yang tak berbentuk begitupun dengan Syifa rambut yang acak-acakan tak jelas dan ikat rambut yang entah dimana.


"Marahin saja mereka om atau kasih hukuman gitu" seloroh Reyhan yang anteng diranjang.


"Bener juga, apa ya?" Jimin tampak berpikir "Rapihkan dulu rambut kalian, kita makan malam dulu" sambung Jimin.


Jungkook, Syifa dan Reyhan terlihat tampak mengangguk dan Jimin sudah terlebih dahulu keluar. terdengar Syifa tampak bersungut-sungut menyumpahi tuan Park Jimin dibelakangnya.


'Masih aku dengar sayang, awas saja akan ku kasih pelajaran kau Syifa Alzaina' batin Jimin dan ia duduk dimeja makan dengan tersenyum jahil.


"Kenapa lama sih?" tanya bu Ida kala anak gadisnya sudah datang.


"Ini Reyhan sama dia si Juki main mulu bu"


"Enak aja Juki, nama aku Jungkook" sungut Jungkook tak terima namanya di ganti.


Tampak rambut keduanya sudah rapi kembali, mereka akhirnya menyantap makan malam dengan hidmat dan penuh rasa haru terutama Ibu ida, Reyhan dan Jungkook serasa kejadian dulu kini terulang kembali, Mengurangi rasa rindunya Jungkook kepada orang tuanya begitupun Ibu ida kepada mendiang suaminya.


Tapi tidak dengan kedua sejoli disampingnya, Syifa yang bodo amat tentang tatapan Jimin ia hanya senyum-senyum tak jelas yang membuat Syifa kerap merinding kala tatapan itu beradu. Salah apalagi syifa pada ini orang padahal yang mulai duluan bikin keributan kan adiknya, yang jadi sasaran dirinya. Sungguh aneh kalau suka sama syifa ngomong lah Om!...


❦︎❦︎❦︎❦︎❦︎


Makan malam akhirnya selesai, Ibu Ida pamit untuk istirahat dan Reyhan beserta Jungkook masuk ke kamar katanya melanjutkan sesi main Game online nya. Tersisa Jimin yang tengah menonton TV ditemani teh hangat buatan si tuan rumah.


Kenapa mereka tak pulang? bukan tak pulang lebih tepatnya Jimin menunggu adiknya selesai main game dan tadi sehabis makan keduanya akan pulang namun Reyhan mencegah Jungkook karna ingin melanjutkan permainan yang tertunda.


"Kenapa masih disitu..?"


Tanya Syifa yang sudah berdiri bersedekap dada disamping Jimin.


"Masih betah disini" jawab Jimin lembut.


"Ya sudah nanti kalau mau pulang, TV nya matiin Syifa mau bocan" ucap Syifa dan berbalik.


"Tunggu .."


Namun Syifa tampak terus berjalan menuju kamarnya lalu ia menutup pintunya tanpa mendengar ucapan Jimin.


"Haiss dasar"


Jimin merogoh sesuatu disakunya ternyata handphone ia menyalakan layar dan menuju kontak lalu ia menekan nomor Syifa.


Tutt.. tutt.. tutt.. (Sambungan terhubung)


[Ngapain nelpon? kan bisa ngomong langsung aku mau tidur] ketus Syifa.


"Ya tadi mas udah bilang tunggu, kamunya malah masuk kamar. Mau dikejar bingung" ucap Jimin sedikit beralasan.


[kenapa harus bingung hah? tinggal masuk kamar aja kalau ada sesuatu penting, kalau gak ada Syifa mau bobo jangan ganggu ya]


"Emm . . sebenarnya ada yang mau mas omongin"


[Apa?? ya sudah mas kesini aja] jawab Syifa enteng.


"Gak ppa gitu kalau mas ke kamar kamu?" tanya Jimin.


[gak ppa kalau sebentar, soalnya Syifa malas keluar lagi]


"Oh ya udah mas langsung masuk saja"


Tampak dikasur Syifa sudah nyaman berbaring dengan berselimutkan selimut berwarna merah muda kesukaannya, ia membuka mata kembali kala melihat seseorang berdiri di hadapannya.


"kenapa gak ketuk pintu, kaget tau. Terus itu jalan gak bersura lagi" ucap Syifa yang tampak kaget.


"Maaf" ucap Jimin singkat.


"Mau ngomong apa?" balas Syifa dan ia duduk di bibir ranjang.


"Emm, apa yaa?" Jimin malah balik bertanya.


"Hiss.. kalau gak ada keluar sana aku ngantuk" ucap Syifa beralasan.


Syifa sebenarnya belum mengantuk ia hanya ingin menghindari Jimin karna takut perasaan itu semakin nyata terhadapnya, namun ia salah malah mendekatkan Jimin padanya dan mendapati peluang berdua di tengah malam begini, ia mengijinkan Jimin masuk hanya ingin mendengar hal penting apa yang akan Jimin katakan. Syifa kalau sudah rebahan di kasur tak akan gampang lagi keluar ataupun sekedar ambil minum.


"Emm.. Aku mau beri kamu hukuman karna tadi sudah lancang mengumpat diriku" ucap Jimin yang duduk disamping Syifa.


"Si-siapa yang mengumpatin mas, salah denger kali" ucap Syifa yang gelagapan.


Happ.. benda kenyal tersebut sudah pindah ke mul*t Jimin, seketika Syifa membulatkan matanya karna kaget ia tak melawan atau pun membalas. satu detik dua detik Syifa hanyut dalam permainan Jimin, ia gigit bib*r ranum tersebut supaya Syifa membuka jalannya sedikit-sedikit Syifa membalas Luma**n tersebut walau terbilang kaku.


"Mmmmmm" Syifa bersuara karna sudah kehabisan nafas, nampak ia ngos-ngosan saat ciu**n nya terlepas.


"kamu mau buat a-..


ucapan Syifa tak rampung karna Jimin menahannya dengan cium*n kembali ia menyesapnya cukup kuat dan Jimin tampak menahan tengkuk Syifa. Reflek Syifa mengalungkan tangannya kepundak Jimin ia berdua menikmati permainan itu dan Syifa nampak menutup matanya karna merasakan sensasi berbeda.


Untuk pertama kalinya ia merasakan itu dan cium*n pertama bersama cinta pertamanya. Keduanya tampak mabuk karna rasa yang membuncah Jimin tampak tersadar oleh tindakannya yang sudah lancang, namun ia tak ingin berhenti Karna sudah memiliki rasa yang aneh dalam tubuhnya ia meraba setiap lekuk tubuh Syifa dan memeluknya dengan nyaman.


"Mas" ucap Syifa kala bib*r itu berpindah ke leher Jenjang miliknya.


"Ini hukuman yang tadi karna sudah berani mengumpat" bisik Jimin di telinga Syifa.


"mas" desah Syifa karna Jimin terus mengecup leher miliknya dan tangan yang nak*l.


Jimin menjeda kegiatannya ia menatap manik mata Syifa dalam.


"Aku mencintaimu, Syifa Alzaina" ucap Jimin serak.


Mata Syifa nampak berkaca-kaca, ia langsung menyambar bib*r Park Jimin tanpa membalas ucapan Cinta itu, Jimin sudah tau jawabannya mana berani seorang wanita menci*m laki-laki lebih dulu kalau tak memiliki rasa cinta.


Keduanya hanyut dalam permainan saling lum*t tak ada niatan untuk berhenti Jimin menikmati kegiatannya dan Syifa menikmati bib*r kenyal tersebut dengan penuh cinta.


"Mas sudah" ucap Syifa dan mendorong dada Jimin.


"kok udahan, mas masih ingin menikmatinya sayang"


Telunjuk Syifa mendarat dibib*r basah Jimin ketika hendak menci*mnya kembali.


"udah, takut kebablasan" serunya.


"Ahh ia lupa, habis manis soalnya" ucap Jimin manja.


"Sudah pulang sana, udah malam gak baik masih dikamar seorang gadis" usir Syifa halus.


"Tapi yang kamu belum balas cinta aku"


"Iya aku juga mencintaimu tuan Park Jimin, sudah pulang ya!" balasnya.


"emm, iya makasih kamu sudah mau menerima cintaku, makasih juga udah mau balas ciuman aku. kamu yang pertama dan terakhir Syifa Alzaina" jelas Jimin.


"Iya aku juga mas" Syifa tersenyum manis.


"Yasudah mas pulang dulu"


dan ia hendak merangkul namun Syifa sudah lebih dulu menjauh "sudah sana pulang" ucap Syifa cepat.


"Issh,, iya iya sayang" akhirnya Jimin keluar dan menutup pintu.


Syifa menyentuh dadanya yang terdengar berdegup kencang, ia menutup matanya dan tersenyum lebar. Oh seperti inikah rasanya cinta terbalaskan, sungguh aku bahagia sekali.


Next....💜