
Chapter 13
Apa pada akhirnya akan selalu seperti ini? Yang bisa kulakukan hanya memberi luka, kepedihan dan air mata. Baik pada sosoknya yang dulu tak berarti apa-apa untukku, hanya seorang gadis biasa yang begitu mencintaiku sedangkan aku membencinya. Pun pada sosoknya kini yang menjadi gadis paling kucintai sampai begitu berarti dalam hidupku.
Maaf, untuk segala sikapku.
Aku tak ingin kehilangan dirimu.
Dan bila kebencian kini menghapus rasa cintamu,…
Masih adakah kesempatan bagiku?
Sakura, cintai aku lagi…
...
~Itadakimasu~
.
Seorang wanita cantik berpenampilan rapih dan elegan tampak turun dari mobil mewah yang terparkir di depan rumah. Disela kesibukannya bicara lewat ponsel, onyx miliknya tak sengaja menangkap sosokku yang baru keluar dari garasi. Dengan sedikit tanda lambaian tangan, wanita yang tak lain adalah ibuku itu menyuruhku mendekat dan menunjuk bagasi mobilnya yang terbuka.
Aku masih diam terpaku sampai Itachi keluar dari mobil dan berteriak, "Hoi, bantuin dong!" Pemuda itu kerepotan mengeluarkan tas-tas belanjaan. Sejenak aku mendengus sebelum akhirnya melangkah malas dan membantunya.
"Untuk apa belanja sebanyak ini?" tanyaku. Sambil jalan aku tenteng 4-5 kantong di tangan kiri dan kananku. Sepertinya Kaa-san habis shopping besar-besaran.
"Tentu saja untukmu. Siapa lagi?" balas Itachi. "Syukurlah siang ini kau cepat pulang. Setelah ini kita pergi reservasi tempat dan mengecek pesanan catering. Eh, tapi kau dan Sakura mau fitting baju dulu kan?"
"Tidak jadi." sela Kaa-san seraya menutup ponselnya, "Tsunade bilang Sakura tidak enak badan. Seharian ini dia ingin istirahat di rumah."
Sakura sakit?... Dalam hati aku merasa cemas.
"Duh, kenapa disaat penting begini malah tidak berjalan lancar. Sakura sudah tiga kali minta batal pergi. Waktu itu karena lupa ada janji, lalu mendadak ada jadwal belajar tambahan, sekarang sakit…" keluh Kaa-san. "Yah, ibu harap sih kondisinya baik-baik saja. Sasuke, sore ini jenguklah Sakura. Sekalian bujuk dia, tanyakan kapan kalian bisa pergi bersama."
"Hn." Aku terdiam, tersenyum pahit. Miris rasanya. Jenguk? Bujuk? Pergi bersama? Sepertinya mustahil. Sekali saja, aku bahkan ingin bertemu dengannya walau hanya sekilas, tapi gadis itu selalu menolak. Malah berusaha terus menghindar, memberikan alasan tak bermutu saking tak maunya bertemu. Seperti sekarang misalnya, mungkin saja Sakura hanya pura-pura sakit agar tak jadi pergi denganku.
"Besok hari terakhir. Kalau terus seperti ini mungkin ibu terpaksa minta designer-nya datang saja ke rumah." Kaa-san masih tampak sibuk mengecek daftar perlengkapan untuk acara pertunanganku besok lusa nanti.
Ya, besok lusa. Tiga hari lagi. Tak terasa waktu berlalu cepat tapi tak ada kebahagiaan yang kurasakan saat menyambutnya. Tidak tanpa Sakura disampingku.
"Oh iya Sasu, daftar yang waktu itu ibu minta mana?"
"Hn." Aku mengernyit tak mengerti. "Daftar apa?"
"Daftar nama teman-temanmu yang akan kau undang."
"Tidak ada." jawabku.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bermaksud mengundang siapapun diantara teman-temanku secara khusus. Kalau Kaa-san mau undang, terserah saja."
"Eh, mau kemana?" tanya Itachi yang melihatku langsung melengos pergi usai membantu meletakkan barang-barang belanjaan tadi.
"Kamar." gumamku. "Aku lelah…"
"Hoi, jangan cuek dong. Sekarang bukan saatnya santai. Ini acaramu, masa malah aku yang sibuk mempersiapkannya."
Tak kuhiraukan protesnya dan terus melangkah pergi.
"Ya ampun, ada apa sebenarnya? Di saat seperti ini sikapmu malah begitu. Sakura juga…" dengus Kaa-san. "Kalian berdua tampak tak berminat dengan acaranya."
Hn, mungkin begitu… Pikirku dalam hati yang kecewa.
"Heh, baka!" panggil Itachi sebelum aku masuk kamar. Dia menahan bahuku sebentar. "Kau belum baikan dengan Sakura? Cepat selesaikan pertengkaran kalian, atau hari itu akan jadi berantakan."
Kugendikan bahuku, menyingkirkan tangannya dan lekas menutup pintu kamarku dengan keras. Di luar sana Itachi kembali protes dan meneriakiku. Aku tak peduli. Tak perlu diberitahu pun aku sudah mengerti. Aku juga ingin baikan, tapi Sakura masih keras kepala. Kukenang kembali kejadian empat hari lalu, saat aku coba meminta maaf padanya atas kesalahpahaman dan sikap burukku siang itu setelah tahu kebenarannya dari Itachi.
…
...#...
...
Tok… tok… tok…
Cklek…
"Hn,"
Braakk…
Sakura langsung membanting pintu kamarnya begitu melihatku datang. Saking enggannya gadis itu bahkan untuk sekedar bertemu muka denganku. Dia masih marah.
Dugh… dugh… dugh… Kugedor kembali pintu kamar itu keras-keras. "Sakura, sebentar saja… Aku mohon buka pintunya. Aku ingin bicara…"
"Pergi! Aku tak mau bertemu denganmu, Sasuke! Dasar mesum!" balas Sakura dari balik pintu.
'Mesum'… Sebutan itu terasa begitu menusuk diriku.
"Iya, maaf, makanya aku ingin bicara…"
"Aku tak mau dengar! Pergi!"
"Sakura…"
"Pergi! Pergi! Pergi! Pergi!" teriaknya terus mengusirku.
DUAK…
Kulepaskan satu pukulan keras menghantam daun pintunya. Antara kesal dan kecewa, perasaanku bercampur aduk.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Aku tunggu sampai kau tenang dan merasa lebih baik. Sekali lagi Sakura, aku minta maaf."
...
...#...
…
BRUUGH…
Kuhempaskan tubuhku yang rasanya lelah jatuh ke atas ranjang. Sejenak menghela nafas panjang sementara mataku menatap langit-langit kamar yang tinggi. Sekelebat bayangan Sakura kembali muncul dalam pikiran. Tiga hari tak bertemu dengannya, kerinduan mengisi hatiku. Aku sampai galau begini apa Sakura merasakan hal yang sama denganku? Mungkin iya, tapi kalau begitu dia pasti tak akan menghindariku seperti sekarang. Jadi jawabannya tidak? Apa saking marah dan bencinya dia padaku sampai tak menyisakan sedikitpun rasa suka yang membuatnya rindu?
Kurogoh saku celanaku dan mengambil ponsel flip biru metalik-ku. Termenung sesaat kulihat foto kami bersama yang kujadikan wallpaper ponselku. Jariku lekas menekan deretan angka nomor ponsel Sakura tapi terhenti sejenak sebelum kutekan tombol call. Mungkin percuma. Aku pikir pasti kalau tak langsung di-reject, gadis itu akan membiarkan panggilanku masuk pesan kotak suara seperti biasa.
"…tuut… tuut… pip... tutututututut…"
Tuh kan,… Langsung diputus bahkan secepat ini?
"Sialan…" dengusku antara kesal dan kecewa.
'Heh, dasar kau gadis sombong! Angkat teleponnya, baka! Orang mau minta maaf tapi kau malah abaikan. Apa maumu, heh?! Sialan kau Sakura. Aku marah nih. Awas kau ya...|
SEND
Tak lama, kutatap kembali serangkaian kalimat pesan penuh emosi yang barusan kuketik. Setelah kupikir-pikir mungkin tak seharusnya aku kirim SMS seperti itu.
'Maaf...|
SEND
'Aku salah lagi ya…|
SEND
' Jujur aku kesal padamu…|
SEND
'Aku bingung…|
SEND
'Aku harus bagaimana agar kau mau memaafkanku…|
SEND
'Sakura, jawab aku…|
SEND
'Sekali saja. Balas SMS-ku dong, Sakura…|
SEND
'Sakura,…|
SEND
Drrt… Drrt… Drrt… Tak lama ponselku bergetar. Aku terkejut melihat gambar amplop terbang masuk ke inbox-ku. "Akhirnya…" Senyumku seketika itu mengembang. Ada satu pesan masuk dari Sakura. Langsung saja aku baca…
'JANGAN GANGGU AKU, SASUKE!'
What the…?! Aku langsung sweatdrop. Entah harus marah, kesal, kecewa, sakit hati,…
Huff~ Sakura, sampai kapan kau akan terus menolakku? Menyebalkan...
.
.
\=0\=0\=0\=0\=
.
.
Aku tergesa-gesa mendorong pintu kaca cafe itu dan lekas bergegas masuk kedalamnya. Kuhiraukan ucapan sopan 'Selamat Datang' dari seorang pelayan yang menyambutku sementara kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak lama onyx-ku menangkap sosok di pojokan cafe. Duduk santai sambil menyeruput secangkir kopi dan dengan wajah tanpa dosa malah balas tersenyum, melambaikan tangannya menyuruhku mendekat sedang aku terengah lelah menghampirinya.
"Nii-san, kau..." heranku melihatnya sesantai ini. "Apa yang terjadi, bukankah tadi kau bilang..."
"Itachi-niiii...!"
Kalimatku terpotong ketika panggilan itu tiba-tiba menyela. Sontak aku menoleh dan benar-benar terkejut mendapati Sakura muncul dihadapanku. Gadis itu tampak sama lelahnya sepertiku. Mungkin terburu-buru juga datang kemari.
"Itachi-nii, kau tak apa-apa? Masalahmu sudah selesai?" tanya Sakura, ada raut kecemasan terlukis di wajahnya, sebelum kemudian berganti keterkejutan tak lama setelah dia menyadari kehadiranku. Kening gadis itu berkerut, dia mengernyit heran. "Eh, ada Sasuke? Kenapa? Apa maksudnya ini?"
Aku pun tanyakan hal yang sama dalam hati. 'Kenapa ada Sakura...?'
"Nii-san, bukankah tadi di telepon..."
Pikiranku melayang, mengingat kembali kejadian sebelum ini.
...
...#...
...
Sore tadi saat aku mengurung diri di kamar, padahal niatku cuma sekedar berbaring dan tiduran sebentar. Tapi saking lelahnya, ternyata aku benar-benar terlelap. Sampai dering suara ponsel mengusikku.
"Moshi moshi..." sapaku malas saat mengangkatnya. Apalagi setelah tahu ini dari kakakku, pasti gak penting.
"Tolong! Sasuke... Tolong aku!" panik Itachi di seberang telepon sana, sontak bikin aku terjaga dan bangkit dari tidurku.
"Sasuke, cepat datang kemari. Sekarang jugaaaa..."
"Hoi, tenang dulu kak, ada apa?" tanyaku dengan perasaan berdebar.
"Aku gak bawa uang. Mau dipukuli, cepetan kemari, Sasuke... Impulsive cafe. Sekarang juga, cepeeeet... pip..."
"Hoi! Hallo... Hallo... Nii-san...?!"
Gimana gak ikut panik kalau dengar kabar seperti itu. Apalagi ketika aku coba telepon balik, ponselnya malah tak aktif. Maka tanpa pikir panjang lagi aku segera menuju kemari. Tapi nyatanya, semua cuma sandiwara...
...
...#...
...
"Apa maksudnya ini, kenapa ada...
"Sasuke?" / "Sakura?"... tanya kami berdua nyaris bersamaan.
"Hehehe~... Kalian berdua benar-benar datang ya." cengir Itachi. "Wah~ senangnyaaaa... Dua adikku ini sungguh perhatian sekali padaku."
"Lho, bukannya tadi kak Itachi bilang sedang ada masalah. Katanya bodyguard cafe mau memukulimu karena kau tak bawa uang. Kau juga bilang Sasuke tak bisa dihubungi dan tak ada orang lain lagi yang bisa kau mintai tolong. Tapi kok sekarang..." Sakura jelaskan kehadirannya. Emerald itu sekilas mendelik padaku. "Kenapa dia juga ada?"
Aku balas menatap tajam Sakura. Terus terang merasa sedikit tersinggung olehnya. Apa-apaan dia, bicara dengan nada tak mengenakan seperti itu. Terlebih lagi terkesan tak terima aku muncul dihadapannya.
"Aku juga dihubungi oleh si baka Aniki ini dengan alasan yang sama." desisku, "Tak kukira kau pun juga ada, Sakura. Bukankah kau sakit dan bilang ingin istirahat di rumah seharian, heh?" sindirku, sambil torehkan senyum sinis.
"Heh, sudah, cukup, hentikan. Kenapa kalian malah bertengkar lagi? Padahal aku sengaja berbohong supaya kalian berdua bisa bertemu dan baikan." Itachi coba melerai. "Baka otouto, adik iparku yang manis... sini, sini, duduk...!" Itachi menarik sebelah tanganku dan Sakura, memaksa kami mengambil tempat dan duduk saling berhadapan satu sama lain.
Sakura menggerutu pelan. Entah bergumam apa, sepertinya protes dan kesal dengan tindakan Itachi yang sudah seenaknya mengatur pertemuan kami. Wajah gadis itu berubah masam. Bersikap enggan dan mengacuhkanku. Aku sendiri, antara senang dan sebal bercampur aduk. Terus terang aku rindu bertemu dengan gadis itu. Ingin rasanya memeluk erat dan bicara banyak hal, menghapus kegalauan yang belakangan ini mengisi hari-hariku tanpanya. Tapi, melihat sikap Sakura sekarang juga bikin aku kesal. Bisa-bisanya dia lebih meladeni Itachi daripada aku yang selama empat hari ini terus bersabar, menantinya bertemu bahkan untuk sekedar bicara pun selalu dia tolak.
"Ehem, begini, sebenarnya aku tak mau ikut campur. Kalian mau bertengkar sampai kapanpun juga terserah. Tapi cinta damai itu lebih baik, bukan? Dan karena aku juga sudah lelaaahh..." Itachi mendesah dan memberi penekanan lebih untuk kata 'lelah'... "Gara-gara kalian yang cuek urusi acara pertunangan kalian sendiri, kalian tahu, berhari-hari ini aku jadi sibuk sendiri?!"
Merasa tersindir, aku dan Sakura sama-sama menggulirkan pandangan menghindari tatapan onyx Itachi yang mengintimidasi.
"Mau sama cueknya, aku tak bisa tuh. Aku tak seperti seorang Uchiha baka yang tega biarkan ibunya sibuk pontang-panting urusin acara." Itachi mencibirku, "Atau seorang nona manja yang ogah-ogahan dan suka cari alasan." desisnya kemudian pada Sakura. "Aku tak bisa. Aku tak setega itu. Dan aku tak habis pikir kalian berdua bisa melakukannya padahal itu demi kepentingan kalian sendiri."
Aku jadi tak enak hati. Semua yang dikatakan Itachi itu memang benar.
"Niat gak sih...?" BRAK... Tanya Itachi sambil menggebrak meja, bikin Sakura tersentak kaget. "Kalian masih ingin acaranya digelar atau tidak?!"
Hening sejenak. Aku dan Sakura sekilas saling pandang. Tak ada diantara kami berdua yang berani menjawab.
"Selesaikan pertengkaran kalian atau akhiri semuanya. Kalian sendiri yang putuskan." lanjut lelaki berkuncir itu sebelum pergi dan meninggalkan kami berdua yang masih kikuk satu sama lain.
...
...
...
Selama beberapa saat aku dan Sakura tetap saling tak bicara. Seorang pelayan cafe datang menghampiri dan menyajikan segelas jus tomat dan strawberry. Seingatku kami tak pesan apapun, jadi pasti Itachi yang pesankan minuman itu. Sakura pun menyadarinya. Gadis itu celingak-celinguk memandang kesekeliling seolah sedang mencari sosok kakakku. Melihat gelagatnya yang seperti itu bikin aku mendesis sebal. Memunculkan kembali perasaan cemburuku.
"Tch, jadi begini kelakuanmu. Selalu cari alasan buat batalkan janji dengan ibuku, tapi bisa luangkan waktu buat bertemu Itachi. Selalu berusaha menolak bertemu denganku, tapi tanpa pikir panjang berlari kemari untuk bertemu kakakku." sindirku.
"Tidak." Sakura balas mendelik. "Kau tahu sendiri kan, Itachi-nii menipuku. Sengaja mempertemukan kita. Kalau tahu kau akan muncul, aku juga tak akan datang kemari."
"Munafik." desisku.
"Apa?" Sakura sedikit sunggingkan bibirnya, "Inilah yang aku tak suka darimu. Aku muak dengan sikap kekanak-kanakanmu. Sembarangan menuduhku. Posesif, bahkan pada kakakmu sendiri..."
"Apa kau bilang?!" aku sedikit tercengang mendengarnya. Terus terang merasa tersinggung. "Kau pikir aku bersikap begini karena siapa, semua ini juga kulakukan demi dirimu..."
"Egois." sela Sakura. "Kau terlalu egois, Sasuke. Kau tak memikirkanku. Kau lakukan itu hanya demi dirimu sendiri."
Kesal sekali aku mendengarnya. Tanpa sadar aku tarik dan cengkeram erat sebelah pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku! Tak sopan. Jangan coba sentuh aku. Dasar kau..."
"Jaga bicaramu!" desisku pelan, tajam dan dengan nada membentak. Andai kami tak sedang berada di tempat umum, aku pasti sudah berteriak padanya. "Kau jadi sebenci ini padaku karena masalah 'itu'? Padahal aku hanya sedikit menyentuhmu. Kau lupa aku ini siapa, kenapa enggan melakukannya denganku, heuh?"
"Kau gila." Sakura hempaskan tanganku, "Bisa-bisanya kau bicara seolah tak terjadi apa-apa. Jangan kau pikir karena status kita, karena aku mencintaimu, kau bebas berbuat seenakmu. Ka, kau..." Suara Sakura mendadak samar dan bergetar. Dia gigiti sebentar bibir bawahnya dan tampak seperti menahan tangis. "Kau ingat, kau coba menodaiku..."
JDER...
Aku bagai tersambar ketika mendengarnya. Kata-kata terakhir terasa begitu tepat menusuk diriku. Membuatku tak berkutik. Aku terdiam dan hanya bisa menatap Sakura yang balas menatapku nanar. Tampak sedih, kecewa, sakit hati. Separah itukah perbuatanku padanya tempo hari sampai buat dia berpikiran kotor tentangku.
"Aku ini perempuan. Punya harga diri..." lanjut Sakura. Dia tundukan kepalanya seraya mencengkeram erat kerah bajunya. Atau entah sedang menggenggam hatinya yang terluka. "Meski kelak seluruh hidupku akan kuserahkan padamu, tapi tetap ada hal yang ingin aku jaga sampai waktu yang tepat. Kau tak boleh seenaknya. Tolong hargai aku. Tapi kau tak mengerti. Itu sebabnya aku marah padamu..."
Begitu?... Hatiku melengos mendengarnya.
"Kalau seperti ini, aku tak tahu harus bagaimana. Sepertinya aku tak bisa terus dengan keegoisanmu. Aku lelah. Aku sendiri bingung dengan perasaanku." Setetes cairan bening mendesak turun dari emeraldnya. Cepat-cepat Sakura seka dengan punggung tangan. Sebentar dia menghela nafas, "Maaf..." gumamnya. Sekilas dia menatapku dan bangkit berdiri. "Aku sudah sampai pada batasku." ucap Sakura kemudian seraya berbalik dan melangkah pergi. "Selamat tinggal, Sasuke..."
Seolah membeku, aku tetap terdiam dan hanya menatap punggung gadis musim semi yang berlalu itu. Sakura pergi begitu saja setelah dia ucapkan kalimat yang begitu menusuk hati.
'Maaf'... dia ucapkan itu untuk apa? Tak bisa lagi bersamaku? Bilang 'selamat tinggal'...? Mendengar kejujuran hatinya malah membuatku sakit.
"Bodoh. Hahah..." gumamku, sedikit terkekeh pelan. Padahal tak ada sesuatu yang patut ditertawakan disini. "Jangan perlihatkan air matamu, Sakura..." Itu semakin membuatku merasa bersalah.
Penyesalanku...
Yang kukira akulah pihak yang tersakiti disini, ternyata justru Sakura yang lebih merasa sakit. Lagi-lagi karena aku.
...
...
...
"Lho, mana Sakura?" tanya Itachi yang tak lama datang menghampiri.
"Pergi." jawabku singkat. Masih tertunduk lemas.
"Eeh, kalian bertengkar lagi?"
"Hn."
"Apa yang sudah kau lakukan, bodoh?! Pergi kemana dia? Kau tak mengejarnya?"
Kejar? Haruskah? Sedangkan aku seolah sudah pasrah dibuangnya.
"Sasuke!" bentak Itachi. "Kau sungguh rela biarkan dia pergi begitu saja?"
Pergi begitu saja...?
"Jangan menyesal lho," lanjut Itachi.
Menyesal...?
"Baka Otouto, malah diam lagi... Heh?!"
Iya, benar. Aku bodoh. Dan aku akan menyesal kalau diam saja...
"Apa ini yang kau inginkan?!" tanya Itachi.
TIDAK!... Aku tidak mau berakhir seperti ini.
Setelah sadar dan tahu apa yang seharusnya aku lakukan, tanpa pikir panjang lagi aku segera bangkit dari dudukku dan memutuskan mengejar Sakura. Ya, aku harus mengejarnya kali ini. Kalau aku sungguh tak ingin kehilangan dirinya, aku tak boleh melepaskannya. Kalau aku sungguh mencintainya, buat dia kembali mencintaiku.
'Masih adakah rasa di hatimu? Sakura, cintai aku lagi…'
...
...
...
Dengan nafas masih terengah, kuputar pandanganku kesekeliling. Dimana? Sakura… Apa aku terlambat? Kucari kemanapun aku tak menemukannya. Selama beberapa saat aku berkeliling. Berjalan kesana-kemari, setengah berlari mengitari sekitar gedung Mall lantai empat ini.
Langkahku terhenti ketika pandanganku akhirnya berhasil menemukan sosok itu. Dari seberang tempatku berdiri, kulihat di tepian pagar sisi balkon lantai empat tampak seorang gadis berhelaian merah muda tertunduk lesu. Tak salah lagi, itu pasti Sakura, setelah kukenali pula baju berwarna merah yang dikenakannya. Lekas saja aku hampiri.
Kulihat Sakura terdiam. Tertunduk sementara matanya menatap kosong, menerawang jauh ke lantai bawah. Aku merasa takut melihat sosoknya yang seperti itu. Kenapa, apa yang terjadi, apa yang sedang dilakukannya di sana...?
"Sakura...?" sapaku ketika perlahan aku dekati dia.
Tak ada respon. Dalam diam, wajah Sakura berubah tegang. Dia cengkeram kuat palang besi pada pagar. Emeraldnya sesaat terpejam dan betapa kagetnya aku ketika tubuh itu mendadak lunglai.
"Hei...!" teriakku, cepat aku tahan dia sebelum terjatuh. "Apa yang kau lakukan, baka! Kau ingin bunuh..." Kalimatku mengambang. Perasaan tegang kini makin menyelimutiku. Ketika kulayangkan pandanganku kesekitar dan mulai mengenali tempat ini. Jangan-jangan, ini adalah tempat yang sama dengan waktu itu. Tempat Sakura terjun untuk bunuh diri.
"Saaa... suuu... keee..." gumam Sakura saat melihatku. Wajahnya pucat. Tangannya yang gemetar mencengkeram bajuku kuat-kuat. "Sasuke... kau... disini?... hik...hik... kau benar-benar di sini?... Sasuke... aku... huaaa~..."
Segera saja kupeluk tubuh itu. Lekas meredam tangisnya didadaku. Tak peduli di tengah umum begini, dalam pandangan orang-orang yang menatap kami heran, yang kupedulikan sekarang hanya Sakura seorang. Tak ada yang bisa kulakukan selain membelainya lembut, menenangkan kembali gadis yang tengah alami syok teringat akan kenangan buruknya disini.
"Jangan pergi... Aku mohon... Jangan menjauh dariku..." Dalam tangis, Sakura meracau. "Aku tak bisa mengejarmu... Aku ingin kau bahagia... Tak bisakah aku membahagiakanmu... Tetaplah di sisiku... Jangan tinggalkan aku... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu... Sasuke... hik... hik... Sasuke... Rasanya sakit... Sakit... Tapi aku mencintaimu... Walau sakit, tapi aku mencintaimu..."
"Iya, aku di sini..." bisikku lembut di telinga Sakura. "Tenanglah. Tak ada yang perlu kau takutkan. Aku tak akan pergi kemanapun... Selalu di sampingmu... Aku bahagia karenamu... Sakura, aku mencintaimu... Sangat mencintaimu... Jadi tenang saja... Maaf untuk segala luka yang kuberikan... Aku menyesal..." Apalagi sudah membuatmu alami hal buruk seperti ini.
...
...
...
"Minumlah..." kataku sembari menyodorkan sebotol air mineral pada Sakura.
Gadis yang tengah berbaring di bangku belakang mobilku itu pun bangkit sejenak. Aku geser posisi dudukku, biarkan badanku kini jadi sandaran tubuhnya. Sakura sekarang sudah jauh lebih tenang setelah sedaritadi dia menangis. Untung saja tak terjadi apa-apa dan aku berhasil membawanya pergi. Turun dari gedung lantai empat itu, walau sekarang kami masih ada di basement parkiran mobil.
"Terima kasih." ucap Sakura lirih. Dia simpan kembali botol air mineralnya yang sudah habis setengah diminumnya. Masih sesegukan, gadis itu susupkan kedua tangannya melingkar di tubuhku. Memelukku erat. "Maaf..." gumamnya. "Tadi aku sudah mempermalukanmu di depan umum yaa..."
"Sudahlah. Tak apa-apa. Jangan dipikirkan." kataku sambil mengusap-usap kepalanya.
"Hmm, aku ingat Sasuke. Kejadian waktu itu..." lanjut Sakura. "Seperti biasa aku menguntitmu. Berjalan di belakangmu, melihatmu dari kejauhan. Iya, aku selalu melihat sosokmu dari belakang yang rasanya setiap kali kucoba tuk ulurkan tanganku, aku tetap tak bisa menjangkaumu. Rasanya sakit. Aku sakit melihatmu bisa tertawa bersama orang lain. Kenapa tidak denganku? Aku menderita dan merasa sesak karenanya. Setelah kupikir aku sudah sampai pada batasku, aku tak tahan lagi. Terlebih ketika kau bilang kau akan bahagia kalau aku mati. Karena itu aku... hik... hik... aku putuskan untuk mewujudkannya. Apapun asal kau bahagia..."
"Stt, sudah cukup, jangan diteruskan." Sekarang malah hatiku yang merasa sesak mendengarnya, "Lupakan saja Sakura. Dan maaf akulah yang sudah membuatmu jadi begini."
"Hik...hik... Tadi, setelah kita bertengkar tanpa sadar kakiku melangkah ke tempat itu. Kenanganku bangkit. Dan aku menyadari kalau aku sangat mencintaimu. Kusesali kalimat perpisahan yang sudah kuucapkan padamu. Padahal aku tak ingin berpisah darimu..."
"Aku juga, makanya aku putuskan untuk mengejarmu. Dan kau tahu Sakura, mungkin insting itu sudah sejak lama ada dalam diriku. Tubuhku juga bergerak sendiri menghampirimu. Aku tak bisa mengabaikanmu. Waktu itu pun saat aku melihatmu jatuh..." Aku menggeleng, cepat kuenyahkan kenangan mengerikan yang sempat terlintas dipikiranku. Saat melihat Sakura berlumuran darah tak berdaya. "Hmm, syukurlah kali ini kau tak apa-apa. Aku takut membayangkan kejadian yang sama terulang lagi. Jangan kau ulangi ya..."
"Hn." Sakura mengangguk di dadaku.
"Bagus. Sekarang apa kau sudah merasa lebih baik?" tanyaku.
Sakura melepaskan dekapannya. Sejenak dia usap wajahnya. Walau sembab di mata masih tampak jelas, tapi perlahan sudut bibir itu terangkat. Dan perasaan lega menyelimutiku tatkala kulihat senyumannya kembali mengembang.
"Iya, Sasuke~..." jawab Sakura, terdengar ceria.
.
.
\=0\=0\=0\=0\=
.
.
Hari-hari berat telah kami lewati. Banyak kejadian yang memberiku makna dan pelajaran berarti. Satu hal yang pasti dan kini kusadari, sosok Sakura dalam hidupku begitu penting. Aku tak ingin kehilangan dirnya, melihat tangis dan kesedihannya atau senyuman pudar dari wajahnya.
Aku suka melihat Sakura yang sekarang berbahagia bersamaku...
"Sasuke, lebih bagus pink atau putih susu?" tanya Sakura sembari memperlihatkan dua buah gaun kehadapanku.
"Terserah." jawabku singkat, sambil menatap bosan.
"Sasukeeee~..." rajuk Sakura, "Jangan bilang terserah terus dong. Bantu aku pilih yang manaaa..."
"Hn."
"Yang mana?" tanya sakura, terus ngotot.
"Pink." jawabku sekenanya.
"Eh, kok pilih pink sih. Rambutku saja sudah merah muda, kalau pakai ini apa nanti tak terlalu mencolok? Kenapa tak pilih putih susu, modelnya juga kan jauh lebih manis..."
"Kalau itu maumu, kenapa tanya pendapatku?" gumamku malas. Apa sih maunya, kami sudah habiskan waktu hampir dua jam di butik ini cuma untuk sekedar belanja gaun. Aku sudah kesal setengah mati menemani Sakura yang plin-plan pilih ini-itu gak jelas apa maunya. Padahal tinggal ambil saja satu yang dia suka atau borong semuanya kalau terlalu bingung.
"Iih, dasar cowok gak peka!" gerutu Sakura sambil melengos pergi.
"Kenapa marah padaku, dia sendiri yang akan pakai gaun itu..."
"Dia melakukannya untukmu, Sasu..." sela Kaa-san sambil tertawa kecil, "Kau tak mengerti hati wanita ya, Sakura ingin tampil cantik dihadapanmu. Wajar dia bersikap begitu."
Terprovokasi ucapan Kaa-san barusan, aku segera hampiri Sakura yang masih tampak sibuk memilih-milih pakaian.
"Hei, sudahlah tak perlu bingung. Bagiku tak masalah pakaian apapun yang kau kenakan, pasti cantik kok." kataku pada Sakura, "Cepat pilih mana saja..." gerutuku yang berharap bisa segera akhiri kegiatan membosankan ini.
"Err, iya, iya, iya, aku pilih..." Sakura ambil dua pasang baju, "Jadi yang mana yang lebih cocok untukku?" tanyanya polos, "Biru muda atau merah marun?"
Ugh~... Rasanya dikepalaku muncul sewotan besar. Sabaaaar, Sasuke...
…
...
Akhirnya setelah lama berkutat, pilihan pun jatuh pada gaun putih susu yang sejak awal Sakura suka. Aku tak perhatikan modelnya, terlanjur kesal karena lama menunggu dan malas mencari tahu. Tunggu saja penampilannya kelak pas Sakura pakai di hari pertunangan kami lusa nanti.
Sementara Kaa-san masih mengurus sesuatu, aku dan Sakura pamit pulang duluan. Rencananya kami mau pergi kencan. Tapi Sakura masih ingin jalan-jalan sebentar di sekitar butik yang juga merangkap beauty salon and brindal ini. Aku cuma bisa menurut saja saat dia merangkul lenganku, menyeret memaksaku mengikutinya.
"Eh, Sasuke, lihat siapa itu?!" Sakura heboh sendiri. Aku gulirkan pandanganku ke arah yang dia tunjuk. Kulihat disana ada sepasang pria-wanita yang sudah tampak tak asing lagi bagi kami. "Kak Konan?!" sapa Sakura kemudian sambil melambaikan tangannya.
"Eh, adiknya Itachi. Sasuke dan Sakura kan?" balas Konan, tampak terkejut melihat kami. Tapi kamilah yang sebenarnya terkejut melihat dua orang ini berpakaian lain dari biasanya. Wedding dress. Konan berbalut gaun putih berenda dengan bahu terbuka yang tampak elegan dikenakannya. Sedangkan Yahiko, pemuda berambut jingga mentereng itu berpakaian rapih dalam stelan tuxedo hitam. Tampan dan terlihat cocok untuknya, walau masih belasan piercing itu melekat di wajahnya.
"Kalian jadi menikah? Kakak cantik sekali, ini gaun pengantinmu?" kata Sakura tampak antusias.
Konan tertawa kecil, "Iya, tapi masih sebulan lagi. Sekarang cuma mau buat foto pre-wedding. Kalian sendiri sedang apa di sini?"
"Cari gaun untuk pesta pertunangan. Kalian datang ya, acaranya lusa nanti." kata Sakura.
"Iya, Itachi juga sudah kasih kabar ke Akatsuki. Kami pasti datang."
"Eh, kalau begitu kak Sasori..."
"Hahaha~... tenang saja. Dia itu kan playboy, Sakura-chan. Tak perlu merasa tak enak hati padanya. Tapi tak kusangka kalian benar-benar serius ya. Kukira status tunangan itu cuma sekedar main-main..."
Sakura dan aku saling berpandangan. Mana mungkin main-main, kalau kami sudah lewati banyak hal untuk sampai ke tahap ini.
"Lalu kapan kalian menikah?" tanya Konan. Sontak bikin aku dan Sakura blushing. "Kalau sudah ok, lebih cepat lebih baik lho~..." godanya kemudian.
"Ah, haha~ entahlah, kami masih terlalu muda." jawab Sakura malu-malu.
"Justru karena masih muda kan, libidonya tinggi, hasrat mengebu-ebu, awas loh entar gak tahan terus kebablasan kayak kami, hihihi~... Kalau sudah menikah kan kalian berdua dapat lebih saling menjaga satu sama lain. Wah, aku terlalu banyak bicara ya..."
"Err, tidak juga..."
"Dan kau Sasuke, kalau jadi nikah muda lalu butuh pekerjaan untuk menghidupi istrimu, kapan saja datanglah ke Akatsuki. Lowongan butler selalu kosong untukmu, hahaha~..." masih saja Konan menawariku pekerjaan memuakan itu.
Tch, jangan harap aku bakal kerja di sana.
...
Obrolan berakhir tatkala ada panggilan pemotretan. Konan dan Yahiko pamit pergi. Sakura yang masih ingin melihat sesi pemotretan itu kembali menyeretku mengikuti mereka. Dan kuperhatikan gadis itu tampak bersemangat melihat kebersamaan Konan dan Yahiko dalam berbagai pose mesra.
"Sakura, kau ngiler tuh. Sudah ingin nikah juga yaa~..." godaku.
"Eh? Ti, tidak kok. Siapa yang mau nikah..." bantah Sakura gelagapan.
"Tidak mau menikah denganku?" tanyaku.
"Tentu saja mau." jawabnya cepat. "Eeh..." lekas dia tutup mulutnya. Mungkin barusan merasa malu, bicara terus terang seperti itu. Wajah Sakura merona merah, "Ehem, itu, itu karena aku hanya senang melihat mereka. Aku juga ingin tampak bahagia seperti itu denganmu..."
"Hn," Aku genggam tangan Sakura yang berdiri di sebelahku, "Tentu saja. Kau akan bahagia bersamaku."
…
…
...
Dalam perjalanan pulang, entah kenapa aku jadi memikirkan perkataan Konan tadi. Intinya persis seperti apa yang sempat dulu Itachi katakan padaku. Kalau aku tak ingin kehilangan Sakura, ingin memiliki dia seutuhnya, ada cara lain yang lebih baik. Pernikahan.
Begitukah...?
...
Sampai di depan gerbang rumah keluarga Haruno aku hentikan laju viper-ku. Dalam diam, kulihat Sakura telah melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Sampai jumpa, Sasuke…" pamitnya seraya mendaratkan kecupan di pipiku.
"Tunggu!" cegahku, bikin gadis itu kembali menoleh dan menatapku.
"Ya?" tanyanya.
"Sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan."
Jidat lebar itu sedikit berkerut, mungkin merasa heran. Terlebih lagi ketika aku minta dia kembali duduk di sampingku dan menutup pintu mobil yang terbuka.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Soal lusa…"
"Ng? Lusa, hari pertunangan kita?"
"Hn."
"Kenapa memangnya?"
"Aku sudah memikirkannya, dan menurutku lebih baik kita batalkan saja…" ucapku datar.
"Eeh…?" Wajah Sakura berubah tegang. Cairan bening tampak cepat berkumpul diatas irisnya. "A, apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kau…" bibir itu gemetar, Sakura bicara dengan suara yang bergetar. "Kau tak inginkan aku jadi…"
"Bukan." bantahku cepat sebelum Sakura salah paham. Kusambar tangannya yang gemetar lantas kugenggam erat. "Dengarkan aku bicara sampai selesai, ini tak seperti yang kau kira..."
"Lalu apa?!" bentak Sakura, nyaris menangis. "Apa maksudnya ingin dibatalkan?! Apa sebenarnya maumu…"
"Menikahlah denganku."
Emerald itu seketika membulat tatkala kuucapkan kalimat ajakan tulus itu. Butiran air mata yang sedaritadi tertahan justru kini mendesak turun. "Me, menikah? Kau bilang apa? Aku tak salah dengar, kan? Sasuke, kau… kau melamarku?" tanya Sakura dengan suara samar dan tercekat.
"Hn." Kusunggingkan bibirku, memberikan satu senyuman. Kurengkuh wajah Sakura seraya menghapus air mata di pipinya. "Iya. Meskipun kita sudah jelas bertunangan tapi aku tetap ingin mengatakannya langsung padamu. Aku serius Sakura…" Kuberikan kecupan-kecupan ringan di bibirnya. "Aku mencintaimu… Jadilah pasangan hidupku… Selamanya… Satu-satunya bagiku… Milikku seorang… Sakura… Hmmph…"
"Aaa~hh hmmph… Sasuke~…"
Usai berpagutan Sakura berhambur memelukku. Tangisnya malah tumpah. Terisak di dadaku. Mungkinkah ini bentuk perasaan bahagianya?
"Apa jawabanmu?" tanyaku.
"Iya. Tentu saja iya… Iya. Iya, Sasuke…" ucapnya berulang kali. Dia eratkan dekapannya.
"Ah, hahaha~… senangnya, kau jawab iya. Padahal lamaranku jelek." kataku seusai Sakura kembali tenang, "Aku tak cukup romantis. Hanya begini saja…"
Sakura menggeleng. Masih sesegukan, dia seka sendiri tangisnya. "Ini bagus sekali. Aku bahagia karena kau yang mengatakannya. Terima kasih."
"Hn. Terima kasih juga, Sakura."
…
…
...
Aku buka pintu mobil, berjalan melewati depan Viper. Kubukakan pintu untuk Sakura seraya kuulurkan tanganku. "Ayo,…" ajakku. Sambil tersenyum gadis itu meraihnya dan kami berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.
"Kau yakin?" tanya Sakura.
Sejenak kuputar pandanganku, melihat ke arah rumah kediaman Haruno.
"Hn. Orangtuamu tak akan menentang kan?"
"Coba saja bicara pada mereka. Dan mungkin sebaiknya kita juga kabari bibi Mikoto dan paman Fugaku. Ehm, kira-kira bagaimana reaksinya ya?"
"Hn." Aku gendikan bahuku. "Entahlah…"
Satu hal yang pasti, mereka akan terkejut mendengar keputusan kami.
.
.
\=0\=0\=0\=0\=
.
.
Dua hari kemudian…
…
Cklek...
"Ya ampun, apa yang kau lakukan Sasuke? Jam segini baru mandi?" cengang Itachi begitu masuk kamar mendapatiku masih telanjang dada dan hanya berbalut handuk yang melingkar di pinggang.
"Maaf, aku bangun kesiangan." jawabku, rada nyengir.
"Ck~ gak kau, gak Sakura, kalian berdua sama saja. Bagaimana bisa kalian masih sesantai ini..."
"Memangnya kenapa, acara juga mulai jam delapan kan? Aku tinggal pakai tuxedo-ku."
"Ah, tidak ada tuxedo. Ganti!" kata Itachi.
Dia rebut kembali kemeja putih yang hendak kukenakan. Buat aku mengernyit heran. Apalagi ketika malah dia sodorkan kotak pakaian lainnya padaku. Aku buka kotak itu. Didalamnya ada lembaran kain berwarna gelap. Setelan montsuki hitam dengan hakama dan haori. Sejenak aku tertegun menatap bordiran bentuk kipas merah-putih yang merupakan lambang keluarga Uchiha itu menghiasi bagian montsuki.
"Nii-san ini...?"
"Seorang Uchiha harus memakainya di hari sepenting ini." Itachi nyengir lebar, "Ayo cepat. Aku bantu kau berpakaian..."
...
...
...
"Wow, cocok juga..." telisik Itachi memperhatikanku.
Aku terkesima sesaat menatap sosok pantulan diriku dalam cermin. Seperti biasa, pemuda tampan, bertubuh tinggi proporsional dengan stylist rambut raven keren, namun tampak lain kali ini dalam balutan kimono berwarna hitam.
"Untung aku masih bisa mendapatkannya dari Pein dan Konan. Mereka bersedia menukarkan nomor antrian designer Ageha khusus untuk baju ini." lanjut Itachi. "Anggap saja sebagai hadiah pernikahan adikku yang mendadak ini, katanya. Kau suka?"
"Nii-san..." Aku berbalik menghadap kakakku itu. Tak tahu harus berkata apa, sementara kutatap lekat wajah dan onyx-nya.
Itachi mengangguk, "Kau sudah pikirkan ini baik-baik, kan Sasuke? Hahaha~..." Dia letakkan sebelah tangannya diatas bahuku seraya memperlihatkan senyuman khas-nya. "Adik kecilku yang manis sekarang malah sudah jauh lebih dewasa. Berbahagialah bersama Sakura. Kekkon omedetou gozaimasu. Suenagaku oshiawaseni."
"Hn," Aku mengangguk mantap dan balas tersenyum padanya. "Arigatou, Onii-chan..."
...
...
...
"Kau sungguh sudah mantapkan hatimu, Sasuke?
"Jangan tarik kembali keputusanmu atau berencana membatalkannya sekarang."
Ucap pria bercambang putih dan wanita berambut pirang panjang kembali menasehatiku.
"Hn, tentu saja." jawabku penuh keyakinan. "Aku pasti akan menjaga Sakura dan membahagiakannya. Percayakan putri kalian berdua padaku sekarang." lanjutku sambil setengah membungkukkan badan.
"Iya, Sasuke, kami percayakan Sakura padamu."
"Terima kasih, paman, bibi..."
"Lho kok masih panggil paman bibi. Harusnya kan Too-san dan Kaa-san, hahaha~..." Jiraiya tertawa.
"Err, ya... Arigatou gozaimasu. Too-san... Kaa-san..." kataku dengan wajah yang serasa terbakar, pasti merona merah. Rasanya malu, pertama kalinya aku bilang begitu pada mereka.
"Sasuke~...?!"
Terdengar suara khas memanggil, aku menoleh dan senyumku seketika mengembang saat melihatnya. "Sakura..."
...
Dulu, jauh sebelumnya aku memang pernah membayangkan tentang hari pernikahanku dengan seorang Haruno. Gadis itu tiba-tiba hadir dan dipaksakan untuk jadi pendampingku. Menjadi sesuatu yang kubenci keberadaannya dan berulang kali kuyakinkan dalam diri, kalau kami terus melangkah bersama kelak hanya akan ada penyesalan.
"Tunanganku yang malang. Bagaimana nasibmu nantinya kalau kita benar-benar jadi menikah? Hidupmu akan sengsara bila kau tetap mau bersamaku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah mencintaimu. Camkan itu baik-baik, Nona Haruno!"
Kata-kata kejam seperti itu pun bahkan sempat aku ucapkan padanya. Tapi sekarang, ketika kulihat Sakura berdiri dihadapanku dalam balutan Shiromuku, kimono putih bermotif tenunan burung jenjang yang juga berwarna putih, yang tampak disana adalah masa depanku yang bahagia.
Jangan ada kesengsaraan. Jangan ada penyesalan. Sampai kapanpun aku mencintainya, Uchiha Sakura.
"Selamat atas penikahan kalian. Semoga berdua rukun selalu dan membentuk keluarga yang menyenangkan.
.
Next Last Chap..
TAMAT