
CHAPTER 15
"Namaku Sai, salam kenal."
Nada suara yang menyebalkan dan arogan membuat Uchiha Sasuke berpikir dua kali sebelum menerima jabatan tangan dari laki-laki kecil di hadapannya. Adik dari Uchiha Itachi yang masih berumur tujuh tahun itu menatap Sai yang mengulurkan tangan di depan wajahnya dengan ekspresi datar. Sama sekali tidak berusaha menyembunyikan fakta bahwa dia cukup malas untuk berkenalan dengan Sai yang juga seumuran dengannya.
Mendengus, Sasuke hanya membuang wajahnya tanpa membalas jabatan tangan Sai sama sekali, "Uchiha Sasuke," jawabnya sinis. Melihat reaksi Sasuke membuat Sai membuka mulutnya sedikit sebelum menarik tangannya kembali ke samping tubuhnya.
Mereka berdua sama sekali tidak bergeming dari posisi masing-masing. Saat ini adalah pertama kalinya mereka dipertemukan satu sama lain setelah diberi tahu bahwa orang tua mereka adalah teman semasa SMA. Sai melirik orang tuanya dengan orang tua Sasuke yang sedang berbincang ria di ruang tamu, sementara kini dia dengan Sasuke hanya berdiri diam di halaman depan rumah Sai. Menyadari Sai yang terus menatapnya, membuat Sasuke kembali membalas tatapan Sai lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Apa?"
Pertanyaan Sasuke membuat Sai menaikkan kedua alisnya. Oh, apa Sasuke mau mengajaknya bicara? Sai mengaitkan kesepuluh jarinya di belakang tubuhnya lalu tersenyum tanpa arti, "Tidak apa-apa," jeda sejenak, dia kembali melanjutkan, "aku hanya berpikir kau pasti anak yang menyebalkan, Sasuke."
Sasuke langsung membulatkan kedua bola matanya. Apa-apaan anak ini... baru pertemuan pertama saja sudah mau mengajaknya berantem? Sasuke menggertakkan giginya kesal lalu menudingkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Sai yang mengernyitkan alisnya, "Dengar ya! Meskipun orang tua kita berteman, bukan berarti aku juga mau berteman denganmu!" Sasuke kembali membuang wajahnya sembari melipat kedua tangannya di depan dada, "Senyummu menjijikkan!"
"Jadi, kau tidak mau berteman denganku karena senyumku menjijikkan?" Sasuke melirik saat Sai menatapnya sembari menelengkan kepalanya dengan pandangan bertanya, "Baiklah, kalau begitu aku tidak akan tersenyum lagi," jawab Sai dengan polos.
"Bukan begitu!" teriak Sasuke frustasi. Tanpa dia sadari, dia sudah berbicara lebih banyak pada orang lain selain keluarganya sendiri dimulai dari sekarang, "Kau itu bodoh ya?" lanjutnya bertanya sembari memukul dahinya sendiri dan menghela napas.
Melihat Sasuke yang terlihat kelelahan berdebat dengannya—meskipun baru sedikit, membuat Sai tersenyum kecil. Gerutuan Sasuke tidak didengarnya karena Sai sudah terlanjur sibuk memperhatikan setiap ekspresi Sasuke yang akan dipelajarinya perlahan-lahan. Jujur saja, ini pertama kalinya Sai berbicara dengan anak laki-laki yang seumuran dengannya. Sudah diputuskan di keluarganya... sejak TK sampai nanti SD kelas tiga, Sai akan sekolah di rumahnya—dengan kata lain home schooling—karena alasan tertentu.
Waktu mendengar dari orang tuanya bahwa nanti teman-teman mereka sejak SMA akan datang bersama dengan anak mereka yang seumuran dengannya, Sai merasa bingung sendiri. Pasalnya orang tua Sai meminta Sai untuk berteman baik dengan anak dari teman mereka itu—melupakan kenyataan bahwa anak mereka sendiri belum pernah mencoba berteman dengan siapapun.
Merasa percuma bertanya dengan orang tuanya, akhirnya sehari sebelum kedatangan Sasuke dan satu anak lagi yang saat ini belum datang, Sai langsung membaca buku-buku dongeng yang dimilikinya. Dimulai dari dongeng dengan tokoh binatang, manusia, sampai benda mati. Sai mengurung diri di kamarnya seharian hanya untuk mempelajari bagaimana caranya berkenalan dengan orang lain.
Tapi sialnya, Sai lupa mempelajari bagaimana caranya membuka atau mencari topik pembicaraan dengan orang lain. Dan Sasuke bisa dikatakan sebagai pilihan terakhir untuk mengajarinya hal tersebut. Melihat sekali saja Sai sudah tahu Sasuke pasti bukan anak yang bisa menikmati pembicaraan yang ada semudah itu.
Jadi... siapa yang bisa mengajarinya?
Di saat tidak tahu harus berkomunikasi tentang apa lagi, Sai dan Sasuke masing-masing hanya berdiri diam berhadap-hadapan tanpa adanya suara yang terdengar di sekitar mereka. Sai menatap Sasuke polos sementara Sasuke menatapnya kesal—masih karena masalah tadi.
Sasuke mulai risih dengan tatapan Sai yang terlihat mempelajari dan menilainya tanpa seizinnya. Sebenarnya Sasuke tidak mau ikut ke acara reuni kecil-kecilan orang tuanya ini karena kakaknya tidak ikut bersamanya. Tapi dengan ancaman tidak boleh bermain game lagi jika Sasuke tidak mau ikut, akhirnya Uchiha bungsu itu pun tidak punya pilihan lain. Dan hal itu sukses menjadi salah satu alasan pemicu mood-nya yang kurang baik hari ini.
KRIET
Suara pagar rumah Sai yang terbuka membuat kedua laki-laki kecil itu menoleh. Ah, sepasang orang tua datang lagi, yang pria berambut pirang dan yang wanita berambut merah panjang. Baik Sai dan Sasuke sama-sama menaikkan sebelah alisnya. Orang tua mereka memang bilang mereka akan mendapat dua teman baru yang seumur dengan mereka. Berarti tinggal satu lagi...
"Naruto! Jangan mendorong-dorong ibu!" gusar wanita berambut merah panjang tersebut dengan suara yang keras. Sasuke dan Sai langsung merinding, suara wanita cantik itu terdengar menggema dan menyeramkan. Tapi, ekspresinya langsung berubah lembut begitu melihat Sai dan Sasuke di depannya, "Wah, kalian pasti Sai dan Sasuke. Naruto, ayo perkenalkan dirimu!" sahut wanita itu cepat dan langsung mendorong punggung anaknya yang sekilas terlihat mirip dengan ayahnya itu.
Sangat berlawanan dengan sang wanita, pria yang tadi bersama mereka terlihat begitu tenang. Laki-laki berambut pirang dan beriris biru langit tersebut tersenyum pada ketiga anak yang sebentar lagi akan menjadi teman atau bahkan sahabat, "Ayah dan ibu akan masuk ke dalam, Naruto. Kau berteman baik dengan dua teman barumu ya," ucapnya memberi nasihat dan tersenyum tipis. Lalu kedua pasangan suami istri itu pun masuk ke dalam ruang tamu dimana dua pasang orang tua yang lain sudah menunggu.
Sai dan Sasuke saling menatap satu sama lain dengan pandangan bertanya. Berbeda dari keduanya yang terlihat begitu tenang dan masuk ke dalam golongan anak baik-baik, anak baru yang akan bergabung dengan mereka ini terlihat berantakan dan tidak bisa diam meskipun hanya sebentar.
Laki-laki kecil yang berambut pirang seperti ayahnya itu juga menatap Sai dan Sasuke secara bergantian. Setelah tenggelam dalam keheningan di antara mereka bertiga untuk beberapa saat, Naruto langsung menunjukkan deretan gigi putihnya dan berteriak dengan semangat. Spontanitas membuat dua yang lain reflek menutup telinganya karena kaget.
"SALAM KENAL! NAMAKU UZUMAKI NARUTO!"
.
.
.
.
.
.
.
.
"NARUTO! JANGAN TIDUR DI KELAS!"
DHUAK
Dengan indahnya penghapus papan tulis mengenai kepala Uzumaki Naruto yang menyandarkan kepalanya di atas meja. Bersamaan dengan anak presdir Uzumaki yang langsung bangun karena kaget, para murid lain di dalam kelas pun tertawa melihat wajah Naruto yang kebingungan. Setelah mengumpulkan nyawa dan berusaha mengingat keadaan terakhirnya sebelum dia jatuh tertidur, akhirnya kekasih Hyuuga Hinata itu menggaruk belakang kepalanya sembari tertawa kikuk.
"Hehe, maaf maaf Iruka-sensei," ucapnya mencoba mencairkan suasana yang semakin memanas. Dimana anak-anak yang lain dengan santainya terus tertawa mengabaikan guru mereka di depan kelas yang telah memperlihatkan keempat siku-siku menempel di ujung dahinya. Wajah Naruto memucat melihat ekspresi guru yang paling sering memarahinya sejak kelas X, "ne, maafkan aku ya, sensei? Tadi malam aku kurang tidur sih," lanjut Naruto memberi alasan.
Para murid langsung bersorak setelah mendengar alasan Naruto. Beberapa ada yang menimpali dengan alasan-alasan konyol—dari logis sampai tidak logis sama sekali—dan hal itu membuat Naruto menggembungkan pipinya karena kesal. Melihat wajah Umino Iruka yang semakin menyeramkan saja membuat laki-laki malang itu mulai panik. Hinata tidak satu kelas dengannya, jadi yang bisa dimintainya tolong di saat seperti ini adalah...
"Sai! Neji!" Naruto langsung menoleh ke belakang, lebih tepatnya di belakangnya bagian ujung kanan. Di sana salah satu sahabatnya dan saudara sepupu kekasihnya duduk bersebelahan. Mendengar namanya dipanggil membuat Sai dan Neji menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Naruto langsung memasang wajah memelas terbaiknya, "Tolong aku, dong! Aku bisa dibunuh Iruka-sensei!" pintanya nyaris berteriak karena suasana kelas yang semakin bising.
Melihat wajah Naruto membuat Sai segera menutup mulutnya—entah kenapa. Walau begitu, Naruto cukup yakin laki-laki berambut hitam kelimis itu sedang menertawakannya di balik tangannya tersebut. Tak butuh waktu lama sampai tangan Sai yang lain terangkat lalu melambai ke arahnya. Dari gerakan-gerakan Sai itu, Naruto bisa membaca kata-kata yang ingin disampaikan Sai padanya.
"Semangat ya, aku cukup melihat dan menertawakanmu dari sini, Naruto. Hahahaha!"
Sialan.
Naruto mencibir kesal. Dasar Sai, tidak bisa diandalkan di saat seperti ini. Akhirnya masih dengan wajah memelas, Naruto mengalihkan perhatiannya ke arah Neji yang duduk di samping Sai. Tapi... jangankan bisa sedikit membantu, ekspresi Hyuuga Neji jauh lebih parah. Laki-laki berambut coklat panjang itu menatap Naruto sinis dan rendah. Sudut bibirnya terangkat dan sekilas terlihat berkedut. Jelas sekali dia bermaksud mengejeknya, beda dari Sai yang masih berusaha menyembunyikan maksud jeleknya. Mengingat Neji yang masih enggan merestui hubungannya dengan Hinata, kurang lebih Naruto bisa mengira kata-kata yang ditujukan padanya dari Neji saat ini.
"Tidak akan pernah kubiarkan saudara sepupuku yang cantik dan sempurna memiliki kekasih tukang tidur sepertimu, Uzumaki Naruto!"
Atau...
"Ha! Akhirnya kau menunjukkan juga sisi memalukanmu itu, aku akan segera memberi tahukan hal ini pada Hinata-sama!"
Atau...
"Seandainya saja Hinata ada di sini, selesai sudah hubungan kalian. Mwahaha!"
Dan yang lebih parah adalah...
"Mati sana."
Aaargh, sama saja! Naruto menggaruk rambutnya frustasi dan langsung memutar tubuhnya kembali menghadap depan. Tapi itu pilihan buruk, karena sekarang Iruka sudah berdiri tepat di depan mejanya dengan ekspresi wajah yang horror. Guru yang memiliki luka melintang di bawah kedua matanya itu tersenyum berbahaya. Di tangan kanannya sudah ada gulungan buku yang siap dipukulkan pada kepalanya kapan saja. Dengan panik Naruto segera memutar kepalanya, kini ke belakang sudut kiri, dimana sahabatnya yang satu lagi duduk di sana.
"Sasuke! To—"
Eh?
Apa-apaan ekspresi itu?
Uchiha Sasuke tidak melihatnya. Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya sehingga ekspresinya tidak terlalu disembunyikan. Kedua bola mata Sasuke terasa kosong. Dia melihat lurus ke depannya namun tidak ada satupun bayangan yang terpantul dari kedua matanya itu. Seolah kini pikirannya terbang ke dunia yang lain dan jiwanya hilang dari raganya. Naruto mengernyitkan alisnya heran. Sementara gadis di sebelah Sasuke melihat ke arah jendela—membuang muka—sehingga Naruto tidak bisa melihat ekspresinya.
Pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum masuk kelas tadi pagi. Naruto memang sempat melihat Sasuke dan Haruno Sakura masuk ke dalam kelas berdampingan. Tapi mereka tidak bicara satu sama lain atau bahkan hanya sekedar melirik. Padahal di hari sebelumnya Naruto sempat bermain ke rumah Sasuke dan Uchiha bungsu masih terlihat seperti biasanya.
Namun belum sempat Naruto memikirkan semua kemungkinan yang ada, pukulan telak dengan buku yang digulung mendarat keras di kepalanya. Naruto langsung mengeluh kesakitan diiringi tawa anak-anak di dalam kelas. Bahkan Sai dan Neji pun yang biasanya bersikap tenang dan tak peduli kini tidak bisa menahan tawanya. Walau begitu, tetap saja Sasuke dan Sakura tidak berubah dari posisi mereka masing-masing. Seakan keduanya sedang dikunci di dalam dunia yang berbeda dimana hanya ada mereka berdua di sana.
Omelan-omelan Iruka pun menggema di ruangan kelas sekarang. Pelajaran bahasa Jepang yang seharusnya diajarkan pada jam ini pun seolah terlupakan begitu saja—ucapkan terima kasih pada Uzumaki Naruto. Sementara Naruto hanya bisa mengangguk takut-takut di depan Iruka yang memarahinya, Sai menghentikan tawanya. Entah mengapa kedua matanya tiba-tiba ingin menoleh ke arah tempat duduk mantan kekasihnya berada.
Dan pemandangan yang didapatnya tidak jauh beda dari yang dilihat Naruto tadi. Baik Sasuke maupun Sakura keduanya menjadi tak lebih bagaikan patung yang kebetulan diletakkan di dalam kelas. Sai mengernyitkan alisnya. Mungkin kalau hanya Sasuke dia tidak akan peduli, tapi kenapa sampai Sakura juga?
Tidak ada pilihan lain selain menanyakannya secara langsung.
#
.
.
.
#
Akhirnya waktu istirahat telah tiba. Para murid langsung berdiri dan berkumpul bersama temannya masing-masing untuk pergi ke kantin bersama-sama. Begitu pula Naruto. Duduk diam saja menunggu yang tidak pasti bukanlah caranya. Sekarang juga, bagaimana jika mulai mencoba untuk menyatukan kembali persahabatan mereka bertiga seperti dulu perlahan-lahan?
Dengan semangat, Naruto melompat dari kursinya lalu langsung menghampiri Sasuke yang sedang menutup buku pelajaran pada jam sebelumnya, "Sasuke, ayo ke kantin!" ajaknya tanpa harus memelankan volume suaranya. Sekilas Naruto sempat melihat Sakura melirik ke arahnya lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.
Melihat gerak gerik Sasuke, Naruto tahu Sasuke pasti akan menjawab... "Aku tidak—"
"Kutraktir!" tidak memberi kesempatan pada Sasuke untuk menolaknya dan memberinya alasan, Naruto langsung menarik Sasuke. Memaksa laki-laki beriris onyx tersebut bangkit dari kursinya dan berdiri. Sasuke menghela napas, dalam keadaannya sekarang dia terlalu malas untuk berdebat dengan Naruto. Biarlah, mungkin dengan makan sedikit dia bisa melupakan sejenak hal-hal yang membuatnya tertekan akhir-akhir ini.
Tak peduli meskipun tangannya masih dikunci kuat dengan tangan Naruto, Sasuke membiarkan tubuhnya yang lemas mengikuti gerakan tubuh sahabatnya sejak kecil tersebut. Tadinya Sasuke kira setelah Naruto menarik tangannya, keduanya akan langsung keluar kelas. Tapi, dugaannya salah, dengan santai Naruto menyeret Sasuke yang masih setengah sadar ke tempat duduk Sai berada.
"Sai, kau juga! Ayo, kita ke kantin! Sudah lama 'kan kita tidak ke kantin bertiga?"
Baik Sasuke dan Sai, keduanya langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Kedua bola mata mereka sama-sama membulat kaget, menatap sahabat mereka yang berambut pirang itu tersenyum tenang tanpa merasa berdosa sama sekali. Tidak memikirkan kemungkinan bahwa perbuatannya ini akan menghasilkan resiko buruk ke depannya.
Tak hanya keduanya, Neji, bahkan Sakura juga langsung menoleh ke sumber suara. Sekarang sepasang mata keempat orang—minus Naruto—yang berada di dalam kelas saat ini telah tertuju pada laki-laki beriris biru langit tersebut. Tangan Naruto yang tidak memegang tangan Sasuke kini menggaruk belakang kepalanya sembari menunjukkan deretan gigi putihnya. Mencoba seperti biasanya, walau sebenarnya keringat dingin di pelipisnya cukup membuktikan bagaimana tegangnya dia saat ini.
Sai yang lebih dulu memutuskan kontak di antara keempatnya, laki-laki itu membuang wajahnya dan memejamkan matanya sembari mengambil buku sketsa yang biasa dibawanya dari dalam tas, "Aku tidak lapar," jawabnya dingin.
Tertawa kecil, Naruto mulai mencoba salah satu aksi yang diandalkannya, "Ayolah, Sai. Aku trak—"
"Aku tidak lapar," jawab Sai untuk yang kedua kalinya. Jauh lebih dingin dari sebelumnya. Hal ini membuat Naruto terdiam, tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Sementara itu Sakura mulai mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Menundukkan kepalanya di atas meja. Neji menunduk, membuang wajahnya agar tidak menatap Naruto. Dan Sasuke masih tidak bergeming tapi laki-laki itu mulai menunduk dalam diam.
Percuma juga jika Naruto memaksa saat ini. Lagipula dari awal juga pemuda yang memiliki kumis kucing di pipinya itu sudah tahu, bahwa tidak mungkin hanya dalam sekali percobaan semuanya akan kembali seperti semula. Pasti bertahap dan Naruto harus bisa sabar. Anak tunggal Uzumaki itu tersenyum maklum lalu menarik lengan Sasuke yang dari tadi hanya diam.
"...Baiklah," berusaha menyembunyikan ekspresi kecewanya, Naruto tertawa kecil lalu berjalan menuju pintu kelas. Begitu sampai di ambang pintu, Naruto berhenti tanpa membalikkan tubuhnya. Sasuke menatapnya heran karena untuk beberapa saat laki-laki berumur tujuh belas tahun itu hanya berdiri diam tanpa mengatakan apapun.
Dari sudut ini, Sasuke bisa melihat sahabatnya itu tersenyum, "Tapi Sai... Jika kau mau bergabung dengan kami lagi..." dan kata-kata selanjutnya membuat semua yang mendengarnya diam terpaku. Begitu pula Sai yang juga langsung menghentikan gerakannya menggambar suatu sketsa.
"...datang saja kapanpun. Karena aku dan Sasuke akan selalu menunggu."
Sakura tersenyum mendengar penuturan kekasih Hinata tersebut. Setelah Naruto dan Sasuke pergi keluar kelas, Sakura juga ikut keluar—meski entah apa tujuannya sama dengan Sasuke dan Naruto atau tidak. Tapi yang jelas, Sai tidak terlalu memperhatikan itu sampai suara Neji membuyarkan lamunannya, "Hebat. Aku benar-benar iri padamu, Sai."
"Hah?" Sai langsung menoleh. Menatap Neji tak suka, "Jika kau berniat mengejekku, hentikan saja. Aku sedang tidak dalam mood yang baik hari ini."
"Tidak, aku berbicara sesuai dengan kenyataan yang ada," Neji tersenyum tipis menangkap basah ekspresi Sai yang sedikit gusar. Naruto memang hebat. Sepertinya kata-kata Naruto tadi memang berhasil membuat Sai goyah meskipun belum sepenuhnya. Lihat saja, garis yang digambar Sai terlihat bergelombang—tidak lurus sempurna seperti biasanya.
"Kau mempunyai sahabat-sahabat yang baik."
Menopang dagunya dengan tangannya di atas meja lalu mengambil buku tebal yang biasa dibacanya selama istirahat, Neji masih belum menghilangkan senyum tipisnya.
"Jangan membuang mereka semudah itu."
#
.
#
Uchiha Sasuke sedang memesan jenis ramen yang akan dimakannya ketika Naruto berbicara dengan seru pada pemilik toko ramen Ichiraku ini. Tak lama setelah Sasuke menentukan pilihannya, bapak-bapak tua bernama Ichiraku tersebut masuk ke dalam bersama anak gadis satu-satunya.
Setelah cukup lama terdiam, Naruto pun mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang kembali melamun seperti sebelumnya. Laki-laki itu bahkan tak sadar ketika Naruto menatapnya semakin intens bahkan sengaja mendekatkan wajahnya—walau tidak terlalu dekat. Bosan tak ada reaksi, akhirnya Uzumaki Naruto mendengus keras, "Oi, Sasuke!"
Masih diam, butuh sepersekian detik untuk Sasuke akhirnya menggerakkan kedua pupil onyx miliknya ke arah Naruto. Memberi tatapan bertanya pada laki-laki berambut spike blonde tersebut, "Kau diam terus sejak tadi," Sasuke masih diam. Akhirnya Naruto melanjutkan, "jangan membuatku terlihat seperti sedang berbicara dengan patung, dong!" gerutunya.
Sasuke melirik ke sudut kirinya. Enggan membalas terlalu banyak, "...Hn."
"Akh, kau ini!" Naruto menggaruk rambutnya sembari mengerang frustasi. Di saat yang bersamaan, seorang pelayan menaruh dua mangkuk berisi ramen di atas meja mereka lalu pergi setelah mempersilahkan Naruto dan Sasuke untuk makan, "Ah iya, nanti sore aku diajak Kiba bermain basket di lapangan belakang sekolah, mau ikut?" tanya Naruto sebelum meniup ramen-nya yang masih panas.
Dengan ekspresi yang masih kosong, Sasuke mengaduk-aduk ramen di dalam mangkuknya. Uchiha bungsu itu menghela napas pelan, "Malas..." gumamnya.
Untuk yang ke sekian kalinya Naruto kembali mengernyitkan alisnya sebal. Diseruputnya ramen yang masih menggantung di luar mulutnya, "Ya sudah!" teriak Naruto dengan sedikit emosi.
Sasuke melirik Naruto yang mulai memakan ramen dengan brutal sementara Sasuke sendiri belum memasukkan sedikit pun makanan berbentuk tali panjang itu ke dalam perutnya sama sekali. Mungkin karena sudah terlalu kesal, Naruto tidak peduli lagi apa yang sedang dipikirkan Sasuke saat ini. Meskipun sekitar mereka sangat bising, entah kenapa telinga Sasuke terasa kehilangan indra pendengarannya untuk beberapa saat. Sasuke menundukkan kepalanya lalu menarik napas dalam.
"Naruto."
Mendengar namanya dipanggil membuat Naruto langsung menghentikan kegiatannya yang sedang menyeruput ramen. Sehingga setengah dari makanan itu masih menggantung di bawah mulutnya. Laki-laki berambut raven tersebut tersenyum tipis, "Aku sudah menyatakan perasaanku pada Sakura."
"HMMPP!?" kaget, Naruto langsung buru-buru menyeruput ramen itu ke dalam mulutnya sampai dia tersedak sendiri. Laki-laki beriris biru langit itu menyambar gelas berisi teh di dekatnya lalu meminumnya dalam sekali teguk sampai habis, "HAH? YANG BENAR, TEME!?" teriaknya segera setelah membanting gelas tersebut ke atas meja.
Naruto membulatkan kedua bola matanya sementara Sasuke mencoba tertawa hambar di depannya. Karena Naruto tidak memberi tanggapan lagi, Sasuke pun melanjutkan acara makannya. Adik dari Itachi itu terlihat sedikit lebih lega dari sebelumnya, mungkin karena dia telah mengeluarkan sebagian dari bebannya.
Awalnya Naruto merasa ragu, namun akhirnya dia tetap bertanya, "Lalu, bagaimana dengan Sai?"
Gerakan Sasuke terhenti. Laki-laki yang memiliki rambut berwarna biru dongker tersebut melirik sudut kirinya sebelum memejamkan kedua matanya, "Nanti kau juga akan tahu," jawabnya.
Tapi, bagi Naruto itu sama sekali bukan jawaban. Dulu, saat dia bertanya pada Sasuke soal siapa yang disukai laki-laki itu, Sasuke juga menjawab dengan jawaban yang sama dan berakhir dengan Naruto yang tetap tidak tahu apa-apa sampai Sasuke dan Sai bertengkar di atap sekolah. Naruto menggertakkan giginya. Uchiha Sasuke masih sama. Masih sama seperti dulu. Egois, keras kepala, dan—
—menyimpan semua masalahnya sendirian.
BRAK! Sasuke tersentak ketika Naruto tiba-tiba menggebrak mejanya. Belum sempat Sasuke bertanya ada apa, bocah rubah itu memakan ramen-nya dengan kecepatan penuh. Tak sampai sepuluh menit, mangkuk ramen-nya sudah tersapu bersih. Sasuke menatap Naruto aneh dan tanpa berkata apa-apa lagi, laki-laki berambut pirang itu berdiri dari kursinya. Setelah meninggalkan sejumlah uang di atas meja, Naruto berlari meninggalkan Sasuke yang mangkuk ramen-nya masih terisi penuh.
Padahal biasanya jika mangkuk Sasuke masih penuh seperti sekarang, Naruto akan berusaha membujuk Sasuke untuk memberikan ramen-nya pada laki-laki yang memiliki kumis kucing tersebut. Tapi sekarang tidak. Dan biasanya Naruto membalas salam Paman Ichiraku sebelum keluar toko ramen, tapi sekarang lagi-lagi tidak.
Ada yang tidak beres.
Sasuke mengernyitkan alisnya dalam kemudian melanjutkan acara makannya secepat yang dia bisa.
#
.
.
.
#
Napas Naruto menderu cepat kala dia berlari menyusuri tangga dan lorong sekolah dimana pada jam istirahat seperti ini seluruh sudut sekolah dipenuhi para murid. Beberapa kali bahu Naruto menabrak anak-anak yang sedang berjalan. Tak dipedulikannya umpatan-umpatan yang ditujukan padanya, yang penting sekarang dia sampai pada tujuannya yang sebenarnya.
Pada jam seperti ini, biasanya...
BRAK!
Haruno Sakura langsung menoleh begitu seseorang mendobrak pintu atap sekolah. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya melihat Uzumaki Naruto yang menatapnya tajam dengan napas yang tidak beraturan. Tatapan tajam Naruto entah kenapa membuatnya bergetar ketakutan. Secara reflek, Sakura memundurkan tubuhnya hingga pagar kawat menghalangi jalannya. Sementara itu, Naruto pun mulai melangkah mendekati Sakura yang menatapnya bingung.
"A-Ada apa?" tanya Sakura dengan nada bergetar. Apa lagi sekarang? Bukankah seharusnya semua sudah selesai dengan keputusannya tadi pagi? Naruto menggertakkan giginya penuh amarah. Begitu sampai di depan Sakura, tangan kanan Naruto langsung memegang pagar kawat di belakang Sakura dengan kencang hingga suaranya menggema di antara mereka.
Tangan Naruto yang kini sejajar dengan kepalanya membuat Sakura untuk sesaat melirik ke arah tangan Naruto yang besar itu sebelum kembali menatap iris biru langit di depannya. Jarak mereka berdua sangat dekat dan hal itu sukses membuat aura kemarahan Naruto semakin menguat. Sakura tak mau kalah. Gadis yang selalu menjadi korban diskriminasi sosial di sekolah ini itu pun membalas tatapan Naruto dengan tajam.
"Sudah selesai?" pertanyaan Naruto yang muncul secara tiba-tiba membuat Sakura menghilangkan tatapan tajamnya, "Kau pikir semuanya sudah selesai jika kau menolak Sasuke, iya 'kan?" tanya Naruto dengan nada yang ditekankan.
Belum sempat tersentak karena kaget, kedua bola mata Sakura membulat, "Bagaimana—"
"Kau tidak perlu tahu dari mana aku tahu atau bagaimana, jawab saja pertanyaanku!" sekuat tenaga Naruto menahan emosi, jangan sampai dia berteriak di depan perempuan ini. Dia harus sabar, "Ayo jawab! Sebenarnya apa yang ada di kepalamu, hah?" lanjut Naruto mulai sedikit membentak.
Sakura menggertakkan giginya, "Dan kau pikir aku akan menjawabmu jika kau tiba-tiba bertanya dengan marah-marah seperti ini?" ternyata Sakura juga tersulut emosinya. Di sini dua orang yang mudah tenggelam dalam emosi pun dipertemukan. Sakura mengibas tangan Naruto sehingga terlepas dari pagar kawat yang dipegangnya.
"Tapi baiklah jika kau memang sebegitu ingin tahunya. Iya, aku berpikir semuanya akan selesai jika aku menolak Sasuke, lantas kenapa? Harusnya kau senang, 'kan? Aku tidak akan mengganggu persahabatan kalian lagi! Aku sudah keluar dari hidup kalian! Sekarang apa lagi? Masih belum cukup!?"
Naruto menggertakkan giginya melihat Sakura yang menjawab pertanyaannya dengan cepat dan sama emosinya dengan dia. Kedua tangan laki-laki itu mengepal erat di samping tubuhnya hingga bergetar.
"Kau..."
#
"Terima kasih sudah makan di toko kami!"
Sasuke mengangguk saja ketika Ayame—anak dari pemilik toko Ichiraku—mengucapkan terima kasih padanya. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu pun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya lalu berjalan seperti biasa. Diabaikannya tatapan para gadis yang selalu mengaguminya bahkan meskipun dia sedang tidak melakukan apa-apa seperti sekarang.
"Tetap terkenal seperti biasa," suara seseorang yang sangat dikenalnya membuat Sasuke menghentikan langkahnya. Tanpa harus membalikkan tubuhnya saja, kedua bola mata Uchiha bungsu itu sudah membulat karena kaget. Sai berjalan mendekat dari belakangnya, menatap tajam punggung mantan sahabatnya itu, "dan wajahmu juga tetap sombong seperti biasa. Bagaimana jika sesekali kau mencoba memakai topeng ramah sepertiku, Sasuke?"
Sasuke menoleh ketika Sai akhirnya berada di sampingnya dengan jarak sekitar satu meter, "Sai," bisiknya tanpa menyembunyikan kekagetannya. Laki-laki itu kemudian memicingkan kedua matanya, "sayangnya aku tidak suka memakai topeng. Selain merepotkan, aku juga tidak mau memiliki orang-orang bodoh yang tidak tahu apa-apa di sekitarku," balas Sasuke.
Sai tertawa sinis, "Kau berkata seperti itu, tapi kenyataannya kau sudah pernah memakainya, 'kan?" laki-laki berambut hitam jatuh itu berjalan mendahului Sasuke sehingga kini Sasuke yang menatap punggungnya, "Di depan Sakura."
Tersentak kaget, Sasuke tidak bisa membalas. Benar kata Sai, dulu dia sempat memakainya. Karena tidak mau mengakui perasaannya, dia memakai topeng dan menyakiti gadis yang disayanginya. Memakai topeng tertawa sementara di balik topeng itu wajahnya menahan sakit karena kata-kata yang terus keluar tidak bisa dihentikannya semudah itu. Walau begitu, Sasuke cukup yakin Sai tidak mungkin mengajaknya bicara hanya karena hal itu.
Tanpa perlu kata-kata, Sai kembali berjalan dan Sasuke tahu Sai bermaksud memintanya untuk mengikutinya. Sasuke mengernyitkan alisnya sebelum ikut melangkah mengikuti Sai. Entah apa yang akan terjadi. Tapi yang jelas, kemungkinannya besar tidak akan berujung baik.
Namun dari lantai dua, Yamanaka Ino melihat Sai dan Sasuke yang berjalan bersama. Gadis itu memang tahu Sasuke dan Sai adalah sahabat—dia belum tahu kalau ada masalah di antara dua laki-laki itu. Tapi... aneh. Ada suara di dalam hatinya yang menuntutnya untuk mengikuti dua laki-laki tersebut. Ino menggigit bibir bawahnya sedikit ragu. Setelah memantapkan hatinya, Putri Konoha High School itu langsung berlari mencari tangga untuk turun ke bawah.
#
Naruto menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Sakura memicingkan kedua matanya waspada melihat Naruto yang tersenyum di depannya, "Selesai, ya? Mungkin kau benar," menelengkan kepalanya, senyum Naruto berubah mengejek, "atau mungkin juga kau terlalu naif."
"Apa maksudmu?" tidak suka dengan hal yang bertele-tele, Sakura langsung menyerangnya dengan pertanyaan, "Aku tidak—"
CRANG
"Kalau memang tidak mengerti, biar kuberi tahu," Naruto kembali mendalamkan nada suaranya, "kau pikir memutuskan hubunganmu dengan Sai dan menolak Sasuke lalu keluar dari hidup kami bertiga maka semuanya akan selesai? Kau sendiri tahu bagaimana hancurnya persahabatan kami bertiga hanya karena kau!" teriak Naruto.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat, "Iya, aku tahu! Karena itu aku pergi dan—"
"KAU BUKAN MENYELESAIKAN MASALAH! KAU HANYA LARI!" kedua pupil hijau emerald milik Sakura membulat seketika, "KAU LARI DARI KENYATAAN! KAU LARI KARENA TAKUT TIDAK BISA MENGEMBALIKAN PERSAHABATAN KAMI! KAU LARI KARENA KAU TIDAK BISA APA-APA!"
Bibir Haruno Sakura bergetar begitu pula tubuhnya. Kedua tangannya mencengkram erat pagar kawat di belakangnya. Menatap Naruto yang terus berteriak di depannya dengan ketakutan. Naruto sendiri tahu dia sudah keterlaluan, tapi dia tidak dapat menahannya lagi. Semuanya tidak akan selesai jika dia hanya duduk diam dengan sabar. Tidak peduli Sakura adalah perempuan atau bukan. Laki-laki itu sudah menahan emosinya terlalu lama.
"KAU HANYA PENGECUT!"
Oh tidak...
"APA AKU SALAH? HARUNO SAKURA!"
...kata-kata Naruto terlalu benar hingga menembus dada gadis yang malang itu.
#
Sasuke menaikkan sebelah alisnya ketika Sai berhenti di depan sebuah gudang yang tidak terpakai. Begitu Sasuke melihat sekelilingnya, laki-laki itu baru sadar dia dan Sai sudah berada di belakang gedung sekolah. Tepatnya di ujung sekolah yang paling jarang dikunjungi.
Dari tempat ini saja Sasuke sudah tahu, Sai sengaja mengajaknya ke sini yang merupakan tempat kedua yang paling jarang dikunjungi setelah atap sekolah. Di atap sekolah sudah pasti ada Sakura, mungkin Sai akan membicarakan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh siapapun termasuk gadis yang mereka cintai itu.
Sai membuka pembicaraan, "Jadi, bagaimana hubungan kalian berdua, Uchiha?" melirik wajah Sasuke yang bingung dari atas bahunya, Sai kembali melanjutkan, "Kau pasti tahu maksudku."
Sasuke menelan ludahnya tegang. Mungkinkah ini kesempatannya untuk berbaikan kembali dengan Sai? Jika memang begitu, "Aku sudah ditolak," Sasuke melirik ke sudut kirinya, "jadi aku tidak mungkin menjalin hubungan dengannya."
"Ditolak?" nada suara Sai berubah. Seakan sengaja ditekankan, "Kau menyatakan perasaanmu padanya?" tanya laki-laki itu.
Uchiha bungsu tersebut mengangguk karena itulah kebenarannya. Tapi, tiba-tiba Sai tertawa. Sangat kencang hingga terdengar menggema. Sasuke sempat menatapnya kaget tapi tak lama kemudian kedua alisnya mengernyit dalam. Sai tertawa begitu lama hingga air mata muncul di sudut matanya.
"Sakura benar. Dia menepati janjinya untuk tidak menjalin hubungan denganmu. Bukankah dia gadis yang baik, Sasuke?" tawa Sai semakin lama terdengar semakin mengejek. Membuat Sasuke hanya bisa diam terpaku karena tidak mengerti apa maksudnya, "Karena itu aku semakin mencintainya, kau juga, 'kan?" begitu tanyanya tanpa menghentikan tawanya.
Dan tak lama kemudian tawanya terhenti.
"Tapi kau..." kedua bola mata Sai berubah. Ekspresinya dingin. Sangat dingin. Membuat Sasuke tanpa sadar mundur satu langkah, "...lagi-lagi kau melanggar janjimu. Kau bilang kau tidak akan mengganggu hubunganku dengan Sakura. Setelah aku dan dia berpisah, kau pikir tidak apa-apa menyatakan perasaanmu padanya, begitu? Dasar bodoh."
"Sai..."
Pelukis itu sama sekali tidak bergeming ketika Sasuke menyebut namanya. Dia justru mengangkat kepalanya, menatap Sasuke dengan pandangan rendah. Bagaikan menatap sampah busuk di depan matanya. Menjijikkan. Menjijikan. Sai menyeringai kejam.
"Dasar sampah."
Sasuke memicingkan kedua matanya semakin tajam. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Emosi mulai merambati tubuhnya secara perlahan-lahan.
"Aku bersyukur telah memutuskan persahabatan kita."
#
"LALU KENAPA!?" teriakan Haruno Sakura segera memotong perkataan Naruto. Laki-laki itu tersentak melihat Sakura yang mati-matian menahan air matanya agar gadis itu tidak terlihat lemah di depannya, "TERSERAH KAU MAU MENGATAIKU PENGECUT ATAU APA, AKU SUDAH TIDAK PEDULI LAGI!" teriaknya sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Naruto menggigit bibir bawahnya. Apa dia keterlaluan? Tapi, laki-laki berambut pirang itu sudah tidak bisa berhenti lagi sekarang, "Jadi, kau benar-benar mau lari?" tanya Naruto. Menekan kembali suaranya.
Sakura menggeleng lagi untuk yang ke sekian kalinya. Kepalanya tertunduk sementara dua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Kenapa begini? Kenapa selalu begini? Apa salah jika dia hanya ingin merasakan kehidupan sekolah yang biasa seperti anak-anak lain pada umumnya? Apa salah jika dia ingin hidup tenang dan melupakan semua masalah yang ada?
Apa salah?
Naruto juga ikut menatap Sakura yang masih menunduk di depannya. Dia tahu sebenarnya egois juga menyalahkan semuanya pada gadis yang jelas-jelas tidak bisa menghentikan takdir itu. Sai dan Sasuke yang jatuh cinta padanya. Bukan Sakura yang berusaha mendekati dan menghancurkan keduanya. Bukan pula keinginan Sai dan Sasuke mencintai gadis yang sama.
Semuanya di luar kendali masing-masing.
Sungguh. Tidak ada yang salah.
Tapi, tidak ada jalan lain selain ini. Naruto memejamkan kedua matanya lalu kembali membukanya, "Jika kau tahu caranya, apa kau mau bertanggung jawab?" tanya Naruto. Sakura tidak merespon. Walau begitu, Naruto tetap melanjutkan, "Aku tahu aku sudah keterlaluan, maafkan aku."
Ucapan Naruto membuat Sakura mengangkat kepalanya. Kedua mata gadis itu berkaca-kaca, namun hanya sesaat karena dia buru-buru menghapusnya. Anak presdir Uzumaki itu terdiam dan menarik napas panjang, "Sakura," sekarang Naruto yang menunduk sehingga Sakura tidak bisa melihat ekspresinya, "saat ini... hanya kau yang bisa mengembalikan mereka berdua seperti dulu," bisiknya.
Tangan Naruto mengepal, "Padahal aku sahabat mereka, tapi aku tidak bisa apa-apa!" kedua alis Sakura tertarik membentuk ekspresi kesedihan di wajahnya, "Aku kesal dan satu-satunya cara yang bisa kupikirkan untuk mengembalikan kami seperti semula hanya bisa dilakukan olehmu. Karena itu Sakura... kumohon..." suara Naruto mulai parau.
Sementara di lain tempat perkelahian antara Sasuke dan Sai telah dimulai, di sini Naruto hanya bisa berdiri diam mengingat kenangan-kenangan mereka bertiga dulu. Memang saat ini baik Naruto dan Sakura tidak ada yang tahu bahwa Sai dan Sasuke telah mendaratkan pukulan di wajah dan tubuh masing-masing. Naruto memejamkan kedua matanya dengan erat.
Apa semuanya sudah selesai?
Jadi, inikah akhirnya?
"Sakura, kumohon dengan sangat..."
Anak tunggal Haruno itu langsung kaget melihat Naruto yang tadi memakinya habis-habisan kini membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. Seolah laki-laki yang riang itu sedang memohon padanya. Tidak. Sakura menggertakkan giginya dan ikut memejamkan matanya dengan erat.
Memangnya apa yang bisa dia lakukan?
Apa?
"...pilih salah satu dari mereka dan jelaskan."
Sementara Sakura membulatkan kedua bola matanya, Naruto menegakkan kembali tubuhnya. Menatap Sakura dengan yakin. Seolah apa yang dia katakan sama sekali tidak salah. Laki-laki itu kemudian tersenyum lembut penuh arti yang tidak bisa dideskripsikan dengan mudah.
"Karena aku tahu siapa yang sebenarnya kau cintai, Sakura."
.
.
.
Don't ever blame other people destroy your life
.
Because your life is a result of your own choice
.
.
.
To be Continued...
.
.
.