
Chapter 4
~
Srakk!!!
Suara sebuah gulungan kertas yang ukurannya tak begitu besar mendarat tiba-tiba di atas meja. Sasuke yang tengah serius membersihkan kunai-nya agar tetap mengkilat dan tajam—cukup kaget dengan suara hentakan yang tiba-tiba mengganggu konsentrasinya. Dengan kulit kening yang mengkerut, Sasuke bertanya pada lelaki yang suka membuat onar di rumahnya, "Apa ini?"
"Kau baca saja. Nanti juga tahu," jawab lelaki berambut kuning terang—sosok yang suka membuat onar di rumah Sasuke.
"Aku sibuk."
"Heh, kau ini! Jangan sok sibuk begitu! Cepat baca apa yang aku bawa!" paksa Naruto dengan semangat yang mendidih.
"Tidak," tolak Sasuke. Lelaki bermarga Uchiha ini masih melanjutkan kegiatan meremajakan kunai-kunai miliknya.
"Dasar, Teme!" bentak Naruto. "Kau jahat sekali pada sahabatmu sendiri. Ayolah bacaaa~."
"Tch. Aku sibuk, Dobe."
Grab!
Naruto mengambil paksa kunai yang tengah dipegang Sasuke. "Baca apa yang kubawa, atau kuhancurkan benda ini?" tantang Naruto.
Sasuke lalu meraih gulungan yang tadi dibawa Naruto. "Kembalikan kunai-ku, atau kertas ini kubakar?" Sasuke balik menantang.
Hening.
"Baiklah, baiklaaah~!" Naruto pun segera mengembalikan senjata tajam milik sahabatnya itu. "Sebenarnya, gulungan itu berisi undangan untuk pernikahanku dua hari lagi."
Sasuke yang tengah mengemasi peralatan ninjanya untuk dimasukkan kembali ke dalam kotak—mendadak terdiam dengan rasa terkejut yang memompa dadanya. Sasuke menoleh untuk menatap serius pada mata biru safir Naruto. "Kau? Menikah? Apa ada perempuan yang mau dengan lelaki sepertimu?"
"APA MAKSUDMU, HEH?! TEME, KAU TEGA SEKALI BICARA SEPERTI ITU PADA SAHABATMU SENDIRI!" teriak Naruto saking tak terimanya pada ucapan Sasuke yang begitu menyakitkan hati. "Tentu saja ada! Aku dan Hinata-chan akan menikah dua hari lagi. Kau harus datang!"
Sasuke hanya menatapnya datar. "Jika aku tidak lupa."
"POKOKNYA KAU HARUS DATANG! KITA INI KAN SAHABAT SEJAK KECIL, KALAU—"
"Aa, aku akan datang," ujar Sasuke malas seraya mendorong Naruto ke depan pintu rumahnya. "Sekarang pergi dari rumahku sebelum aku berubah pikiran," ancam Sasuke.
"Horeee! Kau memang yang terbaik, Teme! Kau adalah sahabat yang—!" seru Naruto kegirangan.
"Pergi. Dari. Sini."
"Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara. Karena sebentar lagi aku akan menikah, maka kau juga harus menyusulku! Kau yang digilai oleh banyak wanita saja bisa kukalahkan—!"
BLAAM!
.
.
-xXx-
.
.
.
Sasuke tengah menikmati teh hangat yang beberapa menit lalu dibuatkan oleh Sakura, jin perempuan yang sudah hampir dua minggu ini tinggal di rumahnya. Teh yang dinikmatinya tidak begitu manis juga tidak kelat. Sangat pas di lidah Sasuke yang bisa dibilang pemilih untuk soal makanan dan minuman yang akan dikonsumsinya. Kadang Sasuke berpikir di benaknya, mengapa Sakura bisa tahu seleranya? Mengapa sajian yang dibuatkan Sakura selalu pas dilidahnya? Apa karena dia itu jin? –jadi dia membacakan mantra-mantra rahasia agar semua yang dibuatnya terasa enak. Atau dia punya kemampuan untuk membaca pikiran manusia?
Ah tapi tidak mungkin juga ... menurut pandangan Sasuke, Sakura itu jin yang polos. Tidak mungkin dia melakukan hal licik seperti itu. Lagipula, apa keuntungan yang akan didapat Sakura jika ia melakukan itu semua? Toh dia juga tak selamanya berada di sini—cuma dua minggu.
"Tuan!" seru Sakura, "kau melamun ya? Dari tadi aku panggil tidak merespon sama sekali."
Sasuke menyeruput tetesan terakhir teh hangatnya. Matanya melirik ke arah mata hijau yang masih menatapnya serius.
"Tuan sedang memikirkan sesuatu? Tampangnya serius begitu, hihihi," goda Sakura sambil terkikik geli. "Jangan-jangan Tuan sedang memikirkan hal mesum!"
"Hn?" kening Sasuke mengkerut sempurna. "Bukan urusanmu," ujarnya pada sosok cerewet yang saat ini malah tertawa bahagia karena telah berhasil membuat tuannya kesal. Ah, kalau saja Sakura tahu bahwa sesungguhnya yang dipikirkan Sasuke Uchiha itu hanya satu….
—memikirkan satu gadis yang telah terlanjur menyita seluruh ruang di benaknya. Gadis dengan nama yang indah, Haruno Sakura.
"Hmmm ... Tuan, apa kau sibuk?" Tanya Sakura takut-takut.
"Tidak juga."
"Kalau begitu, ajak aku jalan-jalan!"
"Tidak."
"Kenapa begitu?!" raut ceria di wajah Sakura mendadak suram. "Saat aku ingin menghadiri acara pernikahan Naruto kemarin, Tuan melarangku untuk datang!" protes jin berambut merah muda ini, "sekarang aku ingin pergi keluar bersama Tuan, Tuan juga tidak mau!"
"Karena kau pasti akan menyusahkanku."
"Aku ini bukan anak kecil, Tuan!" rengek Sakura. Wajah manisnya yang terlihat kekanak-kanakan begitu malah menimbulkan sensasi menggelitik tersendiri di perut Sasuke. Sebisa mungkin keturunan terakhir klan Uchiha ini menahan senyum di bibirnya agar tak terlepas keluar. "Ayolaaahhh, aku belum pernah keluar dari bangunan ini! Sekaliii saja, aku ingin melihat dunia luar bersamamu!" pinta Sakura.
"Hn. Tidak."
Ekspresi kesedihan seketika membanjiri wajah Sakura. "Tuan ... apa kau benar-benar membenciku? Apa kau tidak mau melakukannya walau sekali saja?"
"Hn." Sasuke tak tahan jika harus melihat wajah manis itu bersedih di depannya. Dari pada keadaan jadi makin tak mengenakkan, Sasuke pun memilih untuk meninggalkan jin perempuan itu sendiri di ruang tengah bersama cangkir teh yang sudah kosong.
"Kumohon, Tuan, ini akan jadi yang terakhir," ucap Sakura begitu pelan. Namun karena suasana mansion Uchiha yang begitu sunyi, suara itu terdengar seperti bisikan bidadari dari kahyangan di langit ketujuh. Halus dan merdu.
Tapi Sasuke tak bergeming. Ia masih melanjutkan langkahnya.
"Besok aku sudah harus pergi dari sini. Jika bisa … aku ingin bersenang-senang dulu bersamamu, Tuan..."
Tap.
Langkah Sasuke sontak terhenti. Onyx tajamnya melebar sempurna. Dentuman jantungnya bergemuruh hebat. Tak pernah ia merasakan terkejut yang separah ini. Pandangannya terasa mengabur, bahkan tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan sedikitpun.
"Mulai besok ... Tuan tidak perlu kesal lagi dengan sikapku yang menyebalkan ini," ucap Sakura yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di depan Sasuke. "Di hari terakhir ini, aku ingin memberikan kenangan terbaik untuk Tuanku," lanjut Sakura diiringi senyum manis dibibirnya. "Jadi, jika aku tak di sini lagi esok pagi, Tuan tak akan melupakanku begitu saja. Tuan harus ingat bahwa di rumah ini, pernah ada seorang jin bernama Haruno Sakura yang datang mewarnai hidup Tuan."
Sasuke menatap lekat emerald yang berkilauan itu. Perempuan di depannya terus memancarkan senyum tulus nan hangat. Dan besok ... sosok ini tak akan lagi ada di hidupnya. Sasuke hanya diam, ia menelan saliva-nya dengan berat. Jika Sakura pergi besok, maka ia akan kembali sendirian lagi.
Tapi selama ini ia sudah biasa hidup dalam kesendirian. Jika gadis ini pergi, harusnya ia sudah siap untuk kembali merasa sepi, kan?
"Tuan?" panggil Sakura dengan nada khawatir, "benar-benar tidak mau keluar bersamaku ya?"
Sasuke memalingkan wajahnya, "Karena ini akan jadi yang pertama dan terakhir ... kurasa tidak apa."
"Jadi ... TUAN MAU KELUAR BERSAMAKU?" seru Sakura spontan saking bahagianya.
"Hn," gumam Sasuke. "Berjanjilah untuk tidak menyusahkanku."
"Baik!"
.
.
Sasuke mengikuti langkah kaki Sakura dari belakang. Jin cantik tersebut tampak sangat bahagia bisa melihat dunia luar yang begitu luas. Tak henti-hentinya dia berdecak kagum sepanjang perjalanan menyusuri tiap sudut desa. Memandangi rentetan pohon-pohon lebat di tepi jalan. Memandangi susunan bangunan rumah dan pertokoan yang memenuhi desa. Memandangi aliran air sungai yang bergerak damai menuju hilirnya. Memandangi sekumpulan burung-burung kecil yang menari-nari di angkasa. Semua keindahan dunia itu mampu membuat Sakura tersihir dalam dimensi menakjubkan yang memanjakan indra penglihatannya.
"Aaahhh, desa ini sangat indah!" seru Sakura kagum.
Sementara itu lelaki tampan di belakangnya hanya menatapnya datar dengan dua tangan yang sengaja disembunyikan di saku celananya. "Kalau sudah puas, kita pulang sekarang."
"Heh?! Aku belum puas, Tuan!" tolak Sakura. "Aku masih ingin menikmati detik-detikku di dunia ini! Aku bahkan tidak yakin apa suatu saat aku bisa kembali lagi di negeri ini."
Shusshh~
Hembusan angin sore membuai poni-poni pink Sakura berayun mengikuti arah angin. Sasuke tak bisa berkata banyak. Entah mengapa rasanya semakin berat untuk melangkah, entah mengapa rasanya semakin sesak untuk bernapas... Entah mengapa, ia jadi takut untuk menatap hari esok.
"Tuan! Aku ingin main itu juga!"
Perlahan tatapan Sasuke mengikuti ke mana arah jari Sakura menunjuk. "Ayunan?" satu alis Sasuke terangkat sempurna.
Sakura mengangguk cepat. "Namanya 'ayunan' ya?" Sakura balik bertanya. "Aku mau main itu!"
"Kau—"
"Ayo ke sana!" belum selesai Sasuke mengucapkan kalimatnya, tangannya sudah ditarik paksa oleh gadis beriris zambrud tersebut untuk masuk ke dalam arena lapangan bermain anak-anak. Kalau sudah begini, Sasuke tak akan bisa menolak lagi.
.
.
Suasana lapangan bermain sore ini cukup ramai. Tampak sekelompok anak-anak berusia empat sampai enam tahunan tengah menghabiskan waktu sore mereka untuk bermain bersama di sini. Ada yang berkumpul di kolam pasir untuk membangun bangunan pasir. Ada yang bermain jungkat-jungkit dan luncuran plastik. Beberapa dari mereka juga ada yang bermain ayunan kayu. Sekelompok anak bermain ayunan inilah yang menarik perhatian Sakura, berayun-ayun di udara sepertinya sangat seru, terbukti dengan tawa lepas yang terdengar dari anak-anak tersebut.
"Ah ada yang kosong!" Sakura segera berlari ke salah satu ayunan kosong yang masih tersisa.
Melihat tingkah konyol Sakura, Sasuke hanya memutar bola matanya, "Hn. Dasar masa kecil kurang bahagia," ucapnya pelan sambil menyusul Sakura yang sudah sampai duluan di ayunan. Sasuke memperhatikan keadaan di sekelilingnya, anak-anak yang ada di sini kelihatannya begitu bahagia dan menjalani hidup tanpa beban. Ia pun tersadar—pada kenyataannya, ia tak punya masa kecil yang sebebas ini. Ia tak punya masa kecil yang segembira ini. Masa kecilnya bukanlah sesuatu yang indah untuk dikenang. Masa kecilnya bukanlah sebuah hal yang bisa ia banggakan. Sejak kecil, luka dalam sudah tergores di dadanya. Ditambah beban berat yang harus ia pikul sendirian.
"Tuan!" suara Sakura kembali membuat Sasuke tersadar dari lamunannya. "Bantu aku memainkan benda ini!" pinta Sakura.
"Pakai kekuatanmu untuk menggerakan rantainya," saran Sasuke singkat.
"Itu tidak seru, aku ingin bermain permainan manusia ini dengan alami, tanpa bantuan magis sedikit pun!" tolak Sakura.
"Tch, dasar menyebalkan." Meski kesal, Sasuke tetap melakukan apa yang Sakura pinta. Ia lalu mendorong rantai ayunan yang dinaiki Sakura secara perlahan. Ayunan mulai bergerak terbang ke angkasa, lalu kembali lagi ke tumpuannya.
"Lebih tinggi lagi!" seru Sakura seraya melayang mengikuti ayunan yang menari.
Sasuke menyeringai tipis, "Baiklah." Lelaki tampan ini pun menambah tenaga tiga kali lipat pada dorongannya, alhasil ayunan pun terlempar makin tinggi ke angkasa.
"Hahahahaha! Ini sangat menyenangkan! Hahahaha! Tuan, kau juga harus mencobanya!" Sakura berteriak bahagia.
Sasuke yang menatapnya dari belakang juga mulai terbawa suasana. Tanpa sadar, satu senyuman tipis muncul di bibirnya. Mendengar tawa Sakura yang membahana di telinga, menciptakan sensasi segar di kepalanya. Sasuke ingin terus mendengar suara itu, lagi dan lagi.
Sampai akhirnya ayunan pun berhenti. Sakura sibuk mengatur pola napasnya yang berantakan; Sasuke sendiri masih terus memperhatikan jin perempuan ini dari belakang.
Dan mereka berdua pun dikejutkan oleh keberadaan anak-anak kecil yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka.
"Hmmm?" Sakura hanya menatap sekelompok anak itu dengan bingung.
Sementara itu di sisi lai, Sasuke merasa sangat malu dan bodoh di depan banyak pasang mata yang memandangnya. Ia memijit pelan keningnya, 'Anak-anak ini pasti menganggapku gila karena sejak tadi mendorong ayunan sendirian, sial.'
"Nee-chan, kenapa memakai kimono?" tanya salah satu anak kecil. Sasuke dan Sakura terbelalak kaget, Apa anak-anak kecil ini bisa melihat Sakura?
Bukankah hanya Sasuke—yang tak lain adalah penyelamat Sakura—satu-satunya manusia yang dapat melihatnya?
"Nee-chan sangat cantik!" ucap anak kecil lainnya.
"A-aku ingin rambut pink seperti punya nee-chan!" seru anak kecil dengan rambut keperakan di kepalanya.
"Mereka bisa melihatmu," bisik Sasuke. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sakura menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu. Tuan adalah manusia pertama yang kutemui dan bisa melihatku." Sakura menatap horor ke arah anak-anak yang sepertinya sangat kagum oleh sosok dirinya. Anak-anak tersebut pasti bingung melihat ada sosok asing di taman bemain mereka. "Mungkin saja karena jiwa mereka masih suci ... jadi mereka bisa melihatku," ujar Sakura ragu.
"Hn." Sasuke mengangguk pelan. "Jadi sekarang bagaimana?"
Sakura segera turun dari ayunannya dan menghampiri anak-anak yang masih terpesona olehnya. "Nah, ayo kita main sama-sama!" ajaknya. "Namaku Haruno Sakura, salam kenal!"
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Sasuke mendadak panik melihat Sakura yang langsung mengambil keputusan sepihak. "Bahaya jika mereka sampai membicarakanmu pada orang tua mereka masing-masing!" Sasuke menarik lengan kiri Sakura. "Lebih baik kita pergi."
"Ta—tapi—!"
"Onii-chan, pasti kau adalah pacar Sakura-nee, kan!" celetuk anak berambut merah tua. Beberapa detik kemudian terdengar suara cekikikan dari anak-anak yang lainnya. "Onii-chan sangat tampan, sayangnya galak!" ejeknya, "kasian Sakura-nee yang jadi pacarmu!"
"Hahahahaha!"
Darah Sasuke terasa mendidih mendengar ejekan dari anak-anak tersebut. Ia pun melepaskan tangan Sakura, lalu berbalik menghadap anak-anak cerewet tersebut. "Apa kau bilang? Galak? Aku tidak galak," bantahnya.
"Hihihi," Sakura terkikik geli melihat tuannya yang kalah melawan anak kecil. "Sudahlah, Tuan, mereka hanya anak-anak, mereka mungkin tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan."
"Tch. Dasar menyebalkan."
"Onii-chan, cepat cium Sakura-nee!" perintah anak berambut merah tadi.
"Hn?" dada Sasuke tercekat mendengar perintah anak tersebut. Ditatapnya anak itu dengan tatapan menyeramkan, namun tak berefek sedikitpun. "Tch, jiwa yang suci apanya. Masih kecil sudah mesum begini."
"Aku tidak akan melakukan hal itu," tolak Sasuke mentah-mentah. Sebisa mungkin ia menampilkan tampang dinginnya untuk anak-anak kecil yang sepertinya terlalu awal untuk tahu hal-hal dewasa ini.
"Huuu! Pengecut!"
"Hahahahahaha!"
"Onii-chan pengecut!"
Ejekan dan tawa pun menggelegar di tengah-tengah mereka. Susah payah Sasuke menahan tangannya untuk tak mengeluarkan chidori yang mampu menghanguskan segerombolan anak nakal tersebut sekaligus dalam satu serangan.
"Sudahlah, Tuan, ayo lakukan saja!" saran Sakura sambil menyenggol-nyenggol pelan bahu kanan Sasuke. "Apa tidak malu sudah dikatai pengecut begitu?" Sakura malah ikut-ikutan mengejek bungsu Uchiha tersebut.
"Ayo, Onii-chan! Jangan jadi penakut!"
"Tch." Genggaman tangan Sasuke mengerat di balik Saku celananya. Semua ini gara-gara Sakura yang membawanya ke sini. Kalau saja tadi Sasuke memilih untuk berdiam diri di rumah, hal konyol dan memalukan ini pasti tak akan pernah terjadi!
"Cium! Cium! Cium!" anak-anak kecil yang ramai itu pun mulai menyanyikan melodi ejekan untuk Uchiha Sasuke. Sasuke tak tahan terus-terusan ditekan begini. Sementara itu, Sakura di sampingnya hanya terkikik geli. Tuannya yang tampan itu tak bisa melakukan apa-apa, padahal biasanya kasar dan tak memikirkan perasaan orang lain, tapi untuk menghadapi anak-anak kecil di depan mereka, Sasuke benar-benar sudah mati langkah.
Sasuke memejamkan matanya, di saat itu pula ia menarik lengan kiri Sakura dengan cepat, membawa gadis itu ke dalam dekapannya, dan dalam waktu tak sampai dua detik, bibir lembapnya telah mendarat nyaman di kening lebar Sakura.
.
.
Sasuke merasakannya, betapa tiba-tiba suasana yang awalnya gaduh seketika berubah jadi sunyi dan tenang. Matanya masih terkatup rapat. Tak terdengar lagi suara teriakan anak-anak kecil yang menyebalkan itu. Hanya aroma wangi rambut Sakura dan hangat tubuh gadis itu yang bisa ditangkap syaraf-syaraf di otaknya. Sasuke begitu menikmatinya, ia tak berniat untuk berhenti sampai ia puas menikmati sensasi aneh ini.
"—an? Tuan? Tuan?!" guncangan di bahunya membuat Sasuke terpaksa membuka matanya. Pandangannya lurus tertuju pada dua bola hijau bening yang berkilau. "Tuan tidak apa-apa?"
Setelah kesadarannya terkumpul penuh, Sasuke langsung melepaskan Sakura dari dekapannya. Napasnya kembali teratur seiring Sakura yang melangkah menjauhinya.
"Lihat? Tuan Sasuke itu bukan pengecut," ucap Sakura pada anak berambut merah yang tadi paling bersemangat mengejek Sasuke. "Dia itu sangat baik. Hihi!"
Si Anak lalu mengangguk, "Sakura-nee pasti senang jadi pacarnya Onii-chan! Iya, kan?"
"Eh?" kening Sakura mengkerut. "Ah, ya ya ya, tentu saja!" dusta Sakura sambil memaksakan satu tawa renyah.
"K-kalau sudah besar, a-aku mau cantik seperti Sakura-nee. L-lalu punya pacar tampan, s-seperti Sasuke-nii," ucap gadis berambut keperakan yang berada di samping Sakura.
"Wahh, kau ini bisa saja!" Sakura terkikik pelan sambil mengelus pelan kepala gadis tersebut.
"Ryuu~ ayo pulang, hari sudah sore." Terdengar dari kejauhan suara seorang wanita memanggil satu dari anak-anak yang berkumpul di sekitar Sasuke dan Sakura.
"Shin, ayo pulang juga!"
"Baik, Kaa-san!" seru Ryuu—yang ternyata adalah nama dari anak berambut merah. "Aku pulang dulu. Sakura-nee, besok ke sini lagi ya?" pinta Ryuu.
"Iya benar!" timpal anak yang lainnya.
"Aku ingin main dengan Sakura-nee lagi!"
"Aku juga! Aku juga!"
"Hmm?" Sakura hanya bisa tersenyum pahit pada anak-anak manis ini. "I-iya ... besok aku akan ke sini lagi!" Sakura terpaksa berbohong pada mereka. Lagipula ia tak bisa menjelaskan panjang lebar pada anak-anak ini—bahwa sesungguhnya hari ini yang terakhir. Tak akan ada lagi hari esok untuknya di bumi ini. "Nah, lebih baik sekarang kalian pulang. Orang tua kalian pasti sudah menunggu di rumah."
.
.
.
.
.
Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Lelah menggerogoti tubuhnya setelah seharian menemani Sakura mengelilingi desa Konoha. Perjalanan mereka berakhir di lapangan bermain anak-anak, dimana ia lalu dikerjai habis-habisan di sana. Sasuke tersenyum tipis. Tadi sore itu begitu konyol. Padahal masih kecil, tapi mereka sudah berani memerintahnya untuk mencium Sakura. Kalau saja mereka berusia lebih tua sepuluh tahun dari usia mereka saat ini, Sasuke pasti tak berpikir dua kali untuk memberi mereka pelajaran dengan jurus chidori-nya.
Sasuke menjatuhkan tubuhnya di kasur. Langit Konoha sudah menggelap, hari esok akan segera datang. Tak lama lagi ... Sakura akan menghilang...
"Hah!" Sasuke terbangun paksa dari posisi berbaringnya. Entah mengapa memikirkan Sakura yang akan segera pergi mampu membuat dadanya terasa dihimpit dua buah batu besar—sakit.
"Besok, Hn?" ucapnya pada diri sendiri. "Kau akan merasakan sepi lagi, Uchiha Sasuke." Sasuke kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Rasa lelah yang melanda membuat kantuk lebih awal untuk datang. Sasuke pun tak bisa melawan, sepuluh menit kemudian, matanya telah terpejam rapat.
.
Sasuke kembali membuka matanya—di saat yang bersamaan, ia melihat wajah Sakura yang berjarak lima puluh senti di atasnya. "Sakura?!" ucap Sasuke kaget.
"Ah! Apa aku mengagetkanmu, Tuan?" tanya Sakura polos. "Maafkan aku! Tapi aku memang sengaja!"
"Hn?" Sasuke hanya menatapnya heran. "Mau apa?"
Sakura belum menjawab, ia malah bangun dan melangkah menjauh dari kasur Sasuke. Jin cantik itu menuju jendela kaca yang berada di samping lemari besar Sasuke. "Karena ini malam terakhirku di sini ... apa Tuan tidak ingin mengatakan sesuatu untukku?"
Tiga detik kemudian Sasuke menjawab, "Tidak ada."
"Jadi ... aku sudah boleh pergi sekarang?"
"Tunggu sebentar—!" seru Sasuke spontan, namun ia menahan suaranya, "maksudku, pergilah jika memang waktunya kau pergi." Sasuke mengalihkan tatapannya dari wajah Sakura ke arah lantai kayu rumahnya.
Sakura menjentikkan jemarinya; tirai yang menutupi kaca jendela pun bergeser ke tepi, matanya lalu memandangi langit malam di luar jendela sana. "Tidak terasa ya, sudah dua minggu aku di sini," ucapnya pelan. Dengan telunjuknya, Sakura menyentuh kaca bening di depannya. "Tengah malam nanti ... aku sudah tak akan melihat rumah ini lagi," lanjut Sakura. Diam-diam Sasuke kembali memandangi Sakura dari belakang. Rambut merah muda Sakura yang disanggul rapi ke atas terlihat manis di kepalanya. Tiba-tiba Sasuke berpikir, akan secantik apa gadis ini jika rambut indahnya itu digerai saja. Seingat Sasuke, ia belum pernah melihat rambut merah muda itu terurai lepas. "Tuan...," Sakura membalikkan tubuhnya, Sasuke cepat-cepat mengalihkan pandangannya lagi. "Dua minggu di sini ... bagiku sangatlah berarti," ucap Sakura sambil tersenyum tulus. Dan Sasuke tak membuang kesempatan untuk merekam lukisan memesona di wajah Sakura itu. "Rasanya aku tidak ingin pergi dari sini, tapi bagaimana pun, aku tetap harus pulang ke negeriku."
"Kau akan pulang ke mana?" tanya Sasuke datar.
"Ke negeri dimana para jin hidup dan berkumpul bersama kelompoknya," jawab Sakura. "Jauh dari bumi. Di dimensi yang berbeda. Tak bisa dimasuki manusia. Tapi ketahuilah, keadaan bumi ini jauh lebih indah dibanding negeriku itu."
"Apa ... kau tak bisa ke sini lagi?" dua detik setelah bertanya hal ini, Sasuke menyadari betapa pertanyaan yang diajukannya sangat menggelikan. Seolah ia mengharapkan gadis bernama Haruno Sakura itu untuk datang lagi ke bumi ini.
Sakura menggeleng pelan. "Kami tidak bisa seenaknya datang dan pergi ke bumi," jawab Sakura dengan nada yang sedih. "Kalau pun jika nanti aku ke sini lagi ... Tuan mungkin tak akan bisa melihatku lagi. Tuan mungkin tak akan menyadari hadirku di samping Tuan."
Deg! Deg! Deg!
Jantung Sasuke berdegup makin kencang. Tangannya mencengkram sprei kasur begitu erat. Sepertinya … ia memang harus melepaskan Sakura.
"Maka dari itu, di detik-detik terakhirku di sini ... aku ingin menghabiskannya bersamamu, Tuan!" seru Sakura sambil mengusahakan satu tawa untuk melunakkan suasana. "Tenang saja, Tuan, besok tidak akan ada lagi jin menyebalkan bernama Haruno Sakura di hidupmu!" Sakura berjalan mendekati Sasuke yang sudah duduk di bibir kasurnya. "Aku tidak akan membuatmu kesal lagi. Karena aku akan menghilang dari duniamu."
Zleebb!
Satu pedang tajam nan panjang menancap tepat di jantung Sasuke. Pedang itu tak kasat mata, namun rasa sakitnya begitu nyata di dada. Dua onyx-nya membulat lebar setelah mendengar kalimat terakhir Sakura. Mengapa semuanya terdengar begitu ngilu dan menyakitkan?
Aku akan menghilang dari duniamu….
Tak akan ada lagi Sakura yang sibuk membangunkannya di pagi hari.
Aku akan menghilang dari duniamu….
Tak akan ada lagi Sarapan lezat Sakura di pagi hari.
Aku akan menghilang dari duniamu….
Tak akan ada lagi yang mengkhawatirkan Sasuke jika ia sedang termenung sendirian.
Aku akan menghilang dari duniamu….
Tak akan ada lagi Haruno Sakura, perempuan yang telah mengisi harinya dengan warna yang berbeda.
Aku akan menghilang dari duniamu….
Tak akan ada lagi kebahagiaan yang baru setitik Sasuke dapatkan dalam hidupnya.
Aku akan menghilang dari duniamu…. Hari ini, adalah yang terakhir.
"Omong kosong!" desis Sasuke diiringi aura gelap yang menguar dari tubuhnya. "Semua ini menyebalkan! Harusnya aku tak perlu hidup di dunia jika akhirnya aku akan begini lagi!" Dengan satu gerakan cepat; Sasuke bangun dan langsung mendorong Sakura kuat hingga punggung gadis itu menabrak lemari kayu di belakangnya.
BRUK!
"Akh!"
"Kau … kau tidak bisa seenaknya datang dan pergi di hidupku!" bentak Sasuke dengan suara lantangnya. Sakura terkejut bukan main dengan perlakuan Tuan tampannya yang berubah jadi liar ini. "Apa kaupikir semuanya ini adalah main-main? Apa kau sengaja menyiksaku dengan cara yang halus ini, heh?" emosi Sasuke makin meninggi seiring makin kerasnya ia menghimpit tubuh Sakura—membuat jin tersebut cukup kesulitan bernapas. "Sakura...," napas Sasuke terengah, "KAUDENGAR AKU, KAN?" dan emosi Sasuke sudah sampai di puncaknya.
Udara di sekitar mereka terasa memanas, Sakura berusaha kuat memasok udara untuk paru-parunya, "T—tuan ... aku tidak ber—maksud seperti itu, hah," Sakura berusaha mengatur pola napasnya yang berantakan, "a—pa aku menyakitimu, hah, Tuan?" tanya Sakura dengan suara penuh penyesalan. Padahal ia sendiri tak tahu apa yang dipermasalahkan Sasuke terhadap dirinya. "Jika aku telah membuat kesalahan, aku harap Tuan akan memaafkanku."
Sasuke diam. Sakura semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Tuannya ini. Malam ini, lelaki tampan yang biasanya datar tanpa emosi, tiba-tiba saja bisa sangat marah dan menakutinya. Namun Sakura mencoba memahami Sasuke, mungkin saja ini memang sifat manusia yang suka berubah-ubah. Yang tak bisa ditebak kapan akan menjadi tenang, dan beralih jadi meledak marah dengan mendadak.
"Sakura…," gumam Sasuke, perlahan Sasuke menyandarkan keningnya di bahu kanan Sakura, "kau ... sama saja seperti yang lainnya," lanjut Sasuke dengan nada suara tajam. "Kau sama saja seperti mereka yang kejam kepadaku. Meninggalkanku di saat aku tak ingin sendiri. Memaksaku untuk kuat dengan tubuh yang lemah ini."
"Tuan—"
"KAU SAMA SAJA SEPERTI KELUARGAKU YANG TEGA MEMBIARKANKU HIDUP SENDIRIAN DI DUNIA INI!" Sasuke menjauhkan kepalanya dari bahu Sakura; dengan dua tangannya, ia menyentuh kasar wajah gadis di dekapannya. "Sakura ... kau begitu kejam. UNTUK APA KAUDATANG JIKA AKHIRNYA PERGI LAGI, HEH?!"
"Akh!" Sakura menjerit kecil—respon refleks saat merasakan sakit di bagian rahangnya. Emerald-nya tertutup rapat. Ia tak berani untuk menatap mata Sasuke yang telah berubah jadi merah semerah darah. "Maaf, Tuan, tapi aku—"
"Cukup." Cengkraman Sasuke melemah; suaranya mendadak jadi pelan. "Aku memang menyedihkan."
Sakura menggeleng. "Tidak. Tuan sangatlah luar biasa! Tuan itu sangat kuat!"
Sasuke menyeringai tipis. "Semuanya percuma. Aku tak bisa menahanmu." Sasuke tertunduk lemah, napasnya masih tak beraturan. "Kau masih berhutang satu permintaan yang harus kaukabulkan," Sasuke menengadah untuk kembali menatap mata Sakura yang tampak berkaca-kaca, "aku akan menggunakannya sekarang."
Sakura mengangguk. "Aa. Cepat katakan selagi masih bisa. Karena sebentar lagi aku—"
Srriinggg….
Cahaya warna-warni memancar terang dari seluruh sisi tubuh Sakura. Begitu terang dan Menakjubkan. Sasuke menatap kaget sekaligus kagum dengan parade cahaya di depannya. Sementara itu Sakura malah menatap ketakutan pada tubuhnya sendiri.
"Ti—tidak mungkin!" pekik Sakura.
"Apa yang terjadi?!" tanya Sasuke panik.
Kristal bening di mata Sakura mencair, lalu jatuh membasahi pipi putihnya, "aku ... aku sudah harus pergi sekarang. Maaf, permintaan terakhirmu—"
"Sial! Kau bilang kau akan pergi tengah malam nanti!"
"Kurasa perhitunganku salah," ujar Sakura sambil menangis pelan. "Maaf, Tuan—!"
"Aku tidak peduli!" Sasuke kembali membekap tubuh Sakura pada jendela kayu besar di belakang gadis tersebut; sinar yang memancar dari tubuh Sakura semakin terang dan menyilaukan mata. "Haruno Sakura, aku ... AKU INGIN KAU MENEMANIKU, UCHIHA SASUKE, TETAP DI SINI—DI DUNIA INI HINGGA AKU MATI NANTI!" dan Sasuke memutuskan jarak yang tersisa di antara mereka. Bibir keringnya ia satukan dengan bibir Sakura yang bergetar hebat. Sasuke menutup matanya rapat, tak berani menatap kenyataan bahwa lagi-lagi ia harus merasakan pedihnya kehilangan.
Bibir Sakura terasa begitu hangat dan basah. Kedua tangan Sasuke mendekap erat tubuh Sakura, mencoba menahan kekuatan yang tak mungkin dilawan oleh manusia biasa sepertinya.
Dan jantung Sasuke memompa semakin tak karuan saat ia merasakan seolah-olah bagian tubuh Sakura sedikit demi sedikit menghilang tertiup angin yang berhembus.
Tidak mungkin!
Apa aku gagal?!
Apa Sakura akan pergi?
Apa semuanya berakhir sampai di sini?!
Tidak! Jangan pergi, Sakura!
SAKURA, KUMOHON JANGAN PERGI!
SAKURA!
SAKURAAA!
.
.
.
Karena pada akhirnya, semua terulang lagi.
Semua yang ia sayangi akan pergi. Orang yang ia anggap berharga akan meninggalkan luka dalam di hatinya.
Dan Sasuke tak bisa menahannya. Ia tak cukup kuat untuk menjaga apa yang ia miliki.
Lalu ia kembali sendiri, tanpa satu pun orang yang memahami.
Ia kembali sendiri, dengan sunyi sepi tak bertepi.
TAMAT