SASUSAKU

SASUSAKU
Bab 4



Chapter 4


Dengan perlahan ia membuka kamar Sakura dan memasukinya. Ia terus berjalan ke arah Sakura sedang berbaring. Dan betapa terkejutnya Sasuke saat mendapati Sakura yang tertidur tanpa busana. Perlahan ia menyentuh pipi Sakura. Namun tak ada respon dari Sakura.


Ia terus membelai pipi Sakura yang ranum,bibirnya yang semerah darah. Dan tak lupa ia menghapus bekas air mata yang mengalir dari pipinya.


Ia terus melakukan hal itu, sampai akhirnya ia menyadari ada yang aneh dengan kondisi tubuh Sakura sekarang.


Sesegera mungkin ia menempelkan punggung tangannya di atas kening Sakura, dan betapa terkejutnya ia saat merasakan suhu tubuh Sakura yang jauh dari kata normal. Ia pun berinisiatif untuk mengambil termometer di kotak P3K yang berada di kamar Sakura. Ia terus mencari alat pengukur suhu tersebut, sampai akhirnya ia menemukan beberapa botol obat yang menurutnya asing ia konsumsi. Awalnya ia tidak mempedulikan botol-botol obat tersebut, sampai akhirnya matanya mendapati tulisan "Phenobarbital" di salah satu botol tersebut, dan entah mengapa ia memeriksa satu persatu botol tersebut dan mendapati jenis-jenis obat lainnya seperti "Fenitoin", "Karbamazepin", dan beberapa obat kombinasinya seperti "Kofein" dan "Efedrin". Setelah membaca isi dari obat-obat tersebut, Sasuke pun sempat membatu namun ia lanjutkkan kegiatannya mencari termometer.


'Epilepsi... Grand mal*', ucapnya dalam hati. Dengan tatapan mata kosong ia menggenggam terometer tersebut sambil berjalan ke arah Sakura yang sedang terbaring lemah.


Ternyata jenis obat-obatan yang berada di kotak P3K Sakura adalah obat-obatan anti epilepsi, lebih tepatnya anti epilepsi jenis Grand Mal.


Setelah Sasuke berada tepat di samping Sakura ia pun segera memasuki termometer tersebut ke dalam mulut Sakura, dan ia pun duduk di samping Sakura seraya menunggu hasil yang ditunjukan oleh termometer tersebut nantinya.


5 menit pun berlalu, Sasuke pun mengambil termomter tersebut dari mulut Sakura, dan ia pun agak terkejut dengan hasil yang ditunjukan oleh termometer tersebut. 48 derajat celcius. Namun bukan Sasuke Uchiha namanya jika ia tidak bertampang datar dan cool.


Sasuke segera beranjak dari ranjang Sakura lalu berjalan kearah lemari pakaian Sakura. Ia pun mengambil satu stel piyama berwarna soft green yang dihiasi garis-garis vertical berwarna putih, dan beberapa pakaian dalam Sakura.


Entah malaikat apa yang hari ini sedang merasuki tubuh Uchiha tersebut. Namun bersyukurlah karena kali ini sang Uchiha tidak sedang menyiksa Sakura.


Dan owh, apa yang dilakukan Sasuke kepada Sakura? Ternyata ia sedang memakaiakan pakaian dalam dan piyama tersebut agar membungkus tubuh Sakura yang awalnya tanpa di tutupi sehelai benang pun. Setelah merasa selesai memakaikan Sakura pakaian, Sasuke pun segera menarik selimut Sakura sampai menutupi setengah tubuhnya. Setelah itu ia beranjak dari ranjang Sakura dan pergi meninggalkan Sakura sendiri di dalam kamarnya yang dapat dikatakan dingin tersebut.


Namun beberapa menit kemudian Sasuke kembali dengan membawa baskom yang berisikan air dingin dengan lengan kemeja sekolahnya yang telah ia gulung hingga siku dan dasi sekolah yang sudah tidak melekat di lehernya.


Ia pun berjalan kearah Sakura dan duduk tepat disamping Sakura lalu menempelkan handuk kecil yang sudah dibasahi oleh air dingin tersebut ke kening Sakura.


# # #


'Uhm, kemana ya Sakura? Sedari tadi kok aku tidak melihatnya?' gumam Naruto dalam hati.


Kini ketua OSIS kita sedang berada di dalam perpustakaan sekolah yang besar. Perpustakaan yang berisikan buku-buku dari berbagai macam negara dan bahasa. Saking besarnya, perpustakaan ini sudah dinobatkan sebagai perpustakaan terbesar di Jepang. Dan perpustakaan terbesar ke dua di Jepang adalah perpustakaan yang berada di gedung sekolah putri.


Saat Naruto sedang sibuk memikirkan Sakura, tiba-tiba saja seorang penjaga perpustakaan. Anko. Memanggilnya, dan itu berhasil membuat Naruto terlonjak kaget.


"Naruto!", panggil Anko kesal karena ini adalah kali ke-4 ia memanggil Naruto.


"Eh... Maaf Anko-sama. Ada apa?", tanya Naruto agak ketakutan kerena menerima tatapan membunuh dari Anko.


"Ini, bisa kau antarkan buku-buku ini ke perpustakaan gedung sekolah putri, karena kemarin banyak para siswi yang sedang mencari buku-buku romawi kuno ini", ucap Anko menjelaskan panjang lebar. Namun hanya di tanggapi oleh anggukan kecil dari Naruto.


"Baiklah ini, sudah kubuatkan surat izin untuk memasuki area gedung sekolah putri", lanjut Anko seraya memberikan tumpukan buku-buku tersebut dan kertas izin itu kepada Naruto.


Dan sesegera mungkin Naruto beranjak dari perpustakaan tersebut untuk menuju perpustakaan di gedung sekolah putri. Betapa sumringahnya ia saat membayangkan ia akan bertemu dengan Sakura nanti. Ia pun mempercepat langkahnya untuk segera sampai di gedung sekolah putri.


Ia terus menelusuri lorong-lorong sekolah yang pantas untuk dibilang sepi. Ia semakin mempercepat langkahnya saat ia melihat gerbang pembatas antara gedung sekolah putra dengan gedung sekolah putri.


Saat ia sampai di gerbang pemabatas, nampak seorang pria bertubuh besar sedang berdiri menatap Naruto.


"Ada perlu apa?", tanya pria itu ketus dan tegas.


"Anko-sama memberiku perintah untuk membawa buku-buku ini ke perpustakaan gedung sekolah putri, oh ya ini surat izin-nya", jawab Naruto lancar seraya menyodorkan surat izin tersebut kepada sang penjaga gerbang. "Oh, baiklah", ucap pria itu saat setelah membaca surat izin yang diberikan Naruto kepadanya barusan. "Silahkan, tapi ingat jangan lama-lama", tambah pria itu.


Mendengar kalimat yang diucapkan pria tersebut terakhir, Naruto pun segera beranjak menuju perpustakaan. Sesampainya di depan pintu perpustakaan yang menjulang tinggi, ia pun segera memasukinya dan menuju kearah meja penjaga perpustakaan.


"Selamat siang Naruto-san", ucap sang penjaga perpustakaan yang ternyata seorang wanita muda yang bernama Konan.


"Selamat siang Konan-sama", balas Naruto disertai dengan cengiran khasnya.


"Ada yang bisa dibantu?", tanya Konan setelah ia memperhatikan tumpukan buku yang dibawa oleh Naruto.


"Iya, ini ada beberapa buku yang diberikan Anko-sama, katanya buku-buku ini tidak ada di perpustakaan ini, maka dari itu ia memerintahkan aku untuk membawa buku-buku ini kesini", jawab Naruto panjang lebar seraya menaruh tumpukan buku-buku tersebut di atas meja penjaga perpustakaan.


"Baiklah, terimakasih banyak Naruto-san", ucap Konan sangat ramah.


"Oke sama-sama Konan-sama", balas Naruto tak kalah ramah. "Hmm, apakah aku boleh meminjam salah satu buku di sini, karena sejak kemarin aku mencari buku tersebut di perpustakaan gedung sekolah putra namun aku tidak menemukannya juga", lanjutnya disertai dengan puppy-eyes nya.


"Hm, baiklah silahkan", jawab Konan yang agak heran dengan gelagat Naruto.


Atas seizin Konan, Naruto pun berkeliling perpustakaan tersebut sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok pink yang sangat ingin ia temui.


Lama ia berkeliling diantara rak-rak buku perpustakaan yang menjulang tinggi, ia tidak sama sekali menemukan sosok pink tersebut. Yang ia temukan hanyalah sekelompok gadis-gadis yang terus memperhatikan dirinya dengan tatapan mengagumi. Namun bukan sosok mereka lah yang Naruto cari, sampai akhirnya ia menemukan dua orang gadis yang nampak tidak memerhatiakannya sama sekali. Entah gadis itu memang tidak peduli akan kehadiran Naruto atau mereka memang tidak mengetahui kehadiran sosok sang ketua OSIS tersebut.


Naruto berjalan menghampiri kedua gadis tersebut.


"Hei, selamat siang", ucap Naruto yang membuat kedua gadis tersebut terlonjak kaget akibat seruannya.


"Oh... Ah... Hei", ucap salah satu gadis berambut pirang yang dikuncir kuda. Ino.


"Ya, hei selamat siang", jawab gadis lainnya yang bernama Tenten dengan ekspresi heran.


"Hmm, boleh aku menanyakan sesuatu?", tanya Naruto basa-basi.


"Ya!", jawab kedua gadis itu dengan semangat.


"Kalian kenal dengan Sakura?", tanya Naruto langsung to the point.


"Sakura?", tanya balik kedua gadis itu secara bersamaan.


"Hmm, Sakura... Ya Sakura Haruno", jelas Naruto.


"Ya, dia sahabat kami", jawab Ino tampak memekik karena kegirangan tanpa mempedulikan dimana ia berada sekarang.


"Kalian tahu di mana Sakura saat ini?", lanjut Naruto yang nampak penasaran dengan keberadaan Sakura saat ini.


"Tidak", jawab Ino dan Tenten disertai dengan gelengan kepala yang terlampau cepat. "Sedari tadi ia tidak memasuki kelas bahasa Spanyol dan Rusia", lanjut Ino dengan raut wajah yang berubah nampak sedih.


"Ya, dia juga tidak memasuki kelas kalkulus, seni, dan kimia analis", tambah Tenten.


"Oh... Apa kalian telah mencoba menghubunginya?", tambah Naruto yang masih nampak khawatir dengan keadaan Sakura.


"Ya, tapi entah kenapa nomor-nya sudah tidak aktif lagi", jawab Ino yang nampak khawatir juga dengan keadaan Sakura.


"Hm, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak", ucap Naruto yang hendak ingin beranjak dari tempat itu.


"Ya, sama-sama", jawab Ino dan Tenten bersamaan.


Saat Naruto baru dua langkah meninggalkan tempat tersebut, namun tiba-tiba saja salah satu dari gadis-gadis itu bertanya.


"Ada yang bisa kami sampaikan bila nanti kami bertemu dengan Sakura?", tanya Tenten tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan Tenten barusan, sontak Naruto pun segera membalikan badannya dan tersenyum penuh arti kepada mereka.


"Tolong sampaikan jika aku mengkhawatirkannya', jawab Naruto lalu pergi begitu saja meninggalkan Ino dan Tenten yang dalam keadaan mematung akibat perkataan nya yang terakhir.


Naruto terus berjalan kearah pintu keluar perpustakaan berada,sampai akhirnya ia mendengar seruan dari sang penjaga perpustakaan.


"Hei, kau menemukan buku yang kau cari?", tanya Konan sesaat sebelum Naruto melangkahkan kakinya keluar dari arena perpustakaan.


"Memang buku apa yang kau cari itu?", lanjut Konan heran. Karena setahunya perpustakaan gedung sekolah putra dan putri adalah salah satu perpustakaan terlengkap di seantero Jepang.


"Buku tips meluluhkan hati wanita", jawab Naruto yang disertai dengan cengiran khasnya, lalu ia pun telah keluar dari arena perpustakaan tersebut.


Sedangkan Konan hanya menggelangkan kepalanya heran melihat tingkah Naruto barusan.


# # #


Dengan perlahan Sakura berusaha untuk membuka kedua matanya dan menggerakan kedua tangannya. Sungguh ia merasa bahwa saat ini tubuhnya terasa kaku untuk digerakan dan semuanya seperti mati rasa. Sayup-sayup ia mendengar seruan, dari suaranya ia dapat menebak siapa orang tersebut. Sasuke Uchiha.


"Hei Pinky cepat bangun!", seru Sasuke dengan nada memerintah.


Mendengar seruan Sasuke barusan, Sakura pun dengan segera membuka kedua matanya lalu mencari sosok yang sedang memarahinya tersebut.


"Cepat habiskan jatah makan malam mu! Kau sangat merepotkan jika sakit", perintah Sasuke dengan nada bicara yang amat sangat ketus kepada Sakura.


Dengan perlahan Sakura membenarkan posisinya menjadi posisi duduk. Setelah merasa nyaman dengan posisinya yang sekarang, ia pun segera meraih nampan yang diletakan oleh Sasuke di atas meja kecil tepat di samping sebelah kanan ranjang Sakura.


Sedikit demi sedikit ia menyuapi sup jagung tersebut kedalam mulutnya yang mungil. Sesekali ia menghentikan acara makan malamnya karena ia mengalami emetik*. Namun ia pun segera malanjutkan makan malamnya.


Sedangkan Sasuke hanya memperhatikan Sakura dari kursi santai yang berada tepat di samping pintu kamar Sakura, namun sesekali Sasuke membaca buku tentang 'Susunan Syaraf Pusat' yang sejak 2 jam lalu ia baca.


Setelah merasa kenyang dengan makan malamnya, Sakura pun segera meminum segelas jus jeruk yang kaya akan vitamin C yang sudah disediakan di atas nampan tersebut.


Melihat Sakura yang sudah menghabiskan makan malamnya, Sasuke pun beranjak dari tempatnya dan menuju ke meja belajar Sakura meja belajar tersebut terdapat segelas air putih dan beberapa butir obat yang juga telah disiapkan oleh Sasuke.


Sasuke mengambil segelas air putih dan butir-butir obat tersebut, lalu berjalan kearah Sakura, dan memberikan itu semua kepada Sakura.


"Minumlah", perintah nya dengan tegas.


Sakura nampak memperhatikan obat-obatan tersebut dengan tatapan heran.


"Cepat!", lanjut Sasuke yang sudah nampak kesal dengan kelakuan Sakura yang mengulur-ulur waktu.


Dengan perasaan takut, Sakura pun mengambil obat-obatan tersebut dari tangan Sasuke lalu meminumnya satu-persatu lalu menandaskan air putih tersebut.


"Tidurlah", ucap Sasuke dengan nada bicara yang agak melembut setelah meletakan gelas yang tadi berisikan air putih tersebut diatas nampan.


Sesuai dengan perintah Sasuke, Sakura pun segera berbaring kembali di ranjangnya dan tak lama kemudian matanya pun terpejam kembali.


Setelah memastikan bahwa Sakura telah tertidur, Sasuke pun segera menarik selimut Sakura yang sempat tersibak tersebut hingga menutupi dadanya.


Entah apa yang akan dilakukan Sasuke, ia terlihat membungkukan tubuhnya.


Dan...


Cup Sasuke mendaratkan sebuah kecupan selamat malam tepat di kening Sakura. Setelahnya ia pergi beranjak dari kamar Sakura dengan membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas-gelas kotor.


# # #


Seminggu pun berlalu, kini keadaan Sakura pun telah membaik. Sudah dua hari belakangan ini Sakura berangkat kesekolah. Dan bisa kalian tebak, betapa bahagianya Sakura bisa berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatnya di sekolah.


Seperti halnya sekarang, ia sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya Ino dan Tenten di dalam kelas sejarah Jepang yang nampak masih sepi.


"Sakura, kau tahu ternyata selama kau tidak masuk sekolah, si Uchiha itu dikabarkan juga membolos beberapa hari ini", ucap Ino sang ratu gosip di seantero sekolah.


"Halah, pasti dia sedang berlibur dengan kekasih-kekasihnya", sambar Tenten dengan raut wajah kesal.


"Haha, ya kau benar juga", jawab Ino disertai dengan kekehan kecil.


"Tapi bukan kau kan yang berlibur bersama Sasuke, Sakura?", goda Tenten disertai dengan seringaian jahilnya.


"Jelas saja bukan, kalian jangan bercanda, kenal saja tidak dengan si Uchiha itu", dusta Sakura. Ya kerena keberadaannya yang tinggal satu atap dengan Sasuke merupakan sebuah rahasia.


"Hahaha, aku hanya bercanda tidak usah sepucat itu wajah mu", sahut Tenten disertai dengan tawanya yang renyah.


"Hei, kau kan juga termasuk wanita yang pernah berkencan dengan Sasuke, kenapa kau malah menjelek-jelekannya seperti itu?", goda Ino dengan kedipan matanya.


"Yayaya... Terserah apa kata mu Ino. Asalakan kau tahu saja, aku berkencan dengannya karena saat itu aku sedang ada masalah dengan Neji, dan aku pikir dengan berkencan bersama Sasuke dapat menjernihkan pikiranku", jelas Tenten panjang lebar dengan raut wajah yang dibuat-buat sebal. "Dan kau... Ino... Kalu lebih parah dari pada aku, kau bahkan sudah melakukan *** dengan Uchiha itu", sambar Tenten yang tak mau kalah dari Ino.


Deg...


'Jadi penglihatan ku tidak salah, bahwa setahun yang lalu, benar Ino dan Sasuke yang aku lihat di pesta topeng tersebut', ucap Sakura dalam hati.


"Ya terserah apa kata mu Tenten, itu kejadian setahun yang lalu bahkan aku saja sudah melupakannya", jawab Ino tak acuh, seraya mengerjakan tugas sejarahnya. "Dan seperti yang kau tahu, aku melakukan itu dikarenakan aku sangat kesepian, ya karena Sai yang sedang menitih karirnya sebagai seorang seniman di Italy", jelas Ino masih dengan mengerjakan tugas sejarahnya.


Deg...


'Jadi mereka hanya saling memanfaatkan satu sama lain. Tak ada rasa cinta bahkan suka sekalipun diantara keduanya. Hanya pelarian. Sasuke-kun yang merupakan casanova sejati beserta Ino dan Tenten yang merasa kesepian', ucap Sakura dalam hati.


Entah mengapa sekarang ini tubuhnya terasa bergetar hebat. Sampai akhirnya ia kehilangan kesadaran.


# # #


Sasuke sedang berjalan kearah perpustakaan sekolah karena saat ini juga ia harus segera menyelesaikan tugas bahasa Yunani-nya. Namun samar-samar ia mendengar beberapa siswa yang sedang membicarakan tentang keadaan gedung sekolah putri.


"Tadi katanya ada siswi yang kejang-kajang di kelas sejarah Jepang. Kau tahu matanya membeliak menyeramkan dan dari mulutnya keluar busa", ucap siswa tersebut menggebu-gebu menceritakannya.


Deg...


Sasuke pun segera menghentikan langkahnya.


'Mungkinkah?', tanya Sasuke dalam hati kepada dirinya sendiri.


"Siapa nama siswi tersebut?", tanya siswa yang lainnya.


"Entahlah, yang jelas siswi tersebut berambut dengan warna yang tak lazim. Hmm, kalau tidak salah berwarna pink, ya pink", jawab siswa yang lain.


'Sakura', ucap Sasuke dalam hati.


Mendengar percakapan para siswa barusan, Sasuke pun segera berlari ke arah gerbang pembatas untuk menuju gedung sekolah disana, ia terus berlari di koridor sekolah. Sesekali ia bertanya kepada para siswi tentang keberadaan Sakura.


Sasuke terus berlari, hingga ia menemukan sebuah lift untuk menuju lantai 5. Sesampainya di lantai 5, ia melanjutkan larinya di koridor sekolah untuk menuju kelas sejarah Jepang.


Akhirnya, Sasuke pun menemukan kelas sejarah Jepang yang kini telah di penuhi oleh para siswi yang penasaran dengan keadaan perasaan kesal, ia menerobos para kerumunan tersebut, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui Sakura yang sedang bergetar hebat dilantai marmer yang dingin dengan mulut berbusa dan mata yang membeliak. Namun tak ada seorang pun yang menolongnya, kebanyakan hanya menonton kejadian itu dan beberapa lagi menangis sesenggukan karena tidak tega melihat keadaan Sakura, termasuk Ino dan Tenten.


"BODOH!", umpat Sasuke kepada para siswi yang menurutnya sangat melebihi kata tolol, karena hanya bisa mematung tanpa ada usaha untuk menolong Sakura.


To Be Continue ...


Keterangan: 1. Epilepsi jenis Grand Mal (tonik-klonik umum) adalah timbulnya serangan-serangan yang dimulai dengan kejang-kejang otot hebat dengan pergerakan kaki tangan tak sadar yang disertai jeritan, mulut berbusa, mata membeliak dan lain-lain disusul dengan pingsan dan sadar kembali.



Emetik \= perasaan ingin muntah atau sering kita sebut dengan istilah 'enek'.