SASUSAKU

SASUSAKU
Bab 3



Chapter 3


.


Hujan turun sangat lebat saat Sasuke masih berada di tengah-tengah perjalanannya menuju pulang ke rumah. Beruntung saat air deras mengguyur tubuhnya, jarak menuju ke rumah sudah tak begitu jauh lagi. Daripada mampir berteduh berjam-jam, Sasuke lebih memilih untuk melawan hantaman ribuan titik air selama sepuluh menit. Tak masalah jika ia jadi kedinginan, namun bisa cepat sampai di rumah - lebih baik dibanding harus berlama-lama berteduh.


Saat tiba di rumah dengan keadaan basah kuyup, indra penciuman Sasuke langsung disambut aroma lezat kaldu ayam, yang langsung membuat perutnya terasa kosong. Bau harum yang menyeruak seisi rumah begitu menggoda, apalagi di saat hujan turun begitu deras seperti ini. Sasuke yang awalnya kenyang menjadi begitu lapar saat ia berjalan menuju dapur, dan bau kaldu tersebut semakin kuat.


"Handuknya, Tuan."


Sasuke tersentak pelan saat menyadari keberadaan Sakura di sampingnya, dengan membawa sehelai handuk tebal berwarna biru tua. Sasuke meraih handuk tersebut, ia memang membutuhkannya untuk mengeringkan tubuh dan sedikit menghangatkan dirinya.


Semuanya terasa mudah semenjak ada Sakura di rumahnya. Wanita satu itu sangat cepat tanggap dan mudah beradaptasi dengan suasana rumah Sasuke. Kadang di saat Sasuke tengah suntuk dan merasa lelah dengan harinya, Sakura tiba-tiba muncul di hadapannya membawakan secangkir teh hijau hangat, minuman yang ampuh untuk membuat Sasuke merasa lebih nyaman. Atau pernah juga saat Sasuke lupa mengemasi perlengkapannya untuk misi selama tiga hari, saat dirinya bangun pagi dan terburu-buru menuju lemarinya, Sasuke hanya bisa tertegun saat menyadari ranselnya telah berisi semua perlengkapan misi tanpa kurang satu barang pun.


Bagaimana jadinya semua itu jika tak ada Sakura di sini?


"Oh ya, Tuan, aku memasakkan sup ayam untukmu," ucap Sakura sambil berjalan menjauhi Sasuke yang sibuk mengeringkan rambutnya. "Di saat dingin-dingin begini, memang paling sedap menikmati makanan berkuah!" ujar Sakura bersemangat.


"Kau tambahkan tomat di dalamnya?" tanya Sasuke di sela-sela kesibukannya.


Mendengar pertanyaan unik sang tuan, Sakura langsung terkikik geli seraya mematikan api kompor di depannya. "Tenang saja, Tuan, meski aku baru seminggu di sini, aku sudah hapal betul bahwa Tuan tak akan bisa makan tanpa tomat!"


Sasuke hanya bisa mendengus tak nyaman mendengar jawaban dari jin cantik yang masih akan tinggal di rumahnya hingga seminggu ke depan.


"Hihihi, jangan marah, Tuan, aku hanya bercanda."


Sasuke hanya memutar bola matanya bosan.


"Hmm... Tuan, sebelum masuk angin, cepat ganti pakaianmu!" perintah Sakura dengan wajah serius. Ia malah terlihat seperti seorang istri yang memarahi suaminya yang habis bermain hujan - padahal kenyataannya, dia hanyalah jin yang mengkhawatirkan kesehatan tuannya.


"Hn." Sasuke pun mengikuti saja apa yang diucapkan Sakura - meski tanpa disuruh pun dirinya memang akan segera mengganti pakaian basahnya dengan pakaian kering.


"Setelah itu, kita akan makan sup bersama!"


.


xxx


.


"Sruuppp." Sasuke menyeruput habis kuah sup terakhir yang tersisa di mangkuknya. Bahkan dirinya pun tak bisa menolak dari kenyataan bahwa masakan buatan Sakura begitu menggugah selera. Hampir setara dengan rasa masakan yang dibuat oleh ibunya.


"Enak ya, Tuan?" tanya Sakura yang duduk di seberang meja. Jin cantik itu tersenyum bangga melihat sang tuan begitu menikmati sup buatannya.


"Tidak juga," bantah Sasuke, "karena tidak ada lagi yang bisa dimakan, maka terpaksa aku memakannya," ujar Sasuke ketus.


Rasa kecewa langsung mengisi hati Sakura. Bagaimana pun Sasuke itu adalah tuannya, jika Sasuke tidak menyukai apa yang dikerjakan Sakura, maka dirinya bisa dibilang gagal menjadi seorang jin! "Maafkan aku, Tuan... setelah ini aku tidak akan memasakkan makanan lagi untukmu," gumam Sakura dengan suara yang begitu lemah. Wajahnya tertunduk lesu tak berdaya.


Sasuke tersentak, "A-apa? Lalu siapa yang akan masak untukku?"


Sakura menggigit bibir bawahnya pelan, entah mengapa rasanya sedih sekali mengetahui kebenaran bahwa selama ini sang tuan hanya terpaksa memakan masakan yang dibuatnya sepenuh hati. "Tuan bisa membeli di kedai makanan... rasanya pasti lebih enak."


"Hn?" Sasuke memicingkan matanya ke arah wanita berambut merah muda di depannya. 'Dia kenapa?' tanya Sasuke dalam hatinya. "Aku tidak mau. Aku tidak butuh makanan enak, yang penting bisa dimakan, itu sudah cukup," ucap Sasuke kemudian bangkit dari kursinya. "Dan, Sakura," panggil Sasuke sebelum dirinya benar-benar meninggalkan ruang makan.


"Hmmm?"


"Waktumu tinggal seminggu lagi di sini. Lakukan apa yang sudah jadi kewajibanmu terhadap tuanmu."


.


xxx


.


Hujan belum juga reda di luar sana. Ini sudah lewat lima jam sejak Sasuke sampai di rumah dalam keadaan yang serba basah. Waktu sudah pukul tujuh malam, hawa dingin semakin menusuk ke tulang. Sasuke hanya bisa memandangi serbuan air hujan melalui kaca jendela kamarnya.


Di saat-saat gelap seperti ini, Sasuke akan merasakannya lagi: merasakan kesendirian yang cukup menyakitkan. Tak ada siapa pun yang bisa menemaninya melewati terjangan badai dan serbuan hawa sejuk yang menusuk. Tak ada yang bisa membuatnya merasa hangat di saat suhu udara begitu rendah seperti ini.


Tidak akan begini jika 'mereka' semua masih berada di sekelilingnya.


Menghela napas berat, Sasuke menutup matanya sebentar, sekejap mengingat kembali kenangan hangat bersama mereka. Ada tawa, canda dan kehangatan yang terbayang dibenaknya, tengkuknya terasa melemah dan suasana terasa sunyi - tak ada suara hujan.


Sasuke tersenyum tipis. Namun di saat ia membuka matanya semua bayangan indah itu pun lenyap seketika. Ia kembali dihadapkan dengan kegelapan dan kesunyian. Dadanya terasa sakit, sangat sakit jika Sasuke kembali teringat keberadaan mereka yang telah lama hilang. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, meski ia telah berusaha melupakannya, tapi tetap saja akan ada waktu dimana ia akan merindukan suasana itu lagi.


"Tch," Sasuke mendecih kesal. Harusnya ia tak boleh lagi mengingat masa bahagia itu. Karena semua itu akan membuatnya tersadar bahwa di sini ia hanya sendiri tanpa ada yang bisa mengerti apa yang dirasakannya.


Sendirian, hanya kesunyian yang setia menemani dirinya.


Saat sadar bahwa ia hanya sendiri di rumah ini, suara langkah kaki membuat Sasuke terkesiap dan mengingatkannya bahwa saat ini, ia sedang tak sepenuhnya sendirian. Ada sosok lain yang bersamanya, ada sosok lain yang mengisi kekosongan hidupnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke tanpa memandang ke arah wanita di sapingnya. Matanya tertuju ke depan, melihat pemandangan distrik Uchiha yang dihantam ribuan titik air hujan.


"Sedang menikmati hujan, indah sekali," jawab Sakura.


"Hn."


Sakura menoleh pada tuannya yanh tampan ini. "Tuan belum tidur?"


"Masih awal."


"Baiklah." Sakura meraih kedua tangan Sasuke dan menggenggamnya erat di dalam tangannya. Ia mengabaikan tatapan kaget sang tuan, mengabaikan rasa malu yang menyeruak di hatinya. Tapi ia harus melakukan ini. "Tuan, terimakasih telah menyelamatkanku. Terimakasih telah membuatku melihat dunia yang indah ini," ucap Sakura serius. Wajah manisnya tampak berseri di tengah temaramnya sinar lampu di ruangan tersebut. "Aku... aku bahagia bisa bertemu denganmu. Aku akan mengingat saat-saat aku bersama Tuan, apalagi di saat seperti ini." Tanpa sadar, Sasuke pun mengeratkan tangannya, begitu menikmati rasa lembut nan hangat dari tangan yang mungil itu. Menggenggamnya kuat seolah tak akan ada lagi hari esok, seakan jika ia mengendurkannya sedikit saja maka rasa nyaman ini akan segera pergi dan tak akan ada lagi yang tersisa. "Tuan, berjanjilah untuk mengingatku di saat aku sudah pergi nanti..."


Dada Sasuke terasa meremuk mendengar ucapan Sakura.


Jangan pergi... jangan biarkan dia pergi...


Tatapan Sasuke mengeras, sedangkan Sakura terus tersenyum di depannya. "Tuan adalah manusia paling baik yang pernah kutemui!" seru Sakura begitu gembira, tangannya kini terbebas dari tangan Sasuke. "Ah, tapi aku baru ingat kalau manusia yang baru aku temui itu cuma Tuan dan Naruto, hehehe."


Sasuke mendengus namun tidak berkomentar.


"Oh ya, Tuan, kenapa di sini begitu sepi? Seminggu aku di sini, sepertinya keluarga Tuan belum ada yang datang mengunjungi," ujar Sakura penasaran. "Apa rumah mereka jauh?"


"Aku tidak punya keluarga," nada suara Sasuke terdengar dingin.


"Apa? Ah itu tidak mungkin! Jangan membohongiku, Tuan!"


"Aku serius," ucap Sasuke. Membuat Sakura terdiam dan tak berani mengeluarkan kata apapun. "Mereka semua sudah mati. Hanya aku yang tersisa."


Hening panjang.


"Saat itu sedang perang besar, semua orang mengerahkan tenaganya untuk melindungi Konoha. Itachi... dia melindungi sekuat tenaga agar aku bisa selamat."


"Itachi?"


"Dia kakakku, orang yang paling kusayangi di hidupku... dia juga mati di peperangan itu." Sejenak bayangan Itachi yang tersenyum muncul di kepalanya. Betapa lembutnya senyuman sang kakak yang diberikan untuknya dengan sepenuh hati. "Saat itu usiaku baru tujuh tahun... tapi aku masih bisa mengingat suasana mencekam dan mengerikan tersebut. Sangat menakutkan."


Sakura hanya bisa terdiam mendengar sang tuan menceritakan kisahnya. Tanpa disangka, lelaki tampan yang tampak luar biasa ini ternyata menyimpan kisah menyedihkan di masa lalunya.


"Jadi... Tuan sudah terbiasa dengan kesendirian ini? Tuan tidak kesepian?" pertanyaan itu terlempar begitu saja dari bibir Sakura. Dua detik kemudian Sakura menyesali apa yang telah ditanyakannya.


"Hn... kurasa begitu."


"Maaf, aku-"


"Sudahlah. Lupakan saja," perintah Sasuke kemudian beranjak pergi meninggalkan Sakura. Baru beberapa langkah, ia kemudian berhenti. "Sakura..."


"Hmm?"


"Aku masih punya satu permintaan, bisa kugunakan sekarang?"


"Tentu!"


Sasuke menatap lekat mata zambrud Sakura. Tersimpan penuh harapan di sana. "Aku... aku ingin kau hidupkan kembali Itachi... aku butuh seseorang di sini."


Sakura terdiam seribu bahasa, suasana jadi terasa lebih dingin dari sebelumnya. "Tuan..."


"Aku membutuhkannya, kurasa aku tidak akan kuat jika selamanya seperti ini." Sasuke mengepalkan kedua tangannya.


Sakura tersenyum pahit, baru kali ini ia melihat sisi lemah dari tuannya itu. Lelaki di hadapannya tampak begitu menyedihkan... "Tuan," Sakura berjalan mendekati Sasuke, setelah berada tepat di depannya, Sakura mengusap pelan wajah sang tuan. Tak ada air mata di sana, tapi Sakura tahu bahwa hati tuannya ini begitu sakit di dalam. "Maaf, tapi aku bukan Tuhan yang bisa mewujudkan permintaanmu itu. Aku tidak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal."


Sasuke memejamkan matanya, menikmati sebentar sentuhan Sakura, setelah itu menjauhkan dirinya dari Sakura. Ia tak boleh terlalu menikmati kehadiran wanita ini, tak boleh membiarkan Sakura terlalu jauh masuk ke dalam hidupnya...


Karena Sasuke tak ingin lagi merasakan kehilangan...


"Sudahlah, lupakan saja," ucap Sasuke berat, "aku juga tak sepenuhnya berharap kau bisa melakukannya."


"Maafkan aku, Tuan."


"Hn, ini artinya... kau masih berhutang satu permintaan untukku."


Sakura mengangguk pelan. "Ya, Tuan masih memiliki satu permintaan itu."


.


To be continued...


.