
CHAPTER 11
"Ngh..." Uchiha Sasuke tersentak kaget dan segera menoleh begitu mendengar erangan kecil di sampingnya. Gadis yang sudah tertidur lebih dari tiga puluh menit sebelumnya itu akhirnya bergerak juga. Tubuhnya menggeliyat sesaat sampai kelopak matanya sedikit demi sedikit terbuka.
Sasuke sempat merasa tegang. Pasalnya saat dia datang ke sini, gadis bernama Haruno Sakura tersebut sudah tertidur dengan lelap. Gadis itu belum tahu kalau setelah dia tertidur, Sasuke terus berada di sampingnya. Terlebih jas milik Sasuke yang dijadikan selimut untuk tubuh Sakura itu—bagaimana dia menjelaskannya? Hanya saja, Sasuke juga merasa percuma jika dia pergi sekarang. Sakura sudah terlanjur bangun, meskipun laki-laki itu kabur sekarang, tetap saja Sakura akan tahu bahwa sebelumnya ada seseorang yang sempat berada di sampingnya.
Akhirnya dengan pilihan yang tersisa, Sasuke menahan mati-matian tubuhnya agar tidak langsung berdiri begitu Sakura memposisikan dirinya duduk. Sasuke menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang jelas-jelas menunjukkan betapa tegangnya dia saat ini. Tak hanya itu, semburat merah di pipinya pun mulai terlihat. Aaah, kakinya bergetar sekarang, sangat menunjukkan bahwa Uchiha bungsu tersebut benar-benar ingin pergi dari sini secepatnya.
Sakura susah payah duduk dengan tubuhnya yang kaku karena baru bangun. Gadis berambut soft pink itu mengerang pelan. Sasuke hanya berani memandang punggungnya, cukup menunggu saja sampai dia menyadari keberadaan Uchiha bungsu tersebut. Tangan Sakura terlihat menyentuh jas yang menutupi tubuhnya sebelum akhirnya dia menoleh ke belakang dan mendapati Sasuke yang menatapnya. Tentu saja hal itu membuat Sakura terkejut.
"Sa... Sasuke?" bisiknya. Melihat pemuda berambut raven itu tidak memakai jas sekolahnya seperti biasa, membuat Sakura langsung terpaku. Berarti... jas yang menyelimuti tubuhnya saat dia tertidur adalah...
...Ah.
Wajah Sakura langsung memerah. Gadis itu cepat-cepat menundukkan kepalanya sementara tangannya dengan bergetar mengambil jas Sasuke dari atas tubuhnya. Sasuke pun sama, dia masih enggan membalas tatapan Sakura seperti biasa. Dengan pelan, dia menerima jasnya sendiri yang diberikan gadis tersebut. Keadaan terasa begitu tegang sampai Sakura bertanya...
"Su... Sudah berapa lama aku tertidur?"
Sasuke sedikit bergeming, namun dia tetap tidak mengangkat kepalanya, "...Sekitar tiga puluh menit. Mungkin." Jawabnya singkat. Mendengar itu, Sakura tersentak. Artinya sejak istirahat tadi, dia sudah melewati setengah jam pelajaran. Untuk pemegang beasiswa seperti Haruno Sakura, tentu saja perilaku yang nyaris mendekati bolos ini bisa menjadi masalah yang besar. Gadis beriris hijau emerald tersebut langsung berdiri.
"Oh tidak... aku... harus kembali ke kelas." Sakura segera berbalik dan lari menuju pintu masuk ke dalam gedung sekolah, meninggalkan Sasuke yang masih duduk menyandar pada kawat pembatas. Terus dan terus dia berlari, tanpa mencoba untuk melihat kembali ke belakang. Pemuda berambut raven itu lagi-lagi hanya bisa mengamati punggung kecil gadis tersebut yang semakin menjauh lalu menghilang dari balik pintu.
Sasuke menghela napas pelan. Anehnya dia tidak kaget ketika melihat perlakuan Sakura yang lain dari biasanya itu. Dan tentu saja, Uchiha bungsu itu tidak bodoh. Entah kenapa dia tahu, Sakura berlari meninggalkannya bukan karena takut ketinggalan pelajaran atau semacamnya. Well, mungkin itu bisa menjadi salah satu alasannya. Tapi alasan lain yang jauh lebih kuat...
...Sakura hanya ingin menghindarinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak seperti Sakura yang sudah memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran sampai nanti sepulang sekolah, Sasuke memilih agar tetap diam di atap gedung sekolah. Laki-laki beriris onyx itu menyandarkan punggungnya pada kawat di belakangnya lalu menengadahkan kepalanya menatap langit di atas sana.
Damai.
Terlalu damai.
Tatapannya begitu kosong, seolah tak ada kehidupan berarti di sana. Perilaku Sakura tadi masih sangat mengganggunya. Tidak. Sasuke tahu, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Sakura yang sudah memiliki kekasih juga tidak berpikiran dangkal, jika dia terus berdekatan dengan laki-laki lain, tidak akan ada yang tahu kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Entah apakah Sakura sudah memikirkan hal tersebut jauh sebelum dia dengan Sasuke semakin dekat atau baru-baru ini.
Yang mana pun, keduanya adalah hal yang paling ditakuti Uchiha Sasuke sekarang.
Sasuke meremas rambutnya sendiri. Semakin dia ingin melupakan gadis itu, semakin besar pula keinginan untuk memiliki gadis bermahkota soft pink itu seutuhnya. Meskipun dia mencoba berlari sejauh yang dia bisa, pada akhirnya dia akan tetap kembali menoleh ke belakang. Memastikan apakah gadis yang bernama seperti bunga itu baik-baik saja. Memastikan apakah dia bahagia. Memastikan apakah dia tidak terluka.
Sasuke sudah gila karenanya...
...dan tentu saja Sasuke sendiri tahu pasti akan hal itu.
Jika seandainya ada seribu pedang yang dilemparkan untuk membunuh Sakura, Sasuke pasti akan menjadi tameng agar tertusuk seribu pedang itu sendirian. Dari pada melihat Sakura menangis, Sasuke akan lebih memilih menggantikan gadis itu menangis meskipun air matanya sendiri nanti akan habis tergantikan dengan tangisan darah yang memilukan. Uchiha bungsu tersebut selalu membaca cerita-cerita yang mengatakan bahwa jatuh cinta itu menyenangkan, ketika menyayangi seseorang, rasanya tubuh begitu ringan hingga bisa terbang kapan saja.
Sasuke tersenyum kecut, lalu tertawa mengejek pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia sempat mempercayai cerita konyol seperti itu. Seandainya bisa, Sasuke akan menghampiri pembuat-pembuat cerita bohong itu lalu menghajar mereka hingga babak belur. Namun tetap saja, dia akan kembali membenci dirinya sendiri.
Kenapa dia harus jatuh cinta?
Terlebih... pada perempuan yang kemungkinannya besar tidak akan bisa dia miliki.
Siapa yang bodoh di sini?
Laki-laki bermata obsidian itu akhirnya menarik tubuhnya untuk segera berdiri dari posisinya. Diam di sini pun hanya akan membuat lukanya semakin menganga lebar. Kalau memang Sakura akan terus menghindarinya setelah ini, Sasuke harus bisa menerimanya. Dan kembali seperti dulu, laki-laki itu cukup mengawasi kebahagiaannya dari belakang.
Benar.
Lebih baik seperti itu.
CKLEK
Suara pintu terbuka menghentikan kegiatan Sasuke yang sedang merapikan seragamnya. Menyadari bahwa seseorang—bukan, dua orang yang membuka pintu itu dikenal olehnya, membuat Sasuke mengernyitkan alisnya. Apalagi ketika Sasuke melihat tatapan kedua laki-laki itu seolah ingin sekali mengatakan sesuatu padanya, membuat Sasuke entah kenapa meningkatkan kewaspadaannya.
"...Ada perlu apa?" tanya Sasuke dengan nada dingin yang dalam. Salah satu dari mereka berjalan semakin dekat hingga berhenti tepat di depan Sasuke, "Naruto? Neji?" tanya pemuda berambut biru dongker itu lagi.
Uzumaki Naruto yang saat ini berdiri tepat di depan Sasuke menunjukkan deretan giginya yang putih seraya mengangkat tangannya—tipikal Naruto ketika akan menyapa seseorang, "Yo Sasuke-teme!" sapanya.
Sasuke diam tidak membalas sapaan Naruto. Tidak ada gunanya juga jika dia membalas sapaan pemuda rubah itu. Naruto tidak terpengaruh, mungkin dia juga sudah terbiasa dengan sikap Sasuke yang seperti itu. Laki-laki berambut pirang spike itu tersenyum memandang salah satu sahabatnya, "Hehe, sedang apa kau di sini? Tidak ikut pelajaran, heh?"
Laki-laki beriris onyx itu memutar kedua bola matanya dengan malas, "Kau sendiri?" balasnya bertanya yang malah dibalas Naruto lagi dengan kekehan kecil. Sasuke hanya mendengus kesal, lalu dia mengalihkan perhatiannya pada laki-laki berambut panjang yang berdiri beberapa meter di belakang Naruto, "Kau juga Neji, padahal kau murid pertukaran, tidak masuk kelas?" lanjut Sasuke.
Neji hanya tersenyum tipis lalu menjawab dengan tenang, "Untuk sehari, sepertinya tidak masalah."
Nada bicara Neji yang sedikit berbeda dari biasanya membuat Sasuke semakin curiga. Melihatnya sekali saja Sasuke sudah tahu, Neji bukan tipe yang segampang atau sesantai Naruto untuk melewati jam pelajaran. Jangan lupakan kebiasaan Neji sendiri yang selalu membaca buku tebal bahkan saat jam istirahat berlangsung. Apa iya tipe maniak belajar seperti itu akan melewati jam pelajaran tanpa alasan?
Tatapan Sasuke padanya membuat Neji tersadar bahwa laki-laki berambut biru dongker itu mulai curiga padanya. Mungkin... memang tidak ada gunanya bertele-tele lagi. Neji mengangguk sebagai tanda pada Naruto yang meliriknya dari depan. Melihat senyum lebar Naruto yang menghilang tergantikan dengan tatapan serius, membuat Sasuke semakin yakin ada yang tidak beres di sini.
"Yah, memang lebih baik langsung kutanyakan saja ya ehehe," gumam laki-laki beriris biru langit itu seraya menggaruk belakang kepalanya. Lalu dia melipat kedua tangannya di depan dadanya, "sebenarnya aku akan terlihat seperti orang bodoh jika aku menanyakan ini. Tapi, aku ingin kepastian." Naruto menarik napas sedalam yang ia bisa lalu mengeluarkannya pelan.
"Apa kau menyukai—bukan, mencintai Haruno Sakura?"
Kedua bola mata yang sewarna dengan batu obsidian itu sempat menegang. Tatapan Naruto pada Uchiha bungsu tersebut sangat menusuk, begitu pula tatapan kedua lavender di belakang pemuda yang identik dengan rubah itu. Seolah di sini Sasuke ditekan oleh kedua belah pihak dan harus menjawab mau tak mau. Tentu saja Sasuke masih ingat. Dulu, dia tidak benar-benar menjawab pertanyaan yang sama dari Neji maupun Naruto. Dan sekarang, meskipun dia ingin menghindar lagi sepertinya percuma. Cepat atau lambat, Sasuke pasti akan kembali bertemu dengan pertanyaan yang menyebalkan ini.
Sasuke menarik napas pelan, "...Ya," kali ini sama dengan Naruto dan Neji, Sasuke pun menatap tajam keduanya secara bergantian, "ada masalah?" tanya Sasuke lagi.
Mendengar jawaban Sasuke, pemuda yang suka memakan ramen itu tertawa kecil—seperti mengejek, "Ada masalah? Hahaha aku atau Neji yang seharusnya bertanya seperti itu, teme," nada bicara Naruto perlahan tapi pasti mulai menaikkan pitam Sasuke, membuat kedua tangan laki-laki itu mengepal semakin keras, "ada masalah dengan petualanganmu, tuan Uchiha—yang katanya pasti mendapatkan apa saja yang dia mau? Perlu kami bantu?" tanya kekasih Hyuuga Hinata itu lagi dengan seringai rubah menyebalkan di wajahnya.
"Apa—"
"Haaah, ternyata selama ini aku salah mengagumimu, teme. Aku selalu berpikir, kau yang selalu dikerumuni cewek-cewek cantik pasti akan mendapatkan kekasih dengan cepat semudah membalik telapak tangan. Tapi ternyata? Menaklukkan satu perempuan saja kau sudah kelihatan tidak berdaya seperti ini. Menyedihkan sekali, hahahaha!" lanjut Naruto diakhiri dengan tawa puas yang mengejek.
Sasuke menggeram pelan, "Do—"
"Kenapa bisa begitu, teme? Haha, aku yakin jika aku bertanya seperti itu, pasti jawabanmu akan sama seperti dulu-dulu, 'Sakura sudah menjadi milik Sai dan bla bla bla~' haaah membosankan." Tubuh Naruto ikut bergerak mengekspresikan apa yang dikatakannya. Mengabaikan kenyataan bahwa Sasuke di depannya mulai terang-terangan menunjukkan betapa marahnya dia saat ini.
Neji masih berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada tembok di belakang sementara kedua tangannya dilipat di depan dada—mengawasi kedua sahabat itu dari jauh. Dan untuk yang terakhir, masih dengan seringai licik di wajahnya, Naruto mengangkat kepalanya, berbicara dengan nada arogan, "Fuh, dasar laki-laki payah."
CRAAANG
Dalam gerakan tiba-tiba, Sasuke menarik kerah kemeja Naruto yang berada di depannya lalu menyandarkan tubuh sahabatnya itu dengan paksa pada kawat pembatas di belakangnya. Mereka bertukar posisi. Neji yang melihat itu langsung tersentak dan berdiri tegak, hendak menolong Naruto. Namun dengan segera pemuda berambut pirang itu mengangkat tangannya sebagai tanda agar Neji tidak perlu membantunya saat ini. Naruto terlihat merintih karena punggungnya yang ditekan pada pagar kawat sementara tangan Sasuke mencengkram kerahnya semakin kuat—nyaris mencekik lehernya.
"Kau..." Sasuke berkata dengan geram, "KAU TIDAK TAHU APA-APA, DOBE!" teriaknya tepat di depan wajah Naruto yang semakin dia tekan. Tidak peduli jika dia akan menyakiti salah satu sahabatnya. Menurut Uchiha bungsu itu, Naruto sudah keterlaluan. Mood-nya benar-benar jelek saat ini.
Anehnya, Naruto sama sekali tidak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Sasuke. Sebaliknya, dia malah tertawa mengejek, "Hm? Kau bilang aku tidak tahu apa-apa? Benarkah?" Balasnya bertanya membuat amarah Sasuke semakin siap meledak, "Tapi aku benar kan, Sasuke? Sekarang kau adalah laki-laki payah! Menyedihkan! Kau lemah hanya karena perempuan yang kau sayangi sudah menjadi kekasih orang lain? Ha! Aku bisa mengerti sekarang kenapa waktu itu Sai mengataimu sebagai laki-laki yang hina!" cerocos Naruto tak kalah tajam dari sebelumnya.
Laki-laki yang memiliki kakak bernama Uchiha Itachi tersebut kembali membalas, "Lalu kenapa kalau aku adalah laki-laki yang payah, menyedihkan, lemah, dan hina, HAH? Setidaknya aku tidak seperti laki-laki tidak tahu diri yang bisa merebut kekasih orang lain sesuka hati!" Sasuke menggertakkan giginya semakin kuat, "Sakura yang memilih menjadi kekasih Sai! Dan Sai adalah sahabatku! Aku tidak mau menyakiti mereka sedikit pun! Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah mengawasi agar mereka tetap bahagia dari jauh! Karena itu... jangan bicara seolah kau tahu keinginanku yang sebenarnya!"
Naruto sempat terpaku mendengar itu. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Sasuke tersebut. Anak dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina tersebut menunduk, sehingga poninya menutupi kedua matanya. Sasuke tidak bisa melihat ekspresi apa yang saat ini dipasang teman sejak kecilnya tersebut, sampai Naruto berbisik pelan, "...Aku memang tidak tahu..."
"Hah?"
"AKU MEMANG TIDAK TAHU!" teriakan Naruto yang cukup keras dan tiba-tiba membuat Sasuke dan Neji terpaku, "Aku memang tidak tahu keinginanmu yang sebenarnya! Tapi... setidaknya aku tahu kalau kau menderita!" Sasuke kembali tersentak sementara Naruto melanjutkan ucapannya, "Uchiha Sasuke yang kukenal bukan seperti ini! Uchiha Sasuke yang selama ini menjadi teman sejak kecilku tidak selemah ini! Apa? Jangan bilang kau jadi seperti ini karena cinta dan sejenisnya! Menjijikkan! DASAR LEMAH!" teriak Naruto lagi.
Tangan pemuda rubah yang sedari tadi diam saja itu akhirnya bergerak mengibaskan tangan Sasuke yang mencengkram kerahnya. Sehingga kali ini Naruto bisa berdiri sejajar dengan salah satu sahabatnya di depannya sekarang. Sasuke tersenyum sinis lalu mendengus. Dia menatap Naruto dengan tampang arogannya, "Iya Naruto, aku memang menderita. Benar, aku lemah. Benar, aku menyedihkan. Terserah, apapun yang kau ucapkan pada akhirnya aku akan kembali pada kenyataan." Tangan laki-laki beriris onyx itu kembali mengepal.
"Kenyataan yang ada sekarang, Sakura sudah menjadi kekasih Sai. Sakura sudah memilih Sai."—Sasuke mendecih pelan—"Tentu saja. Tidak ada perempuan yang cukup bodoh untuk memilih laki-laki yang pernah menyakitinya, bukan? Meskipun laki-laki itu sudah berubah, bahkan bersumpah akan menjaganya sehidup semati..."
Sasuke memberi jeda, mendadak merasakan sakit yang hebat di dadanya, "Iya benar... Apapun yang kulakukan, meskipun aku akan menjilat ludahku sendiri. Meskipun aku akan mati karena melindunginya..." laki-laki berambut raven itu menarik napas lagi. Lalu tersenyum tipis. Senyum yang menyedihkan.
"...Haruno Sakura tidak akan pernah melihatku."
Naruto dan Neji terdiam melihat Sasuke yang saat ini menundukkan kepalanya sehingga kedua pemuda itu tidak bisa melihat ekspresi Uchiha bungsu tersebut. Tapi dua laki-laki itu pun tidak bodoh. Dari nada bicara Sasuke, mereka dengan pasti bisa merasakan seberapa besar rasa sakit yang dialaminya.
Laki-laki berambut coklat panjang itu kemudian mengalihkan perhatiannya pada Naruto yang terlihat habis kesabaran. Tidak boleh meledak, adalah perjanjian antara Neji dan Naruto sebelum mereka berdua memutuskan untuk menemui Sasuke. Tapi sekarang sepertinya percuma. Kalau sudah begini, perannya pun tidak dibutuhkan lagi. Neji tersenyum tipis lalu membalikkan tubuhnya, meninggalkan Naruto dan Sasuke di atap gedung sekolah.
Sesuai dugaan. Tidak peduli seberapa jauh pemuda Hyuuga itu mengerti perasaan Sasuke saat ini... tetap saja tidak akan pernah cukup untuk membantu laki-laki beriris onyx itu keluar dari masalahnya.
...Hanya sahabatnya—teman sejak kecilnya lah yang bisa.
"Sisanya kuserahkan padamu, Naruto."
.
Setelah kepergian Neji—tanpa ada yang mengetahuinya, mereka masih terdiam cukup lama. Hingga tiga puluh menit setelahnya, Sasuke akhirnya menarik napas dan kembali berbicara, "Sudah kukeluarkan semua yang ingin kukatakan, apa kau puas dobe?" Naruto diam tidak menjawab. Dia malah menundukkan sedikit kepalanya, "Sekarang... bisa tolong tinggalkan aku sendiri?"
"Aku masih belum selesai, teme," jawaban Naruto akhirnya memaksa kepala Sasuke untuk terangkat. Kedua sahabat itu pun kembali bertatapan satu sama lain, "setelah semua yang kau katakan, apa itu artinya kau menyerah? Kau menyerah untuk mendapatkan Sakura bahkan sebelum mencobanya?" tanya pemuda rubah itu lagi. Dia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan diri mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan menyakiti pemuda yang sebenarnya menyukai tomat tersebut.
"JAWAB AKU, TEME!"
Naruto berteriak lagi, membuat Sasuke sedikit tersentak. Sebenarnya Sasuke masih merasa heran melihat Naruto yang bisa serius seperti ini, padahal biasanya jika Sasuke maupun Sai ada masalah, Naruto tetap akan membuat mereka melupakan masalah masing-masing dengan berlaku apa adanya. Mungkin hal itulah yang membuat Sasuke atau Sai merasa iri dengan Uzumaki Naruto yang selalu bisa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Berbeda sekali dari mereka yang cenderung mempertahankan sifat dingin atau pura-pura ramah di depan banyak orang.
Ucapan Sasuke membuat Naruto membulatkan kedua bola matanya. Dia memang tahu ada kemungkinan Sasuke menjawab itu, namun dia tidak menyangka bahwa seorang Sasuke akan benar-benar mengatakannya. Secara tidak langsung, bukankah itu justru malah semakin menunjukkan betapa menyedihkannya si bungsu dari dua Uchiha bersaudara itu? Apa dia sudah tidak peduli jika seandainya Naruto akan kembali menertawakannya atau menginjak-injak harga dirinya itu?
Sasuke bahkan sudah tidak peduli lagi dengan harga diri yang biasanya dia banggakan setinggi langit.
Demi Tuhan...
Haruno Sakura, apa yang sudah kau lakukan padanya?
Anak tunggal presdir Uzumaki itu menatap Sasuke yang sedang tersenyum dengan tatapan sedih. Rasanya seperti kehabisan kata-kata. Ini di luar rencananya dengan Neji. Naruto sempat mengira, Sasuke yang memiliki ego luar biasa tinggi itu pasti akan mengamuk habis-habisan, lalu kemudian dengan memanfaatkan emosinya, Naruto akan menekan Sasuke balik hingga membuka pikiran laki-laki berambut raven tersebut.
Keduanya enggan memulai pembicaraan, namun mereka juga enggan lebih dulu melangkahkan kakinya untuk menjauh. Aneh. Sungguh aneh. Mereka seperti dua orang asing yang belum pernah mengenal satu sama lain. Tidak. Tidak boleh seperti ini. Sebelum Sasuke sempat mengangkat kaki untuk pergi, Naruto kembali membuka mulutnya. Aura serius terasa lagi di sekitarnya membuat Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tahu, Sasuke? Aku masih suka melakukan semua hal dengan santai seperti anak kecil. Aku benci memegang beban yang harus kutanggung seiring dengan umurku yang terus bertambah. Tapi, seperti yang kau katakan tadi, pada akhirnya kita akan kembali pada kenyataan." Iris biru langit itu menantang onyx di depannya. Mencoba memantapkan kata-katanya, "Kita tidak akan pernah bisa menjadi anak kecil selamanya."
Sasuke semakin dibuat bingung oleh pemuda yang memiliki kumis kucing di pipinya itu, "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku, dobe?"
Naruto tertawa kecil sebelum melanjutkan, "Kita adalah laki-laki. Nanti kita harus memilih sendiri wanita yang akan menjadi pendamping hidup kita, kita jugalah yang akan menjadi pemimpin dalam keluarga kita. Di situlah kita akan menghadapi pilihan-pilihan yang berat." Jeda sesaat, dengan senyum teduh di bibirnya, Naruto menatap Sasuke jauh lebih dalam dari sebelumnya.
"Jika saat itu datang, apa kau juga akan berkata bahwa kau menyerah dengan gampangnya seperti sekarang?"
Mendengar pertanyaan Naruto membuat Uchiha bungsu itu tertegun. Kedua bola onyx miliknya kembali membulat. Entah sudah ke berapa kalinya hari ini dia dibuat kaget dengan salah satu sahabatnya itu. Rasanya aneh, mengingat Sasuke dan Sai yang terbiasa menasihati Naruto karena kekonyolannya. Sekarang, justru Sasuke tidak bisa berkata apa-apa ketika Naruto mulai menunjukkan sisi seriusnya.
Melihat Sasuke yang mungkin akhirnya terbawa dengan kata-katanya, Naruto tersenyum lembut dan sedikit lebih lebar, "Haha anggap saja pilihan yang saat ini ada di tanganmu itu sebagai latihan untuk nanti," laki-laki pencinta ramen tersebut menunjukkan deretan giginya yang putih, "jujur saja, aku kaget saat kau mengatakan bahwa kau menyerah semudah itu. Biasanya kau akan melakukan apapun untuk menyembunyikan fakta menyebalkan yang ada." Lanjut Naruto lagi.
Sasuke menunduk sedikit, "Entahlah, mungkin aku sendiri sudah lelah karena terus mengatakan kebohongan." Jawabnya singkat. Naruto masih diam menunggu Sasuke yang masih terlihat akan melanjutkan kata-katanya, "Mungkin kau akan mengejekku kembali, tapi saat ini menyerah bukanlah pilihan. Tapi keharusan,"—helaan napas panjang—"apa kau tahu? Sakura mungkin akan mulai menghindariku setelah ini." Gumamnya.
"Eh?" bocah bermarga Uzumaki itu menatap Sasuke dengan kaget, "Bagaimana—"
"Hanya firasatku..." sebelum Naruto sempat menyela lagi, Sasuke buru-buru melanjutkan, "...dalam statusnya sekarang yang sudah menjadi kekasih orang lain, cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi." Dengusan menahan tawa keluar dari mulutnya. Naruto mendengar tawa kecil Sasuke setelahnya dengan seksama.
Berhenti.
Hentikan tawamu yang menyedihkan itu.
Kata-kata Naruto rasanya seperti tertahan begitu saja. Setelah menggigit bibir bawahnya dengan kuat, akhirnya salah satu sahabat Uchiha Sasuke itu kembali berkata, "Kau berkata seperti itu, tanpa memikirkan perasaan Sakura kan?" Sasuke menoleh kembali, menatap iris biru langit yang entah kenapa terlihat begitu sedih, "Bagaimana jika seandainya Sakura juga mencintaimu? Bagaimana jika sebenarnya dia tidak ingin kau menghindarinya? Bagaimana jika sebenarnya dia ingin bersamamu tapi dia takut menyakiti Sai? Kau bahkan belum pernah bertanya pada Sakura bagaimana perasaannya yang sesungguhnya padamu, kan?"
Sasuke mendengus kecil. Lalu menjawab dengan nada yakin, "Tidak perlu bertanya seperti itu. Sakura sudah menjadi—"
"MAKANYA KUBILANG KAU ITU LEMAH!" Naruto kembali berteriak seperti sebelumnya membuat Sasuke reflek memundurkan tubuhnya sekali langkah, "Terus saja kau tekankan di kepalamu bahwa Sakura itu milik Sai, Sai adalah sahabatmu, kau tidak boleh menganggu mereka—aaah! Bullshit! Kau bilang kau memikirkan orang lain, tapi apa? Perasaan Sakura yang sebenarnya saja kau tidak tahu, kan? Yang kau tahu hanya Sakura memilih Sai untuk menjadi kekasihnya. Tapi apa kau tahu, teme?" Naruto sengaja memberi jeda.
"Apa kau tahu... perasaan manusia bisa berubah kapan saja tanpa bisa mereka hindari?"
Sasuke terpaku. Laki-laki itu menundukkan kepalanya lagi seolah berpikir, "Pada akhirnya kau tetap saja akan sama dengan Sai. Kalian sama-sama egois. Itu salah satu hal yang paling tidak kusukai dari kalian berdua." Gerutu Naruto pelan. Dia menghela napas, "Lagipula... seperti katamu tadi, menurutku Sakura bukan gadis bodoh yang bisa semudah itu mengabaikan laki-laki yang telah berkorban banyak untuknya. Benar tidak?" tanyanya pelan dengan kekehan kecil. Sasuke lagi-lagi tetap diam tidak menjawab.
Keadaan kembali hening dengan aura yang mungkin sedikit tegang. Naruto mengatur napasnya yang memburu. Dia memang tidak pernah berbicara sebanyak dan secepat ini sebelumnya. Dalam tenang, laki-laki yang identik dengan rubah itu menatap sahabatnya yang masih terdiam seperti memikirkan kata-katanya.
Uchiha Sasuke dan Sai adalah kedua sahabatnya sejak kecil yang memiliki sifat hampir sama. Di antara keduanya, Sasuke lah yang paling pendiam. Tak ayal dalam beberapa kali mereka berkumpul, Naruto lebih sering berbicara bersama Sai. Seperti dua laki-laki itu yang tahu dengan baik bagaimana sifat Naruto, laki-laki bermarga Uzumaki itu pun sama. Dia tahu baik bagaimana sifat Sasuke dan Sai yang sebenarnya.
Keduanya sama-sama memakai topeng di depan banyak orang. Namun, mungkin untuk Sasuke, dia tidak terlalu memakainya dengan baik. Sesekali, dia menunjukkan sifat aslinya yang suka berkata dingin dengan arti yang menusuk pula meskipun dia tidak bermaksud seperti itu. Sementara Sai... dia pemakai topeng yang baik. Tersenyum dan tertawa bak orang ramah yang bisa didekati siapa saja. Siapa sangka Sai yang seperti itu ternyata justru lebih sering membuat orang lain menangis dibandingkan Sasuke yang jelas-jelas menunjukkan karakter dinginnya?
Untunglah Naruto sudah terbiasa dengan sikap Sai atau pun Sasuke yang seperti itu. Begitu pula keduanya yang sudah terbiasa dengan sikap satu sama lain. Selama mereka menjadi sahabat, Naruto berpikir semuanya akan baik-baik saja.
Sampai gadis itu datang...
Jujur saja, Naruto tidak pernah menyadari keberadaan Haruno Sakura sebelumnya meskipun mereka sekelas sejak kelas satu sekolah menengah atas. Entah Naruto yang terlalu sibuk berbaur bersama orang lain atau dia yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Yang jelas, Naruto baru menyadari keberadaannya saat Sai yang biasanya tidak mempedulikan para fans-nya tiba-tiba memberi kabar bahwa dia sudah memiliki kekasih bernama Sakura.
Sebagai sahabat, tentu saja Naruto senang mendengar kabar itu. Terlebih Sai terlihat sangat bahagia bersama gadis berambut soft pink tersebut. Perhatian laki-laki beriris biru langit itu pun terus terpusat dengan Sai dan Sakura. Hingga suatu hari, dia mulai menyadari...
...sahabatnya yang lain berubah sikap.
Sejak kabar Sai menjadi kekasih Sakura tersebar, Sasuke jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Dia sering melamun tanpa sebab, tidak fokus, dan sering menghindar dengan berbagai alasan logis hingga pralogis. Ditambah, laki-laki berambut raven itu pun jadi lebih sering memainkan Hp-nya sendirian ketimbang bermain bersama seperti dulu. Awalnya Naruto mengira mungkin Sasuke juga sama seperti Sai, sudah memasuki masa dimana remaja seumuran mereka sudah mulai menemukan lawan jenis yang disukai.
Dan itu memang benar.
Hanya saja... ada catatan yang perlu ditambahkan.
"Hei." Naruto tersadar dari lamunannya begitu seseorang memanggilnya. Entah sudah berapa lama dia melamun. Tatapan Sasuke di hadapannya terasa begitu kosong dan hampa, "...Aku akan menerima kata-katamu tadi di dalam pikiranku, asal kau mau menjawab dua pertanyaanku." Ucap Sasuke. Mendengar itu membuat Naruto mengernyitkan alisnya.
"Apa?"
Sasuke terdiam beberapa saat sebelum membuka mulutnya kembali, "Kenapa kau dan Neji membantuku? Kenapa bukan Sai?" tanya Uchiha bungsu itu nyaris berbisik, "Padahal kalau kalian mendukung Sai dengan Sakura, kalian tidak perlu susah-susah mencampuri urusanku seperti sekarang." Lanjut Sasuke.
Pertanyaan itu membuat sang Uzumaki tertawa kecil, "Kalau Neji ada di sini, dia pasti akan menjawab 'mengikuti feeling'," Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "tapi aku... entahlah. Mungkin karena aku benci Uchiha Sasuke yang menyedihkan seperti ini." Senyum di bibirnya mengembang lagi, "Masih ingat? Dulu aku pernah berkata, jika kau sudah berbicara dengan arogan dan membanggakan dirimu sendiri, itu sangat menyebalkan. Tapi setelah melihatmu yang sekarang... ternyata sifat sombong justru jauh lebih cocok untukmu." Naruto pun tertawa pada akhir kalimatnya.
Sebelum Sasuke berkata lagi, Naruto kembali bergumam, "Tapi seperti kata Neji, mungkin aku juga mengikuti feeling-ku sendiri. Aku bersalah pada Sai, hanya saja sampai sekarang aku tidak bisa merasakan kalau Sakura dan Sai akan bahagia jika mereka bersama. Mereka pantas mendapatkan yang jauh lebih baik."
Gumaman Naruto membuat Sasuke memejamkan mata lalu membukanya kembali. Laki-laki itu menghela napas untuk yang ke sekian kalinya sebelum melanjutkan pertanyaan kedua, "Baiklah, lalu... pertanyaan kedua..." diam sesaat, Sasuke kembali menatap kedua mata Naruto dengan dalam.
"Kau berkata semua itu seolah kau tahu perasaanku dan sejujurnya itu membuatku muak,"—jeda sejenak—"sekarang, bagaimana jika seandainya kau ada di posisiku? Bagaimana jika Hinata memilih menjadi kekasih salah satu sahabatmu? Mana yang kau pilih? Persahabatan atau cinta? Jika jawabanmu tidak membuatku puas, aku benar-benar akan memukulmu!" berang Sasuke yang seolah mengeluarkan amarah yang sedari tadi dia tahan.
Laki-laki berambut pirang spike itu tidak terlalu kaget mendengar pertanyaan Sasuke. Sepertinya dia sudah menduga, Sasuke pasti akan menanyakan pertanyaan ini padanya yang jelas-jelas sudah seenaknya mencampuri urusan laki-laki berambut raven tersebut. Sasuke menatapnya dengan iris onyx yang seakan siap menusuk kapan saja. Biasanya, Naruto akan ketakutan jika mendapat tatapan seperti itu dari Sasuke. Namun sekarang lain, pemuda itu justru balas menatap Sasuke dengan senyum percaya diri.
"Aku tidak akan menghindari kenyataan. Dengan tenang, aku akan mengatakan bahwa Hinata sudah menjadi kekasih orang lain." Sasuke semakin mengernyitkan alisnya, tangannya mulai mengepal, "Tapi maaf teme, aku bukan pengecut yang akan lari hanya karena itu. Apapun caranya, aku akan berusaha membuat Hinata melihat ke arahku. Tentu saja aku juga tidak akan berlaku bodoh dengan mengajak Hinata selingkuh di belakang kekasihnya. Hahaha, itu tidak keren!"
Tersenyum lebar, Naruto memindahkan kedua tangannya ke belakang kepalanya, "Aku tidak akan menarik kata-kataku. Lalu, aku juga tetap akan menjaga persahabatanku dengan kekasih Hinata itu. Sebisa mungkin aku akan menjaga kebahagiaan mereka masing-masing dengan caraku sendiri. Jika memang Hinata menjadi kekasih orang itu, maka aku akan menjadi suami Hinata!" dan ucapan terakhir Naruto tersebut berhasil membuat Sasuke terpaku. Pemuda beriris biru langit itu akhirnya tersenyum lagi.
"Setidaknya... aku tidak akan menyerah sampai Hinata sendiri yang menyuruhku untuk menyerah. Sampai waktu itu datang, aku akan terus menyayanginya dengan seluruh hatiku. Selama janji suci antara dia dengan laki-laki lain belum tercipta, aku akan terus ada untuknya. Menjadi pilihan kedua pun bukan masalah."
Mungkin memang benar orang mengatakan—
—bahwa cinta itu buta.
Sasuke terdiam dengan mulut nyaris terbuka. Sepertinya dia tidak menyangka dengan jawaban Naruto yang seperti itu. Pemuda rubah itu tertawa kecil melihat reaksi Sasuke. Kali ini dia memindahkan tangannya ke depan dada lalu melipatnya. Dia tersenyum geli melihat Sasuke yang masih belum merubah ekspresinya. Baru ketika Naruto memukul bahunya, laki-laki itu tersadar dan segera berdehem untuk menyembunyikan ekspresi sebelumnya.
"Hahahaha, tapi sejujurnya aku salut dengan Sakura yang bisa membuat dua sahabatku yang kaku jadi lebih berekspresi sekarang." Goda Naruto. Sasuke mendengus kesal mendengar itu, "Baiklah, mungkin peranku juga sudah selesai sekarang. Sisanya terserah kamu saja, aku tidak punya hak untuk memaksamu lebih jauh." Setelahnya, Naruto memukul lagi bahu Sasuke pelan lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya. Berjalan meninggalkan Uchiha bungsu tersebut. Namun, sebelum benar-benar pergi, Naruto menyempatkan diri untuk berbalik dan mengangkat tangannya.
"Good luck, Sasuke-teme!"
.
.
.
.
#
Bel berbunyi tiga kali, menandakan jam pulang sekolah telah tiba. Begitu guru pelajaran terakhir keluar, murid-murid yang lain pun mengikuti dengan berdiri dari kursi masing-masing kemudian membereskan tas sebelum benar-benar keluar dari kelas mereka.
Sakura pun sama. Dia ikut berdiri dan merapikan tasnya sendiri. Namun, tak ayal sesekali iris hijau emerald miliknya melirik kursi di sampingnya. Sejak dia pergi meninggalkan Sasuke tadi, Sasuke sama sekali belum kembali ke kelasnya bahkan meskipun sekarang sudah waktunya pulang. Rasa khawatir mulai terbesit di dadanya. Tapi dengan cepat, Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia tidak apa-apa.
Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sakura...
Gadis bermahkota soft pink itu menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Percuma juga dia mengkhawatirkannya sekarang, bukankah dia sendiri yang tadi memutuskan untuk cepat-cepat meninggalkannya? Sakura memukul kepalanya sendiri. Bahkan dia tidak lagi bisa mengenali dirinya dengan baik.
"Fuh, ganbatte cherryblossom! Lebih baik, aku melanjutkan fic-ku begitu sampai rumah." Gumamnya pelan. Setelah keputusannya sudah bulat, Sakura tersenyum pada dirinya sendiri kemudian dia segera mengaitkan lengan ransel kecilnya pada bahunya.
Tadinya Sakura hendak langsung keluar kelasnya. Namun, niat itu tertahan begitu melihat seseorang yang berdiri di depan pintu kelasnya yang sudah sepi—hanya Sakura yang tersisa di dalam kelas sekarang. Gadis itu menghentikan langkahnya melihat seorang gadis yang sangat dia kenali sebagai salah satu gadis yang terkenal dan banyak disukai oleh para kaum Adam.
Jika Sai dan Sasuke sering disebut pangeran Konoha high school—
—maka Yamanaka Ino adalah putri Konoha high school.
Sakura merasakan firasat yang buruk ketika Ino melangkah mendekatinya dengan tatapan yang penuh arti. Tentu saja, Ino terkenal dengan rasa sukanya pada salah satu pangeran sekolah yaitu Sai yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya. Walau anehnya Sai sendiri tidak pernah menyadari itu.
Ino membuka mulutnya, "Hari ini, Sai pulang terlambat karena harus menyelesaikan tugas yang diberikan para guru. Jadi, dia bilang agar kau pulang duluan tanpa perlu menunggunya." Ucap gadis berambut pirang itu dengan nada sarkastik. Mendengar nada bicara Ino, Sakura hanya mengangguk sekilas lalu mencoba melangkah melewatinya. Tapi lagi-lagi hal itu tertahan ketika Ino menggenggam tangannya.
Gadis bermarga Haruno itu langsung menoleh ketika tangannya dipegang oleh Ino. Dia balas menatap pandangan sinis Ino dengan pandangan datar. Tentu saja melihat itu, membuat Ino semakin geram. Dia menggertakkan giginya sebelum berkata pada Sakura...
"Bisa bicara sebentar? Berdua saja."
.
.
.
"If I can't replace him in your heart, then I don't mind being a second choice in your life."
— Hazuki (Natsuyuki Rendezvous)
.
.
.
To Be Continued...
.
.