
CHAPTER 13
Empat tahun yang lalu...
"RASAKAN INI!" teriakan bocah berambut pirang yang berumur tiga belas tahun menggema di tengah lapangan yang baru saja dibentuk lima hari yang lalu itu. Seiring dengan teriakannya, teriakan anak-anak lain mengikutinya kemudian semua berlari ke arahnya yang memang sedang menggiring bola menuju gawang lawan.
Uzumaki Naruto tidak menghilangkan seringainya yang menampilkan deretan gigi putihnya. Tanpa perlu menghiraukan keringat yang mengalir di sekujur tubuhnya, Naruto terus berlari kencang melewati lawan-lawan yang berusaha menghalanginya. Anak-anak yang menjadi lawannya mulai mendecih, benci mengakui kegesitan laki-laki kecil berkulit tan tersebut dalam bermain sepak bola.
Dari sudut yang tidak terlalu jauh dari posisi gawang, Naruto segera melepaskan tendangannya pada bola di saat pertahanan lawannya lemah. Bola berwarna hitam putih itu melaju kencang melewati kiper yang terlambat untuk menghalanginya, hingga akhirnya—"GOOOOL!"
Naruto berteriak senang begitu pula teman-temannya yang satu tim dengannya. Mereka segera berlari menghampiri Naruto lalu memeluknya dengan erat, berkat kawan mereka yang satu ini, tim Naruto berhasil mengungguli lawannya dengan skor tiga-dua. Sangat ketat memang. Tadinya Naruto tidak akan main karena dia dipersiapkan untuk pertandingan selanjutnya, tapi ternyata tetap tidak bisa begitu. Tim lawan yang datang dari Suna tidak bisa dianggap remeh seperti perkiraan awal pelatih mereka.
Tak butuh waktu lama sampai Naruto yang memang pada dasarnya berbakat dalam olahraga sepak bola membobol gawang lawan dengan dua gol. Setelah sebelumnya satu gol didapatkan oleh kawannya yang lain bernama Kimimaro.
Istirahat satu setengah jam sebelum pertandingan kedua tentu tidak Naruto sia-siakan. Dengan cepat Naruto meminta izin pada pelatih dan teman-temannya untuk pergi sebentar, keluar dari ruangan yang telah disediakan untuk para pemain. Tanpa menunggu jawaban dari sang pelatih, Naruto segera berlari keluar menuju tempat duduk yang telah disediakan untuk para penonton.
Napas Naruto terengah ketika dia menoleh ke kanan kiri untuk mencari tempat duduk dua sahabat baiknya. Naruto yang mulai memasuki masa remajanya menyusuri pinggir lapangan yang memang dipadati banyak orang yang sangat antusias dengan pertandingan sepak bola antar tingkat SMP tersebut. Kebanyakan yang datang adalah orang tua atau teman-teman baik dari anak yang ikut pertandingan. Naruto terus mencari hingga akhirnya kedua iris biru langitnya membulat karena telah menemukan dua orang yang telah dicarinya.
"Sasuke! Sai!" teriak Naruto, berusaha berteriak di tengah kerumunan orang. Sepertinya usahanya itu tidak sia-sia, karena salah satu dari mereka yang berambut hitam lurus menegakkan kepalanya seakan mencari sumber suara. Naruto tersenyum semakin lebar, "Sai! Aku di sini!" teriakan Naruto untuk yang kedua kalinya kini berhasil membuat Sai menemukan dirinya.
Sai tersenyum lalu berdiri sementara temannya yang satu lagi tetap duduk di sampingnya seakan tak peduli, "Naruto! Permainan yang bagus," puji Sai ketika Naruto menghampiri mereka. Naruto hanya tertawa kecil sembari menggaruk belakang kepalanya. Sekilas, kedua pipinya terlihat memerah walau tipis.
Sekarang Naruto beralih pada temannya yang masih sibuk dengan komik yang dibacanya. Naruto memanyunkan bibirnya, "Woi Sasuke!" masih tidak bergeming, akhirnya bocah Uzumaki itu menggoyang-goyangkan bahu Sasuke dengan keras, "Temeeee! Katakan sesuatu dooong!" rengek Naruto keras. Sai hanya tertawa geli melihat itu—walau tetap tidak berniat membantu salah satu dari mereka.
Setelah goyangan bahu yang ke sekian kalinya, akhirnya Uchiha Sasuke menghela napas panjang. Sasuke menutup komik yang dipinjamnya dari Naruto lalu menatap salah satu sahabatnya itu dengan malas, "Tadi kata Sai regumu menang tiga-dua, 'kan? Selamat ya," dan Sasuke pun kembali melanjutkan kegiatannya membaca komik. Mengabaikan Sai yang menggigit bibir bawahnya menahan tawa dan Naruto yang terbengong mendengar jawaban temannya yang super dingin tersebut.
"Ha-Hanya itu? Tidak ada komentar sama sekali? Bagaimana tendangan sudutku? Bagaimana dengan permainanku barusan? Tidak ada?" tanya Naruto sekali lagi berusaha memastikan. Tak heran jika Naruto mengharapkan jawaban lebih dari Sasuke. Karena Sasuke sendiri sebenarnya jago bermain sepak bola—meski entah kenapa laki-laki itu tak berniat bergabung dalam regu sepak bola di sekolah mereka.
Well, memang pada dasarnya Sasuke jago pada semua bidang permainan olahraga yang ada. Lain halnya dengan Sai yang lebih menyukai basket dan bela diri. Meskipun dalam hobi, Sasuke dan Naruto mempunyai kesamaan suka membaca cerita dalam bentuk apapun—novel atau komik, sementara Sai lebih suka menggambar. Bisa dikatakan Sai selalu terlihat beda dari dua sahabat baiknya yang lain. Tapi, Sasuke dan Sai sendiri cukup seimbang dalam soal pelajaran—ah, jangan tanya bagaimana kemampuan Naruto di bidang pelajaran terutama matematika.
Tapi, itu tidak penting bukan?
Karena di dalam persahabatan, perbedaan adalah hal terindah untuk mengisi kekosongan satu sama lain.
Naruto mulai kesal karena Sasuke tidak juga memberinya jawaban yang dia inginkan. Akhirnya sebelum tertawa lagi, Sai berkata, "Bagaimana bisa dia memberimu komentar sementara sepanjang permainanmu dia terus membaca komik, Naruto?" mendengar itu Naruto langsung berteriak kesal, Sai sukses tertawa sembari memegang perutnya, dan Sasuke melirik Sai dengan tatapan galak.
"Aaaaargh! Pokoknya kau harus melihat pertandingan keduaku, Sasuke!" Uchiha bungsu itu tidak sempat menahan Naruto yang langsung merebut komiknya. Sebelum Sasuke sempat protes, Naruto kembali berteriak galak, "Kusita!" dan dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan Naruto pun pergi meninggalkan kedua sahabat baiknya.
Sasuke mendengus kesal lalu menopang dagunya dengan tangan kanannya sementara Sai yang masih tertawa kini duduk kembali di sampingnya. Mendengar tawa Sai yang masih belum berhenti juga, Sasuke kembali mendengus kasar lalu bergumam dengan nada dingin, "Terima kasih, Sai."
"Hahaha, sama-sama," balas Sai seakan menyindir kata 'Terima kasih' yang diucapkan Sasuke dengan sarkastik. Sasuke menggerutu kesal kemudian membuang mukanya. Sai sendiri hanya tersenyum maklum melihat Sasuke seperti itu walau pada akhirnya dia tetap tidak mempedulikannya. Laki-laki remaja berambut raven tersebut memang gampang marah tapi dia juga gampang memaafkan.
Tidak akan ada yang menyangka bahwa Uchiha Sasuke adalah sosok yang perhatian selain kedua sahabat baiknya.
Melihat Sasuke yang sepertinya masih marah dan enggan untuk mengajaknya bicara, akhirnya Sai menghela napasnya. Yah, mungkin dia juga salah. Pemuda beriris onyx tersebut melirik jam yang melilit pergelangan tangannya, masih ada satu jam lagi sebelum Naruto kembali bermain. Sai memutar kedua bola matanya bosan sebelum mengambil salah satu buku sketsa yang masih kosong dan tempat pensil dari dalam tas ransel yang dibawanya.
Tak butuh waktu lama sampai Sasuke mulai melirik ujung pensil yang Sai torehkan di atas kertas sketsanya. Sampai sekarang Sasuke masih heran, bagaimana sahabat baiknya itu bisa membuat satu tubuh manusia sempurna yang dimulai dari satu lingkaran yang tidak seimbang bentuknya. Tanpa Sasuke sadari, dirinya mulai semakin tertarik dengan goresan-goresan yang dibuat Sai hingga kepalanya menoleh sempurna.
Sai yang tadinya hanya terfokus dengan sketsa buatannya kini menyadari kedua mata Sasuke yang sukses terpaku dengan gambar buatannya. Melihat itu, Sai tersenyum tipis. Dia tidak berniat untuk membuyarkan lamunan Sasuke hingga akhirnya kembali melanjutkan gambar buatannya. Merapikan keseluruhannya hingga sempurna. Selesai. Sebelum Sai sempat tersenyum puas, Sasuke membuka pembicaraan...
"Bagaimana kau bisa melakukannya?"
Sedikit kaget, Sai langsung menoleh dan mendapati tatapan Sasuke yang masih terpaku pada buku sketsanya, "Kakekmu yang mengajarimu?" akhirnya Sasuke menatap kedua matanya, "Atau bagaimana?" tanya adik dari Uchiha Itachi tersebut.
Salah satu sahabat baiknya itu memiringkan kepalanya, "Hm, kalau aku bilang kakek yang mengajariku sepertinya kurang tepat juga," Sai tersenyum lebar setelah cukup lama berpikir, "kau bisa mengatakan kalau aku belajar secara otodidak."
"Hn," respon Sasuke malas. Memang, hampir di setiap waktu kosong yang ada, Sai selalu mengisinya dengan menggambar. Tak heran jika semakin lama kemampuan gambar Sai semakin meningkat. Walau Sasuke masih penasaran bagaimana caranya bisa seperti itu. Apa karena bakat? Entahlah. Yang pasti setiap Sasuke berusaha menggambar, hasilnya selalu di bawah rata-rata—setidaknya begitu menurut Naruto yang memang suka mengejeknya.
Keadaan kembali hening. Sai sudah menggambar di atas kertas ketiganya. Dia dan Sasuke memang tidak begitu banyak bicara. Selalu Naruto yang mengisi keheningan di antara mereka dan saat ini sudah pasti tidak mungkin. Kali ini Sasuke yang melihat jam di layar hp miliknya. Tinggal lima belas menit lagi sebelum pertandingan kedua dimulai. Sasuke menghela napas panjang lalu menoleh melihat gambar ketiga Sai yang telah selesai dibuat.
"Selesai," gumam Sai dengan senyum yang membuat kedua matanya menyipit. Menyadari Sasuke kembali menanamkan perhatian padanya, Sai menoleh, "bagaimana? Anggap saja judulnya 'menonton pertandingan sepak bola'," tanya Sai, mengharapkan jawaban lebih dari Sasuke seperti Naruto sebelumnya.
Sasuke memperhatikan gambar itu. Ada dua orang—yang bisa Sasuke perkirakan itu adalah dia dan Sai—duduk di pinggir lapangan yang sepertinya sengaja Sai buat menjadi sepi. Kedua anak laki-laki di gambar itu terpaku pada lapangan dimana ada beberapa anak yang bermain sepak bola. Sudut pandang dan arsirannya sungguh sempurna—terutama latar belakangnya yang dibuat sangat detail. Sasuke tersenyum tipis.
"Kau semakin meningkat," ucap Sasuke datar. Sai tertawa mendengar itu. Untuk ukuran Sasuke yang selalu kaku dalam kata-kata, anggap saja tadi itu sebagai pujian.
"Terima kasih."
"Sai," panggilan Sasuke membuat Sai menolehkan kepalanya dan menghentikan niatnya yang hendak membuka kertas kosong baru. Sai mengangkat sebelah alisnya, menatap Sasuke dengan tatapan bertanya. Sasuke sempat terdiam melihat ekspresi Sai, tapi pada akhirnya dia kembali melanjutkan, "aku hanya ingin tanya," jeda sesaat, kedua iris mata Sasuke dan kedua iris mata Sai yang berwarna sama tersebut saling menatap satu sama lain.
"Apa yang sangat ingin kau lakukan dengan gambarmu suatu hari nanti?"
.
.
.
.
.
.
.
Entah kenapa pikiran Sai kembali melayang pada perbincangannya dengan Sasuke empat tahun yang lalu. Laki-laki itu menggertakkan giginya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia harus fokus. Ya. Perkataan Sakura barusan seakan menggali memori-memori lama yang sangat ingin dia lupakan—terutama dengan pemuda bernama Uchiha Sasuke tersebut.
"Sai?"
Haruno Sakura kembali memanggilnya untuk yang ke sekian kalinya. Sai tersentak. Keringat mengalir dari pelipisnya melalui pipi putih pucatnya. Sakura di depannya menatapnya dengan khawatir. Iris hijau emerald miliknya yang indah itu kembali menarik Sai untuk menelusurinya lebih jauh. Sai menggigit bibir bawahnya. Tidak lagi.
"Lalu... setelah putus denganku, apa yang akan kau lakukan?"
Pertanyaan Sai yang tiba-tiba keluar membuat Sakura membulatkan kedua bola matanya. Gadis itu menunduk pelan, "Apa?" Sai kembali bertanya, "Menjalin hubungan dengan Sasuke?—Ah, untuk apa aku bertanya seperti itu? Sudah pasti jawabannya iya," dan kini Sai berteriak tepat di depan muka Sakura.
Gadis yang berhasil masuk ke dalam sekolah yang terkenal ini dengan beasiswanya tak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata Sai. Sakura menggeleng cepat, "Tidak! Aku—"
"TIDAK PERLU MEMBANTAH!" teriakan Sai yang menggema di dalam kelasnya membuat tubuh Sakura menegang. Kedua tangan Sakura mengepal di depan dadanya. Menahan rasa takut yang kembali menggerogoti tubuhnya seperti saat dia dan Sai bertengkar sebelumnya.
Kedua iris onyx di depannya saat ini terasa begitu mengikat dirinya. Sakura seakan tidak diizinkan bergerak meskipun hanya ujung jarinya. Tatapan Sai begitu menusuk tapi Sakura tahu... ada retakan di sana. Dan perlahan tapi pasti rasa takut yang tadi menyelimuti tubuhnya kini tergantikan dengan rasa menyakitkan yang begitu hebat. Rasa sakit yang belum pernah Sakura rasakan sebelumnya. Bahkan ketika Sakura menyadari dia dibenci oleh seluruh warga sekolah rasanya tidak sesakit ini.
Seolah dadanya ditusuk dengan beribu pedang yang datang entah dari mana. Menghalangi Sakura untuk bernapas bahkan meskipun hanya untuk menarik udara dan mengisi paru-parunya. Lalu, rasa itu merambat menuju kedua matanya hingga terasa panas. Sakura menundukkan wajahnya. Siap menangis lagi.
Jangan.
Jangan tatap aku seperti itu, Sai.
Ini salahnya. Benarkah? Hanya karena dia ingin memutuskan hubungannya dengan Sai dan memulai semuanya dari awal lagi agar tidak ada yang tersakiti. Apa dia salah? Sakura tidak tahu lagi. Dia menggelengkan kepalanya dengan keras. Diam-diam berharap di dalam hatinya agar ada seseorang yang menariknya keluar dari situasi ini.
"Tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain? Persetan," Sai tidak bisa menahan dirinya lagi. Sai tidak bodoh. Tentu dia menyadari bagaimana dia bisa begitu emosional hanya karena gadis bermahkota soft pink tersebut, "pada akhirnya jika kau menjadi kekasih Sasuke, kau tetap akan bahagia di atas penderitaanku! Dan, apa jika itu terjadi kau tetap bisa berkata dengan sombongnya bahwa kau tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain? JANGAN BUAT AKU TERTAWA!" teriaknya lagi.
Tubuh Sakura kembali bergetar. Tanpa bisa dia hentikan, Sakura terus menggeleng lemah, "Tidak... kumohon dengarkan aku, Sai. Aku juga tidak akan menjadi kekasih Sasuke. Aku—"
"Sekarang jawab pertanyaanku."
Lagi-lagi Sai memotong perkataannya. Dalam situasi ini, Sakura cukup sadar dia yang sudah menyakiti Sai. Bukan Sai. Meskipun Sakura masih meragukan apakah hanya dia yang salah di sini, "Siapa yang kau cintai? Sasuke atau aku?"
Pertanyaan sederhana namun sukses menusuk Sakura dengan telak. Siapa yang dia cintai? Siapa? Sasuke? Sai? Sai yang selalu ada di sampingnya di saat dia terluka atau Sasuke yang selalu menariknya dari lubang kesendirian?
Siapa?
Siapa?
Kepala Sakura ditekan begitu hebat. Beribu pertanyaan yang tidak pernah dia perkirakan akan datang kini memenuhi kepalanya seakan siap membuat kepalanya meledak kapan saja. Sakura meremas kepalanya sebelum akhirnya jatuh terduduk. Tidak. Rasanya begitu memusingkan. Air mata Sakura masih belum bisa berhenti mengalir.
Sai masih terdiam di posisinya berdiri. Laki-laki itu menggertakkan giginya. Bahkan di saat terakhir sebelum perpisahan mereka, dia masih menyakitinya. Kenapa? Apa sekarang posisinya dengan Sasuke kini berbalik? Apa perilaku Sasuke yang dulu hanya bisa menyakiti gadis yang dia sayangi kini berpindah padanya sedangkan dirinya yang dulu selalu bisa membuat Sakura tersenyum kini berpindah pada Sasuke?
Apa ini karma?
Karma karena telah memutuskan persahabatan mereka.
Benar.
Sai pantas mendapatkannya.
Sakura sudah mengusap air matanya entah untuk yang ke berapa kalinya. Melihat itu, Sai berkali-kali ingin menurunkan tubuhnya lalu memeluk—mantan—kekasihnya itu dengan erat. Tapi tidak. Ada sesuatu yang menghalanginya. Entah apa itu. Dalam situasi ini, Sai tahu Sakura tidak akan bisa menjawabnya—
—meskipun gadis itu sudah menemukan jawabannya.
Sai menelan ludahnya. Ya. Dia tidak perlu mendengar jawaban Sakura. Semua sudah jelas. Dia tidak mau jatuh semakin dalam. Mengabaikan Sakura yang masih mengisak di belakangnya, Sai berjalan menuju luar pintu kelas lalu membukanya. Laki-laki berambut hitam lurus itu sempat terdiam beberapa saat sebelum berbisik dengan suara yang cukup keras hingga Sakura bisa mendengarnya.
"Selamat berbahagia dengan Sasuke. Tidak perlu memikirkanku. Anggap saja kau dan Sasuke tidak pernah mengenalku sebelumnya."
BRAK
Sakura hanya bisa menahan napas ketika Sai menutup pintu dengan keras. Tidak boleh begini. Tidak. Dengan seluruh keberanian yang telah terkumpul, Sakura bangkit dari posisinya lalu berlari cepat. Dibukanya pintu yang tadi telah ditutup Sai. Saat Sakura keluar, tak jauh di depannya Sai melangkah. Hingga sekarang Sakura bisa melihat punggung laki-laki yang telah menjadi mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak berbohong ketika dulu aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, Sai!" mendengar suara Sakura di belakangnya, Sai berhenti. Namun laki-laki itu tetap enggan berbalik, "Kau yang menyelamatkan diriku dari rasa kesendirian di sekolah yang besar ini, kau yang membuatku tersenyum untuk pertama kalinya di sekolah ini, kau orang pertama yang membuatku merasa dihargai—merasa bahwa aku masih dibutuhkan di sini! Kau juga... orang pertama yang membuatku berpikir untuk tetap bertahan di sekolah ini walau menyakitkan!"
Sakura menarik napas sedalam-dalamnya. Teriakannya menggema di lorong sekolah—tapi dia tetap tidak peduli.
"Rasa terima kasihku padamu akan selalu kuulang di dalam hatiku! Selamanya! Aku tidak akan melupakanmu selamanya! Karena mengenalmu... adalah salah satu hal terindah di dalam hidupku. Aku tidak akan pernah menyesalinya... sungguh. Aku bukan apa-apa jika kau tidak pernah ada sebelumnya."
Bahkan di saat seperti ini, Sakura tidak sanggup menahan air matanya. Gadis itu mengangkat kepalanya. Menangis dengan senyum di wajahnya. Tubuhnya seakan dipaku di tempat ketika Sai kembali melangkah menjauhinya. Sakura menunduk. Meremas ujung rok yang dia kenakan. Sangat... menyakitkan.
"Maaf dan terima kasih... Sai."
Lima langkah ke depan sampai akhirnya berbelok. Sai masih belum mengangkat wajahnya setelah mendengar perkataan Sakura tadi. Entah apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang. Siapa yang disakiti dan tersakiti? Tidak ada yang tahu. Atau mungkin memang keduanya. Sai terus berjalan sampai dia menyadari seseorang yang berdiri menyandar pada tembok tak jauh di sampingnya.
"...Kau belum pulang, Neji?" tanya Sai pelan—nyaris berbisik. Hyuuga Neji memejamkan matanya sesaat sebelum membukanya. Laki-laki berambut coklat panjang itu berdiri dari sandarannya.
"Tadinya—" kini kedua tangan Neji menyilang di depan dada bidangnya. Laki-laki itu menghadap depan, enggan juga menghadap Sai, "—sampai aku mendengar hal yang menarik."
"Kau harus pulang," bisik Sai lagi, "sebagai siswa pertukaran, kau masih berada di bawah tanggung jawabku. Aku tidak mau mendapat hukuman jika sesuatu terjadi padamu," Neji terus memperhatikan Sai yang berbicara dengan tenang tanpa mau memperlihatkan ekspresi yang saat ini dipasangnya.
Neji mendengus kecil, "Aku bukan anak kecil, Sai," tidak mendapat respon, Neji kembali melanjutkan, "jadi, kau akan lari?" tanyanya cukup pelan.
"Atas apa?"
Sai masih tidak menjawab. Akhirnya Neji menghela napas panjang dan melanjutkan, "Kau mengatakan bahwa Uchiha Sasuke adalah pengecut. Tapi... kau sendiri juga begitu," Neji menangkap basah bibir Sai yang sempat terbuka dan menggertakkan giginya keras, "menjadi pengecut adalah sifat dasar manusia. Bukan ejekan. Tapi itu kenyataan," kali ini Neji yang berjalan lebih dulu meninggalkan Sai yang masih terpaku di tempatnya.
"Sai," panggilan Neji yang masih berjalan menjauhinya membuat Sai mengangkat kepalanya. Mendengar kata-kata Neji setelahnya membuat pertahanannya runtuh. Sesuatu yang tertahan kini mengalir keluar membuat kepala Sai kembali menunduk.
"Laki-laki juga boleh menangis di saat seperti ini."
#
.
.
.
#
Sasuke membuka buku pelajaran bahasa Jepangnya hari ini. Kabar angin yang mengatakan bahwa hari ini akan ada ulangan bahasa Jepang membuat Sasuke berpikir untuk sedikit membaca ulang materi yang ada. Sasuke menghela napas bosan sementara sesekali kedua matanya melirik malas ke arah Naruto yang terlihat begitu panik setelah mendengar kabar angin tersebut. Beda sekali dengan Sasuke yang terlihat begitu tenang.
"Kau tahu? Sai dan si miskin itu sudah putus!"
Eh?
Sasuke tersentak mendengar kata-kata itu. Dengan segera kepalanya terangkat untuk mencari tahu siapa yang mengatakannya. Kumpulan gadis yang tak jauh darinya terlihat begitu antusias dengan topik yang mereka bicarakan. Sepertinya bukan hanya Sasuke yang terkejut, Naruto juga sama. Setelah mendengar kata-kata para gadis itu, Naruto segera beralih menatap Sasuke dengan pandangan bertanya. Seolah menanyakan apa yang tadi didengarnya benar-benar terjadi.
Tentu saja Sasuke tidak tahu apa-apa dan hanya membalas pandangan Naruto dengan gelengan kepala. Di saat yang bersamaan, Sai masuk ke dalam kelas. Suasana yang tadinya hening karena kedatangan salah satu pangeran sekolah tersebut kini harus buyar dengan pertanyaan Naruto yang langsung to the point bertanya di tengah kelas.
"Sai! Kau benar-benar putus dengan Sakura?"
Rasanya waktu berjalan begitu lambat di kepala Sasuke. Uchiha bungsu itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menelan ludahnya karena tegang. Sasuke bisa melihat Sai sempat melihat ke arahnya sebelum beralih ke arah Naruto. Tatapannya terasa begitu kosong.
"Ya. Ada masalah?"
Bahkan Naruto yang biasanya langsung bicara tanpa memikirkan perasaan orang lain sekarang hanya bisa terpaku. Baiklah, kabar dua pasangan yang putus dari hubungannya bukanlah kabar baru. Tapi... ini sahabatnya. Dan... yah, sisanya tak perlu dijelaskan. Naruto juga menelan ludahnya, sesekali laki-laki berambut pirang itu melirik ke arah sahabat baiknya yang lain. Sasuke yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa duduk diam dan mencoba fokus dengan buku bahasa Jepang di depannya.
Sakura dan Sai putus.
Tapi... apa alasannya?
Pertanyaan itu memenuhi kepalanya membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Sial! Mana Sakura? Kabar ini mau tak mau membuat Sasuke khawatir. Bagaimana pun juga, Sasuke harus mengakui hubungan Sakura dengan Sai yang mampu membuat Sakura tersenyum itu jauh lebih penting dari apapun. Entah kenapa bayangan Sakura yang akan kembali murung seperti sebelum hubungan mereka terjalin kembali menakutinya.
Karena bagi Sasuke, selama Haruno Sakura tersenyum...
...itu sudah cukup.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian seluruh kelas dari Sai. Sekuat mungkin Sakura berusaha berjalan menuju tempat duduknya di samping Sasuke tanpa mempedulikan tatapan merendahkan di sekelilingnya. Semuanya kembali seperti di awal, saat sebelum dirinya menjalin hubungan dengan Sai. Sakura sudah siap, dia sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. Sakura melirik Sai yang masih duduk di tempatnya. Namun, Sai justru hanya melihatnya sesaat dari kejauhan lalu mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sakura hanya bisa menahan napas melihat itu.
Sai... membencinya.
Tidak ada yang akan peduli lagi dengannya.
Tidak ada lagi yang akan mau menemaninya.
Tidak a—
"Kau baru datang, Sakura?"
Sakura tersentak ketika Sasuke tiba-tiba bertanya padanya dengan suara keras. Begitu pula yang lain. Semua yang ada di kelas itu hanya bisa terbengong melihat Sasuke yang biasanya dingin itu kini tersenyum—meskipun sangat tipis. Tak terkecuali Sai dan Naruto.
"Duduklah, lekas buka buku bahasa Jepang. Ada ulangan mendadak di jam pelajaran kedua," ucap Sasuke seraya kembali memusatkan penglihatannya pada tulisan-tulisan kanji pada buku di hadapannya.
Sakura mengangguk kaku, "I-Iya," balasnya. Sakura mengeratkan pegangannya pada tas jinjingnya sebelum duduk di samping Sasuke. Gadis itu menunduk takut menghadapi tatapan mengancam di seluruh kelas. Tapi, dia berusaha tidak peduli. Sekarang yang harus dia utamakan adalah ulangan bahasa Jepang nanti. Nilainya lebih penting dari apapun.
Di saat Sakura sudah mulai fokus dengan kegiatan belajarnya dan para murid lain sudah kembali fokus dengan kegiatannya masing-masing, Sasuke menghela napas lega. Sungguh nekat perlakuannya tadi. Sasuke tidak terbiasa menunjukkan rasa perhatiannya di depan umum, tapi melihat Sakura yang begitu murung dengan kedua mata nyaris membengkak—mungkin dia menangis semalaman—membuat Sasuke tidak bisa menahan dirinya lagi. Argh, dia sangat bingung. Entah perasaannya senang atau sedih mendengar kabar gadis itu telah berpisah dari kekasihnya.
Sakura menoleh melihat Sasuke menopang kepalanya dengan tangan di atas meja. Laki-laki itu terlihat menghela napas berat. Wajah Sakura kembali memerah menyadari Sasuke baru saja berusaha keras untuk menaikkan hatinya. Heh, pikiran pemuda berambut raven itu memang sangat sulit ditebak. Sakura tersenyum lebar.
"Sasuke," mmendengar namanya dipangggil, Sasuke pun menoleh. Sedikit kaget melihat warna merah menghiasi kedua pipi putih Sakura, "terima kasih."
Ukh, baiklah kini Sasuke kembali bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Uchiha bungsu itu menundukkan kepalanya dalam sehingga Sakura tidak bisa lagi melihat ekspresi yang dipasangnya. Yang bisa didengar Sakura saat ini hanyalah gumaman Sasuke untuk merespon perkataannya, "Hn."
Melihat dua pasangan itu dari kejauhan, Sai menggigit bibir bawahnya. Rasanya masih sangat tak rela melihat mantan sahabat dan kekasihnya itu mulai merakit sesuatu yang tidak bisa dia lihat secara perlahan-lahan. Sai mengepal tangannya.
"Belum."
Ya.
Belum selesai.
Masih ada satu tantangan lagi, Uchiha Sasuke.
#
.
.
.
.
.
#
Kembali ke empat tahun yang lalu...
"Apa yang sangat ingin kulakukan dengan gambarku suatu hari nanti?" Sai yang masih berumur tiga belas tahun itu mengulang pertanyaan Sasuke. Dia terlihat berpikir cukup lama. Setelah menemukan jawabannya, Sai tidak langsung mengatakannya, tapi dia bertanya dulu pada Sasuke, "Kalau kau? Apa ada yang ingin kau lakukan nanti berhubungan dengan hobimu yang suka membaca?"
"Kena—"
"Sudah, jawab saja," potong Sai langsung. Laki-laki berambut hitam lurus itu tersenyum menang melihat ekspresi sebal Sasuke. Tapi toh, pada akhirnya Sasuke tetap menjawabnya.
Sasuke menatap bawahnya, "...Entahlah, tapi aku selalu membayangkan jika suatu hari nanti aku akan bertemu dengan suatu hal yang hebat dengan membaca," adik dari Uchiha Itachi itu menggaruk belakang kepalanya, tidak tahu bagaimana menjelaskannya, "sejauh ini... aku hanya membaca cerita-cerita buatan Naruto—yang penulisnya aku kenal. Jadi—entahlah."
"Aah, maksudmu seperti ingin membaca cerita buatan perempuan yang kau sukai?" mendengar penuturan Sai membuat Sasuke tersentak. Meski sekilas, Sai sempat melihat pipi sahabat baiknya itu memerah walau sangat tipis, "Aku tidak tahu Uchiha Sasuke yang dingin ternyata menyukai tipe perempuan yang suka berkhayal."
"Kau membuat tipeku terdengar begitu bodoh," Sasuke menghela napas frustasi mendengar Sai yang kembali tertawa puas, "mengesampingkan tipe perempuan yang kuinginkan, aku hanya ingin membaca cerita yang bisa membuatku terlarut dengan cerita itu dan tidak akan pernah bisa melupakannya," lanjut Sasuke.
Sai terdiam mendengar itu lalu mengangguk-angguk tanda mengerti. Laki-laki berkulit putih pucat tersebut kembali tersenyum, "Kalau aku..." Sai menatap kertas kosong di depannya sementara Sasuke menoleh menatapnya, "...satu hal yang pasti, aku akan melukiskan wajah perempuan yang kusayangi dan akan kusimpan dengan baik," ucapnya.
"Hn," Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "hanya melukis seorang gadis?"
"Yeah, jika aku memang hanya akan menjalin hubungan dengan satu perempuan. Tidak ada yang tahu aku akan menyayangi berapa perempuan, 'kan?" dengusan Sasuke membuat Sai kembali tertawa, "Tenang saja, aku bercanda. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan banyak perempuan. Cukup satu sampai tiga—yang paling banyak. Aku ini pemilih," jelas Sai panjang lebar. Sasuke tidak merespon, cukup menjadi pendengar yang baik.
"Ah, mengesampingkan soal perempuan, aku juga ingin menggambar kita bertiga saat dewasa nanti," Sai kembali menggoreskan ujung pensilnya. Membentuk tiga lingkaran yang dihiasinya sedemikian rupa hingga menjadi tiga wajah kecil yang Sasuke kenal, "aku, kau, dan Naruto," gumam Sai sembari menunjukkan ujung pensilnya pada setiap gambar lalu menyebut namanya.
Sasuke masih diam saat Sai kembali melanjutkan, "Nanti gambarku itu akan ku-copy lalu kuberikan pada kalian. Simpan baik-baik ya," Sai melanjutkan kegiatan menggambarnya. Tiga wajah Sasuke, Sai, dan Naruto tadi dilanjutkan oleh Sai hingga membentuk gambar sempurna. Gambar mereka bertiga di umur mereka sekarang, tiga belas tahun. Sai menulisnya di ujung kertasnya.
Di gambar itu, ketiganya memakai pakaian yang sama seperti yang mereka pakai sekarang. Naruto dengan seragam regu sepak bolanya, Sai memakai kaos hitam, jaket tanpa lengan berwarna abu-abu, dan celana pendek berwarna abu-abu tua, Sasuke memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru tua dan putih lalu memakai jeans panjang berwarna biru dongker seperti warna rambutnya. Tapi, tentu saja Sai mewarnainya hitam putih karena dia hanya memakai pensil. Sai menyobek kertas itu lalu memberikannya pada Sasuke.
"Tolong di-copy dua. Nanti berikan padaku dan Naruto," Sasuke yang memang rumahnya dekat dengan toko fotocopy hanya diam seraya menerima kertas tersebut. Di saat Sasuke masih termenung menatap kertas tersebut, Sai kembali berkata.
"Aku... tidak tahu apa yang akan terjadi nanti di masa depan. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berharap," Sai tersenyum tipis—nyaris tak terlihat. Sasuke memperhatikan ekspresi Sai. Semenjak menerima kertas dengan gambar mereka bertiga itu, suatu tekad muncul di benak Sasuke tanpa dia sadari. Terutama setelah mendengar kata-kata Sai.
"Aku berharap semoga suatu saat nanti aku benar-benar bisa menggambar kita bertiga yang sudah dewasa."
Jika Sai maupun Naruto tidak bisa...
...maka Sasuke yang akan menjaga persahabatan mereka. Apapun yang terjadi.
"Tanpa kehilangan salah satu di antara kita."
.
.
.
.
.
Don't ever choose between love and friendship
.
Because you can't live without one of it
.
.
.
.
.
To be Continued...
.
.
.