
CHAPTER 12
Seandainya bisa, mungkin sudah sedari tadi Haruno Sakura lari sejauh-jauhnya dari tempat ini.
Tidak perlu mengandai lagi, sebab Sakura sudah tidak bisa lagi kabur kemana pun. Selain karena tadi saat perjalanan Yamanaka Ino terus memegang tangannya, sekarang kedua blue sapphire milik Ino yang indah itu terus menatap lurus tajam ke arah green emerald miliknya. Mereka berdua masih diam sedari tadi, seolah memikirkan kata-kata yang akan mereka keluarkan setelah ini.
"Jadi..." akhirnya Ino memulai. Gadis itu memejamkan kedua matanya sebelum kembali membukanya. Kentara sekali bahwa dia sangat tidak menyukai gadis sederhana yang berdiri di hadapannya, "...apa kau sudah tahu apa yang ingin kukatakan padamu?"
Siapa yang tidak kesal jika mendapat tatapan menilai lalu merendahkan seperti itu? Sakura memicingkan kedua matanya kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, "Mana mungkin aku tahu jika kau saja belum berkata apapun padaku? Kuharap dengan mengetahui informasi bahwa aku adalah pemegang beasiswa tidak membuatmu berpikir aku bisa menebak-nebak semua yang ingin kau katakan padaku, Yamakana-san," balas Sakura sarkastik. Kepalanya sedikit terangkat, mencoba bersikap arogan.
Mendapat balasan yang tak menyenangkan, membuat Ino menggertakkan giginya kesal. Sepertinya perkiraan bahwa Sakura adalah tipe gadis lemah yang menurut apa saja yang akan dikatakannya menghilang sudah, "Kau—"
"Tapi, jika hal ini menyangkut Sai," Ino langsung terdiam. Mendadak, kedua tangannya mengepal dan bergetar, "biar kutekankan satu hal sebelum pembicaraan ini dimulai, sekarang Sai adalah kekasihku."
Penegasan Sakura membuat getaran tubuh Ino terhenti. Kedua bola matanya menatap Sakura tak percaya. Bisa-bisanya dengan tenang gadis yang bernama sama dengan bunga kebanggaan Jepang tersebut mendeklarasikan hal yang sangat sensitif untuknya. Ino membuka mulutnya, namun tak ada suara yang keluar hingga akhirnya dia mengangkat tangannya, berniat menampar Sakura.
Sialan.
Sialan.
SIALAN!
"Ukh..." namun tangan Ino berhenti dan bergetar ketika pipi Sakura tinggal beberapa centimeter—mungkin juga milimeter—lagi dari telapak tangannya. Entah kenapa seakan sesuatu menghalangi niatnya. Meskipun begitu, Ino belum menarik kembali tangannya.
Dada Ino naik turun, napasnya tidak teratur. Kedua matanya berkaca-kaca, siap menangis. Dulu gadis Yamanaka tersebut sudah memutuskan, tidak akan memakai cara licik apapun demi mendapatkan hati seorang laki-laki yang telah dipujanya sejak sekolah menengah pertama. Termasuk melukai gadis yang saat ini dicintai laki-laki itu. Dia ingin Sai menyukainya atau bahkan mencintainya dengan tulus atas usahanya sendiri. Dengan dia apa adanya tanpa harus berpura-pura di depan laki-laki yang murah senyum tersebut.
Tapi, tapi... bagaimana ini...
Perasaannya berada di ujung tanduk sekarang.
Ino tahu, Sai baik pada semua orang. Ino juga tahu, ada kalanya Sai membuka topengnya yang sok baik dan bisa menjadi laki-laki yang bermulut tajam. Terkadang Sai pun bisa menjadi sosok kejam hingga tidak ada yang berani mendekatinya. Ino tahu itu. Sangat tahu. Tapi gadis berambut pirang itu sudah terlalu menyayanginya. Semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki seorang Sai, dia menyukainya.
Tadinya, dia berpikir...
Yamanaka Ino cukup menyayangi Sai dari jauh. Tidak peduli jika laki-laki itu tidak akan pernah membalas kasih sayang yang dia berikan. Dia akan terus mengawasi kebahagiaannya dari jauh.
Lalu kenapa sekarang setelah semua pernyataan itu...
...dia takut kehilangan?
Melihat Ino yang akan menangis di depannya, Sakura memejamkan matanya. Suatu keputusan muncul di kepalanya. Sakura membuka kembali kedua matanya lalu menatap Ino yang terkesiap mendengar kata-katanya, "Silahkan tampar aku, jika itu memang memuaskanmu," jeda sejenak, Sakura kembali melanjutkan, "walau tamparanmu itu tidak akan merubah kenyataan apapun."
PLAK
Tamparan Ino yang sangat keras membuat kepala Sakura dipaksa menoleh ke kiri. Akibat tamparan itu, rambut soft pink Sakura ikut berantakan hingga menutupi setengah wajahnya. Dalam diam, Sakura kembali menghadap depan, namun kali ini menunduk. Sehingga Ino tidak bisa melihat ekspresinya. Tangan Sakura terangkat menyentuh bekas tamparan Ino yang memerah.
Sakit.
Apakah... rasa sakit yang Ino rasakan saat ini mengalir dari tamparannya sehingga Sakura juga ikut merasakannya?
Atau tidak?
Apa Ino merasakan sakit yang jauh lebih menyiksa dari tamparan ini?
Sakura tidak tahu. Sementara itu, tangisan Ino meledak. Di tengah tangisannya Ino berteriak seolah mengutarakan isi hatinya yang selama ini terpendam, "Kenapa? Kenapa kau? Kenapa harus kau? KENAPA? Apa yang kau punya sedangkan aku tidak? Apa yang Sai lihat darimu? APA?"
Ino semakin histeris, "JAWAB AKU! JANGAN DIAM SAJA!" Sakura tetap diam. Posisinya tak berubah dan hal itu membuat rahang Ino melemas, "Aku sudah... aku sudah menyukai Sai selama empat tahun! Aku menerima semua kekurangannya! Aku menyukainya—bukan! AKU MENCINTAINYA! Dan dia... dia lebih memilihmu... yang baru saja masuk ke dalam hidupnya? JANGAN BERCANDA! Kapan dia akan melihatku? Bagaimana caranya? Kau bahkan tidak jauh lebih baik dariku! Lalu kenapa?!"
Anak pemilik toko bunga tersebut menggigit bibir bawahnya. Tak dapat menahan, akhirnya tubuhnya jatuh terduduk bersimpuh sementara kepalanya mendongak menatap langit-langit. Sakura hanya bisa diam membisu menatap Ino yang kemudian berteriak...
"KENAPAAAAAAAAAA?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya...
"Rumus ini salah," cetus seorang laki-laki berambut raven yang tengah mengajari salah satu sahabat di depannya. Dia duduk menghadap meja temannya itu dan membelakangi meja yang lain, "haah, ayolah dobe. Masa' soal segampang ini saja kau tidak bisa? Aku prihatin dengan masa depan perusahaan Uzumaki yang akan kau pegang nanti," lanjut pemuda itu dengan sarkastik.
Uzumaki Naruto menggembungkan kedua pipinya kesal lalu menggebrak mejanya main-main, "Sembarangan! Itu masih lama tahu! Aku masih harus lulus SMA, belum nanti kuliah. Jangan mikir kepanjangan dulu, deh!" ujar Naruto seraya bertingkah seakan dia yang paling benar di sini, "Siapa tahu nanti aku malah jadi laki-laki jenius yang akan membanggakan perusahaanku karena memiliki presdir seperti aku setelah lulus kuliah nanti wahahaha!" tawanya dengan bangga.
Uchiha Sasuke menghela napas panjang, "Oh begitu? Baguslah, aku tidak perlu susah-susah mengajarimu. Toh, kau tetap akan menjadi laki-laki jenius nanti setelah lulus kuliah tanpa bantuanku," balas Sasuke sembari berdiri.
Melihat gerakan temannya, Naruto buru-buru menahan bahu Sasuke dengan panik, "Aaaa iya iya maaf aku salah temeee! Aaakh, teme ganteeeng kumohon ajari aku aaaa!" rengek Naruto cukup keras hingga membuat beberapa gadis di kelas mereka terkikik geli melihat tingkah pemuda berambut pirang tersebut.
Sasuke merotasikan kedua bola matamiliknya. Tangannya menyingkirkan tangan Naruto dari bahunya, "Iya iya," jawabnya pelan lalu kembali duduk. Sebelum benar-benar memusatkan diri pada Naruto, Sasuke sempat melirik ke arah meja di samping mejanya yang berada di pojok kanan kelas. Namun itu tak lama, karena dia buru-buru mengalihkan perhatiannya lagi pada Naruto, "ayo cepat coba kerjakan sendiri soal nomor lima!" perintahnya.
Anak tunggal presdir Uzumaki itu tidak langsung merespon perintah Sasuke. Tentu saja, dia menangkap basah lirikan Sasuke tadi lalu menyeringai lebar, "Heee, lihat siapa yang sedang menunggu seseorang di sini~" Sasuke menatap iris biru langit Naruto dengan tajam, "wah wah, jangan gusar begitu Sasuke, mungkin saja dia telat hari ini."
Percuma juga berusaha menyangkal, Naruto sudah tahu semuanya. Akhirnya Sasuke mendengus kecil, "Tapi biasanya dia tidak telat, dia selalu datang pagi," gumamnya pelan, namun cukup bisa didengar Naruto yang antusias. Sasuke menggelengkan kepalanya cepat, "sudahlah. Jangan mengalihkan pembicaraan, dobe! Cepat kerjakan soal nomor lima!"
Naruto menggerutu kesal. Tapi mendengar nada bicara Sasuke tadi, sepertinya kali ini Naruto tidak bisa membantah. Dengan ogah-ogahan pemuda yang memiliki rambut berwarna pirang dengan model spike itu mengerjakan soal di bukunya sementara kepalanya menyandar di atas meja. Sasuke menopang dagunya sendiri memperhatikan gerakan tangan Naruto menulis suatu rumus di bukunya.
Bosan melihat Naruto terus, akhirnya Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Bel baru saja berbunyi namun itu tak membuat anak-anak segera kembali ke tempat duduknya masing-masing. Masih banyak yang duduk di kursi temannya atau bergosip ria seperti beberapa perempuan yang tak jauh dari posisi Naruto dan Sasuke berada. Kelas langsung hening seketika pintu terbuka dan masuklah Haruno Sakura ke dalam kelas.
Berpasang-pasang mata langsung tertuju pada Sakura yang melangkah menuju tempat duduknya sendiri. Langkahnya menggema di dalam kelas yang masih hening karena kedatangannya. Sasuke menyadari ada yang aneh dari gadis itu. Mengabaikan Naruto yang masih berkutat dengan soalnya, Sasuke berdiri dan bermaksud kembali ke tempat duduknya sendiri. Sampai perkataan gadis-gadis yang sedari tadi bergosip ria menghentikan gerakannya.
"Kau dengar? Kemarin ada yang melihat si miskin itu bertengkar dengan Yamanaka Ino."
Sasuke memicingkan matanya. Yamanaka Ino? Sasuke tidak mengetahui apa-apa tentang gadis itu. Tapi Sasuke pernah mendengar dari Naruto, bahwa Ino sering disebut-sebut sebagai putri di Konoha high school karena kecantikan, kekayaan, dan kepintaran yang dimilikinya. Dia diincar banyak lelaki dari sekolah ini maupun dari sekolah luar. Walau begitu, anehnya Ino tidak pernah memiliki kekasih. Entah kenapa.
Yah, mana mungkin Uchiha bungsu itu peduli. Tak lama kemudian setelah berkata seperti tadi, telinga Sasuke mendadak semakin panas mendengar komentar-komentar tiga gadis tersebut setelahnya.
"Sudah miskin, sok banget lagi! Dasar menyebalkan!"
"Mentang-mentang dapat beasiswa, dia pikir dia istimewa? Cih, apa dia jadi besar kepala karena menjadi kekasih Sai sekarang?"
"Hahaha bisa jadi! Dia pikir Sai suka sama dia? Sai itu baik sama siapa saja! Bisa jadi kan, Sai mau jadi kekasihnya karena Sai kasihan sama dia?"
"Fuh, aku kesal sekali setiap melihat dia. Sekolah kita tuh sekolah untuk orang kaya! Melihat orang miskin di sini seperti melihat sampah yang harus dibuang pada tempatnya!"
"Kita singkirkan dia yuk? Bikin dia malu di depan seluruh warga Konoha high school!"
"Di depan seluruh warga Konoha saja kalau perlu! Jadi, setelah dia dikeluarkan dari Konoha high school, tidak akan ada lagi sekolah yang mau menerima dia hihihi."
"Kyahaha! Jahat banget! Tapi biarkan saja deh, biar dia hidup sampai mati di jalanan! Oh ya, rumahnya di tempat pembakaran sampah saja!"
"Ide bagus!"
"Hahaha benar be—"
CRAAAT
Ketiga gadis itu terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Saat mereka tengah berbicara dengan seru, tiba-tiba air entah dari mana membasahi baju mereka. Memang tidak begitu banyak, tapi tetap saja air itu sampai mengenai rambut mereka. Seluruh anak-anak di dalam kelas langsung menahan napas melihat kejadian itu. Apalagi saat mereka melihat siapa pelaku yang telah menyiram ketiga gadis tersebut dengan air.
"Ah maaf—" Sasuke menyeringai. Sama sekali tak merasa bersalah saat dia menaruh tempat minum Naruto yang baru saja dia tumpahkan isinya ke atas meja Naruto lagi. Entah mengapa kali ini gadis-gadis itu ketakutan melihat seringai Sasuke. Padahal, biasanya mereka akan tergila-gila dengan senyum Sasuke itu, "—tanganku licin."
Anak-anak yang lain masih tidak ada yang berani berkata-kata termasuk Sakura yang telah duduk di tempatnya sendiri. Sebenarnya Sakura tidak mendengar apa yang dikatakan para gadis-gadis tadi hingga membuat Sasuke marah dan menyiram air pada mereka. Tapi tentu saja Sakura melihat adegan saat Sasuke dengan cepat membuka penutup tempat minum Naruto dan langsung menumpahkan isinya. Saat itu, menurutnya ekspresi Sasuke sangat mengerikan.
Para gadis tadi tidak ada yang berani merespon kata-kata Sasuke. Mereka serentak menatap Sakura dengan kesal dan penuh kebenciaan secara bersamaan. Tentu saja mendapat tatapan seperti itu membuat Sakura bingung. Seakan dia adalah penyebab dari semua ini padahal dia baru saja datang. Setelah itu, ketiga gadis tersebut dengan muka memerah antara menahan tangis, marah, dan malu langsung berlari keluar kelas.
Langkah Sasuke menggema saat dia berjalan menuju tempat duduknya sendiri. Anak-anak yang terlewati dengan jalur Sasuke, langsung buru-buru mengalihkan perhatian mereka dengan hal lain. Menganggap mereka tidak melihat apa-apa seperti saat kejadian dengan Tayuya dulu. Sakura juga sama. Dia langsung membuka-buka bukunya begitu Sasuke akhirnya duduk di sampingnya.
Mereka berdua terdiam beberapa saat. Sakura sedikit bingung dengan Sasuke hari ini. Laki-laki itu terlihat menatapnya dengan intens secara tidak langsung. Karena dia sendiri melihat Sasuke menguap bosan berkali-kali seraya membolak-balik bukunya sendiri tanpa melihat ke arahnya. Namun renungan Sakura langsung terhenti ketika tiba-tiba Sasuke menoleh hingga onyx dan green emerald bertatapan secara langsung.
Sakura tersentak kaget. Wajahnya perlahan tapi pasti menghangat karena ditatap dengan dalam seperti itu. Onyx milik Sasuke seakan-akan menghisap green emerald miliknya. Menariknya masuk dengan paksa ke dalam dunia laki-laki berambut biru dongker tersebut. Di saat Sakura terpesona dengan kedua bola mata yang berwarna seperti batu obsidian itu, Sasuke tersenyum tipis. Senyum yang sangat lembut, membuat Sakura mencoba mencari arti dari senyum yang ditujukan padanya itu.
"Ohayou."
Hanya satu kata tapi itu cukup membuat jantung Sakura nyaris melompat keluar karena kaget. Jarang sekali Sasuke mau menatapnya secara langsung—bahkan menyapanya. Biasanya jika mereka bicara, pasti ada topik pembicaraannya. Tapi Sakura berusaha tidak ambil pusing. Dengan ragu, gadis itu mengangguk kemudian membalas sapaan Sasuke, "Ohayou mo..."
Sasuke tidak menghilangkan senyum tipisnya. Lalu dia kembali fokus dengan buku yang ada di depannya. Sakura mengangkat sebelah alisnya. Ada apa dengan laki-laki itu? Dia terlihat ceria, walau tidak terlalu menunjukkannya seperti orang lain pada umumnya. Tapi melihat itu, membuat Sakura ikut tersenyum lega. Entahlah, ada rasa senang melihat Sasuke yang jadi sedikit lebih santai ketimbang hari-hari sebelumnya.
Tentu saja.
Karena laki-laki itu sudah memutuskan untuk tidak lari lagi.
Tapi...
#
.
.
.
#
Sai mendecak kesal untuk yang ke sekian kalinya. Laki-laki berambut hitam lurus itu menatap kertas gambar di kedua tangannya. Ekspresinya sangat tidak tenang. Meskipun menggambar atau melukis adalah keahliannya, entah kenapa sekarang Sai terlihat begitu kesulitan, bahkan menggambar satu garis lurus yang biasanya bisa dia lakukan dengan sempurna, kini harus berakhir dengan suatu garis yang tidak bisa dikatakan lurus sama sekali.
Dia sedang kacau.
Dengan kasar, Sai meremas kertas gambar tersebut hingga tak berbentuk dan melemparnya sembarang arah. Sai menggertakkan giginya lalu menundukkan kepalanya di atas meja. Perlahan tapi pasti, kedua tangannya bergerak meremas rambut hitamnya hingga berantakan.
"Aaakh, buat aku lupa..." gumamnya pelan dan sesekali menghela napas. Sai menerawang, pikirannya terus kembali pada waktu itu dimana ciuman pertamanya direbut oleh seorang gadis yang tak pernah dia perkirakan sebelumnya.
Jujur saja, hal itu terus mengganggu pikiran Sai hingga laki-laki tersebut lupa bagaimana caranya berkonsentrasi dengan baik. Sai memang sudah mengenal Yamanaka Ino sejak dia menduduki bangku kelas satu sekolah menengah pertama. Ino adalah gadis yang baik dan cantik—rambut pirang dan bola matanya yang berwarna aquamarine mampu mempesona siapa saja. Dia sangat ramah dan murah senyum. Ditambah kepintaran dan kekayaan yang dimilikinya, membuatnya nyaris menjadi sosok perempuan yang sempurna dan ideal di mata beberapa laki-laki di luar sana.
Bagi Sai yang dulunya tidak pernah peduli pada lingkungan di sekitarnya, tentu saja menurutnya keberadaan Yamanaka Ino tidak merubah apapun dalam kehidupannya. Sai tahu ada saat dimana Ino terkadang terlalu memperhatikannya, namun laki-laki itu tak ambil pusing. Dia hanya menganggap perhatian lebih Ino padanya hanyalah sebatas perhatian antar sesama teman. Sama seperti Ino yang berasumsi bahwa Sai baik pada siapa saja, Sai pun mempunyai pemikiran yang sama tentang Ino. Sehingga dia tak perlu berpikir macam-macam.
Atau perlu ditambahkan?
Sai yang 'dulu', meskipun dia tahu Ino menyimpan perasaan khusus padanya, dia tidak akan pernah peduli dan dengan kejamnya akan menganggap perasaan itu sebagai pengganggu dan harus disingkirkan.
Baiklah, Sai akui dirinya yang dulu memang kejam. Dengan senyum ramah tamah yang dia miliki, dia bisa mengambil hati perempuan mana pun dengan mudahnya. Namun, tak ada yang tahu. Senyum ramah Sai juga bisa menjadi senjata yang mematikan. Salah satunya adalah senyum ramah itu akan menjadi senyum tak berperasaan dan terkesan merendahkan jika Sai mengeluarkannya ketika menolak pernyataan cinta seorang gadis atau menghina seseorang tanpa perlu mengatur kata-kata yang akan dikeluarkannya.
Dengan asumsi seperti itu, Sai tidak pernah membuka mata pada perhatian Ino yang sesungguhnya. Di saat orang lain iri dengannya yang selalu mendapat kasih sayang secara tak langsung dari seorang Yamanaka Ino, Sai justru menganggapnya tidak ada. Bukannya Sai tidak pernah mendengar kabar tentang Ino yang memiliki perasaan khusus padanya, hanya saja... kabar itu selalu Sai anggap sebagai angin lalu. Karena bukan hanya sekali Sai mendengar kabar tentang gadis-gadis yang menyukainya.
Sai tidak pernah mengira sebelumnya bahwa dia akan merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya saat dia duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Terlebih... pada pandangan pertama. Sai masih ingat, awalnya dia hanya mengira Haruno Sakura adalah obyek indah untuk lukisannya. Bagaimana saat gadis itu tersenyum, menangis, melamun, tertawa, bahkan marah. Sai menyukai semua ekspresi yang dimiliki obyeknya itu.
Tidak seperti sebelumnya dengan orang lain, Sai sedikit enggan untuk meminta Sakura secara langsung untuk menjadi model lukisannya. Sehingga dia lebih memilih melukis Sakura dari jauh tanpa perlu disadari gadis itu sampai waktunya tiba. Sudah cukup sekali Sai menunjukkan lukisan Sakura untuk dipajang di pameran, setelah itu dia tidak mau menunjukkan lukisan Sakura lagi pada siapa pun. Cukup dia yang melihat dan mengaguminya. Tidak perlu ada orang lain. Entah sejak kapan, perasaan egois itu muncul di dalam hatinya.
Dan tentu saja. Tidak perlu ditanya.
Sejak kedatangan Haruno Sakura, maka Yamanaka Ino pun menghilang dari pikirannya.
Bukan menghilang dalam arti Sai melupakan Ino seutuhnya. Dia masih ingat Ino... sebagai salah satu temannya sejak SMP. Tapi Sai benar-benar melupakan perhatian yang selalu Ino berikan padanya. Seolah-olah dia hanya perlu melihat ke depan dan yang ada di depan matanya hanyalah Sakura. Tak pernah sekali pun terpikir di benaknya untuk menoleh ke kanan, kiri, bahkan belakang... dimana Ino selalu ada di sana untuknya. Menjadi penopang dan orang pertama yang akan menangkapnya jika dia terjatuh.
Tak pernah.
Tangan Sai bergerak menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa bagaimana kemarin Ino menempelkan kedua bibir mereka dan gadis itu sedikit menyesapnya. Ada rasa rindu dan gejolak kesakitan yang tertahan di sana. Entah sudah berapa lama gadis itu menahannya dan bagaimana caranya.
Sai kembali menggertakkan bibinya dengan keras. Kedua matanya terpejam erat dan tangannya yang tadi menyentuh bibirnya mulai mengepal. Bagaimana ini? Bagaimana? Sakura sudah mengajarinya secara tak langsung untuk lebih peduli pada sekitarnya. Sehingga kali ini, Sai tidak bisa mengabaikan Ino begitu saja seperti biasanya. Kata-kata Ino sebelum pergi kemarin menggema di kepalanya...
"Sai... kumohon sekali saja, tolong... lihat aku di sini."
Tangisan Ino pun ikut memenuhi pikirannya. Sai membuka kedua matanya, menatap kosong pada tembok di seberangnya, "...Yamanaka..." setelah itu Sai menunduk lagi seraya menahan dahinya dengan tangannya.
Setelah memutuskan tali persahabatannya yang sudah terjalin sejak kecil dengan Uchiha Sasuke...
...apa kali ini Sai juga harus menyakiti Ino dengan menyuruhnya untuk menyerah—mengabaikan pengorbanan gadis itu untuk mendapatkannya selama bertahun-tahun?
Cih. Ternyata selain pepatah 'cinta itu buta', pepatah bahwa 'cinta butuh pengorbanan' juga benar. Kalau memang harus begitu... jadi sekarang, siapa lagi yang harus dikorbankan?
"Sialan..."
#
.
.
.
#
Sasuke menyesap teh hangat yang baru saja diberikan paman pemilik warung di depannya. Sementara di sampingnya Naruto masih sibuk dengan semangkuk ramen yang dia pesan untuk yang kedua kalinya. Sasuke tidak akan ada di sini jika Naruto tidak menyeretnya secara paksa, mengingat Sai masih sibuk dengan kegiatannya sebagai ketua kelas sehingga Naruto tidak bisa mengajak Sai.
Sebenarnya mengajak Sasuke adalah pilihan buruk. Naruto masih bisa berbicara dengan santai jika bersama Sai tapi dengan Sasuke... ukh, jangan ditanya. Bukannya Sasuke tidak membalas seluruh kata-katanya, dia selalu membalas kata-kata Naruto tapi dengan balasan yang serius atau dengan kata-kata yang tajam. Apalagi jika Sasuke sudah sibuk sendiri dengan Hp-nya. Naruto memutar kedua bola matanya dengan bosan.
"Baca fic lagi, huh?" tanya Naruto, setengah menggerutu. Laki-laki berambut pirang itu mengambil segelas es jeruk di sampingnya lalu meneguknya hingga tinggal setengahnya, "Well, aku tahu aku yang mengajakmu masuk ke dalam dunia fanfiction. Tapi jujur saja aku tidak menyangka kau jadi kecanduan seperti ini," lanjut Naruto lagi, kali ini sambil membersihkan giginya dengan tusuk gigi yang ada.
Sasuke mendengus, tadinya dia berniat membalas perkataan Naruto sampai temannya itu tiba-tiba kembali menyahut, "Oh! Biarkan aku mengoreksi kembali kata-kataku tadi! Aku tidak menyangka temanku ini akan bertemu seseorang yang disayanginya di dunia fanfiction, sehingga dia pun menjadi ketagihan membaca fic seseorang itu," terkekeh kecil, Naruto kembali melanjutkan, "biar kutekankan... kau HANYA membaca fic-fic buatan author—err, apa nama penname-nya?"
Kali ini Sasuke yang memutar kedua bola matanya dengan bosan, "Cherryblossom."
"Ya! Ya itu!" kini tawa Naruto meledak. Sasuke hanya mendengus kesal, walau begitu sempat terlihat semburat merah tipis di kedua pipinya. Naruto menyikut lengan Sasuke yang masih dalam posisinya membaca fic, "Hahaha giliran nama dia saja selalu kau ingat! Coba, sekarang apa nama penname-ku?"
Sasuke berpikir sebentar lalu melirik Naruto dari ujung matanya, "The Stupid Orange?"
"THE ORANGE FOX!" Naruto berteriak frustasi. Entah sudah berapa kali Naruto memberi tahu Sasuke penname-nya tapi tetap saja sahabat sejak kecilnya itu melupakannya dengan tenang.
"Oh."
"Bukan 'oh' teme!" Naruto menggerutu kesal dan membuang mukanya sementara Sasuke masih tidak mempedulikannya. Selama itu, Naruto terus menggerutu, "Huh huh, padahal kan aku sudah lebih lama jadi author daripada cherryblossom itu," gerutunya pelan disertai dengan bibirnya yang sengaja dimanyunkan.
Namun, Naruto segera menyesali kata-katanya itu. Karena dengan cepat Sasuke langsung membalas, "Oh ya? Kulihat cerita dan cara penulisannya jauh lebih baik darimu," diakhiri dengan tawa kecil Sasuke setelahnya. Sebelum Naruto mengomel dan membuat suasana menjadi lebih berisik dari sebelumnya, Sasuke buru-buru melanjutkan, "sudahlah, pendapat orang kan beda-beda. Berharap saja masih ada orang baik hati di luar sana yang menyukai fic buatanmu itu."
"Hoo, secara tak langsung kau mau bilang kalau kau tidak menyukai fic buatanku 'kan teme?"
Sasuke menyeringai dan melirik Naruto dari ujung matanya, "Berterima kasihlah dengan pendapat jujurku secara tak langsung, dobe," tertawa kecil, laki-laki berambut raven tersebut kembali melanjutkan, "aku tidak bilang fic buatanmu jelek. Ah, ngomong-ngomong fic yang baru kau update kemarin cukup banyak typo-nya. Lagi bertengkar dengan Hinata, heh?" tanya Sasuke dengan nada meremehkan sementara kedua matanya masih tertuju dengan layar Hp di tangannya.
Laki-laki rubah itu mendengus menahan tawa sebelum menjawab, "Tidak ada hubungannya! Hahahaha! Lagipula, jangan khawatir begitu Sasu-chan, aku dan Hinata akur-akur saja tuh," Naruto terkekeh kecil melihat Sasuke mendecak kesal. Pasti laki-laki beriris onyx tersebut iri dengan kemesraannya bersama Hinata—setidaknya, itulah asumsi Naruto. Cukup lama mereka terdiam setelah itu, sampai akhirnya Naruto kembali memanggil Sasuke, "Hoy Sasuke."
"Hn?" respon Sasuke dengan malas. Naruto hanya memutar kedua bola matanya bosan, tapi toh dia tetap melanjutkan kata-katanya, "Kau belum bicara lagi dengan Sai sama sekali?" tanya Naruto pada akhirnya. Gerakan jari Sasuke berhenti namun laki-laki itu enggan menoleh untuk menatap salah satu sahabatnya itu.
Naruto menunggu jawaban Sasuke dengan sabar. Helaan napas Sasuke setelahnya seakan menjawab harapan Naruto, "Belum," jari Uchiha bungsu itu bergerak lagi untuk menggerakkan scroll ke bawah dan memfokuskan kedua matanya agar kembali membaca fic seperti sebelumnya, "bagaimana aku ingin mengajaknya berbicara jika dia langsung menghindar begitu mengetahui keberadaanku yang ada di dekatnya?" tanya Sasuke entah pada siapa.
Naruto membuka mulutnya, namun dia bingung apa yang ingin dikatakannya. Sampai gerakan Sasuke yang menutup handphone-nya secara tiba-tiba mengagetkannya, "Sudahlah Naruto, aku sudah bilang 'kan? Ini urusanku dengan Sai, kau tak perlu ikut campur. Bukankah kau sendiri yang bilang kemarin bahwa peranmu sudah selesai?" anak tunggal presdir Uzumaki itu menundukkan kepalanya, "Kau cukup diam saja, dobe."
"Tapi—"
"Hanya saja..." adik dari Uchiha Itachi tersebut meminum kembali teh hangatnya yang mulai mendingin. Setelah itu, Sasuke terdiam sesaat dan melanjutkan kata-katanya, "...aku baru sadar kalau ternyata dianggap tidak ada itu menyakitkan."
#
.
.
.
#
Sakura terdiam saat dia membuka Hp-nya dan mendapati beberapa review di dalam fic terbaru yang dia publish tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Lama kemudian Sakura menghela napas panjang sebelum akhirnya menutup Hp-nya kemudian menjatuhkan kepalanya sendiri ke atas meja.
Aoi-san sudah tidak ada.
Bukan bukan—Sakura bukan berharap Uchiha Sasuke memberinya review seperti sebelumnya. Hanya saja... entahlah. Tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Sakura memang tidak tahu tentang Sasuke yang mengatakan pada Sai bahwa Aoi-san akan menghilang dari dunia fanfiction. Jadi, tidak perlu ada yang disalahkan di sini.
Yah, walau dia juga tidak tahu kalau sebenarnya Sasuke masih ada di dunia fanfiction—
—tanpa memberi jejak seperti dulu.
"Terserahlah," gumam Sakura entah pada siapa. Gadis itu melirik jam di layar Hp-nya. Sudah dua puluh menit berlalu sejak Sai menyuruhnya untuk menunggu laki-laki itu di kelasnya. Sakura kembali menghela napas. Mungkin urusan Sai sudah selesai, lebih baik dia saja yang menjemput Sai.
Suara pintu terbuka menghentikan gerakan Sakura yang akan berdiri dari kursinya. Sakura tersenyum lega melihat Sai yang masuk ke dalam kelas mereka. Memang, jam pulang sudah lewat sedari tadi, sehingga yang ada di dalam kelas hanya tinggal mereka berdua. Gadis bermarga Haruno itu berlari kecil mencoba menghampiri Sai dengan senyum polos di wajahnya.
Tapi, begitu dia menyadari sesuatu...
...senyum itu menghilang.
Sakura menghentikan langkahnya sehingga kini Sai yang berjalan mendekatinya. Laki-laki berambut hitam lurus itu menyadari ada yang aneh, tapi dia segera menepis perasaan itu. Dengan senyum kaku, Sai memulai pembicaraan, "Maaf Sakura, guru-guru memang suka merepotkanku. Kita jadi susah pulang bersama akhir-akhir ini."
"Hah?" kaget mendengar Sai, Sakura langsung menegakkan tubuhnya. Gadis itu tertawa hambar seraya menggaruk belakang kepalanya, "Ah ti-tidak apa-apa kok. Jangan terlalu memikirkannya, Sai," balas Sakura pada akhirnya.
Sai terdiam menatap Sakura yang masih tertawa kaku di depannya. Tak lama kemudian, senyum tipis terukir di wajah Sai. Melihat Sakura tertawa rasanya begitu menyenangkan. Secara tak langsung membuatnya ikut bahagia. Ternyata Sai memang tidak bisa menghapus kenyataan bahwa dia sudah sangat menyayangi Haruno Sakura lebih dari apapun di dunia ini.
Pelukis itu terus menatap Sakura secara keseluruhan. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali dia bisa memperhatikan Sakura seperti ini. Namun, senyumnya menghilang saat kedua matanya menatap pipi Sakura. Tatapan ramah itu tergantikan dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa pipimu merah?" tanya Sai langsung, tanpa berniat basa-basi. Kedua bola mata Sakura membulat. Secara reflek, dia menutup pipinya dengan tangannya sendiri, "Jangan menutupinya Sakura, jawab pertanyaanku!" lanjut Sai dengan volume suara yang meninggi.
Ekspresi Sakura berubah panik. Dia tidak ingin memberi tahu Sai soal Ino yang menamparnya. Akan lebih baik jika hal itu dianggap tidak pernah ada sebelumnya. Padahal Sakura sudah berkali-kali mencoba berbagai cara untuk menghilangkan warna merah di pipinya sebelum pergi ke sekolah. Tapi... kenapa Sai masih bisa melihatnya?
"I-ini..." Sakura menelan ludah. Dia tahu, Sai bukan orang yang bisa dibohongi dengan mudah—terlebih olehnya. Selain itu, Sai juga sangat benci jika dibohongi. Tapi, "...kemarin aku terjatuh dan—"
"Jangan bohong padaku!" sial, belum sempat Sakura menjelaskan, Sai sudah terlebih dahulu menyelanya. Sakura memejamkan matanya dengan erat. Bagaimana ini? Bagaimana? Dia tidak mau ada lagi orang yang terlibat dalam hubungan mereka. Cukup Uchiha Sasuke. Sakura sangat tahu bagaimana mengerikannya jika Sai sudah marah, "Jawab aku dengan jujur, Sakura! Dari bekas merah tak wajar di pipimu itu... seseorang telah menamparmu, benar 'kan? Siapa orangnya? Beri tahu aku!"
Tidak.
Jangan Sai—
"SAKURA!"
"CUKUP!" teriakan Sakura membuat kata-kata Sai selanjutnya tertahan. Laki-laki itu menatap Sakura dengan ekspresi tak terbaca, "Baiklah, seseorang menamparku. Puas?" lanjut Sakura dengan kasar. Hal ini membuat Sai semakin bingung. Apa dia salah bicara? Kenapa Sakura begitu marah? "Aku memang kekasihmu, tapi baru sekedar ke-ka-sih. Kita belum terikat perjanjian apapun! Jadi, kau masih belum memiliki hak untuk memaksaku dalam memberi tahumu semua urusan pribadiku!" berangnya.
Sai masih belum menghilangkan ekspresi kebingungannya. Dia menarik napas panjang sebelum membalas Sakura, "Maafkan aku, aku hanya—"
"Iya, kau mengkhawatirkanku. Aku tahu. Terima kasih," potong Sakura lagi. Sebenarnya Sai tidak suka jika ada seseorang yang menyelanya saat dia sedang berbicara. Tapi sepertinya untuk sekarang, entah kenapa Sai merasa dia harus mengalah pada Sakura, "sungguh... terima kasih."
Mendengar suara Sakura yang mulai merendah kini membuat Sai memberanikan diri menatap kekasihnya itu. Namun yang didapatnya adalah kepala Sakura yang menunduk ke bawah, enggan membalas tatapannya, "Sakura?" ada yang aneh dari ucapan 'terima kasih' Sakura tadi, ada apa sebenarnya?
Sakura masih menunduk sementara kedua tangannya terlipat di depan dada. Dari posisi ini, yang bisa Sai lihat hanya senyum Sakura yang bisa dimasukkan dalam kategori menyeringai, "Bersama denganmu sungguh menyenangkan," gadis berambut soft pink tersebut membuang mukanya, "saking menyenangkannya, aku sampai melupakan fakta bahwa banyak orang di luar sana yang sakit hati dengan kebersamaan kita. Secara tak langsung aku baru sadar sekarang bahwa selama ini aku bahagia di atas penderitaan orang lain, sungguh bodoh," ucapnya sarkastik.
"Sa—"
"Memang bodoh 'kan, Sai? Aku egois 'kan?" memang hanya sekilas, tapi Sai sempat melihat Sakura menggigit bibir bawahnya, "Aku ingin bahagia, aku ingin memiliki minimal satu orang saja yang mau menemaniku di sekolah khusus orang kaya ini—mengabaikan kemungkinan orang yang menemaniku itu akan ikut dibenci oleh orang lain. Aku tidak peduli. Yang penting aku bahagia," Sakura mencengkram lengannya sendiri lalu tertawa.
"Ternyata orang sepertiku... memang lebih baik sendirian saja."
Sai menggertakkan giginya. Tidak peduli jika tindakannya akan menyakiti Sakura atau tidak, dia memegang kedua bahu Sakura dengan kasar. Memaksa gadis itu untuk mengangkat kepalanya lalu menatap kedua mata laki-laki tersebut, "Hentikan! Ini tidak lucu, Sakura!" teriakan Sai membuat Sakura mendecih, "Cepat katakan siapa yang telah menamparmu dan menyuruhmu untuk mengatakan semua omong kosong ini padaku! Biar aku buat perhitungan dengannya!"
"Perhitungan? Itu tidak perlu," akhirnya kali ini Sakura memberanikan diri menantang kedua bola mata berwarna sehitam batu obsidian di depannya, "justru aku berterima kasih dengan orang yang telah menamparku. Karena dia membuka mataku yang selama ini dibutakan dengan keinginan untuk bahagia bersamamu dan mengabaikan orang-orang yang tersakiti di belakang kita."
"Jangan bodoh!" Sai tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak tepat di depan wajah Sakura, "Apa salahnya jika kita bahagia di atas penderitaan orang lain? Yang seperti itu bukan hanya kita, Sakura! Orang yang menamparmu itu hanya ingin dikasihani lalu memisahkan kita! Dia iri dengan kebahagiaan kita! Justru dia yang harus disingkirkan!" suara gemeletuk gigi Sai terdengar semakin keras, "Beri tahu namanya padaku, Sakura!" bentak Sai pada akhirnya.
Sakura menggeleng. Tanpa bisa ditahan lagi, air mata mengalir dari kedua matanya yang beriris hijau emerald. Sai terkejut melihat itu, cengkeramannya pada kedua bahu Sakura mengendur sehingga sekarang Sakura bisa menundukkan kepalanya lebih leluasa dan mengisak pelan. Dada Sai berdenyut sakit melihat pemandangan di hadapannya. Dia menarik Sakura ke dalam pelukannya.
"Maaf... sungguh, aku tidak bermaksud membentakmu," Sai menundukkan kepalanya, menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Sakura. Dihirupnya bau cherry yang menguar dari tubuh gadis yang telah menjadi cinta pertamanya itu, "maafkan aku..." bisiknya lagi.
Tidak.
Aku yang seharusnya meminta maafmu.
Sakura mendorong pelan tubuh Sai hingga pelukan laki-laki itu padanya terlepas. Kedua tangan Sakura masih berada di atas dada Sai. Mencoba menahan agar pelukis itu tidak mendekatinya lagi. Sakura mengangkat kepalanya. Dengan jelas menunjukkan pada Sai, aliran air matanya yang masih belum bisa berhenti.
"Sai..."
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Ini demi kebaikan semuanya.
"...lebih baik kita akhiri hubungan kita sampai di sini."
Terima kasih.
Maafkan aku.
Kenapa aku tidak bisa mengatakannya?
"Sudah cukup, Sai."
.
.
.
.
.
"I, an innate coward, still can't use my words honestly."
— GUMI (Ama no Jaku)
.
.
.
.
.
To be Continued...