SASUSAKU

SASUSAKU
Bab 2



Chapter 2


Keterangan: Sasuke Uchiha 17 tahun.


Sakura Haruno 16 tahun.


No les gusta no leer. Es el derecho tan simple.


Sakura terus berjalan menuju kelas Bahasa Latin dengan wajah bersemu merah. Bayangan tentang Sasuke 1 tahun lalu yang memberi pelajaran kepadanya karena berbicara dengan ketua OSIS sekolah putra pun kembali berputar di otaknya. Sesuatu hal yang kini telah merubahnya menjadi milik Sasuke seutuhnya, bukan seorang kekasih namun sebuah boneka hidup, sebuah mainan hidup milik Sasuke, yang diharamkan bagi siapapun yang berani memilikinya atau meliriknya sekalipun.


Flashback On Malam itu merupakan malam yang istimewa bagi seluruh siswa dan siswi High School and Academy of America at Japan, bahkan bagi para guru dan staff nya sekalipun. Karena malam ini akan dilaksanakan pesta perayaan ulang tahun yang ke-102 yayasan tersebut berdiri.


Kini Sakura sedang memasang pita merah yang dia bentuk seperti bandana di kepalanya di depan cermin kamarnya. Kini kali ke-empat ia tersenyum gembira membayangkan dirinya yang berada di pesta tersebut, tertawa gembira bersama sahabat-sahabatnya, menikmati dentuman musik klasik yang akan diputar nanti, menikmati berbagai macam pertunjukan band-band dan panyanyi terkenal di sekolahnya, dan pastinya sekarang iya sedang membayangkan dirinya berdansa dengan seorang lelaki. Lelaki yang sangat ia cintai sedari dulu, lelaki yang sama sekali belum pernah menyebutkan namanya, lelaki yang tidak pernah melihatnya sebagai wanita dimatanya selama 13 tahun ini, lelaki yang hanya menganggapnya sebagai pelayan pribadinya, lelaki yang selalu membuatnya menangis. Sasuke Uchiha.


Membayangkan sosok sang Uchiha tersebut, membuat hatinya terasa sakit, perih, seakan luka yang belum kering ini semakin melebar. Tak terasa bulir air hangat itu turun dari emeraldnya. Dan itu membuat make-up yang sudah tertata sempurna pun luntur. Segera ia menghapus air mata tersebut dan memoles wajah cantiknya dengan make-up tipis.


Tok tok tok...


Terdengar ketukan pintu dari kamar mungil Sakura saat ia sedang memperhatikan penampilannya di depan cermin yang setinggi tubuhnya tersebut. Dengan segera ia membukakan pintu tersebut untuk seseorang yang ia sudah ketahui walaupun tanpa bertanya "Siapa?". Ya Sasuke Uchiha.


Setelah ia membuka pintu tersebut, terpampang lah sosok Sasuke yang nampak tampan malam ini dengan Tuxedo hitam yang tak dikancingkan, jas hitam, celana dan sepatu hitamnya, kemeja putihnya yang dibiarkan 3 kancingnya terbuka, dasi yang tak terpasang sempurna, dan wajah stoic-nya.


"Hapus make-up mu itu, pesta ini adalah pesta topeng, jadi kau tak perlu meng-ekspose wajah mu itu", ujar Sasuke masih dengan tampang datarnya. Ia bahkan tak merasa terkejut dengan penampilan Sakura yang sangat cantik malam ini dengan dress merah darah selutut-nya.


"Ta... Tapi Sasuke-sama tidak ada dalam pemberitahuan kalau pesta-nya adalah pesta topeng", elak Sakura yang meresa heran dengan ucapan Sasuke barusan.


"Aku yang meminta kepada pihak sekolah, dan mereka menerimanya, karena aku tidak mau semua siswa melihat wajah mu. Sekarang cepat hapus make-up mu!", balas Sasuke menjelaskan yang diakhiri dengan sebuah perintah.


Tanpa pikir panjang, Sakura pun segera berlari kecil menuju meja riasnya dan menghapus make-up yang melekat pada wajah cantiknya.


Kini Sasuke dan Sakura masih berada di dalam limosin-nya, dan Iruka yang menjadi supir pribadi mereka. Sunyi, itu lah suasana di dalam limosin tersebut,tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Hanya ada suara klakson mobil-mobil, deruan mesin mobil, musik-musik yang berasal dari toko-toko di pinggir jalan.


"Pinky", ucap Sasuke menyudahi kensunyian tersebut.


"Iya Sasuke-sama", balasnya kaku.


"Ini", ujarnya seraya memberikan sebuah topeng berwarna hitam dengan dihiasi berlian berwarna merah darah yang sama persis dengan warna dress yang sedang dipakai Sakura saat ini.


"Kau pakai saat kita sudah sampai nanti", lanjutnya saat Sakura sudah menerima topeng pemberiannya dan memandangi topeng tersebut dengan tatapan heran.


"Baiklah", balas Sakura mengerti yang dihiasi dengan senyuman manis nya.


Akhirnya mereka sampai juga di depan gedung pertemuan umum sekolah mereka yang letaknya dibelakang gedung sekolah putri. Saat Sakura ingin membuka pintu mobil tersebut dengan menggenggam topeng pemberian Sasuke, tiba-tiba Sasuke mencengkram tangannya dengan sangat kuat.


"Aww, Sasuke-sama", ucap Sakura dengan rasa sakit dipergelangan tangannya.


"Pakai topeng mu", perintah Sasuke yang masih tetap mencengkram pergelangan tangan Sakura, bahkan semakin kuat.


"Ngghh, ta... Tapi kan kita belum berada di dalam aula", ujar Sakura berusaha meyakinkan Sasuke.


"CEPAT PAKAI!", bentak Sasuke yang semakin kuat mencengkram pergelangan Sakura.


"Arrggghhh...", erang Sakura yang kesakitan karena cengkraman Sasuke. "Ba... Baiklah...", ucapnya lemah. Sasuke pun segera melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Sakura, sedangkan Sakura segera memakai topeng tersebut setelah Sasuke melepaskan cengkramannya.


Mereka pun berjalan berdampingan memasuki gedung pertemuan umum dewan sekolah, dan segera saja mereka memasuki lift untuk menuju lantai 3, karena di lantai tersebutlah pesta itu diadakan.


Sesampainya mereka didalam aula tersebut, mereka disambut dengan cahaya ruangan yang sangat temaram, dan lantunan musik klasik memenuhi seluruh penjuru aula tersebut. Mereka terus berjalan menuju pojok ruangan yang terlihat sepi.


"Tetap disini sampai aku kembali. Dan ingat jangan pernah kau berbicara dengan siswa-siswa disini",pesan Sasuke sebelum ia meninggalkan Sakura dalam kesendiriian di ruangan tersebut.


15 menit.


30 menit.


1 jam.


1 jam 30 menit.


2 jam.


Sakura masih berdiri tanpa bergerak sekalipun selama 2 jam, dan kini ia merasa sakit di telapak kaki dan pungungnya. Ia pun mengabaikan perintah Sasuke 2 jam lalu, dan ia berjalan ketengah ruangan yang ramai akan para siswa dan siswi yang berdansa dan tertawa lepas. Ia mencoba mencari sosok yang meninggalkannya begitu saja semenjak 2 jam yang lalu. Sampai pada akhirnya ia menemukan sosok tersebut, tapi lagi-lagi sosok tersebut membuat air matanya meleleh.


Ia melihat Sasuke yang sedang bersama dengan . Sedang bercumbu di pojok ruangan yang sepi dan sedikit lebih gelap dibandingan dengan pojok ruangan lainnya. Ia melihat mereka sedang berciuman dengan penuh nafsu, bahkan kini matanya tertuju pada pemandangan dimana tangan Sasuke sedang mengelus-elus paha mulus Ino, yang membuat dress yang digunakan Ino terangkat keatas hingga diatas pinggang, dan itu membuat ****** ***** berenda yang ia gunakan ter-ekspose jelas. Lama-lama tangan Sasuke membuka ikatan ****** ***** tersebut hingga ikatannya terlepas, dan ditariknya benda tersebut hingga terlepas dari tempat semula lalu ia menjatuhkannya begitu saja di atas lantai.


Tidak sanggup melihat lebih, Sakura pun beranjak dari tempat tersebut masih dengan air mata yang mengalir deras dari matanya. Ia terus berlari hingga tanpa ia sadari ia menabrak seseorang. Ia dapat merasakan tangan kekar seseorang tersebut berada di pinggulnya untuk menahannya agar tidak terjatuh. Dengan segera ia melepaskan diri dari laki-laki yang baru saja ia tabrak.


Sakura mundur beberapa langkah untuk mengetahui siapa sosok laki-laki yang baru saja ia tabrak. Ia dapat melihat rambut pirang jabrik dan mata biru terang dari balik topeng yang digunakan oleh sosok tersebut.


"Hai, aku Naruto. Naruto Uzumaki", ucap Naruto memperkenalkan diri. Ia pun menjulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan. Lama ia menjulurkan tangannya namun Sakura tidak menjabat tangannya, dan ia pun mengurungkan niatannya untuk berjabat tangan dengan Sakura.


"Kalau begitu, siapa nama mu?", lanjut Naruto tidak mau menyerah.


"Ng... Sak... Sakura. Sakura Haruno", jawabnya tergagap.


"Nama yang cantik, hah", puji Naruto, dan pujiannya tersebut sukses membuat wajah Sakura merona.


Tanpa Sakura sadari Naruto terus memperhatikannya, dan ia menyadari bahwa Sakura baru saja menangis.


"Emerald. Mata yang indah", ucap Naruto seraya terus memandagi mata emarald Sakura. "Tapi lebih cantik jika kau tidak menangis", tanpa meminta izin dari sang empunya, Naruto dengan lancangnya membuka Topeng yang dipakai Sakura. Karena Sakura masih sibuk memperhatikan kebaikan hati seorang Naruto, ia pun tidak menyadari bahwa Naruto telah melepas topeng yang ia pakai.


"Dan wajah yang cantik", ucap Naruto yang nampak terpesona dengan kecantikan Sakura. Mendengar perkataan Naruto barusan, ia pun tersadar bahwa topengnya telah terlepas.


"Hei, kau mempunyai wajah yang cantik. Kenapa kau malah menutupinya dengan topeng ini?", balas Naruto sambil mengacungkan topeng Sakura.


"Ta... Tapi...", Sakura seakan kehabisan kata-kata saat itu.


"Haha, baiklah. Ayo kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol", ajak Naruto yang langsung merangkul Sakura begitu saja.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi nampak sepasang mata onyx yang dipenuhi dengan kemarahan memperhatikan mereka.


PRANNGG...


Gelas berisikan wine yang sedang digenggam Sasuke pun pecah akibat ia terlalu kuat mengenggamnya karena kemarahan yang menimpanya saat ini.


Naruto mengajak Sakura duduk di sebuah kursi di pojok ruangan, di dekat pintu masuk berada.


"Wine atau apa?", tanya Naruto yang bermaksud untuk memesankan Sakura minuman.


"Juice, orange juice", jawab Sakura sambil tersenyum hangat. Dan senyumannya berhasil membuat wajah Naruto bersemu merah.


Melihat Naruto yang telah pergi meninggalkan Sakura, Sasuke pun segera beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Sakura. NamunSakuratidak menyadari Sasuke yang sedang berjalan kearahnya dengan penuh amarah yang membuncah. Tanpa berkata apapun Sasuke segara menarik tangan Sakura dan keluar dari aula tersebut.


Sasuke terus menyeret Sakura menuju limosinnya diparkir.


"Sas... Sasuke-sama", ujar Sakura agar Sasuke menghentikan langkahnya. Namun Sasuke mengacuhkannya, ia tetap menyeret Sakura keluar dari gedung tersebut.


"Sasuke-sama", ujarnya lagi yang kini merasa kesakitan akibat cengkraman Sasuke yang terlampau kuat.


"Sasuke-sama... Sakiiiitt", rintih Sakura saat dirasakannya Sasuke semakin menguatkan cengkramannya.


Sesampainya di lapangan Parkir, ia menghampiri limosinya masih dengan menyeret Sakura. Melihat itu semua, Iruka pun segera membukakan pintu untuk majikannya. Dengan segera, Sasuke mendorong Sakura dengan kasarnya kedalam limosin tersebut.


Sasuke terus menyeret Sakura memasuki rumahnya, sampai akhirnya kini ia dan Sakura berdiri di depan kamarnya. Ia pun segera membuka pintu kamarnya, setelah terbuka ia pun mendorong Sakura kedalam kamarnya sehingga Sakura terjerembab ke lantai marmer yang dingin Sasuke mengunci pintu di belakangnya dan melempar kunci tersebut ke sembarang tempat.


Kini Sakura sudah berdiri dihadapan sang Uchiha, ia dapat melihat api kemarahan di mata onyx Sasuke. Sasuke terus berjalan maju menghampiri Sakura, namun Sakura terus mundur untuk menghindari Sasuke. Sampai akhirnya, kini Sakura terjebak diantara Sasuke yang berada di depannya dan sebuah ranjang berukuran king size yang berada di belakannya.


Melihat Sasuke yang terus mendekat kearahnya, Sakura pun berujar.


"Sasuke-sama mau apa?", tanya Sakura yang kini sangat merasa ketakutan.


Tanpa mempedulikan pertanyaan gadis yang berada di depannya, Sasuke pun segera mendorong Sakura hingga terbaring diatas ranjangnya, dan ia pun segera menindih Sakura.


"Sasuke-sama tolong hentikan", iba Sakura sambil terus mendorong dada bidang Sasuke.


"SUDAH KUBILANG JANGAN MELEPAS TOPENG MU APALAGI BERBCARA DENGAN LAKI-LAKI LAIN!", bentak Sasuke yang sukses membuat Sakura menangis.


"Ta... Tapi Sasuke-sam...", belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, ia sudah menerima tamparan dari Sasuke.


"Kau masih ingin mengelak, heh!", ujar Sasuke masih dipenuhi dengan amarah.


"Ta... Tap...", dan ini kali kedua Sasuke menampar Sakura dan itu sukses membuat Sakura semakin deras mengeluarkan air matanya.


Tanpa banyak berkata lagi, Sasuke pun segera menyatukan bibir mereka berdua. Ia terus menciumi bibir Sakura dengan penuh amarah, namun Sakura terus melawan. Sasuke pun tak menyerah, ia pun menggigit bibir bawah Sakura hingga darah mengalir dari bibir ranum gadis itu. Tidak membuang-buang kesempatan, ia pun segera memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Sakura. Sakura terus melawan. Merasa Sakura yang terus melawan, Sasuke pun merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kalung berbentuk hati berwarna perak.


"Bila kau terus melawan, kupastikan besok pagi kau tidak akan pernah melihat kalung ini untuk selamanya!", ujar Sasuke yang dipenuhi dengan nada kemarahan. Dan itu sukses membuat air mata Sakura mengalir semakin deras.


Sakura pun entah mengapa malah menggenggam kemeja Sasuke dibagian dada untuk menyalurkan kemarahannya. Ia semakin kuat menggenggamnya dan menyebabkan salah satu kancing kemeja Sasuke terlepas.


Melihat keadaan Sakura yang kini semakin rapuh, Sasuke pun melanjutkan aksinya. Pertama-tama ia menciumi leher jenjang Sakura dan meninggalkan banyak kissmark disana. Kemuadian tangan kanannya ia telusupkan kebawah tubuh Sakura untuk membuka resleting dress Sakura.


Selanjutnya kalian bayangkan sendiri v.


Dengan halus Sasuke membelai luka bekas tamparannya di pipi Sakura beberapa saat yang lalu, lalu ia kecupnya luka tersebut yang membuat Sakura terbelalak heran. Bibirnya yang ranum terus menelusuri setiap lekuk wajah Sakura, sampai akhirnya ia berhenti di atas bibir Sakura. Ia kulum bibir ranum Sakura, lembut penuh dengan perasaan. Setelah itu, ia membisikan kata-kata di depan telinga Sakura.


"Jangan pernah melirik laki-laki lain selain diriku, jangan pernah berbicara kepada laki-laki lain selain diriku, jangan pernah melakukan hal ini dengan laki-laki lain selain diriku, jangan pernah menatap laki-laki lain selain diriku, jangan pernah berikan seyumanmu kepada laki-laki lain selain diriku. Karena kau adalah mainanku, karena kau adalah bonekaku, selamanya, selamanya Pinky. Sekarang tidurlah", ucapnya panjang lebar. Itu merupakan perintah Sasuke yang harus ia laksanakan.


'Ya aku akan selalu menjadi mainan dan bonekamu Sasuke-kun. Selamanya. Aku tidak akan pernah bisa menjadi kekasihmu', ucap Sakura dalam hati. Tak terasa air mata meleleh kembali di pipinya yang ranum.


Kedua anak manusia itu pun tertidur dengan pulasnya, nampak Sasuke yang memeluk Sakura seakan tak ingin melepaskannya, ia terus mendekapnya di dada bidangnya yang masih dibanjiri dengan peluh.


Malam ini malam dimana keperwanan Sakura diambil paksa oleh seorang Sasuke Uchiha.


Flashback Off.


"Hei, Sakura! Pagi-pagi sudah melamun saja!", seru seorang gadis dengan rambut bercepol dua berwarna .


"Oh, ah tidak", jawab Sakura sekenanya.


"Kau tahu tidak, nanti sepulang sekolah Sasuke mengajak ku berkencan!", seru Tenten yang kedua kalinya, dengan wajah yang nampak sangat sumringah.


"Oh, selamat ya", ucap Sakura sedih. "Maaf aku harus ke perpustakaan dulu", dustanya, lalu berlari kearah gudang sekolah dengan air mata yang mengalir di pipinya yang memerah.


Sesampainya di dalam gudang, ia meringkuk di dekat keranjang bola basket.


"Sampai kapan kau akan terus menganggapku sebagai boneka dan mainanmu Sasuke-kun?", gumamnya yang diiringi dengan isakan.


"Apa aku harus mati dihadapanmu, baru kau akan menganggapku sebagai seorang wanita?", lanjutnya.


"Tidak. Tidak harus seperti itu", ujar sebuah suara bariton dari pintu masuk gudang.


To Be Continue.. .