SASUSAKU

SASUSAKU
Bab 14



CHAPTER 14


Haruno Sakura menutup buku kumpulan soal-soal matematika yang baru saja selesai dikerjakannya. Tak butuh waktu lama sampai buku yang malang itu terlempar ke atas meja yang terletak tepat di seberang kasur. Sakura meregangkan tubuhnya lalu menggeliyat beberapa saat di atas kasurnya sendiri, merilekskan tubuhnya yang sedari tadi terus diam karena terlalu fokus dengan soal-soal gila yang mau tak mau harus dia kerjakan demi masa depannya nanti.


Setelah merasa cukup, Sakura menjatuhkan tubuhnya pasrah di atas kasur dalam posisi tengkurap. Kedua betis kakinya masih setia bergerak naik turun secara bergantian—kanan kiri. Gadis itu memejamkan kedua matanya yang terasa begitu lelah. Meskipun ingin cepat tidur, tetap tidak bisa. Salahkan dirinya yang tadi secara tidak sengaja jatuh tidur siang hingga tidak bisa tidur cepat malam ini. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam sekarang.


Gadis yang memiliki rambut dengan warna soft pink yang indah tersebut kembali membuka kedua matanya setelah menghela napas berat. Bagaimana ini... jika dia tidak cepat tidur, bukan tidak mungkin besok dia akan tertidur di kelas dan tentu saja itu akan mengancam posisinya. Sakura kembali menghela napas frustasi kemudian bangun dengan kasar.


"Aaargh!" Sakura mengerang kesal lalu memutar-mutar tubuhnya di atas kasur. Tak mempedulikan rambut indahnya yang panjang dan berwarna soft pink yang indah itu akan berantakan nantinya. Sampai akhirnya—


BRUAK!


—dia terjatuh dari atas kasur dengan posisi kepala lebih dulu menyentuh lantai.


Sakit. Pasti.


"Adududuuuh!" gadis yang bernama sama dengan bunga kebangaan Jepang tersebut berusaha bangun sembari mengelus belakang kepalanya sedikit pelan. Wajahnya memerah menahan sakit. Dan sialnya, karena rasa sakit yang menyerang kepalanya itu tentu saja akan lebih susah lagi untuk tidur sekarang, "Ukh, sakit sekali..." gumamnya setengah meringis.


Perlahan tapi pasti Sakura bisa merasakan munculnya sedikit benjolan di belakang kepalanya. Gadis itu menghela napas panjang. Sebelum tidur saja nasibnya sudah sial begini. Bagaimana dengan besok? Apa mungkin nasib sialnya akan bertambah parah? Ah, lupakan. Sakura menggelengkan kepalanya cepat. Terdiam sesaat, mulai memikirkan alternatif lain.


Kini kepala Sakura menoleh ke kanan dan kirinya, mencari sesuatu yang bisa membantunya memecahkan masalah ini. Kedua iris hijau emerald miliknya yang indah itu berhenti ketika menatap ke arah laptop kecil kesayangannya di atas meja.


"...Oh iya," seakan teringat akan suatu hal yang penting, Sakura segera berdiri lalu berjalan mendekati meja dimana laptop kesayangannya berada. Sakura membuka salah satu alat jenis elektronik tersebut lalu menyalakannya. Setelah laptop itu sepenuhnya menyala, Sakura mengarahkan kursor yang ada di layar untuk membuka suatu file yang sudah sangat lama tidak dia buka.


Setelah sebelumnya menarik kursi untuk diduduki olehnya, Sakura menarikan kesepuluh jarinya di atas keyboard. Sebenarnya ceritayang muncul di layarnya saat ini sudah selesai dikerjakan. Namun, ada beberapa hal yang ingin dia ubah. Termasuk pilihan dari seorang gadis yang berada di antara kedua laki-laki yang kini telah rentan persahabatannya.


Judul cerita itu sendiri adalah Friendship or Love.


Tadinya cerita itu akan di-publish oleh Sakura di situs FanFiction tempatnya biasa meluapkan imajinasinya. Tapi kali ini beda, entah mengapa Sakura ingin membentuk cerita pendek itu menjadi cerita panjang yang nantinya bisa dibentuk sebagai novel. Langkah awal untuknya mencapai cita-citanya sedari kecil. Menjadi seorang penulis yang ingin karyanya dikenal dan diakui oleh banyak orang. Dan seharusnya tinggal sedikit lagi maka novel miliknya itu akan siap dikirim ke penerbit yang akan menerimanya nanti.


Hanya tinggal klimaksnya... yaitu... saat sang gadis menentukan pilihannya di antara dua lelaki.


Bisakah gadis itu menjadi manusia kejam yang tidak mempunyai hati... lalu memilih salah satu di antara dua laki-laki yang telah bersahabat sejak kecil? Tanpa harus peduli persahabatan mereka akan hancur hanya karena dirinya? Tanpa harus peduli salah satu dari mereka akan menangis karena telah kehilangan sahabat dan cintanya? Apa bisa gadis itu tega menghancurkan persahabatan yang telah terjalin selama tujuh belas tahun hanya dengan pilihannya yang berisi dua kata?


Apa dia bisa? Gadis lemah yang selalu berlari dari kenyataan itu... suatu hari pasti akan jatuh lalu tertangkap. Mau tak mau dia harus memberi jawaban. Jika diibaratkan seperti adegan-adegan pembunuhan yang berada di film, gadis itu diberi pertanyaan yang sangat memojokkan dirinya. Dia tidak akan bisa lari lagi, karena rantai telah mengikat sekujur tubuhnya...


Beri jawaban atau mati.


Dunia ini kejam terhadap siapapun. Tak peduli kau adalah anak-anak, remaja, atau bahkan orang tua... pasti akan merasakan kekejaman dunia cepat atau lambat. Pada akhirnya kau hanya bisa bergantung pada nasib baikmu. Seperti apa jenis kekejaman yang akan kau rasakan? Ringan atau berat? Lalu... bagaimana kau mengatasinya? Menghadapinya? Atau justru lari menghindarinya?


Apa kau seorang pemenang... atau seorang pengecut?


Sakura menghentikan gerakan kesepuluh jarinya. Kedua matanya lurus menatap layar laptop kecil di depannya. Gadis itu tersenyum miris bersamaan dengan kedua matanya yang dipejamkan. Sakura membuka kembali kedua matanya sebelum menyimpan file tersebut lalu menutup laptop miliknya. Sakura naik ke atas tempat tidurnya. Dia akan kembali mencoba tidur perlahan-lahan.


Novel perdananya nanti...


...akan didasari kisah kehidupan nyata yang dialaminya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi hari telah diawali dengan turunnya hujan deras yang melanda kota Konoha. Tapi tentu saja dengan datangnya hujan deras beserta angin ini bukan berarti kegiatan sehari-hari tidak akan berjalan seperti biasanya. Salah satunya adalah para pelajar yang mau tak mau harus tetap datang ke sekolah untuk menimba ilmu sebagai kewajiban mereka.


Haruno Sakura hanyalah salah satunya. Gadis yang biasanya datang ke sekolah dengan berjalan kaki itu pun kewalahan menghadapi hujan deras dengan angin kencang yang menyerangnya tanpa ampun. Meski sudah memakai jas hujan lengkap dan membawa payung, tetap saja sebagian tubuhnya kebasahan. Untuk menghindari resiko yang tak diinginkan, Sakura sengaja memakai sepatu boot tapi itu justru membuat dirinya susah berjalan karena harus melawan genangan-genangan air yang menutupi jalannya.


Tapi toh, Sakura tetap tidak menyerah. Walau sesekali dirinya harus pasrah menerima butiran-butiran air hujan yang menyerang wajahnya karena payungnya mulai rusak. Untunglah jarak dari sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh. Setelah menginjakkan kakinya di atas teras sekolah, Sakura menghela napas lega.


"Huff, akhirnya sampai..." gumamnya sembari menurunkan payungnya yang sedikit bengkok. Sakura membetulkan bentuk payung malangnya tersebut sembari melepaskan jas hujan dan sepatu boot-nya. Sekarang Sakura sudah bertelanjang kaki, dia menaruh payungnya di tempat yang tersedia lalu berniat mengambil sepatu dan kaus kaki dari dalam tasnya. Tapi, baru saja mengambil sepatu dari dalam tasnya, seseorang menabrak bahunya hingga sepatu-sepatunya jatuh ke bawah—terlepas dari tangannya.


Belum sempat Sakura meringis sakit, orang yang tadi menabraknya yang ternyata adalah laki-laki justru menghardiknya sinis, "Minggir! Dasar miskin," berbeda dari Sakura yang setengah tubuhnya hampir basah, tubuh laki-laki itu terlihat kering sepenuhnya. Dia menatap Sakura rendah, "Kebasahan ya? Kasihan sekali," begitu katanya lalu pergi meninggalkan Sakura yang masih terpaku karena kaget.


Gadis pemilik iris hijau emerald itu menunduk sedih. Tak lama kemudian dia mengangkat kepalanya, melihat murid-murid lain yang juga baru datang ke sekolah seperti dirinya. Bodohnya. Sakura hampir saja lupa dimana dia sekolah sekarang. Tangannya memegang gagang payungnya dengan erat ketika kumpulan mobil mewah masuk ke dalam halaman sekolahnya satu persatu.


Tentu saja, berbeda dari Haruno Sakura yang merupakan seorang anak dari kalangan tak mampu, seluruh murid lainnya di sekolah ini adalah anak dari keluarga yang serba berkecukupan. Sakura hanya bisa diam, berdiri mematung ketika melihat anak-anak yang turun dari mobil terlihat tertawa riang dan sama sekali tidak terlihat kesusahan dengan hujan yang melanda hari ini. Sebagian dari mereka terlihat dipayungi dengan payung yang terlihat mahal oleh para sopir mereka. Sekilas, perasaan iri menyelimuti dada Sakura. Namun dengan cepat, gadis itu segera menepisnya.


Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak tidak, Sakura. Syukuri kehidupanmu apa adanya!" ucapnya untuk menguatkan hatinya. Tangan kanannya mengepal di depan dadanya. Sakura tersenyum pada dirinya sendiri sebelum akhirnya dia memakai kaus kakinya lalu sepatunya. Setelah merapikan sedikit seragam yang dikenakannya, Sakura pun bersiap menghadapi pelajaran sekolah hari ini.


"Payung jelek yang basah ini punya siapa sih?" pertanyaan seseorang dari jauh menghentikan langkah Sakura yang hendak naik tangga menuju kelasnya. Sakura segera menoleh ke belakang, seingatnya tidak ada lagi yang menaruh payung di tempat payung yang telah disediakan dari sekolah. Benar saja, dua laki-laki dan dua perempuan sedang melihat ke arah payungnya. Salah satu dari dua perempuan itu kemudian mengambilnya.


Perempuan itu seperti memasang ekspresi jijik, "Hei, pasti ini milik si miskin itu, 'kan?" tanyanya. Teman-temannya yang lain tertawa mendengar pertanyaannya. Tak lama kemudian mereka berhenti tertawa ketika sang perempuan melemparkan payung itu ke teman laki-lakinya, "Buang saja ke tempat sampah. Jangan sampai orang luar melihat sekolah kita yang indah ini masih menyisakan sampah busuk yang tidak sedap dipandang mata."


Sakura terkejut mendengarnya. Walau sudah hampir rusak, itu adalah payung satu-satunya—pemberian dari orang tuanya sebelum pergi meninggalkannya. Gadis itu berlari ke arah laki-laki tersebut, "Tu—"


KRAK


Kedua bola mata Sakura membulat tak percaya ketika laki-laki sialan itu menekuk gagang payungnya yang sudah rentan hingga patah dan bengkok. Bukan hanya itu, laki-laki satunya juga merobek kain payung tersebut dengan gunting yang dibawanya. Sementara kedua perempuan yang lain tertawa seolah yang mereka lihat sekarang adalah pertunjukan menarik dan tidak boleh dilewatkan. Keempat murid itu terlihat tidak menyadari keberadaan Sakura di seberang mereka yang masih terpaku di posisinya.


Salah satu dari mereka berhenti tertawa ketika terkejut melihat Sakura sudah berdiri di seberang mereka. Tentu saja yang lain juga ikut terkejut. Secara reflek laki-laki yang tadi merobek payungnya itu menjatuhkan payung Sakura yang sudah tak lagi berbentuk, "Ke-Kenapa? Kau mau protes, anak miskin?" tanyanya sedikit bergetar karena kaget. Sementara teman-temannya yang lain masih diam, saling melihat satu sama lain.


Melihat Sakura yang masih menundukkan kepalanya membuat keempat anak yang tidak mau bertanggung jawab itu saling menatap takut. Mereka berusaha tidak peduli. Dengan langkah yang sedikit cepat, mereka berjalan melewati Sakura, "Hei," mereka berhenti lalu menoleh menatap Sakura yang masih belum membalikkan tubuhnya, "tolong kembalikan payungku. Jika nanti siang masih hujan, aku tidak bisa pulang," ucapan Sakura terdengar tenang.


Laki-laki berambut coklat membalas—berusaha terdengar arogan, "Ha-Hahaha, kau ingin kami mengembalikan payung murahan seperti itu?"


"Ya," kali ini Sakura berbalik. Menatap keempat orang itu dengan tajam, "telinga kalian tidak tuli, 'kan? Memang benar payungku hanya payung murahan, jadi seharusnya kalian tidak memiliki masalah untuk membeli yang baru dan mengembalikannya padaku."


"Apa? Jaga mulutmu—"


"Kalian yang harus menjaga mulut kalian," kedua tangan Sakura mengepal dan bergetar di samping tubuhnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya keras, "harusnya kalian sadar, kalian yang salah di sini! Dimana tanggung jawab kalian!?" tanya Sakura nyaris membentak.


Seorang perempuan melipat kedua tangannya di depan dada, "Dengar baik-baik anak miskin," sekali lagi Sakura menggertakkan giginya, menatap muak anak perempuan di depannya yang menatapnya rendah seperti anak-anak yang lain, "apa salahnya kami membantu petugas kebersihan untuk membersihkan sekolah ini dari sampah-sampah yang mengganggu pemandangan?" tanyanya dengan nada mengejek.


Tersentak, Sakura berteriak, "PAYUNGKU BUKAN SAMPAH!"


Mendengar teriakan Sakura, entah mengapa perempuan itu tersenyum. Begitu pula ketiga temannya yang lain. Seolah ada niat tersembunyi dari sikap mereka saat ini, "Oh begitu? Baiklah, kami akan mengganti payungmu," getaran di tubuh Sakura berhenti. Gadis itu menatap tidak percaya pada keempat orang di depannya. Benar saja, setelahnya kata-kata perempuan menyebalkan itu seketika membuat Sakura menahan napas.


"Jika kau mau bersujud lalu menjilati sepatu kami berempat, kami akan langsung membelikan payung yang baru untukmu. Bahkan dengan kualitas yang jauh lebih baik dan tentu saja dengan harga yang jauh lebih mahal. Bagaimana?"


Mendengar kesepakatan itu membuat ketiga temannya yang lain tertawa puas. Kedua bola mata Sakura membulat tak percaya. Entah sejak kapan penglihatannya mulai memburam ketika melihat tawa empat orang di depannya yang sangat merendahkannya. Sakura menggertakkan giginya. Cukup. Sudah cukup dia direndahkan seperti ini. Kedua matanya berkilat penuh amarah. Tawa mereka terhenti ketika Sakura menarik kerah perempuan yang tadi berbicara dengannya.


Namun, belum sempat kepalan tinju Sakura mengenai wajah perempuan yang mulai ketakutan itu, seseorang sudah menahan tangannya. Tak hanya Sakura, keempat orang yang ada di sana pun ikut terkejut. Mereka langsung melangkah mundur karena takut.


"Sasuke..." empat orang yang tadi tertawa begitu puas kini hanya bisa diam berdiri mematung. Tangan Sakura di genggaman Uchiha Sasuke melemah. Gadis itu menunduk ketika Sasuke melepaskan tangannya pelan sehingga kini kedua tangan Sakura kembali di samping tubuhnya. Sekarang Sasuke mengalihkan perhatiannya pada empat orang yang saling menatap satu sama lain. Berniat menyalahkan orang lain tanpa mengakui kesalahan diri sendiri.


Tatapan tajam Sasuke masih belum hilang ketika perempuan yang tadi hendak dipukul Sakura kini berkata ketakutan, "I-I-Ini bukan salahku, Sasuke! Ta-Tapi—"


"Aku tidak peduli siapa yang salah," suara Sasuke membuat mereka semakin berjengit ketakutan, "kalian yang merusak payung Sakura, itu faktanya."


"Tapi—"


"Sekarang bagaimana kalau kalian pilih saja," Sasuke mengangkat kepalanya sehingga kini dia yang terlihat memandang rendah empat orang di depannya, "membelikan payung Sakura yang baru atau menjilat sepatu Sakura hingga bersih?" pertanyaan Sasuke membuat mereka saling menatap satu sama lain. Uchiha bungsu itu tersenyum tipis, "Kurasa orang yang sudah terbiasa dengan makanan mewah seperti kalian sesekali harus mencoba bagaimana rasanya debu, kotoran jalan, dan batu-batu kecil."


Sasuke kini berdiri di depan Sakura sementara gadis bermahkota soft pink tersebut masih diam menunduk seperti di awal. Mereka berempat terlihat berdiskusi dengan berbisik satu sama lain. Setelah cukup lama, akhirnya salah satu dari mereka berkata, "Ba-Baiklah, kami akan membelikan payung baru untuk Sakura. Kau puas?"


"Sekarang," Sasuke berkata dengan nada memerintah, "kalian dengar apa yang tadi Sakura katakan. Jika nanti hujan, dia tidak akan bisa pulang," mereka mengangguk kaku lalu segera berjalan berempat melewati Sasuke—berjalan menuju pintu keluar sekolah, "Tunggu, apa kalian tidak melupakan sesuatu?"


Pertanyaan Sasuke membuat keempat orang itu segera berhenti lalu menatapnya dengan pandangan bertanya. Sasuke menatap mereka secara bergantian lalu mengarahkan jempolnya pada Sakura, "Minta maaf. Bungkukkan tubuh kalian dengan benar, apa kalian tidak diajari sopan santun sama sekali?" tanya Sasuke sinis.


Kali ini Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke sedikit kaget. Tadinya Sakura mengira tentu saja empat orang itu tidak akan menuruti Sasuke, tapi perkiraan itu harus dihilangkannya segera ketika melihat mereka langsung membungkukkan tubuh mereka dengan bergetar, "Ma-Maaf..." ucap mereka—nyaris berbisik. Belum sempat Sakura membalasnya, mereka sudah lebih dulu berdiri lalu berjalan cepat melewatinya dan Sasuke.


Sakura masih diam saat Sasuke mendengus menatap kepergian mereka. Sasuke berjalan lebih dulu dan menaiki tangga. Mendengar langkah Sasuke yang menjauh, Sakura menatap punggung Sasuke sedikit ragu sebelum akhirnya dia ikut berjalan di belakang Sasuke. Mengingat mereka satu kelas, jadi seharusnya tidak masalah.


Kelas mereka berdua memang telah dipindah ke lantai dua sejak tiga hari yang lalu. Meskipun sudah banyak murid-murid lain yang berjalan di sekitar mereka untuk memasuki kelas masing-masing, entah mengapa hanya langkah keduanya yang menggema di dalam kepala mereka. Sasuke masih enggan untuk berbalik pada Sakura begitu pula Sakura yang anehnya juga masih enggan untuk berbicara pada Sasuke. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran mereka satu sama lain.


Sasuke yang berjalan di depan tentu lebih dulu sampai di kelas. Saat membuka pintu, Sasuke menoleh melihat Sakura yang justru melewati kelas mereka dan berjalan lurus. Laki-laki berambut raven tersebut sedikit ragu sampai akhirnya dia bertanya, "Kau tidak masuk kelas?"


Sakura menghentikan langkahnya. Tanpa perlu berbalik dan menjawab dengan kata-kata, Sakura hanya menggeleng pelan. Tak butuh waktu lama sampai dia kembali berjalan lurus menjauhi Sasuke. Teman sepermainan Uzumaki Naruto tersebut seakan mengerti sesuatu. Ditutupnya kembali pintu kelas yang sudah hampir dibuka setengahnya, lalu dia pun berlari kecil mengikuti langkah gadis yang disukainya sejak masuk SMA ini.


Entah tahu atau tidak Sasuke mengikutinya, Sakura masih tidak mau berbalik. Laki-laki itu hanya bisa diam dengan sabar. Menanti harap harap cemas dengan sesuatu yang tak kunjung datang. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, firasatnya jelek. Akan ada yang terjadi dan dia tidak tahu apa itu.


Aneh.


Ketika sampai di lorong tangga yang mengarah menuju atap gedung sekolah, Sakura segera berbelok. Sasuke sedikit kaget, dia berlari mengejar Sakura yang sudah lebih dulu menaiki tangga, "Sakura, tunggu! Sekarang masih hujan di luar," cegahnya. Mendengar suara Sasuke, Sakura pun menghentikan langkahnya.


"...Kau benar, maaf aku lupa," balas Sakura dengan tenang. Gadis itu masih berdiri di atas tangga sementara Sasuke masih menatapnya dari bawah, "kita bicara di sini saja, Sasuke."


"Kau mau bicara soal apa?" tanya Sasuke dalam. Laki-laki itu menaiki tangga, berniat mendekati Sakura, "apa tidak bisa dibicarakan nanti sepulang sekolah?" Sasuke melanjutkan pertanyaannya sedikit ragu.


Kedua bola mata Sasuke membulat sekilas, tapi kemudian kembali tenang seperti biasa. Adik dari Uchiha Itachi itu melirik sudut kirinya seperti berpikir lalu menjawab, "Mereka ingin menjebakmu," Sakura mengernyitkan kedua alisnya, "apa kau benar-benar tidak sadar? Jika kau termakan emosi lalu memukul mereka hingga meninggalkan bekas, mereka akan melapor pada kepala sekolah dan kau bisa dikeluarkan dari sekolah."


Sakura memicingkan kedua matanya semakin tajam. Menatap Sasuke dengan tatapannya yang dingin, "Aku tahu itu."


"Lalu kenapa?" Sasuke mulai gusar. Dia tidak suka ini. Dia tidak suka melihat Sakura yang seakan tahu resiko yang nanti akan diterimanya tapi sama sekali tidak merasa perbuatannya salah, "Kau aneh, tidak biasanya kau termakan emosi seperti tadi," volume suara Sasuke mulai menurun.


Lagi-lagi Sakura tidak langsung menjawab. Tangan kirinya memegang pegangan tangga di sebelahnya dengan erat, "Justru seharusnya aku yang bertanya kenapa!" volume suara Sakura tiba-tiba meninggi, "Seharusnya... kau biarkan saja aku memukul perempuan sialan itu dan biarkan aku pergi dari sekolah ini dengan tenang!"


"Kau bicara apa!?" mau tak mau emosi Sasuke terpancing juga. Uchiha bungsu itu menatap Sakura dengan gusar. Kembali menaiki satu tangga, "Kau sendiri yang bilang bahwa kau masuk ke sekolah ini dengan beasiswa yang susah payah kau dapatkan, lalu sekarang kau ingin melepasnya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Apa sebenarnya maumu, bodoh!?" Sasuke berkata berang. Tak peduli jika dirinya akan menekan Sakura saat ini. Yang penting, dia ingin gadis itu segera sadar dan membuka matanya sebelum terlambat.


Cepat sadar...


...masih ada yang membutuhkanmu di sini, Sakura.


Namun, tak sesuai harapannya. Sakura justru menggertakkan giginya penuh amarah. Gadis itu memukul tembok di sampingnya dengan keras, "Apa mauku itu sama sekali bukan urusanmu!" jeda sesaat, Sakura kembali berteriak, "Seluruh warga sekolah ini membenciku! SEMUANYA! Akan lebih baik jika aku segera pergi dari sekolah sialan ini secepatnya! Aku akui aku salah, aku bodoh karena telah bersusah payah untuk mendapatkan beasiswa demi sekolah yang hanya dibangun untuk orang kaya ini!"


"Saku—"


"Kau sendiri yang bilang dari awal!" perkataan Sakura menghentikan kata-kata Sasuke. Laki-laki itu terlihat tegang, "Kau yang bilang... anak miskin sepertiku tak pantas berada di sekolah ini! Lalu semua orang menyetujuimu! Sekarang jika aku ingin pergi, lantas apa salahnya? Harusnya kau senang, 'kan?" Sakura bertanya dengan nada bergetar.


"Tidak—"


"Seharusnya kau biarkan saja aku..." kedua alis Sasuke tertarik, "...biarkan aku dikeluarkan dari sekolah ini! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi! Kau tidak perlu mengasihaniku, Sasuke. Aku baik-baik sa—"


"KAU BERISIK, DASAR MANJA!"


Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Sakura sudah lebih dulu dibuat terkejut oleh Sasuke yang tiba-tiba berteriak di depannya. Tangan kanan laki-laki itu terlihat mengepal menahan amarah. Terlihat sinar kekecewaan dari ekspresi wajahnya. Tubuh Sakura bergetar menatap Sasuke yang justru menatapnya begitu tajam.


Melihat getaran tubuh Sakura, Sasuke menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Laki-laki itu kembali menaiki tangga untuk mendekati Sakura. Gadis itu menatap Sasuke takut lalu mundur sembari menaiki tangga untuk menjauh, "Jangan lari," perkataan Sasuke membuat tubuhnya berhenti bergerak. Kedua tangan Sakura kini mengepal di depan dadanya sendiri.


Sasuke menggigit bibir bawahnya pelan. Laki-laki itu terus menaiki tangga sembari berkata, "Haruno Sakura yang kukenal selalu menghadapi semua rintangan dengan kuat dan sabar," kedua mata Sakura mulai mau menatap mata Sasuke, "tidak peduli seberapa banyak orang yang menjatuhkannya, dia selalu bisa kembali bangun. Tidak peduli berapa kali dia menangis, dia tetap akan kembali tertawa."


Pemuda berumur tujuh belas tahun itu pun berhenti tepat satu tangga di bawah Sakura. Kini jarak wajah keduanya tidak terlalu jauh. Sasuke masih menatap Sakura dengan iris onyx miliknya yang tajam, "Lalu sekarang, kemana Haruno Sakura yang kukenal itu? Dia masih ada di sini, 'kan?" pertanyaan Sasuke diakhiri dengan senyum tipis laki-laki itu yang membuat wajah Sakura memerah.


Sakura memejamkan kedua matanya dengan erat lalu menggeleng sembari menutupi kedua telinganya dengan tangan, "Tidak... itu... tidak benar," bisiknya setengah mengisak karena menahan tangis, "kau salah Sasuke, aku tidak sekuat itu. Kau... kau tidak tahu apa-apa tentang diriku! Jangan membuat asumsi yang tidak perlu!" tubuh Sakura kembali bergetar. Kepalanya menunduk hingga sekarang yang bisa Sasuke lihat hanyalah rambut soft pink miliknya.


"Aku tahu," kedua tangan Sasuke mengepal di samping tubuhnya sendiri. Ekspresi Sasuke terlihat tegang meskipun hanya sekilas. Sakura mengangkat kepalanya perlahan tapi pasti, "aku tahu kau seperti itu... aku selalu memperhatikanmu."


"...Eh?" Sakura menatap Sasuke sedikit kaget. Tanpa dia sadari kedua tangan yang dia gunakan untuk menutup telinganya kini turun secara perlahan. Melihat semburat merah yang sangat tipis di kedua pipi Sasuke ketika laki-laki itu berkata...


"Aku selalu memperhatikanmu, karena aku mencintaimu."


#


.


.


.


#


"Na-Naruto-kun," Naruto menoleh ketika suara kekasihnya memanggilnya. Gadis yang wajahnya selalu terlihat memerah ketika berdekatan dengan Uzumaki Naruto tersebut tersenyum sembari memberikan sebuah buku pada laki-laki itu, "ini bukumu yang kupinjam beberapa hari lalu. Maaf baru kukembalikan sekarang."


"Oh? Tidak apa-apa, santai saja, Hinata!" Naruto tertawa menunjukkan deretan gigi putihnya sementara Hyuuga Hinata membalasnya dengan senyum lembutnya. Tak butuh waktu lama sampai keduanya kini tenggelam dalam pembicaraan yang terlihat seru.


Sementara itu dari kejauhan, Hyuuga Neji menatap adik sepupu dan kekasihnya itu dengan tatapan sangar. Dia berdiri menyandar pada tembok di belakangnya sementara Sai yang duduk tak jauh darinya hanya tertawa geli, "Lihat siapa yang sedang waspada pagi ini," sindirnya tanpa menghilangkan senyum palsunya.


Neji menatap Sai dengan jengkel. Setelah itu dia kembali mengawasi dua pasangan yang tadi diperhatikannya dari jauh, "Aku tidak butuh ditertawakan oleh laki-laki yang kemarin menangis karena harus berpisah dengan kekasihnya," kata-kata itu sukses menusuk Sai dan langsung menghentikan tawanya dalam sekejap. Sai menatap sinis Neji yang tidak peduli dan masih fokus dengan perhatiannya.


Sai menghela napas. Ingin marah, tapi apa yang dikatakan Neji ada benarnya juga. Akhirnya dia hanya menoleh melihat ke arah tempat duduk mantan kekasihnya itu. Tapi, Haruno Sakura belum juga datang. Begitu pula dengan laki-laki yang duduk di sebelahnya. Perasaannya kembali tak menentu. Tapi setelah berusaha keras, akhirnya Sai memutuskan untuk tidak mempedulikannya.


"Apapun yang sedang dilakukannya sekarang, bukan urusanku," Sai tersentak ketika tiba-tiba Neji berkata. Ketika Sai menoleh, ternyata Neji sudah melihatnya sedari tadi, "itu yang ada di kepalamu, 'kan?"


Pelukis itu mendengus kesal lalu membuang muka, "Memang bukan urusanku, kami sudah tidak ada hubungan lagi."


"Apa tidak apa-apa berpikir egois seperti itu, Sai?" Neji mendengus menahan tawa, "Terdengar seperti anak kecil jika kau jadi membencinya hanya karena kalian putus sebagai kekasih," sindirnya.


Sai langsung menjawab, "Aku tidak membencinya hanya sedikit kecewa," kini kedua iris onyx miliknya ikut memperhatikan Naruto dan Hinata dari kejauhan. Diam-diam merasa iri dengan kemesraan dua kekasih yang sudah menjalin kasih sejak setahun yang lalu itu. Tanpa menyadari sekarang Neji justru memperhatikan ekspresi wajah yang dipasangnya.


"Tapi..." jeda sejenak, Sai terlihat memicingkan kedua matanya, "...aku tidak tahu apakah aku akan membencinya atau tidak jika dia berhubungan dengan Sasuke."


#


.


.


.


#


Sakura mengerjapkan kedua matanya. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Iris hijau emerald miliknya membulat sementara iris onyx milik Sasuke terlihat tenang menatap lurus kedua matanya. Sasuke... mencintainya? Laki-laki itu? Sakura tahu ada waktu dimana Sasuke begitu memperhatikannya tapi... mencintainya? Tidak mungkin.


Meskipun Sakura sempat mengiranya... tapi—


"Kau pasti bercanda," kata-kata Sakura membuat Sasuke membuka mulutnya, "tidak mungkin. Kau tidak mungkin mencintaiku. Kalau pun mungkin, pasti hanya perasaan sesaat. Benar, 'kan? Sekarang juga lupakan perasaanmu itu!" bentak Sakura.


Sasuke kembali memicingkan kedua matanya, "Aku tidak bercanda dan ini bukan perasaan sesaat!" Sasuke kembali menaiki tangga ketika Sakura juga mundur menaiki satu tangga lagi, "Kenapa kau kaget? Harusnya kau tahu sejak melihat Sai yang begitu memusuhiku!"


"I-Iya, tapi—" Sakura tak dapat menahannya lagi. Air mata mengalir dengan lancar di kedua pipinya, "—Sai. Bukankah... kalian bersahabat sejak kecil? Kalau kau benar-benar mencintaiku, aku..."


"Aku tidak berniat untuk lari lagi," Uchiha bungsu itu menatap Sakura dengan mantap. Tak peduli jika saat ini gadis itu terlihat begitu takut dan goyah. Sekarang waktunya dan dia tidak bisa mundur meskipun dia ingin. Tangan Sakura yang berniat menahannya kini digenggamnya dengan cepat.


Sasuke terdiam sementara tangannya masih menggenggam tangan Sakura begitu erat di depan wajahnya. Laki-laki itu menundukkan kepalanya hingga kedua matanya tertutup poninya, "Sepertinya aku kalah. Aku tidak bisa menahan perasaan ini..." Sakura menatapnya dengan pandangan bertanya, "...setelah ini aku yang akan menanggung semuanya. Aku tidak keberatan jika Sai akan membenciku selamanya."


Ya.


Benarkah ini pilihan terbaik?


"Maksudmu..." tangan Sakura yang digenggam Sasuke mulai melemas. Gadis itu menatap Sasuke yang masih enggan balas menatapnya, "...kau akan membuang persahabatanmu, Sasuke?" pertanyaan Sakura membuat tangan Sasuke bergetar meskipun hanya sesaat. Sakura bisa melihat Sasuke menggigit bibir bawahnya sendiri.


Sekali melihat saja Sakura sudah tahu.


Seberapa besar rasa takut yang menyelimuti laki-laki itu.


Sakura kembali memejamkan kedua matanya dengan erat lalu menggertakkan giginya. Tidak. Tidak boleh seperti ini. Tangan kiri Sakura yang bebas kini menyentuh tangan Sasuke yang menggenggam tangan kanannya lalu melepas genggaman laki-laki itu secara perlahan. Sasuke akhirnya mau mengangkat kepalanya.


"Ini salah," Sakura tersenyum pahit, "aku hanya orang luar. Hanya karena aku yang baru datang ke dalam kehidupan kalian setahun yang lalu, kalian akan memutuskan persahabatan kalian? Jangan membuatku tertawa."


"Sakura—"


"Sasuke," gadis itu masih tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Kedua tangannya masih menggenggam tangan besar Sasuke yang selalu terasa hangat, "terima kasih untuk semua perhatian yang telah kau berikan padaku. Maaf aku tak pernah sadar karena kau selalu ada untukku, maaf jika aku tidak mau mengerti perasaanmu, maafkan aku," ucapnya bertubi-tubi sebelum akhirnya senyumnya menghilang.


Karena gadis itu berpikir—


—dialah penghancur di sini.


"Menyerahlah untuk mencintaiku."


Dan mungkin ini adalah... jawaban yang paling adil. Bukan dua laki-laki itu yang harus tersiksa. Tidak. Sudah cukup membuat mereka tersiksa selama ini.


Sekarang giliran sang gadis yang menanggung semuanya.


Si penghancur lha yang harus tahu tempatnya berada.


.


.


.


"When you learn to love, you must learn to bear the risk of hatred."


- Uchiha Madara (Naruto)


.


.


.


.


.


To Be Continued...