
Chapter 2
Sinar keperakan tampak memancar terang dari sebuah teko yang terletak di atas meja. Sinar itu makin lama makin terang dan menyilaukan mata. Teko tersebut tiba-tiba bergetar pelan selama beberapa detik, sampai akhirnya berhenti disertai kepulan asap putih yang muncul di mulut teko tersebut. Asap yang cukup pekat itu menyelimuti sepertiga ruangan yang cukup besar ini. Dan ketika asap tersebut mulai menghilang, terlihat ada sesosok wanita cantik yang berdiri di samping meja. Wanita berambut merah muda yang disanggul kebelakang, dibalut dengan kimono berwarna merah dengan motif bunga-bunga putih. Kulitnya yang seputih mutiara ditambah mata emeraldnya yang berkilau, membuat makhluk ini begitu cantik. Bahkan kecantikannya dapat mengalahkan kecantikan manusia mana pun. Mungkin tak jauh beda dengan bidadari di surga. Tapi...
apa wanita ini memanglah manusia?
Sosok cantik ini lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, matanya berhenti saat mendapati sosok tampan yang tengah terlelap di atas kasur. Senyum manis terukir dibibirnya, ia lalu mendekati lelaki tersebut. Ia berhenti di tepi kasur, matanya lalu memerhatikan sang pangeran tidur, tampak begitu menikmati tidurnya. "Hai, Tuan, terima kasih telah membebaskanku dari teko itu," ucap wanita misterius ini, sambil memandangi lelaki tampan yang sama sekali tak bergeming dari tidurnya. Wanita ini lalu menyadari bahwa sang penyelamatnya tertidur hanya dibalut oleh handuk putih di pinggangnya. "Ah! Ya ampun, kau pasti kedinginan!" serunya, "aku akan ambilkan selimut untukmu!" sang wanita pun segera menoleh ke arah lemari besar yang tak jauh darinya. "Lemari, terbukalah!" perintahnya sambil memainkan telunjuknya ke arah lemari. Ajaibnya, lemari itu terbuka sesuai dengan perintah sang wanita -padahal tak ada orang yang membukanya.
Aneh, bukan?
"Dan kau selimut, ayo kemari!" perintahnya lagi. Perlahan selimut yang terlipat rapi di dalam lemari pun melayang ke arah wanita cantik ini. Wanita berambut unik ini lalu menangkap selimut itu dengan tangannya. "Pemilikmu sedang kedinginan," ucapnya sambil menutupi tubuh yang terlelap itu dengan selimut. "Nahh, semoga dengan begini Tuan tidak kedinginan lagi." Selesai menyelimuti, wanita ini lalu menjauh dari kasur, ia menatap ke arah jam besar yang terpasang di dinding. "Wahh, sebentar lagi pagi! Aku harus segera menyiapkan sarapan untuknya!" wanita ini pun segera keluar dari kamar dan menuju ke arah dapur.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Sasuke, lelaki tampan yang tadi tidur di atas kasur, perlahan terjaga dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih dibanjiri rasa kantuk."Aneh," gumam Sasuke. Ia merasakan keanehan, karena harusnya selama ia tertidur, dirinya akan merasa kedinginan karena dia tahu bahwa tubuhnya hanya mengenakan sehelai handuk. Seingatnya, ia juga tak menutupi tubuhnya dengan selimut. Tapi mengapa ia merasakan hangat yang begitu nyaman? Mengapa kini seluruh tubuhya - kecuali kepala - telah dibungkus oleh selimut tebal berwarna coklat tua yang seharusnya terlipat rapi dalam lemarinya. Lalu kenapa bisa ada di atas tubuhnya?
'Mungkin aku telah mengeluarkannya semalam. Aku terlalu kelelahan hingga aku jadi lupa begini,' Sasuke membatin. Sasuke kemudian bangun dan merapikan kasurnya. Setelah itu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
-xxx-
Mata Sasuke terbuka lebar, ekspresi yang menandakan bahwa dirinya tengah terkejut. Ralat, sangat-sangat terkejut. Uchiha Sasuke, makhluk sedingin es yang hampir tak memiliki ekspresi, tengah terkejut karena melihat sesuatu di depannya.
Atau lebih tepatnya, seseorang.
Seorang wanita.
Ya, wanita. Sasuke yakin betul jika makhluk yang ada di ruangan bersamanya itu adalah wanita. Itu terlihat jelas dari kimono berwarna merah bermotif bunga-bunga putih yang membalut tubuhnya. Juga rambut merah mudanya yang digulung kebelakang, lalu ditusuk oleh sumpit dengan gantungan diujungnya; membuktikan bahwa makhluk misterius yang kini tengah sibuk menyusun makanan di atas meja makan ini adalah; wanita.
Sasuke terus memperhatikan wanita itu, tampaknya karena keasyikan menyiapkan makanan, dia tak menyadari bahwa sang tuan rumah tengah memperhatikan gerak-geriknya dengan tajam.
"Ehm," deheman Sasuke terdengar menggema di ruangan itu. Sontak wanita itu langsung mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk.
Dan Sasuke tak bisa menghindar dari fakta bahwa dirinya begitu terpesona saat matanya bertemu langsung dengan mata hijau apel milik sang wanita asing. Kalau saja lelaki ini bukanlah Sasuke, mungkin ia telah jatuh pingsan dengan aliran saliva di sudut bibirnya - karena melihat sosok yang begitu anggun ini. Tapi untunglah, ia adalah Sasuke, keturunan Uchiha, dan Uchiha tak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Iya 'kan?
Wanita itu tersenyum, lalu berjalan mendekat menuju Sasuke yang telah mengontrol fikirannya saat ini. "Umm, maaf aku melakukan ini tanpa izinmu," ucapnya dengan suaranya yang terdengar lembut, namun tidak manja, "tadinya aku mau bilang padamu dulu, tapi melihatmu tidur nyenyak begitu, aku tidak tega membangunkanmu," jelasnya. "Sekali lagi maafkan aku!" wanita itu lalu membungkukan tubuhnya berulang kali.
"Siapa kau?"
"Ah iya, namaku Sakura," jawabnya. "Haruno Sakura."
Sasuke berusaha memfokuskan matanya agar hanya menatap pada simbol belah ketupat mungil berwarna ungu yang terlukis di antara alis mata Sakura, berusaha menghindari senyuman maut di wajahnya. "Bagaimana kau bisa menyusup masuk ke dalam rumahku?"
Lengkungan bibir Sakura yang tadinya membentuk senyuman manis, kini berubah mengerucut. "Aku tidak menyusup, kau yang membawaku ke sini, Tuan."
Eh?
"Kau bercanda, Heh? Tak ada gunanya membodohiku." Sasuke lalu menarik pergelangan tangan Sakura, menyeretnya untuk membawanya keluar dari rumah.
"He-hey! Tuan, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
Sasuke tak mengacuhkannya, "Meski kau perempuan, kau tetap saja penyusup, penyusup yang tentu saja berniat mencuri di sini," ucap Sasuke, "dan aku tetap akan membawamu ke markas pusat anbu." Meski kau ini sangat cantik, tambahnya dalam hati.
"A-apa! Pencuri?" suara itu terdengar sangat terkejut. "HEY, AKU BUKAN PENCURI!"
"Katakan saat kau diinterogasi nanti."
Sakura terus berontak, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Sasuke. Namun usahanya selalu gagal hingga akhirnya dia menyerah. "Aku bukan pencuri," rintihnya pelan, "aku adalah jin yang kau bebaskan dari teko ajaib itu, Tuan."
Tap!
Seketika langkah Sasuke terhenti.
Teko ajaib? Jin? Haruno Sakura?
"Kau bilang apa?"
-xxx-
Sasuke menatap tak percaya pada sosok memesona di depannya. Wanita ini mengaku bahwa dirinya adalah jin, bukan manusia. Sasuke tentu saja tak langsung percaya pada ucapan wanita tersebut. Mana mungkin di dunia ini ada makhluk aneh seperti itu? Sasuke menautkan alisnya, makin serius menatap wanita di depannya. Atau sedang menikmati keindahan luar biasa di depanmu, eh, Sasuke?
"Tadi kau bilang apa?"
"Uhmm... aku ini jin yang kau bebaskan dari teko itu," wajah wanita ini tampak sedikit ketakutan saat bertatapan langsung dengan mata Sasuke, dan jujur, hal ini sedikit menghibur untuk sang Uchiha tampan. "Namaku Haruno Sakura. Aku sangat berterimakasih padamu, Tuan."
"Hn." Sasuke masih belum memercayai semua yang diucapkan Sakura. Lagipula semua ini mustahil! Benar-benar di luar akal sehatnya. Mana mungkin di zaman yang maju seperti sekarang, masih ada hal-hal berbau mistis seperti ini! "Omong kosong. Aku tidak percaya."
Mata emerald Sakura tampak membulat sesaat setelah mendengar ucapan Sasuke. "Itu bukan omong kosong, Tuan, aku telah mengatakan yang sebenarnya," Sakura berusaha meyakinkan Sasuke.
"Aku tetap tidak percaya denganmu," ucap Sasuke dingin. "Kau itu penyusup yang ingin melakukan sesuatu di rumahku. Berdandan seperti ini dan menceritakan dongeng bodoh untuk mengelabuiku," ujar Sasuke, matanya menatap Sakura tajam, seolah ingin menjerat wanita cantik di depannya dengan tatapannya. "Kau tak akan berhasil menipuku. Aku tak sebodoh itu, wahai Jin aneh." Terdengar nada mengejek di ujung kalimat Sasuke.
Sakura yang mendengarnya pun langsung tak terima, ia ingin marah namun tak punya keberanian untuk memarahi lelaki di depannya. Apalagi dia adalah orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Tentu saja itu bukanlah hal yang baik. "Baiklah, Tuan, terserah jika kau masih tak percaya denganku," Sakura hanya bisa menepuk dadanya, Sasuke terlalu keras kepala, tak ada gunanya memaksa lelaki tampan ini untuk percaya, "tapi aku tetap akan melakukan kewajibanku untukmu."
Kening Sasuke mengerut, "Kewajiban?"
Sakura mengangguk, "Iya! Kewajibanku pada orang telah menyelamatkanku!" seru Sakura, sedangkan Sasuke hanya bisa menatapnya bosan. "Aku akan mengabulkan tiga permintaan untukmu!" Sasuke sedikit terkejut mendengarnya. "Tidak hanya itu, selama dua minggu aku akan berada di sini untuk membantumu di rumah."
Sasuke terbelalak, "A-apa kau bilang! Dua minggu di rumahku?"
"Hummm!"
Sasuke segera bangkit dari duduknya dan langsung menarik paksa Sakura untuk pergi dari rumahnya.
"T-TUAN! Apa yang kau lakukan!" tanya Sakura histeris.
"Mengusirmu dari sini," jawab Sasuke dengan entengnya.
"A-APA! Tapi, Tuan, kau tak boleh melakukan itu-" Sakura berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sasuke, namun gagal, "-ini sudah jadi sumpahku. Siapa pun yang menolongku maka aku akan memberikannya imbalan-"
"Aku tidak butuh imbalan darimu." Sasuke masih terus berusaha menyeret Sakura keluar dari rumahnya. Tapi sial, ternyata wanita ini kuat juga! Buktinya dari tadi mereka baru bergeser sekitar tiga meter, belum juga keluar dari area dapur.
"Tuan, jika aku melanggar sumpahku sendiri, maka bisa-bisa aku mendapat hukuman lagi!" seru Sakura di sela-sela usahanya melepaskan diri dari Sasuke.
Makin Sasuke mengeratkan cengkramannya, makin kuat pula Sakura melawannya. Hal ini benar-benar membuatnya kesal dan hilang kesabaran! Sasuke pun memutar tubuhnya sehingga kini ia menghadap pada wanita yang mengaku sebagai jin ini. Saat Sasuke menyadari wanita ini akan mulai berbicara lagi, ia segera mencegahnya dengan mendorong Sakura cukup kuat ke belakang, alhasil sebagian tubuh sang jin cantik ini pun mendarat di atas meja makan, diiringi suara debam yang tidak pelan. Sasuke juga bisa melihat ekspresi kesakitan di wajah Sakura dengan jelas, itu karena jarak tubuh mereka yang begitu dekat. Namun Sasuke tak ambil pusing, untuk apa memikirkan perasaan orang asing ini? Siapa suruh dia tak mau pergi dari awal, saat ia mengusirnya? Hn, dia pantas mendapatkannya, batin Sasuke.
"Dengar ya, aku tak peduli kau itu siapa - kau itu apa. Terserah jika setelah ini kau akan di hukum lagi karena tak berhasil melaksanakan misimu, misi untuk menyerangku-" Sakura hanya menatap kebingungan mendengar apa yang diucapkan lelaki tampan ini di depannya... err... lebih tepatnya: di atasnya, "-jangan berpura-pura bodoh begitu. Kau sudah gagal."
Posisinya yang terbaring di atas meja makan, ditambah Sasuke yang berada tiga puluh senti di atasnya, dengan kedua tangan yang masing-masing berada di sisi kanan-kirinya, benar-benar tidak mengenakkan untuk Sakura. Bahkan sampai membuatnya sulit bernapas dan berkonsentrasi. Sakura memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali saat merasa dirinya sudah agak tenang. "T-tuan..." Sakura mulai bicara meski rasa gugup mengelilinginya. "A-aku tidak berbohong, aku mengatakan y-yang sebenarnya padamu," ia berhenti sejenak, mengatur napasnya yang berantakan, "aku bukan penyusup, bukan penjahat! Mengapa kau tidak mempercayaiku?"
"Aku tak semudah itu memberikan kepercayaanku pada orang asing," ucap Sasuke serius. "Dan teori jinmu itu benar-benar tak masuk akal-"
"T-teme... kau...?"
DEG!
Suara itu?
Seketika Sasuke menoleh ke arah sumber suara dan mendapati lelaki berambut kuning tengah berdiri beberapa meter darinya. Mata biru safir lelaki tersebut melebar, seakan sangat terkejut dengan apa yang tengah dilihatnya. "Naruto..." Sasuke benar-benar kehilangan kata-kata, ia bahkan kehilangan tenaganya untuk sedikit mengubah posisinya yang sangat mencurigakan ini - hampir menindih seorang wanita di atas meja makan. Wow.
"Teme... aku, aku tidak menyangka kau adalah lelaki yang seperti itu!" bentak Naruto.
Sasuke langsung menjauh dari meja makan, dimana ada seorang wanita yang tergeletak di atas sana. Sial, batin Sasuke, ia sama sekali tak ingin masalah ini sampai diketahui orang lain, terutama Naruto. Karena jika sampai lelaki berambut kuning itu tahu, maka masalah akan jadi tambah besar. Naruto pasti akan salah paham dalam mencerna masalah ini, kemudian dia akan membeberkan hal ini pada semua orang tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Lalu seluruh desa pun akan salah paham dan, TADA! berakhirlah karir seorang Uchiha Sasuke, ANBU nomor satu di angkatannya. "Naruto, dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan-"
"Kau tak perlu melakukannya, Teme, aku sudah melihatnya dengan kepalaku sendiri!" Naruto berjalan mendekati meja makan. Sakura telah beranjak dari sana beberapa detik lalu, dirinya kini telah berdiri di samping Sasuke.
"Tapi kau tak-"
"Teme, aku-" Naruto menggelengkan pelan kepalanya, "-benar-benar tak menyangka bahwa kau selama ini... PANDAI MEMASAK!"
"Naruto, aku- apa?" kini giliran onyx Sasuke yang membulat, "-kau bilang apa!"
"Aku bilang: kau pandai memasak!" seru Naruto. "Lihat semua makanan ini! Selama ini kau menyembunyikan semua ini dariku!" Naruto kini telah duduk di salah satu kursi yang tersedia. "Padahal kau itu sahabatku, tapi memberikanku sedikit dari banyak makanan ini saja kau tak mau. Hatiku sakit sekali rasanya!"
Sasuke hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang super bingung. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa Naruto begitu lapar sehingga yang dilihatnya hanya makanan, tanpa menyadari bahwa ada sesosok wanita di antara mereka.
"Baiklah, karena aku sudah mengetahui rahasiamu, maka semangkuk sop tomat, sepiring nasi goreng dan segelas jus tomat ini milikku! Sisanya kau ambil saja!" ucap Naruto.
Sasuke tak begitu memedulikan apa yang diucapkan Naruto, otaknya masih sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dapurnya ini. Dan hal ini sedikit membuatnya frustasi!
"Hihihihi," suara kikikan di sampingnya membuat Sasuke menyadari bahwa di sini ia tak hanya berdua dengan Naruto, tapi bertiga. Dan orang ketiga ini harus menjelaskan semuanya padanya.
"Mengapa Naruto tak bisa melihatmu, huh?" tanya Sasuke pada sosok yang tengah terkikik geli di sampingnya.
Sakura kini balas menatap Sasuke, senyuman manis terpasang di bibirnya. "Manusia sembarangan tidak akan bisa melihat sosok jin dengan mudah," jawab Sakura, namun ekspresi kesal di wajah Sasuke tak jua hilang. "Tuan adalah manusia yang menolongku, makanya Tuan bisa melihatku."
"Tch." Sasuke mengacak-acak rambut biru gelapnya hingga berantakan. "Kurasa aku sudah gila," ucap Sasuke pelan. Ia lalu berjalan menuju Naruto yang tengah asyik menyantap hidangan yang tadi dibuat Sakura untuk dirinya.
"Teme! Makanannya begitu enak! Kau hebat!"
Sasuke hanya memutar bola matanya malas.
"Serius, Teme! Setelah pensiun dari ANBU, kurasa kau bisa bekerja sebagai tukang masak di kedai Ichiraku!" seru Naruto di sela-sela mulutnya yang tengah mencerna makanan. "Atau, kau bisa bekerja menjadi pembantu di rumahku! Kau harus memasakkanku masakan yang enak ini setiap hari!" naruto melanjutkan celotehannya yang tak jelas. "Aku akan menggajimu sangat mahal!"
Naruto terus melanjutkan obrolan anehnya, membuat kepala Sasuke semakin pusing. Sedangkan wanita yang tengah bersandar di dinding dapurnya masih terkikik geli menyaksikan kehebohan Naruto. Mendesah pelan, Sasuke kembali mendekati Sakura yang langsung berhenti tertawa - takut dimarahi tuannya. "Jadi, aku punya tiga permintaan yang bisa kau kabulkan?"
Sakura mengangguk dengan semangatnya.
Sasuke melirik sebentar pada sahabatnya yang masih belum berhenti berbicara, "-orang-orang pasti akan iri padaku, jika berhasil menjadikanmu tukang masak-"
"Aku ingin kau," Sasuke mengumpulkan suaranya yang tertahan di tenggorokannya, "buat Naruto berhenti bicara."
Sakura sedikit terkejut, namun segera melakukan apa yang diperintahkan sang Tuan kepadanya. "Bibir, berhentilah berbicara!" perintah Sakura sambil memainkan telunjuknya ke arah bibir Naruto. Cukup jauh memang jaraknya, tapi sepertinya Sakura berhasil.
Sasuke menunggu beberapa saat, sampai akhirnya dia menyadari: bahwa Sakura memang berhasil membuat Naruto tak bisa bicara. Itu terlihat dari Naruto yang tiba-tiba terdiam dan memucat. Mulutnya komat-kamit seperti mengucapkan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar dari sana. Naruto juga tampak sepertinya orang yang tengah berteriak histeris, namun tak terdengar apa pun darinya. Sasuke hanya menyeringai tipis.
"Lihat? Aku benar-benar seorang jin 'kan?" Sakura kini berada di hadapannya dengan wajah yang begitu berseri.
Sasuke pun tak bisa mengelak lagi. "Aa." Uchiha tampan ini lalu mengambil duduk di depan Naruto yang tampak sangat ketakutan karena kehilangan suaranya. Jujur, Sasuke merasa tenang tanpa ada suara Naruto yang membuat kegaduhan di rumahnya. Tapi... melihat tampang sahabatnya yang menderita itu... membuat Sasuke jadi sedikit tak tega.
"Hn, Sakura," panggil Sasuke.
Wanita yang merasa dipanggil namanya ini pun segera menatap ke arah orang yang memanggilnya. "Ya, Tuan?"
"Buat Naruto bisa bicara lagi."
"Baik!" Sakura kembali memainkan telunjuknya lagi, sambil mengucapkan mantra sederhana. "Mulut, kau sudah bisa bicara sekarang!"
"Haahhhh!" Naruto segera meneguk segelas air untuk menenangkan tenggorokannya. "Kami-sama, apa yang barusan terjadi padaku?"
Sasuke meraih semangkuk sup tomat yang ada di meja, ia mulai menikmatinya. "Ada apa?" tanya Sasuke seolah tak mengetahui segalanya.
Naruto menyeka keringat dingin yang mengalir di dahinya. "Kau tahu, tiba-tiba saja tadi aku tak bisa bicara!"
"Mungkin karena kau mengatakan hal-hal aneh untukku."
Naruto menggelengkan kepalanya. "Aku serius, Teme! Kurasa di rumahmu ini ada hantunya!"
Sasuke menyeringai seksi sambil menatap semangkuk sup tomatnya. 'Bukan hantu, tapi jin (cantik) yang menyebalkan,' ucap Sasuke dalam hatinya.
"Uhm, Tuan," panggil Sakura. Sasuke hanya merespon dengan deheman pelan. "Tuan sudah memakai dua permintaan, jadi sekarang sudah tinggal satu," ujar Sakura - yang sudah pasti tak bisa didengar oleh telinga Naruto, "masih akan berlaku sampai hari terakhir aku di sini."
"Hn."
Dan, Sasuke, gunakanlah yang terakhir itu dengan sebaik mungkin.
.
second chapter: finished.
So? How's this?
Apa masih bingung dengan fic ini? Jika ada yang ingin ditanyain, silahkan tanyakan saja ^^
Fict ini gajadi twoshots, tap fict ini juga ga akan jadi multichapter yang nyampe 10-an ch. Palingan sampe 5 ch ajaaaa ;D
.
Pengen tau apa permintaan Sasuke yang ketiga? -sudah pasti sesuatu yang memang dia butuhin, bukan hal ga penting yang udah dia terlanjur minta sama Sakura di chapter ini. Kalo pengen tau... ayo review! karena kita akan mengetahuinya di chapter ketiga nanti ;D
.
Thanks for reading.
To be continued...