Saijaku Muhai no Bahamut

Saijaku Muhai no Bahamut
Episode 6 - Bengkel Machine Dragon dan Ujian-ujian Pendaftaran - Part 7



Kota Pertahanan berbentuk penyebrangan, Cross Feed.


Dari terbitnya matahari sampai larut malam, kesibukan dan kegiatan tidak berhenti di gang pertama yang terletak di pusatnya (kota)


Mungkin karena awal musim semi, sinar matahari sore masih terasa kuat.


Lux dan Lisha berjalan di jalan utama dengan mempertahankan jalan-jalan batu dengan banyaknya pejalan kaki yang berlalu-lalang.


(Dia memintaku ikut datang, jadi itu untuk belanja, huh... aku terkejut.)


『U-Um..., aku pikir demi membangun suatu hubungan, ini penting untuk saling mengenal dengan baik. Pada akhirnya, aku masih belum tahu banyak tentang laki-laki yang seumuran sama...』


Alasan mengapa Lisha mengundang Lux pergi keluar nampaknya menjadi sesuatu seperti itu.


(Tapi, aku masih gugup. Dengan seorang Putri berusia sama, hanya kami berdua—)


Ketika melihat ke samping sambil dia memikirkannya, Lisha yang juga agak gelisah mengamati pemandangan kota.


『Wah, memikirkan kalau kau akan kencan bersama Putri; tidak buruk, Lux-kun.』


Lux teringat ketika itu dia berpisah dari Lisha sekaligus untuk mempersiapkan diri, dia diberitahu oleh Kepala Sekolah Relie yang kebetulan lewat didekatnya.


『Seseorang seperti Lizsharte-sama yang membenamkan dirinya hanya dengan bertarung dan penelitian tidak memiliki kebebasan di area percintaan. Jika dia tiba-tiba didesak dengan anak laki-laki yang dia suka, dia mungkin dengan mudah jatuh cinta, kau tahu?』


『Tidak, aku tidak memperkirakannya bisa menjadi sesuatu seperti itu...』


Pada saat itu, Lux menyangkalnya dengan ekspresi tak terlukiskan, tapi—


“Kalau dipikir-pikir. Lisha-sama, apa kau sering pergi ke kota?”


“Ti-Tidak..., tidak sama sekali.”


Untuk pertanyaan Lux, Lisha dengan tegas menggelengkan kepalanya.


“Belakangan ini, aku selalu bekerja di bengkel. Aku sibuk dengan mengutak-atik (memperbarui) Drag-Ride...”


Sementara melihat sekeliling dengan rasa penasaran, Lisha berbalik melirik sekilas pada Lux.


“Um..., a-apa kau sering pergi keluar? Dengan gadis lainnya—”


Dia menanyakannya dengan nada kesal.


“Ti-Tidak... Aku juga punya hutang untuk dilunasi, jadi aku tidak punya waktu untuk itu.”


“A-Aku tahu...”


Lux membantah selagi Lisha tersenyum lega.


“Baiklah. Lalu, karena ini pertama kalinya untuk kita, aku akan menemanimu! Jika aku tidak salah, ada restoran yang bagus di daerah perkotaan ini... Tidak, tunggu.”


Ketika dia tiba-tiba berhenti bergerak, Lisha menyentuh seragamnya (dia sedang mencari sesuatu) dan membuat ekspresi pahit.


“Ada apa?”


“U-Uh huh... Yah, ini bukan masalah, aku kira. Aku seorang Putri, jadi aku seharusnya bisa menanyakan tenta tentang kartu kredit([11])...”


“Apa mungkin... kau melupakan dompetmu?”


“Ugh... Um, itu lupa hari ini...”


Lux tersenyum kecut pada Lisha yang tertunduk malu.


Melihatnya yang benar-benar kebingungan, dia merasa sedikit tenang.


Aku kira dia tidak benar-benar terbiasa pergi keluar.


Kemudian—, dalam rentang kemungkinan dalam pengalaman kurangku, aku harap gadis ini menikmatinya.


Lux memikirkannya.


“Ini tidak bagus. Putri Kerajaan Baru tidak perlu menanyakan kartu kredit.”


“La-Lalu, apa...? apa kau sudah mengatakan untuk menyebutnya sehari...?”


Melihat entah bagaimana kesepian Lisha, Lux tersenyum lembut.


“Jika kau tidak keberatan, aku akan memandumu (mentraktirmu?).”


Setelah beberapa menit. Lux dan Lisha duduk berdampingan di pinggir jalan di tengah ruang terbuka dan melihat matahari terbenam.


Pie apel yang dia berikan pada Lisha adalah sesuatu yang terkenal paling enak dari kedai-kedai yang ada di Kota Pertahanan, dan itu adalah toko di mana Lux pernah bekerja untuk pekerjaan sampingan.


“Bagaimana? Lisha-sama.”


“Hmm. Ini manis dan enak. Terima kasih...”


Sementara menggigit pie apel dari bungkusan kertas, Lisha selalu mengirim tatapan bernafsu (penasaran) pada wajah Lux.


Lux tidak memiliki banyak kenalan, tapi melihat Lux yang ditemani oleh Lisha, pedagang kedai memberi mereka secara gratis.


Pada akhirnya, memberikan rasa terima kasihnya bersama Lisha, dia memutuskan untuk menerima pemberian mereka, tapi—


“Namun, kau dikenal sampai kedai-kedai itu, kau dihargai oleh orang-orang di kota ini.”


“Wajahku yang dikenal karena bekerja sampingan.”


Dengan gumaman kagum, Lux membalas dengan senyum miring.


“Ta-Tapi, ini aneh... Meskipun aku berencana untuk membuatmu memahamiku, tapi seperti ini... malahan aku—”


“Ada apa?”


“Ti-Tidak, bagaimana menjelaskannya — daerah ini berdegup sejak tadi.”


Melihat Lisha yang pipinya memerah, dan meletakkan tangan di dadanya,


(Aku ingin tahu jika dia gugup setelah keluar ke pusat kota setelah cukup lama.)


Lux memikirkannya.


“Apa kau baik-baik saja? Jika kau tidak merasa enak, kita harus beristirahat di suatu tempat...”


“A-Aku baik-baik saja... Jika aku duduk sebentar, aku pikir, aku akan baik-baik saja...”


“Aku tidak memiliki pengetahuan sebanyak itu dalam perawatan medis. Tapi, aku tahu klinik yang bagus dan gratis; jadi, jika ada apa-apa, tolong katakan padaku segera.”


“Ah, tentu...”


Setelah memberikan jawaban yang sama-samar dengan ekspresi bersemangat, untuk sementara waktu Lisha mempercayakan tubuhnya pada Lux.


“Ng-Ngomong-ngomong — apa laki-laki lebih suka perempuan seperti teman masa kecilmu?”


“...Ya?”


Dengan kata-kata tiba-tiba yang dilontarkan oleh Lisha, Lux nampak bingung.


“Aku tidak benar-benar mengerti... aku tidak memikirkan lebih jauh dengan kurang dimanjakan oleh seseorang, atau sedang bersama dengan orang lain. Tapi—”


Sementara bergumam dengan mata menengadah, Lisha dengan cemas menyerahkan pie apel pada Lux.


“Errr—”


“Hei, apa kau bisa mencicipi ini untuk (memastikan adanya) racun?”


“Kau sudah memakannya...?”


“Ja-Jangan mengkhawatirkan hal sepele!? Lakukan saja!”


Tidak, aku pikir ini cukup penting, meski...


Menelan jawaban yang seperti itu, Lux sedikit (mengambil) pie yang diserahkan.


“Ah...”


Kulit pie yang renyah dan aroma manis apel tersebar di mulutnya.


“Ti-Tidak ada racun. Sekarang, apa kau percaya?”


Sembari Lux tersenyum, Lisha sekali lagi memakan pie sementara menatapnya dengan mata terburu-buru (bolak-balik, linglung karena kebingungan atau malu)—


“Uh, auh... Fuuh...”


Setelah wajahnya menjadi merah dengan hampir kalau itu akan bisa terlihat dengan jelas di malam hari, tubuhnya kehilangan seluruh tenaganya di sana.


“Hei!? Ada apa? Lisha-sama!”


Dengan segera Lux menangkap Lisha yang hendak jatuh,


“Hiyan...!?”


munyu*. Sensasi lembut disalurkan ke telapak tangan Lux.


Dadanya yang sedang diraba, walaupun berbentuk mungil, dengan kuat menonjolkan ukurannya; tubuh kurus Lisha bergoncang dengan lengan Lux selagi dia terkejut


(Sial! Dia akan marah...!)


Walaupun dia memegangnya dengan terburu-buru, dia telah melakukan hal yang buruk.


(Tapi..., ini sangat lembut, huh. Lisha-sama— bukan itu! Apa yang aku pikirkan!?)


“Ah, um — A-Aku minta maaf!”


Sambil Lux mengubah posisi tangannya yang meminta maaf sesaat merasa bingung,


“Y-Yah, aku akan memaafkan... Tapi yang lebih penting—”


Lisha mengatakannya dan mencengkram dengan erat kerah seragamnya,


“A-Aku benar-benar tidak tahu kenapa, tapi sejak tadi, dadaku panas dan aku merasa pusing...”



Gumamnya sementara mengeluarkan napas terburu-buru([12]).


“A-Ada apa? Um, aku akan membawamu ke penginapan (klinik) terdekat untuk perawatan gratis—”


“A-Aku baik-baik saja... Sebentar lagi aku akan merasa lebih baik, aku pikir, mungkin...”


Untuk sementar Lux mencemaskan Lisha, tapi setelah beberapa menit, dia berbalik tenang dan kembali ke kondisi yang biasanya.


Malam tiba, sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke akademi dan mulai berjalan perlahan.


Lux juga terkejut dengan permintaan mendadak Lisha kali ini, tapi


“Ha-Hari ini, um... ini sungguh menyenangkan. Terima kasih, Lux...”


Dengan hanya kalimat tersebut yang terucap dari Lisha, Lux merasa seperti dia telah dihargai.