
"Hmm..."
Matahari terbenam terbakar marah kemerahan muncul dengan melewati jendela.
Sebuah kamar pribadi berkayu kecil yang berbau obat dan bunga-bunga.
Lux Acadia bangun di atas kamar tempat tidur.
Perban luka pada dadanya yang dipotong. Nampaknya seperti luka yang dangkal.
"Tempat ini––?"
"Ah... A-Apa kau bangun!?"
"Uwah...!?"
Mendengar suara di dekatnya, Lux Acadia, terkejut, melompat.
Gadis berambut pirang, Scarlet Princess Lizsharte duduk di atas kursi terdekat dengan segera, memperhatikannya.
Terlihat seperti tempat ini adalah klinik akademi.
"A-Apa lukamu sakit? U-Um, kemampuan dokter di sini harusnya sangat bagus, tapi––"
Dengan penampilan agak santai, Lizsharte menatap pada wajah Lux Acadia.
Ia terlihat menjadi sangat khawatir tentang dia.
“…………”
Setelah mengendalikan situasi, Lux Acadia memandang ke bawah untuk sesaat,
"Um––, terima kasih."
Dia mengatakan begitu dengan sebuah senyum.
"Eh...?"
Lizsharte mengangkat kepalanya dengan bingung dan melihat pada Lux Acadia.
"Untuk merawat seorang sepertiku––"
“…………”
Untuk sekejap, Lizsharte mengedipkan matanya sambil dia terkejut––,
"Lux Acadia. Kau adalah laki-laki yang aku tidak tahu apakah kau baik hati atau sombong. Apa semuanya dalam keluarga kerajaan seperti itu?"
"Aku tidak tahu. Aku sudah dengan segera ditendang dari istana kerajaan ketika aku kecil."
Sembari Lux Acadia tersenyum miring, Lizsharte bergumam dalam suara pelan "Aku mengerti".
"A-Apa ada hubungannya dengan kau menyerang ke arah Abyss tanpa ragu-ragu?"
Dia melanjutkan demikian dengan nada agak canggung.
"Eh?"
"Seorang manusia biasa tidak dapat dan tidak akan melakukannya. Menghadapi Abyss dengan tipe umum Drag Ride... Kenapa kau menyelamatkanku––?"
Menunjukkan raut wajah agak malu, Lizsharte bertanya.
"...E-Errr, aku tidak ingat dengan baik."
Lux Acadia dengan jujur menjawab sesaat tersenyum masam.
"Namun, aku hanya berpikir kalau aku harus melakukannya. Aku sering sekali diomeli oleh adikku. "Nii-san secara tidak langsung apa yang dia pikirkan" katanya."
Ketika dia mengatakan masalah tersebut, setelah Lizsharte melipat lengannya dan menunjukkan tampilan berpikir,
"Aku mengerti. Jadi, ini baik-baik saja. Ini bukan prinsipku untuk memikirkan tentang hal yang menyusahkan. Kau melindungiku –– kami. Aku akan menyerahkannya cuma pada hal itu."
"Kau adalah orang yang cukup blak-blakan, eh. Putri."
Sambil Lux Acadia mengatakan dengan senyum miring,
"Ya, itu benar. Aku sangat lemah lembut dan Putri yang dermawan pada orang yang kompeten."
Lizsharte mengembalikan dengan senang sebuah senyum manis.
Perhatian dan permusuhan yang dia miliki pada Lux Acadia sampai belakangan ini sangat terlihat benar-benar menghilang.
Lebih dari kekanakan, sikap murni dan jujurnya yang menyegarkan.
"Yah. Kau mungkin menjadi laki-laki yang sangat berguna, Pangeran buangan."
Sambil Lux Acadia menarik napas panjang kelegaan pada putri yang wajahnya agak memerah dan mengangguk,
"Oke, Lux Acadia. Aku akan mempercayaimu sepenuhnya. Jadi, aku akan memenuhi janjiku."
Lizsharte tiba-tiba berdiri dan mengatakan hal seperti itu.
"Janji?"
"A-Aku mengatakannya, bukan? Alasan kenapa aku menantangmu berduel. Sejak kau telah melihat itu, Aku tidak bisa membiarkanmu pergi seperti itu. J-Jadi––"
"Ah. U-Um –– maaf, aku melihat semua... Tapi, itu cantik."
"J-Jangan mengingatnya, Pangeran idiot! Apa yang aku ingin bicarakan adalah––"
Sambil sebuah handuk dilemparkan oleh Lizsharte yang berubah merah, Lux Acadia diblokir pandangannya.
Apakah aku mengatakan sesuatu yang tak sopan?
Seperti biasa, aku tidak benar-benar tahu bagaimana untuk bergaul dengan gadis-gadis.
Sesaat Lux Acadia memikirkan demikian dan mengambil handuk di depannya––,
"U-Um––, Ini."
Tak dapat mempercayai penglihatan yang tersebar di depan matanya.
Dengan cahaya malam muncul melalui jendela, kulit Lizsharte dapat terlihat.
Dia menyikap blus seragamnya sampai ke atas, mengukur kulitnya, menurunkan baju dalamnya hanya sedikit dan melucutinya.
Pipi Lizsharte yang mencengah matanya berubah merah tidak hanya karena matahari terbenam tapi juga karena perasaan malu.
"...Ini seperti itu. Inilah alasan sebenarnya kenapa aku menantangmu berduel. Kau telah melihat ini di kamar mandi pada waktu itu, jadi––"
“…………”
Kebulatan segar gadis itu yang menunjukkan jejak pertumbuhan jelas pada bentuk tubuhnya di mana sifat kekanakannya tersisa.
Lux Acadia benar-benar terpikat oleh kecantikan belum dewasanya.
"K-Kenapa kau tidak mengatakan apapun!? Bagaimana dengan kau mengatakan sesuatu?"
"...! U-Um, errr––"
Sesaat benar-benar melupakan dirinya, Lux Acadia berpikir.
Itu benar. Aku akan menggunakan teknik berbicara yang aku pelajari di bar di mana aku melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan pada saat itu.
Ketika kau memuji seorang gadis, kau pertama harus memuji daya tarik dirinya seorang dengan pakaian––
"Um, itu cocok denganmu sangat bagus. Baju dalam putih itu––"
"Uwaaaaaaaah!? Apa kau idiot!? Mesum! Mati sana!"
Aku gagal lagi! Sudahlah lupakan ajaran yang aku peroleh ketika aku bekerja di sana...
Seketika Lux Acadia menyesal, Lizsharte yang menyemburkan api dari wajahnya dengan buru-buru mengangkat roknya.
Tapi, semuanya juga hampir kelihatan untuk Lux Acadia.
"Apakah itu lambang... mungkinkah –– Kerajaan Lama?"
"...A-Apa kau akhirnya menyadarinya? ––Jadi itu berarti, kau belum mengatakan pada siapapun tentang ini, kan?"
Sambil Lux Acadia mengangguk, Lizsharte mengenakan kembali seragamnya yang duduk di atas kursi.
Lambang Kerajaan Lama yang digambarkan naga hitam.
Tato itu ada di perut bagian bawah di bawah pusar Lizsharte.
"Kenapa––"
"Aku belum bisa mengatakannya. Tetapi, jangan bicarakan lambang ini pada siapapun. Kumohon. Berjanjilah?"
“…………”
Tubuh Putri Kerajaan Baru memiliki tanda bekas Kerajaan Lama.
Ini adalah salah satu bukti penghianatan atau pernyataan bersalah dari garis keturunan.
Pastinya, jika ini diketahui, ini adalah fakta yang mungkin menyebabkan keraguan tak beralasan, tetapi Lux Acadia, sebelum meragukan, keprihatinan soal Lizsharte.
Lizsharte yang tetap diam dan melihat ke bawah, putus asa terus.
Ini bukan "Aku ingin kau melupakannya"... tapi lebih "Aku ingin kau untuk percaya denganku".
Benar, dia merasa seperti dia mengatakannya dalam hati.
Sebenarnya –– ini bukan sebuah dosa, mudahnya rahasia.
Lux Acadia sendiri memiliki masa lalu seperti itu.
Itulah kenapa dia mengerti.
Anak ini kemungkinan tidak melakukan sesuatu yang buruk.
"Itu benar sekali. Aku tidak akan memberitahu pada siapapun."
"Benarkah? Bisakah kau bersumpah?"
"Ya. Aku bersumpah pada Sword Device yang aku miliki."
Lux Acadia berdiri dan menundukkan kepalanya.
Lizsharte yang melihatnya menghembuskan napas lega dan menunjukkan senyum.
"Untunglah. Saat pertama, aku bermaksud untuk mengintrogasimu dengan berbagai macam cara setelah aku mengurungmu di penjara bawah tanah dengan duel itu, tapi––"
“Eh… Eeeeeeeeeeeeeh!?”
Jadi, kau bermaksud untuk mengurung dan mengintrogasiku setelah menembakku menjadi bubur dan mengirimku ke klinik!
Seperti yang diduga, ini bukan cara berpikir seorang Putri.
Dia cukup kasar, anak ini...
"Oke. Lalu, ini lebih baik selesai. Dengan mengatakan itu, aku akan memberitahumu secara resmi datang ke akademi ini mulai besok."
"Ah, ada perjanjian seperti itu. Dari awal––"
Tugas magang mekanik Drag-Ride diminta oleh Kepala Sekolah Relie.
Banyak hal yang terjadi, tapi dia akhirnya kembali pada pekerjaan sampingan aslinya.
"Ah. Ngomong-ngomong, pekerjaan magang mekanik dibatalkan. Mulai besok, kau akan menjadi murid kandidat petugas untuk akademi kami."
"Ah, yah. Aku paham."
Beberapa detik setelah memberikan balasan tak bersemangat, Lux Acadia bereaksi atas maksud tersebut,
“––Tunggu, eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!?”
Dia secara insting berteriak
"I-Ini bercanda, kan...? Maksudku, pertama, Aku laki-laki––"
"D-Dan, panggil aku "Lisha" seperti teman sekelasku. Ini adalah perjanjian juga."
Kelihatannya seperti dia benar-benar serius.
Melihat senyum malu Lisha, dia merasa luka pada dadanya menjadi lebih buruk.