
Waktu bersenang-senang berlalu dalam sekejap mata.
Setelah pesta selamat datang Lux berakhir, mereka pun membubarkannya.
“Apa yang ... aku benar-benar lupa ...!”
Karena perutnya kenyang, dan juga kelelahan karena pekerjaan dan aktivitas di hari pertama, Lux ingin beristirahat sesegera mungkin, tapi dia mengetahui saat ini, fakta tentang permasalahan penting yang tersisa.
Itu—tentang tempat tidur(di mana untuk tidur).
Lux telah menggunakan ruang tamu bagi pengunjung, tapi karena keperluan perbaikan, dia hanya ingat kalau itu tidak bisa digunakan untuk sementara waktu,
Dalam akademi ini di mana hanya terdapat asrama untuk perempuan, ruangan tempat Lux akan tinggal masih belum ditemukan.
“Aku bertanya-tanya mengapa hanya tempat ini yang sama seperti sesaat sebelum masuk...”
Meskipun terdapat banyak kamar, namun tidak ada satupun di mana dia dapat menetap.
(Aku seharusnya berkonsultasi dengan instruktur di pesta ...)
“Tidak ada gunanya. Aku mengantuk ...”
Kelelahan dan perut kenyang.
Tanpa berperang melawan kantuk yang tiba-tiba menyerang, dia berlutut.
“Aku akan beristirahat sebentar, jadi ...”
Di atas karpet aula, tepat setelah dia bersandar di dinding.
Kesadaran Lux segera ditelan oleh kegelapan dan dia tenggelam ke dalam tidurnya.
Ciap* Ciap ...
Kicauan dari burung kecil dapat terdengar dan di bagian belakang kelopak matanya, dia bisa merasakan kehangatan sinar matahari yang redup.
Pagi hari. Lux sudah dalam kesadarannya.
Apakah aku tertidur di atas koridor? Ini merupakan sensasi yang misterius.
(Karpet asrama ini hangat dan lembut, ya.)
Selain itu, entah bagaimana ini adalah bau yang benar-benar enak.
(Sampai beberapa waktu yang lalu, tidur di luar atau tinggal di dalam kandang hewan (ternak?) adalah sesuatu yang normal bagiku.)
Mengingat hal itu, Lux tersenyum kecut dalam kantuknya.
Sebelum dia menyadarinya, dia nampaknya telah terbiasa dengan kehidupan yang cukup buruk.
Aku harus segera bangun; aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan.
Tapi, walaupun sebentar, aku ingin tetap seperti ini saja—
Berpikir seperti itu, dia mencoba untuk menyeret selimut di tangannya, matanya masih tertutup.
“Ahn ...”
funyu*, bersama dengan sensasi lembut yang menyentuh tangannya, dia mendengar suara itu.
“Hah ...?”
(Aku ingin tahu apa ini.)
Ini berbulu (kain mungkin maksudnya), berdaging, halus, dan sangat lembut.
Ini elastis seperti meremas adonan roti, dan ketika tenggelam dalam kekenyalan, jari Lux terdorong mundur.
Sensasinya yang nyaman membuat Lux memijat beberapa kali dengan matanya yang masih tertutup—
“A-Ahn ...”
“…………”
Suara di depan dia berubah menjadi menggoda.
Lux yang terkejut langsung membuka matanya—
“Ap ...?!”
Seorang gadis yang lembut, ringan dengan rambut merah muda serta bola mata emas yang sedikit terbuka.
Philphie Aingram berada di ranjang yang sama—di samping Lux.
“Tungg ...?! Mengapa Phi-chan di sini?!”
“... Ah, pagi. Lu-chan. Fuhaaah.”
Philphie mengedipkan mata tanda masih mengantuk berbeda dengan Lux yang bingung.
Dia mengenakan kemeja tipis, bagian dadanya terbuka—dari bagian bawah tubuhnya dapat terlihat pakaian dalamnya.
“Ap ... Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa?! Kenapa kau—”
Dengan segera Lux melompat dari tempat tidur kemudian melihat sekeliling.
Tempat tidur, lemari, dua meja kecil yang tegap, serta sebuah meja belajar—
Tidak peduli bagaimana kau berpikir tentang hal ini, itu adalah ruangan di asrama perempuan untuk dua orang.
“Bukan begitu?! Bukan karena aku khawatir tentangmu?! Maksudku, tutupi itu! aku bisa melihatnya! Aku bisa melihat dengan jelas!”
Sementara menyanggahnya dengan gugup, dengan segera Lux menutupi matanya dengan tangannya.
Saat dia melakukannya, Philphie menguap dengan imut dan merangkak lagi ke bawah selimut.
“Hei?! Jangan tidur lagi! Ada apa dengan situasi ini?! Jika aku ingat betul, tadi malam, aku—”
“Ya. Aku yang membawamu ke sini. Itu karena aku menemukanmu tertidur di atas koridor dalam perjalananku menuju ke toilet ... Kau akan masuk angin, kau tahu?”
“T-Terima kasih ... Bukan begitu ?! Kamar ini adalah kamar untuk dua gadis, bukan?!”
“Aku satu-satunya yang menggunakan ruangan ini, jadi tidak masalah.”
“Meskipun ada tempat tidur yang lain, mengapa kau tidur denganku?!”
“Itu merepotkan untuk mengangkatmu ke atas. Dan aku juga mengantuk ...”
“L-Lalu, bukannya lebih baik jika kau pergi ke atas, kan ...?”
“Menaiki tangga adalah hal yang merepotkan.”
“…………”
Akhir dari diskusi.
“T-Tapi ... Um, itu buruk, benar? dalam banyak arti—Kau dan aku sudah berada di usia ini.”
“Ah, ya ampun ... Berapa banyak sifatmu yang tidak berubah dari dulu ...!”
Tidap peduli apapun, dia adalah gadis muda, seperti yang diharapkan, dia agak terlalu pendiam.
Aku sangat senang kalau kami akrab seperti dulu, tapi sekarang daya perangsangnya lebih kuat.
Penampilan serta baunya membuat orang berpikir kalau dia adalah “gadis” dewasa.
“Apa kau berubah, Lu-chan?”
“Eh ...?”
Philphie mengatakannya dengan tatapan yang serius seperti biasanya serta perlahan-lahan mulai bangun.
“Aku pikir tidak ada yang berubah. Kupikir kalau kau selalu menjadi Lu-chan seperti biasanya.”
Walaupun hanya sedikit, dia tersenyum.
Senyum yang lembut sampai-sampai hanya bisa diperhatikan oleh seseorang yang sudah dekat sejak lama.
“Baiklah. Aku yakin kita tidak berubah.”
“———”
Aku bertanya-tanya, kenapa.
Lux merasa ingin menangis melihat senyum Philphie serta kata-kata yang diucapkannya.
Sebenarnya aku ...
Di hari terakhir kudeta, aku—
Tok* *Tok*!
Pada saat itu, suara ketukan pintu bergema di seluruh ruangan.
“Philphie! Ini sudah pagi. Jika kau tidak cepat bangun, kau akan terlambat! Kau selalu terlambat setiap saat, jadi jika kau terlambat lebih dari ini—bisakah aku masuk?”
Suara anggota Triad dari kelas dua, Tillfarr bisa terdengar dari balik pintu.
“...?!”
(Ini buruk!)
Tidak peduli berapa banyak suasananya, terlihat dalam situasi seperti ini akan—
“Philphie ..., kau tahu? Aku sudah bangun, jadi bisakah kau tetap merahasiakannya tentang keberadaanku di sini—”
“Tidak apa-apa. Masuk.”
Sebelum Lux selesai mengatakannya, Philphie menjawab dengan polos.
“Tungg—?! Apa ruangan ini kebetulan tidak dikunci?!”
Tillfarr membuka pintu dan masuk.
“—Huh?”
Dia menganga membuka mulutnya ketika dia melihat Lux dan Philphie,
“…………”
patan*
“Maaf mengganggu!”
“HEI?! Kau salah! Jadi, tolong jangan salah paham!”
Lux buru-buru keluar dari ruangan dan mengejar Tillfarr yang melarikan diri.
Pada akhirnya, Lux, Philphie, dan Tillfarr jadi terlambat, dan sementara kehidupannya berjalan dengan lancar.