
Setelah kedatangan Seno ke rumah keluarga Wiranata, Rosite semakin mencari perhatian kepada Seno. Namun Seno terlihat biasa saja dalam menanggapi Rosi.
Saat Roxana pulang dari sekolahnya ia di jemput oleh Dante menggunakan mobil pribadi miliknya. Semua mata pun tertuju pada Dante yang menunggu Roxana.
Roxana merasa sedikit malu karena Dante datang ke sekolahnya. Namun pandangan para siswa dan siswi lainnya berbeda,semua teman Xana merasa kagum karena paras wajah Dante.
"Ya,ampun! ngapain juga dia kemari?" gumam Xana saat keluar dari gedung sekolahnya.
"Kamu ngomong apa Xa?" tanya Iris sahabat Xana.
"Hemm! apa? aku nggak ngomong apa pun tuh!" kata Xana.
"Oh,ya udah! yuk kita pulang." kata Iris.
Saat beberapa siswi lewat di depan Dante, ia berniat bertanya kepada Dante karena ia melihat Dante dari tadi berdiri bersandar pada mobilnya.
"Kak, lagi nungguin siapa? nunggu aku ya!" goda salah satu siswi sekolah Xana.
Dante hanya tersenyum menanggapi siswi itu. Para siswi itu pun semakin terpesona dengan senyuman seorang Dante.
"Kalo nggak ada yang ditunggu, mending pulang bareng aku aja kak!" goda siswi lainya.
Dante pun hanya tersenyum menanggapi siswi tersebut.Namun saat Dante melihat Roxana ia langsung berteriak memanggil nama Xana.
"Roxana!" panggil Dante.
Roxana pun pura-pura tidak mendengar panggilan tersebut dan terus berjalan sambil menutup mukanya dengan sebuah buku.
"Xa! kayaknya ada yang manggil kamu deh!" kata Iris.
"Haha! Mana mungkin, aku nggak denger apa pun tuh!" ucap Xana.
"Xa! Roxana!" panggil Dante untuk ke sekian kalinya dan akhirnya Dante menepuk pundak Roxana.
"Hihihi! Ya? kamu manggil aku?" tanya Roxana.
"Emang disini ada yang namanya Roxana, selain kamu?" kata Dante.
"Enggak!" jawab Xana polos.
"Xa! kamu kenal dia?" tanya Iris.
"Em! iya!" jawab Xana.
"Perkenalkan saya Dante Mahardika. Calon suami Roxana!" ucap Dante.
Sontak semua siswa dan siswi menoleh ke arah tiga orang tersebut, mereka bertanya-tanya apakah salah satu dari siswi tersebut akan menikah walau pun masih duduk di bangku SMA.
"Rasanya aku pengen sembunyi di lubang semut aja deh saking malunya!" gumam Xana.
"Sa-saya Iris teman Roxana." ucap Iris.
"Kalo gitu salam kenal ya!" ucap Dante.
"Udah cukup! mari kita pergi! Oh,ya Ris maaf ya aku pulang duluan, kamu nggak papa kan?" tanya Xana.
"Baiklah, kamu hati-hati ya!" ucap Iris.
Kini Dante dan Roxana pun meninggalkan halaman sekolah tersebut.Tentu saja mereka masih menjadi tontonan satu sekolah karena Roxana menggandeng tangan Dante agar cepat pergi dari tempat itu.
"Wah! nggak nyangka ya, calon suami kakak tiri kamu ganteng banget, aku ngerasa iri deh!" ucap salah satu teman Rosite.
"Iya! kalo calon suaminya kayak gitu, aku juga mau buru-buru nikah!" ucap teman Rosite lainya.
"Kalian berdua diem deh!" bentak Rosi.
...****...
Di dalam perjalanan menuju ke sebuah restoran Dante dan Roxana diam seribu bahasa, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"***Tamat sudah reputasi baik aku di sekolah! besok pasti nyebar deh gosipnya kalo aku bakalan nikah muda.Semua ini gara-gara cowok nggak peka ini!"
"Pasti bakalan banyak gosip yang beredar kalo aku cewek kayak gini,kayak gitu mangkanya nikah muda, aduh***!" batin Roxana dalam hati sambil mengacak rambutnya.
Dante merasa heran karena melihat tingkah laku Roxana yang mengacak rambutnya sendiri,ia tak menyangka Roxana punya tinggah yang sedikit imut menurutnya.
"***Apa cewek ini sudah gila? atau kesambet waktu perjalanan tadi ya!"
"Tapi tingkahnya yang seperti itu imut juga***!" batin Dante sambil menutup mulutnya yang ingin tertawa.
"Hmm! makan siang? kita?" tanya Xana balik.
"Iya! siapa lagi, dan juga ada yang harus kita bicarakan!" ucap Dante.
"Oh,Baiklah! dimana pun aku nggak masalah yang penting halal!" ucap Xana.
Mereka pun akhirnya sampai di sebuah restoran.Dante pun memesankan Roxana makan siang sebelum ia memuai pembicaraan penting mereka.
"Aku setuju kita menikah! dan pernikahan akan dilangsungkan dalam waktu satu minggu dari sekarang!" ucap Dante.
"Uhuk-uhuk! Ap-apa? kita menikah satu minggu lagi? kamu bercanda ya?" tanya Roxana tak percaya.
"Enggak!" jawab Dante singkat.
"Wahh-wahh!" ucap Xana.
"Aku kan sudah setuju dengan semua persyaratanmu,dengan tetap menjadi istriku apa pun yang terjadi dan kamu juga nggak mau kalo ada perceraiankan!" kata Dante.
"Ya! walau pun begitu kenapa harus satu minggu, cepet amat?" tanya Xana.
"Dari pada lama-lama terus tersebar gosip yang tidak di inginkan.Kamu mau seperti itu?" tanya Dante tegas.
"Nggak mau juga sih!" jawab Xana.
"Maka dari itu aku mengajakmu cepat menikah! tentu saja kakek dan nenek ikut memaksa sih!" ucap Dante.
"Oh!" kata Xana singkat sambil mengaduk-aduk minumannya.
"Pasti keluarga kamu bakalan sedih banget ya kamu tinggalin! katanya kan anak perempuan paling di sayang dalam keluarga.Terutama sama papa dan kakak pasti mereka sedih banget tuh!" ucap Dante.
"Sedih apanya?" gumam Roxana.
"Kamu ngomong sesuatu?" tanya Dante.
"Ah! nggak kok!" jawab Xana.
Setelah selesai makan Dante pun mengantar Roxana pulang kerumah, seperti biasa Roxana dan Dante sama-sama diam tanpa sepatah kata pun sampai Akhirnya mereka tiba di rumah keluarga Wiranata.
"Makasih makan siangnya dan sampai jumpa!" kata Xana sebelum masuk rumah.
Saat akan memasuki kamarnya Roxana mendengar perdebatan dari ruang belajar papanya.Roxana pun mengendap-endap dan melihat apa yang terjadi.
Rupanya satu keluarga sedang berkumpul disana,Roxana mendengar suara Roland yang mengatakan bahwa untung saja Roxana bisa berguna walau pun sedikit.
"Tapi dari kejadian ini kak Xana yang di untungkan kak!" kata Rosite.
"Rosi sayang! tapi berkat Xana kamu nggak jadi nikah muda dan masih bisa menikmati masa muda dengan materi yang berlimpah,karena bisnis kerja sama dengan keluarga Mahardika." ucap Roland.
"Justru karena itu kak,pa! Rosi takut suatu saat pas Rosi nikah malah dapat yang standarnya di bawah suami kak Xana!" ucap Rosi.
"Sayang yang penting sekarang satu-satunya putri di keluarga ini cuma kamu kan!" ucap Bella ibu dari Rosite.
Brakk...!
"Oh, jadi selama ini kalian memang berencana menyingkirkanku dari rumah ini? dan kalian juga sudah menjualku kepada keluarga Mahardika demi ke untungan bisnis?" ucap Xana.
"Emangnya kita kurang apa sama kak Xana? selama ini kak Xana hidup nyaman dan mewah berkat papa dan kak Roland!" ucap Rosi.
Plakk...! suara tampara di pipi Rosi. Plakk...! kini giliran tamparan dari Rian di pipi Roxana.
"Xa-Xana! maafkan papa! papa tidak sengaja nak!" ucap Rian.
"Huh! Nggak sengaja? nggak sengaja dari mananya pa? papa refleks karena rasa sayang papa lebih besar untuk Rosi dari pada untukku." ucap Xana yang sambil menahan sakit sampai ujung bibir Xana berdarah.
"Selama tiga belas tahun terakhir ini pernahkah papa dan kak Roland memperhatikan aku! saat aku sakit,sedih,terluka dan kesepian pernahkah kalian peduli walau hanya sedikit.Aku selalu melawati itu semua sendirian.Bahkah saat aku terkapar sakit berhari-hari dan tidak keluar kamar,kalian pun tidak pernah menyadarinya!" ucap Xana marah.
"Xa! tubuh Rosi lemah berbeda denganmu jadi wajar jika papa terbawa emosi! tolong kamu maklumi sikap papa ya!" ucap Roland.
"Tubuh yang lemah? pernahkah kalian melihat Rosi jatuh pingsan atau muntah darah! Ah,aku pasti sudah gila karena menjelaskannya kepada kalian.Sudah cukup! saat nanti aku keluar dari rumah ini itulah saatnya anak perempuan keluarga Wiranata yang bernama Roxana mati! jadi mulai saat itu kita tidak ada hubungan lagi, karena aku sudah lelah." ucap Xana yang berlalu pergi.
Roxana sangat kecewa, ia mengira masih ada sayang walau sedikit dari keluarganya,ternyata harapannya selama ini sia-sia. Karena tempat Roxana sudah digantikan oleh Rosite.
^^^Bersambung😊^^^