ROXANA

ROXANA
Mengalah Lagi.



Di sisi lain Rosite bersama ayah,ibu dan kakaknya datang ke sebuah museum, mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis dan juga saling menyayangi. Namun kenyataanya mereka mengabaikan satu putri mereka.


"Papa, Rosi seneng banget bisa keluar jalan-jalan kayak gini!" ucap Rosi manja.


"Papa juga senang kalo putri papa merasa senang hari ini." ucap Rian.


Rosite selalu menggandeng lengan Roland karena itu bisa membuat para wanita yang melihat menjadi iri.


"Seneng deh jadi pusat perhatian,apa lagi punya kakak yang ganteng kayak gini!" ucap Rosite.


Saat mereka asyik mengobrol dan berbincang, tiba-tiba Rian dikejutkan dengan suara yang tidak asing menurutnya.


"Pak Rian!" sapa seorang yang sudah cukup tua dan beberapa orang kolega bisnisnya.


"Pak Bayu! apa kabar pak?" tanya Rian.


Setelah Bayu memberi isyarat kepada beberapa kolega bisnisnya untuk pergi terlebih dulu, kini Bayu hanya bersama keluarga Rian dan dua Bodygurdnya.


"Wah! pak Rian ternyata sedang jalan-jalan bersama keluarga ya?" tanya Bayu.


"Iya,pak! putri saya ingin melihat museum ini jadi kita pergi sekeluarga." ucap Rian.


"Oh,ternyata begitu!" ucap Bayu.


"Jadi tidak mau kah anda mengenalkan mereka?" kata Bayu.


"Ah! saya hampir lupa, maafkan saya pak! ini Bella istri saya, lalu ini Roland putra pertama saya, dan ini Rosite putri saya." ucap Rian.


Tanpa sedikit pun Rian mengingat putri kandungnya yaitu Roxana, dish bahkan tidak menjelasksn bahwa Rosite masih mempunyai satu kakak perempusn lagi.


"Ah! dia cantik dan sepertinya pandai juga periang, dia pasti cocok dengan dante!" batin Bayu dalam hati.


"Ih! orang tua ini kenapa melihatku seperti itu ya!" batin Rosi.


"Pak Rian, berapa umur putri anda?" tanya Bayu.


"Rosi berumur tujuh belas tahun pak!" jawab Rian.


"Oh! berarti sudah cukup umurkan?" kata Bayu.


"Maksud pak Bayu apa ya?" tanya Rian sedikit bingung.


"Aku akan mengabarimu beberaps hari lagi jadi tunggulah!" ucap Bayu sambil tersenyum dan berlalu pergi.


Setelah kebingungan dengan perkataan pak Bayu, kini Rian dan keluarga pun melanjutkan jalan-jalan mereka dan setelah itu pulang kerumahnya.


...****...


Disisi lain kini Roxana menikmati liburanya bersama sang kakek, hanya dengan kakeknya Roxana merasa hidup kembali.


"Apakah kamu sesenang itu Xa?" tanya Haryanto.


"Apa maksud kakek? aku malah lebih senang kok kalo pergi sama kakek,aku ngrasa lebih hidup tau nggak kek!" jawab Xana polos.



"Dasar bermulut manis kalau ada maunya." ucap Haryanto menggoda cucunya sambil tertawa.


Kini Xana dan kakenya pun tak kalah bersenang-senang dari Rosite, mereka tampak bahagian dan lebih tenang.


Tiga hari setelah pertemuan Bayu dan Rian di museum, kini surat dari pihak Bayu pun datang untuk keluarga Wiranata. Di dalam surat tersebut tertulis bahwa Bayu ingin menjalin hubungan bisnis dengan keluarga Wiranata lewat sebuah pernikahan.


Semua keluarga Wiranata tampak terkejut pasalnya Bayu Mahardika tidak menjelaskan bahwa pernikahan itu untuk cucunya dan bukan untuk dirinya.


"Apa papa serius? papa ingin menikahkan ku dengan orang tua seperti kakek Bayu?" tanya Rosi.


"Sayang! dengar dulu, memang tua tapi dia sangat kaya raya, hidupmu pasti terjamin dan perusahaan kita akan semakin maju!" jawab Rian.


"Papa tega! aku masih sekolah pa!" ucap Rosi.


"Ma, Kak tolong Rosi! Rosi nggak mau menikah di umur semuda ini, Rosi masih pengen menikmati masa muda Rosi!" rengek Rosi kepada mama dan kakaknya.


"Pa, bener Rosi! dia masih belum cukup umur untuk menikah dia masih kecil pa!" ucap Roland.


"Lalu bagaimana solusinya? kita tidak bisa menolak permintaan pak Bayu, atau kita akan menghilang dari dunia bisnis." ucap Rian.


Setelah berpikir bersama tiba-tiba Xana pulang dari liburannya bersama sang kakek, kehadiran Xana sangat tidak tepat waktu itu.


Roxana hanya mengucapkan salam dan berlalu pergi berniat ke kamarnya untuk istirahat, tapi tiba-tiba Rosi menarik tangan Xana dan memohon.


"Kak, Kak Xana tolongin Rosi ya! pliss banget kak,ya mau ya!" rengek Rosi.


Xana hanya terdiam dalam kebingunan, melihat Rosi yang merengek kepadanya, ia juga heran kenapa semuanya nampak diam.


"Huh! apa maksud kamu?" tanya Xana.


"Kak Xana mau ya gantiin aku nikah sama kakek Bayu, tolong kali ini aja kak ini yang terakhir!" rengek Rosi.


"Nggak! itu urusan kamu, lagi pula aku juga nggak ngerti permasalahannya seperti apa!" ucap Xana sambil berlalu pergi.


"Xana tunggu!" panggil Roland.


"Ada apa lagi?" tanya Xana.


"Tolong kali ini saja, kamu mau ya gantiin Rosi nikah, ini terakhir kali kakak minta bantuan kamu!" uca Roland.


"Iya, Xa! kasihan Rosi dia masih kecil, belum waktunya untuk berumah tangga kamu tolong gantiin dia ya!" ucap Rian.


"Iya nak, tolong kasihani Rosi dia mempunyai tubuh yang lemah, mama akan lakukan apa pun asal kamu mau membantu Rosi!" ucap Bella mamanya Rosi.


"huh! selalu saja aku yang harus menanggung, selalu aku yang harus mengalah, kalian pikir aku robot yang nggak punya hati apa? seenaknya nyuruh ini,itu, mengalah dan mengalan." batin Xana.


"Nggak itu masalah dia! aku nggak mau ikut campur!" ucap Xana dan berlalu pergi.


Namun ketika Xana ingin pergi Roland mencegah dengan menarik tangam Xana, Roland tidak tega jika Rosi harus menangis dan juga banyak pikiran.


"Xa, kamu kenapa jadi tega begini sih, Rosi itu adek kita, kita wajib melindunginya, dia mempunyai tubuh yang lemaj jika dia bayak pikiran dia akan jatuh sakit, kenapa kamu jadi sejahat ini sih Xa!" ucap Roland sedikit marah.


"Huh! tega, jahat? seharusnya aku yang ngomong kayak gitu ke kalian. Kenapa selama ini kalian tega sama aku, terutama kamu kak, aku ini adik kandung kamu tapi kamu sama papa bahkan nggak pernah menganggapku penting! Jahat, Tega? siapa yang jahat dan tega disini?" ucap Xana marah dan berlinang air mata.


"Aku adik kandung kak Roland dan juga anak kandung papa, tapi pernahkah kalian memikirkan aku? aku juga baru delapan belas tahun, kenapa kalian tega memaksa ku menikah demi menggantikan Rosi!" ucap Xana marah.


"Xa, tolong! kali ini saja gantikan Rosi untuk menikah ya! ini demi keluaega dan perusahaan papa, kakak mohon!" ucap Roland.


Roxana tidak tau lagi harus berkata apa, walaupun Xana menolak dan bersedih bahkan menderita tidak ada yang peduli kepadanya, ia hanya tersenyum miris dan mengambil surat lamaran dari Bayu mahardika.


"Mengalah lagi, dan lagi, kenapa hidupku seperti ini, kakak kandung dan papa kandungku lebih menyayangi keluarga barunya dari pada aku keluarga sedarahnya!" batin Xana yang berlalu pergi ke kamarnya dengan membawa surat lamaran tersebut.


.


.


.


Maaf kakak-kakak baru bisa up lgi karena waktu yg sangat sibuk untukku mohon dimengerti 🙏dan terimakasih😊