ROXANA

ROXANA
Trik Yang Menyakitkan.



Dua minggu telah berlalu,dan selama itu pun proses pemakaman serta masa berkabung untuk keluarga Wiranata berjalan. Terlebih Roxana yang sangat terpukul dengan kepergian sang kakek.


"Kak Xana! kakak baik-baik saja?" tanya Rosite


"Apa menurutmu aku terlihat baik?" ucap Xana bertanya balik.


"Ya! nggak tau juga sih,itu kan salah kak Xana sendiri! coba waktu itu kak Xana terima perjodohan dengan keluarga Mahardika pasti kakek sekarang masih hidup kan!" kata Rosi



Roxana sedikit memiringkan kepalanya dan hanya menatap Rosite dengan pandangan sedikit heran, ia tak menyangka kalau Rosi punya pemikiran seperti itu.


"Kamu nggak nyadar ya! atau lupa, itu semua kan gara-gara kamu!" ucap Roxana.


"Gara-gara aku? Oh iya! itu sedikit bantuan dari aku untuk kak Xana agar kakak bisa keluar dari rumah ini dengan terhormat dari pada harus keluar dengan dipermalukan atau di usir!" ucap Rosi dengan nada menghina.


"Huh, Dasar!" ucap Xana sambil berlalu pergi.


Setelah perdebatan antara Xana dan Rosi, kini Rian memdapat panggilan telepon dari Bayu Mahardika yang menanyakan kapan akan dilaksanakan perjodohannya.


Dalam perbincangan singkat mereka Rian memutuskan jika dua hari lagi ia akan melakukan pertemuan keluarga dengan pihak keluarga Mahardika.


Bayu pun setuju dan ia yang akan memutuskan tempat pertemuannya, namun Bayu ingin jika hanya calon mempelai wanita saja yang hadir dalam pertemuan tersebut.


"Kek, kenapa kamu memaksa mereka seperti itu? kasihan kan mereka masih dalam masa berkabung." ucap Sukma kepada suaminya.


"Aku sebenarnya juga tidak mau Nek, jika memaksa mereka, tapi ini demi cucu kita.Lagi pula aku dengar keluarga itu punya dua putri entah yang mana yang dikirim oleh pak Rian." ucap Bayu kepada istrinya.


"Sebenernya kakek waktu itu bicaranya seperti apa? jika nenek perhatikan sepertinya mereka terpaksa begitu?" tanya Sukma.


"Hehehe! Sebenarnya kakek tidak memberitahu mereka jika pernikahan ini untuk cucu kita!" ucap Bayu sambil tertawa sedikit malu.


"Pantas saja! dari suara pak Rian sepertinya dia terpaksa seksli, mungkin dia berpikir kalau yang menikah itu kakek!" goda Sukma .


Mereka berdua bercanda dengan gembira, mereka juga membahas kalau memang pak Rian salah paham dan yang rela datang untuk menikah adalah perempuan yang memiliki hati yang baik.


Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki dari luar, Dante yang melihat mereka bercanda sampai tertawa terbahak-bahak pun penasaran dan bertanya pada kakek dan neneknya itu.


"Kakek dan nenek terlihat bahagia banget! emang ada hal apa?" tanya Dante.


"Ehem! tidak ada apa-apa! Oh,iya! dua hari lagi kamu akan bertemu dengan calon istri kamu jadi bersiaplah." ucap Bayu kepada cucunya.


"Ap-apa? calon istri? apa kakek bercanda?" tanya Dante bingung.


"Tidak! kakek tidak bercanda, kakek serius!" ucap Bayu.


"Tapi Dante nggak mau nikah dulu kek!"


"Kakeh tidak peduli! pokoknya kamu harus setuju." ucap Bayu


Melihat suami dan cucunya dalam percekcokan kecil Sukma pun angkat bicara dan menjadi penengah diantara mereka berdua.


"Kalian berdua sudah cukup!" kata Sukma.


"Dante kami melakukan ini karena menghawatirkan kamu, jadi kamu harus setuju ya! memang kakek bersalah karena tidak merundingkan ini bersama kamu,jadi tolong dimaklumi ya sayang." ucap Sukma.


"Baiklah! jika bukan karena nenek aku nggak akan mau!" ucap Dante.


"Huh! Dasar anak itu!" ucap Bayu.


"Di maklumi saja kek, dia kan masih muda!" ucap Sukma sambil tertawa.


...****...


"Sayang! tenang ya kakak punya rencana. Kamu dandan yang cantik dan seolah-olah kamu pergi ke pertemuan, tapi kamu tunggu kakak di salah satu cafe dekat tempat pertemuan itu ya!" kata Roland.


"Ta-tapi kakak nggak bohong kan? aku nggak mau nikah muda kak apa lagi sama kakek-kakek!" ucap Rosi.


"Tenang saja kakak janji!" ucap Roland.


Pada saat itu Roland menelpon Xana dan meminta bertemu karena mungkin Xana merasa bosan dan masih sedih karena kepergian kakek.


Roxana pun mengiyakan ajakan sang kakak dengan senang hati karena sudah lama sekali sejak terakhir Rolanad mengajaknya jalan-jalan.


Roxana pun berdandan dengan cantik sesuai permintaan Roland.Namun Roxana hanya menerima pesan dari Roland yang menunjukan tempat dimana mereka harus bertemu ,Roland bilang kalau dia sudah menunggunya ditempat janjian mereka.


Setelah tiga puluh menit perjalanan Roxana akhirnya tiba ditempat janjiannya dengan Roland,Xana menelpon kakaknya dengan gembira dan memberitahu jika dia sudah sampai di tempat tersebut.


Roland pun menyuruhnya masuk dan mencari meja dengan nomer 5 yang sudah ia pesan.Namun kenyataanya setelah Xana mencari,Roland pun tidak terlihat olehnya.Akhirnya Xana bertanya pada sepasang orang tua yang duduk dimeja dengan nomer 5 di depannya.


"Maaf,apakah ini meja nomer 5?" tanya Xana.


"Kek! mungkin dia salah satu putrinya pak Rian? nenek suka kek,dia cantik dan kalem." bisik Sukma kepada Bayu.


"Benar nak! apakah kamu putrinya pak Rian?" tanya Bayu balik.


"Be-benar! apakah Bapak kenal papa saya?" ucap Xana.


"Perkenalkan kami keluarga Mahardika yang mengajukan pernikahan kepada keluarga Wiranata." ucap Bayu.


"Ap-apa? Ja-jadi kakek ini pak Bayu yang ingin menikah?" ucap Xana kaget dan bingung karena ia sudah janjian dengan Roland kakaknya namun yang ia temui adalah keluarga Mahardika.


Bayu dan istrinya pun tertawa terbahak-bahak karena mendengar perkataan Xana jika kakek Bayu yang ingin menikah bukannya cucu mereka.


"Ehem! maaf jika kami tertawa seperti itu!sayang, saya Sukma istrinya kakek Bayu dan yang menikah bukanya kakek Bayu tapi cucu kami yang akan menikah denganmu, dia masih dalam perjalanan menuju kesini." ucap Sukma.


"Tapi bukanya pak Bayu menginginkan adik saya Rosi?" ucap Xana bingung.


"Saya tidak mempermasalahkan siapa yang jadi istri cucuku! mau itu kamu atau pun adik kamu,pak Rian sudah setuju dan itu juga terhitung dalam bisnis kami berdua." ucap Bayu.


"Kek,jangan seperti itu!" bisik Sukma.


"Iya-iya maaf!" bisik Bayu.


Roxana pun terpaksa duduk karena ia sudah tidak bisa menolak lagi,dan Xana pun tak menyangka Roland melakukan trik seperti itu agar Rosi terhindar dari perjodohan dengan keluarga Mahardika dan dirinya lah yang menjadi penggantinya Rosi.


"Oh, itu dia yang ditunggu sudah datang!" ucap Sukma.


Roxana pun ingin menoleh melihat seperti apa orang tersebut, namun ia urungkan karena ia merasa sedikit takut dengan kenyataan. Alhasil Roxana terus saja menunduk dan tak berani menatap Dante Mahardika.


Setelah Dante tiba pun,ia belum berbicara sepatah kata pun Dante hanya diam dan memakan makanannya yang terhidang dimeja, begitu pula Roxana yang masih saja menundukan pandangannya.


"Baiklah,sepertinya mereka butuh waktu berdua untuk saling mengenal! kakek ayo kita pergi terlebih dulu dan biarkan mereka mengenal satu sama lain." ucap Sukma.


"Kami pamit dulu ya sayang! jika Dia kasar dan menyakitimu bilang sama nenek!" pamit Sukma sambil mengelus pundak Roxana.


"Ehem! perkenalkan aku Dante? kamu siapa?" tanya Dante.


Terdengan suara yang dingin namun terkesan berat dan dalam juga sedikit serak, suara yang begitu maskulin untuk seorang cowok. Roxana pun memberanikan mengangkat wajahnya untuk melihat sosok Dante Mahardika.


"Aku bertanya padamu? Ah, lupakan saja! aku akan langsung pada intinya saja." ucap Dante.


"Kita akan segera menikah dan dalam tiga tahun aku akan menceraikanmu, tentu saja selama kamu menjadi istriku, semua materi dan keinginanmu akan terpenuhi tanpa terkecuali, dan pada saat kita bercerai nanti aku akan memberi uang tunjangan dan rumah untukmu.Kamu tidak akan dirugikan dalam hal ini." ucap Dante.


^^^Bersambung😊^^^