
Roxana sangat senang mendapat hadiah ponsel baru dari Dante, ia tak menyangka Dante akan membelikannya ponsel.
Semenjak Roxana mempunyai ponsel baru, Dante selalu menghubunginya disela-sela kesibukan kantor. Karena hari ini Dante ada rapat pagi jadi dia berangkat ke kantor tanpa menunggu Roxana bangun pagi.
"Bik, nanti kalo Xana udah bangun tolong kasih tau kalo aku langsung berangkat ke kantor ya!" pesan Dante.
"Baik, Den! Tapi tumben Aden nggak nganterin non Xana ke sekolah?" ucap bik Inah.
"Saya ada rapat penting bik pagi ini,jadi nanti bilangin Xana minta di antar ama pak Iwan aja ke sekolahnya!" ucap Dante.
"Oh, baik Den! ucap bik Inah.
Setelah Dante berangkat ke kantor bik Inah berniat membangunkan Roxana, Namun belum sempat bik Inah menaiki tangga telepon rumah tiba-tiba berbunyi.
Bik Inah pun buru-buru nengangkat telepon tersebut.Bik Inah terkejut saat mendengar bahwa anaknya dikampung sedang sakit dan harus segera pulang.
Tok,tok,tok.
Suara bik Inah mengetuk pintu kamar Roxana.
"Non Xana! Apa sudah bangun?" tanya bik Inah.
Roxana yang mendengar bik Inah pun mencoba bangun dari tempat tidurnya. Dengan sedikit lemas Roxana membuka pintu kamarnya.
"Ada apa bik?" tanya Roxana.
"Itu non! Tadi Aden berpesan sama bibik katanya nyuruh bibik bangunin non Xana, soalnya Aden ada rapat jadi berangkat pagi!" jawab bik Inah.
"Sarapannya nanti aja bik! Saya masih belum lapar bik Inah istirahat aja." kata Roxana.
"Em! Itu non.Sebenarnya saya harus pulang ke kampung, katanya anak saya sakit!" ucap bik Inah sedikit ragu.
"Enak banget sih punya orang tua! Pas denger anaknya sakit langsung khawatir. Seandainya aku juga punya orang seperti itu!" batin Roxana.
"Iya nggak papa, bik Inah pulang aja, kasihan kalo anaknya sakit." kata Roxana.
"Terimakasih ya non! Bibik janji cuma sebentar!" ucap bik Inah.
"Bik Inah nggak usah khawatir dan hati-hati dijalan ya bik!" kata Roxana.
Bik Inah pun dengan gembira berkemas untuk pulang ke kampung. Roxana pun memerintahkan pak Iwan untuk mengantar bik Inah.
Dengan tubuh yang berat dan kepala pusing Roxana kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Disisi lain di kantor Dante. Kini Dante sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Dante tak sadar kalau waktu sudah menunjukan pukul 4 sore.
"Sudah sore,tapi bik Inah belum menelpon untuk memberi kabar!" gumam Dante.
Dante pun mencoba menghubungi telepon rumah namun tidak ada yang menjawab. Dante pun mencoba menghubungi ponsel Roxana namun juga tidak di angkat.
"Kenapa tidak ada yang menjawab?" gumam Dante.
"Apa aku coba hubungi pak Iwan aja ya?" ucap Dante yang berbicara pada dirinya sendiri.
Dante pun langsung menghubungi ponsel pak Iwan guna menanyakan kabar dirumah. Pak Iwan pun mengatakan pada Dante bahwa ia mengantar bik Inah pulang kampung karena di perintah oleh Roxana.
"Fer, aku pulang dulu ya! Sisanya kamu yang urus!" ucap Dante kepada asisten pribadi sekaligus temannya itu.
"Emang ada apa sih! Buru-buru banget?" tanya Fery.
"Nanti aku jelasin deh!" jawab Dante sambil berlalu pergi.
Dante pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sebelum pulang Dante pergi ke sekolah Roxana, ia pikir Roxana belum pulang. Tapi ternyata salah satu teman sekelas Roxana memberitahu Dante bahwa Roxana izin tidak masuk.
"Kemana perginya anak itu? Apa dia nggak masuk sekolah dan pergi bersenang-senang!" gumam Dante dalam perjalanan menuju ke rumah.
Dalam benak Dante ia berpikir Roxana bolos sekolah karena sedang pergi bersama teman-temanya yang bandel.
"Sial! Kemana perginya anak itu?" kesal Dante.
Dante pun masih mencari Roxana di sekitar rumahnya,ia juga terus menghubungi ponsel Roxana. Saat Dante melewati kamar Roxana ia me dengar suara ponsel Roxana berbunyi.
Dante pun terus menghubungi ponsel Roxana dan ia menemukan ponsel Roxana di lantai samping tempat tidur.
"Kenapa ponselnya ada dilantai? Kemana perginya anak itu?" gumam Dante.
Dante pun memeriksa sekali lagi kamar Roxana dan betapa terkejutnya Dante saat mendapati tubuh Roxana tergeletak dikamar mandi.
"Hey! Hey, bangun! Xa, Roxana!" panggil Dante namun tak ada jawaban.
Dante dengan cepat memindahkan tubuh Roxana ke kamarnya. Karena bila ia di kamar Roxana tempat tidurnya terlalu kecil.
Dante pun menghubungi Dokter Indah, dokter yang biasa merawat kesehatan nenek Sukma dan kakek Bayu.
Tak lama kemudian Dokter Indah pun sampai di rumah Dante, ia melihat Dante sangat khawatir melihat Roxana yang terbaring sakit.
"Gimana keadaanya dok?" tanya Dante.
"Dia baik-baik saja, cuma stres yang berlebih dan juga beban pikiran yang menumpuk!" jawab Dokter Indah.
Dokter Indah pun menyarankan agar Dante selalu membuatnya merasa tenang dan juga harus menghindari tekanan yang berlebihan. Setelah memberi resep obat dokter Indah pun pamit untuk pulang.
Dante dengan sabar merawat Roxana, dari menyeka keringat Roxana, mengompres Roxana dengan air dingin dan sebagainya sampai saat malam tiba.
"Dasar lemah! Hey, cepatlah sembuh! Dan aku juga minta maaf karena berpikir yang aneh-aneh tentangmu!" ucap Dante sambil menyeka wajah Roxana.
"Jika di lihat kamu semakin cantik!" batin Dante.
Deg, Deg suara jantu Dante yang semakin tak karuan saat melihat wajah Roxana. Tanpa sadar Dante mendekatkan wajahnya ke arah Roxana dan tanpa ia sadari ia mencium bibir Roxana dengan lembut dan perlahan.
"Astaga! Apa yang baru saja aku lakukan pada anak yang sakit? Dia kan masih anak kecil, nggak mungkin aku...!" batin Dante
Dante pun memutuskan untuk mandi dan segera beristirahat. Namun setelah mandi dan berbaring di sofa pun ia masih tetap tidak bisa memejamkan matanya.
"Sial! Gara-gara mencuri ciuman itu aku tidak bisa tidur!" gumam Dante.
Dan akhirnya sampai pagi datang pun Dante tidak tidur sama sekali. Dante pun menyegarkan diri dengan mandi, saat Dante di kamar mandi Roxana pun akhirnya membuka matanya.
"Aku akhirnya merasakan tidur yang sangat nyenyak!" ucap Roxana sambil tersenyum ceria.
"Tu,Tunggu! Ini bukan di kamarku, lalu ini dimana?"ucap Roxana sedikit bingung.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dante dingin.
"Aduh! Mati deh! Kenapa juga aku di kamarnya, mana dia ganteng banget habis mandi!" batin Roxana sambil menelan silvanya.
"Maaf! Apa yang terjadi, kenapa aku bisa tidur di kamar mas Dante ya? Kalo nenek tau pasti marah banget deh!" ucpa Roxana sedikit malu dengan wajah merahnya.
"Kamu sakit lagi?" tanya Dante.
"Nggak kok, aku baik-baik aja mas!" jawab Roxana.
"Lalu kenapa wajahmu semerah itu" tanya Dante lagi.
"Ha,ha,ha! Karena disini agak panas mas, kalo gitu aku permisi!" ucap Roxana.
Dante pun hanya mengangguk dan memberikan obat kepada Roxana, Dante memberitahu agar Roxana minum obat dengan tepat waktu.
^^^Bersambung😊^^^