ROXANA

ROXANA
Wanita Yang Aneh.



Pada saat pertemuan Roxana tidak menyangka akan ada seorang cowok yang sudah membahas perceraian di saat mereka pun belum melaksanakan janji suci pernikahan.


"Apa-apaan cowok ini? aku tau kalo kita nggak saling mencintai satu sama lain,tapi membahas perceraian di saat kita belum terikat pernikahan itu sunggu keterlaluan! dia kira aku cewek apaan!" batin Xana dalam hati.


"Tunggu! jadi maksud anda kita akan menikah lalu bercerai setelah tiga tahun, dan anda menjamin semua kenyamanan untuk saya?" tanya Roxana.


"Benar! karena kita tau dalam hal ini kita tidak bisa membatalkan pernikahan tanpa persetujuan orang tua." jawab Dante.


"Oh,apa karena kita tidak saling mencintai jadi anda mengajukan perceraian setelah tiga tahun, ataukan anda mempunyai wanita lain jadi setelah tiga tahun anda akan bersamanya!" tanya Roxana.


"Sepertinya lebih nyaman kalo kita bicara informal saja! jadi bicara senyamanya saja, oke!" ucap Dante.


"Baiklah! jadi jawab pertanyaanku." tegas Xana.


"Hufft! Pertama aku nggak punya yang namanya wanita lain jadi kita bercerai bukan karena wanita. Ke dua aku emang nggak memungkiri kalo kita nggak saling cinta! lagi pula dalam hal ini kamu yang paling di untungkan, nona!" jawab Dante.


"Oh, jadi seperti itu! kalo gitu aku juga akan langsung pada intinya tuan." ucap Xana.


"Pertama sampai kapan pun kita nggak akan pernah bercerai. Ke dua mau kamu suka wanita lain atau berkencan dengan wanita manapun aku nggak peduli asalkan kamu merahasiakanya dariku. Selamanya kita akan tetap menjadi sepasang suami istri, kalo kamu nggak suka kita tinggal batalkan pernikahan ini, gampang kan!" ucap Xana sambil tersenyum.



Dante heran, bingung dan tidak percaya kalau dia mendengar sendiri kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang wanita apa lagi dia yang akan menjadi istrinya.


Roxana menolak semua materi dan ke mewahan dari tunjangan perceraian mereka dan memutuskan untuk menjadi suami istri untuk selamanya walau pun tanpa adanya rasa cinta di antara mereka.


"Ap-apa maksud kamu?" tanya Dante untuk memastikan lagi.



"Jadi kamu ingin tetap menjadi istriku walau pun tanpa cinta di antara kita! Apakah kekayaan yang kamu inginkan sampai kamu memutuskan tetap menjadi istriku?" tanya Dante.


"Walaupun kamu kehilangan semua kekayaanmu itu aku akan tetap menjadi istrimu karena kalau kamu menerima kita akan terikat janji suci pernikahan." jawab Xana.


"Jadi putuskanlah kamu mau tetap menikah denganku atau membatalkanya, pikirkan dengan baik sebelum terlambat! Oh,ya tentu saja jika kamu membatalkan pernikahan iki maka kamu yang harus ngomong sama tuan dan nyonya Mahardika." ucap Xana sambil tersenyum dengan banyak makna.


"Aku akan pikirkan lagi! kalau sudah selesai aku akan mengantarmu pulang." ucap Dante sambil memijit plipis kepalanya.


Dante merasa sakit kepala gara-gara perkataan Roxana. Setelah itu Dante mengantar Roxana pulang dengan selamat, Dante juga berkata akan segera menghubungi Roxana secepatnya.


Roxana tidak terlalu mendengarkan perkataan Dante karena ia merasa marah dengan perbuatan kakaknya. Roxana tidak menyangka Roland tega membohongi dirinya demi menyelamatkan Rosite.


Di dalam mobil sesekali Dante melirik ke arah Roxana, ia melihat wajah Roxana tampak begitu banyak pikiran dan tidak fokus dengan apa yang di katakan Dante barusan.


"Apakah kamu tau jika aku masih sekolah di bangku SMA?" tanya Xana.


"Emm! iya, aku dengar dari kakek.Setelah menikah pun aku tidak berniat untuk menghentikan studymu! jadi kamu masih bisa melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat tinggi." ucap Dante.


"Berarti kamu setuju menikah denganku?" goda Xana.


"Ehem! itu masih ku pikirkan." jawab Dante.


"Oh!" kata Xana.


Setibanya di depan rumah keluarga Wiranata,Dante membukakan pintu mobil untuk Roxana,Xana pun merasa jika Dante tak sepenuhnya berdarah dingin.


"Apa kamu mau mampir dulu?" tanya Xana.


"Tidak! lain waktu saja." jawab Dante.


Saat Dante akan berpamitan pulang tiba-tiba Rosite keluar untuk menyambut Seno Wijaya yang pernah menjadi teman masa kecil bagi Roxana,Roland dan juga Rosite.


"Hemm! emang bener tadi aku datang ke tempat pertemuan, itu semua berkat kamu sama kak Roland, jadi makasih ya!" ucap Xana menyindir.


"Ah! Dan asal kamu tau kalau yang menikah bukan kakek Bayu tapi cucunya, dan perkenalkan dia adalah cucu kakek Bayu!" ucap Xana.


"Ap-apa? jadi dia calon suami kak Xana?" tanya Rosi tak percaya.


"Benar!" jawab Xana.


Roxana pun mencubit pinggang Dante mengisyaratkan agar Dante memperkenalkan dirinya kepada Rosite.


"Oh, perkenalkan saya Dante Mahardika cucu dari pak Bayu Mahardika!" kata Dante sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Rosite Wiranata." ucap Rosi sambil menjabat tangan Dante.


"Aku kira Pak Bayu yang mau nikah,nggak taunya cucunya. Kalo kayak gini kak Xana bakal bahagia dong." batin Rosite.


Tak lama kemudian setelah perkenalan singkat itu. Tiba-tiba ada mobil berhenti di depan rumah keluarga Wiranata. Rosite yang sudah menduga siapa yang datang itu, terlihat amat sangat senang.



"Hai, Xa apa kabar?" tanya Seno sambil mengelus kepala Xana.


Seno yang datang pertama kali hanya melihat Xana seorang, itu membuat Rosi sedikit sakit hati.


"Aku juga disini kali Kak!" ucap Rosi getir.


"Hehe! iya,aku tau cuma belum sempat nyapa kamu." ucap Seno sambil tertawa.


"Oh,iya Xa gimana sekolah kamu? lancar kan?" tanya Seno.


"Allhamdulillah semua lancar kak!" ucap Xana.


Roxana dan Seno mengobrol sangat seru, sampai Rosi menjadi jengkel begitu pula Dante yang melihat mereka asyik mengobrol merasa sedikit tidak nyaman.


"Oh,ya kak Seno udah tau belum! ini calon suaminya kak Xana lo!" ucap Rosi.


"Ah,iya maaf, saya telat memperkenalkan diri! Saya Seno Wijaya, teman masa kecil Xana dan Rosi juga Roland tentunya." ucap Seno.


"Perkenalkan juga saya Dante Mahardika!" ucap Dante.


"Kalo gitu aku pulang dulu ya Xa! sampai jumpa lagi." pamit Dante.


"Baiklah, hati-hati!" jawab Xana sambil melambaikan tangan.


"Kalian sudah akrab?"tanya Rosi.


"Bukan urusan kamu!" jawab Xana.


"Mari kak Seno kita masuk!" ajak Xana.


Rosite yang melihat menjadi sangat geram terhadap Xana, ia berpikir dirinya yang menunggu malah Xana yang dapat untung. Rosi semakin tidak terima akan semua keberuntungan yang di miliki Xana.


Setelah masuk ke dalam rumah semua orang justru hanya memperhatikan Seno dan juga Rosi. Dirinya seperti tidak terlihat di mata para keluarga lainya.


Sorot mata yang terluka terpancar dari mata Roxana yang indah, ia tidak menyangka kalau keluarga sedarahnya akan begitu tega dan dingin terhadapnya.Padahal harapan kecil dari lubuk hati Roxana yang terdalam hanyalah kasih sayang dan cinta dari keluarganya.


^^^Bersambung😊^^^