
Saat Roxana keluar dari kamar Dante. Dante pun terduduk lemas karena menahan debaran didalam hatinya.
"Sialan! Aku harus bagaimana menahan situasi seperti ini!" gumam Dante.
Sedangkan Roxana yang baru keluar dari kamar Dante pun terus memegangi dadanya yang juga sangat berdebar.
"Gila! Apa yang aku pikirkan tentang mas Dante sih! Dia kan emang ganteng banget dari sananya." guman Roxana.
Setelan mereka berdua bersiap-siap,kini Dante dan Roxana duduk dimeja makan berdua untuk sarapan pagi.
"Kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu?" tanya Dante.
"Oh! Aku mau ke supermarket mas. Beberapa kebutuhan bulanan aku abis jadi harus segera beli, biasanya titip bik Inah tapi sekarang bibik pulang kampung!" jawab Roxana.
"Kamu mau keluar disaat kamu sakit seperti itu?" tanya Dante.
"Aku udah sembuh kok mas, jadi....!" kata Roxana.
"Nggak boleh! Kamu harus istirahat dirumah,soal kebutuhan kamu nanti biar aku yang urus, kamu tinggal kirim pesan apa aja yang di butuhkan." perintah Dante.
"Ya! Udah kalo gitu!" jawab Roxana.
"Aku ke kantor dulu!" pamit Dante.
"Iya, hati-hati dijalan mas." kata Roxana.
"Apa yang kamu makan itu? Jangan makan makanan sembarangan disaat kamu masih sakit. Itu nggak baik untuk kesembuhan!" kata Dante tegas.
"Iya-iya!" ucap Roxana sambil meletakan lolipopnya.
"Dasar! Ini kan cuma lolipop dan nggak makanan sembarangan juga.Lagi kesambet apa sih aneh banget hari ini?" batin Roxana.
Dante pun langsung buru-buru keluar dari rumahnya setelah memberi perintah aneh pada Roxana.
"Sial! Jika seperti ini terus aku nggak mungkin bisa berpikir normal,perasaan aku juga nggak bisa terkendali.Kenapa dia bisa secantik dan semenggoda itu sih?" gumam Dante.
Dalam perjalanan menuju ke kantor Dante selalu kepikiran tentang Roxana istri kecilnya itu.
Saat tiba di kantor Dante meminta kepada srkertarisnya semua pekerjaan yang masih belum selesai.
"Apa ini sudah semua?" tanya Dante kepada sekertarisnya.
"Su-sudah pak!" jawab Risa sedikit takut karena melihat aura Dante yang semakin dingin.
"Apa Fery sudah datang?" tanya Dante lagi.
"Sudah pak! Pak Fery ada diruangannya!" jawab Risa.
"Panggilkan dia!" perintah Dante.
"Baik! Apa ada lagi pak?" tanya Risa sebelum keluar.
Dante hanya menggeleng kepalanya dengan aura yang masih sangat dingin.
Beberapa saat kemudian Fery masuk ke ruangan Dante dengan espresi santai dan hangatnya saat menyapa Risa di luar kantor Dante.
"Ada apa memanggilku? Aku punya banyak pekerjaan sebelum berangkat ke perusahaan yang ada di luar Negeri." keluh Fery.
"Ngapain kamu ke perusahaan cabang?" tanya Dante.
"Serius kamu tanya? Bukankah waktu itu aku sudah bilang kalo perusahaan cabang ada beberapa masalah yang mengharuskan kita kesana." jawab Fery tak habis pikir dengan atassn sekaligus temannya itu.
Dante pun berpikir sejenak memikirkan tentang perusahaan cabangnya yang ada di Amerika.
Dante pun kini berdiskusi penting dengan Fery. Fery pun heran kenapa temannya yang dingin itu berubah menjadi baik hati.
"Apa kamu yakin?" tanya Fery.
"Iya,itu keputusan akhir yang baik!" jawab Dante.
"Baiklah,terserah padamu saja lagi pula kan kamu CEO nya!" ucap Fery.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Dante, dan pesan itu dari Roxana.Ketika Dante memikirkan wajah dan senyuman Roxana hati Dante pun berdebar tak karuan lagi.
"Sial! Baru juga sebentar teralihkan dan fokus kerja,sekarang kepikiran lagi!" gumam Dante.
Dante pun melihat daftar keperluan bulanan Roxana,ia kaget karena ada juga pesanan untuk tamu Roxana yang datang setiap bulan.
Dante berpikir untuk membeli semua itu saat ia pulang nanti, kalau menyuruh Risa tidak enak juga karena mengganggu pekerjaanya.
...****...
Disisi lain kediaman Wiranata,Rian yang melihat Rosite akhir-akhir ini tidak ikut sarapan dan makan malam pun bertanya-tanya.
"Ma,kenapa Rosi jarang sekali ikut kita makan bersama?" tanya Rian kepada istrinya.
"Em! Itu pa, sebenarnya Rosi sibuk mencari kerja untuk membantu perekonomian keluarga kita." bohong Bella istri Rian.
"Apa? Kenapa Rosi harus repot-repot mencari kerja?" tanya Rian.
"Iya,ma! Aku dan papa kan masih kerja,ngapain Rosi harus ikut menanggung beban ini juga?" tanya Roland.
"Kalian kan tau Rosi anak yang baik berhati lembut,dia tidak tega mendengar keluarga kita berada dalam krisis." jawab Bella pura-pura.
"Seandainya Roxana juga seperti Rosi yang memikirkan keluarga ini, pasti kita semua bisa hidup tenang! Betapa malangnya Rosiku sayang." kata Bella berbohong.
Rian dan Roland pun sempat mempunyai pikiran bahwa Roxana sangat tega terhadap mereka keluarganya sendiri.
Rian pun mencoba menghubungi Roxana ke nomor telepon rumah keluarga Mahardika.Roxana yang tidak mempunyai kesibukan pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
Disaat yang bersamaan kini Bella ke kamar Rosite untuk memberitahu putrinya bahwa rencana mereka berhasil.
"Sayang,rencana kita berjalan dengan lancar!" ucap Bella.
"Sudah aku bilangkan ma! Kalo papa ama kak Roland nggak mungkin diem aja kalo lihat aku kesusahan!" ucap Rosite.
"Putri mama,memang paling cerdas! Kita bisa untung kalo rencananya semakin lancar!" ucap Bella sambil tertawa bahagia.
"Mama tenang aja! Aku nggak mungkin ngebiarin wanita itu hidup bahagia!" ucap Rosite.
Kini Rian sedang duduk disebuah cafe guna menunggu Roxana yang tak kunjung datang.Sedangkan Roxana sebagai anak tidak mau mengecewakan orang tua.
Roxana pun dengan perasaan tak karuan datang menemui Rian tanpa bilang kepada Dante.Roxana berpikir jika ia bilang kepada suaminya,ia tidak akan mendapat izin dari Dante.
Hati Roxana merasa sangat senang karena papanya ingin bertemu setelah sekian lama,Roxana berpikir mungkin Rian merindukan anaknya itu setelah kepergian Roxana.
"Pa,maaf apa aku terlambat?" tanya Roxana.
"Oh! Xana,tidak papa juga baru sampai!" bohong Rian.
"Gimana kabar papa sama kak Roland? Baik-baik saja kan!" tanya Roxana dengan khawatir.
"Xa! Ada yang perlu papa bicarakan!" ucap Rian dingin.
"Ah! Ternyata papa ingin bertemu bukan karena merindukanku! Tapi ada maksud lain, bodohnya aku." batin Roxana.
"Iya,ada apa pa!" kata Roxana.
"Bisakan kamu mengatakan pada suami kamu,untuk membantu perusahaan papa!Tidak banyak, dia hanya perlu memberikan dana yang cukup untuk melangsungkan bisnis papa!" ucap Rian.
"Entahlah pa! Aku merasa tidak enak pada suamiku.Waktu itu keluarga Mahardika bukannya sudah memberikan satu proyek bisnis untuk papa dan juga mahar yang sangat banyakkan!" kata Roxana berusaha menolak.
"Cuma satu proyek saja kamu banggakan. Lihat adik kamu Rosi dia sampai jarang ikut makan bersama karena merasa khawatir,coba sedikit saja kamu contoh sifat baik hati Rosi.Jangan jadi anak yang tidak tahu diri dan balas budi." kesal Rian.
"Tapi pa! satu proyek yang papa maksud itu bernilai puluhan milliar pa! Apa itu masih kurang buat papa dan kak Roland." ucap Roxana.
"Dasar anak kurang ajar,tidak tahu diuntung percuma papa membesarkan anak seperti kamu! Dalam hati papa, papa merasa menyesal,kenapa bukan Rosi yang menjadi putri kandungku." marah Rian kepada Roxana sambil berlalu pergi.
"Jika papa menyesal seharusnya papa mengirimku pergi bersama mama!" batin Roxana.
^^^Bersambung😊^^^