ROXANA

ROXANA
Kehilangan.



Tiga hari pun telah berlalu, Roxana pun masih mengurung diri di kamarnya. Sedangkan Rosite semakin takut kalau Xana tidak mau menikah dengan keluarga Mahardika maka dirinya lah harus menikah.


"Bagaimana ini Kak? kalau kak Xana menolak maka aku yang harus menikah." ucap Rosi.


"Tenanglah Rosi! kakak dan papa akan mencari jalan keluarnya." kata Roland.


Saat semua orang sedang berkumpul didepan pintu kamar Xana untuk membujuknya. Xana masih tak bergeming dan tak membukakan pintu kamarnya.


"Xa buka pintunya!" perintah Roland.


"Iya Xa! mari kita bicara!" ucap Rian.


"Nak, keluarlah dan kita bicara baik-baik!" ucap Bella.


Saat semua orang sedang berusaha membujuk Xana, tiba-tiba Haryanto pun datang dan marah-marah.


"Rian! Rian! Dimana kamu?" teriak Haryanto.


Seorang pembatu memberitahu Haryanto kalau semua orang sedang berkumpul didepan kamar Roxana. Tanpa pikir panjang Haryanto pun langsung menuju ke kamar Xana.


"Apa kalian semua sudah gila? Hah! Kalian ingin memaksa Xana menikah di usia yang mana masih seorang siswi SMA?" teriak Haryanto ketika tiba didepan kamar Xana.


Roxana pun mendengar teriakan kakeknya dan merasa sedikit lega.Disaat semua orang memaksanya menikah, kakeknya lah yang tak memaksa dan masih berada dipihaknya.


"Pa, dengarkan penjelasanku dulu! kita bicara baik-baik ya!" ucap Rian.


"Kamu sebagai orang tua yang mengabaikan anaknya selama bertahun-tahun,kini memaksanya untuk menikah, punya hak apa kamu?" teriak Haryanto.


"Dia tetap putriku pa! aku berhak memutuskan masa depannya. Jika Xana tidak menikah apa papa tega membiarkan Rosi yang menikah diusia yang terbilang masih dibawah umur?" kata Rian.


"Putri kandungmu itu Roxana bukan Rosite! apa otakmu sudah rusak? kamu memaksa Xana menikah demi melindungi putri sambung mu?" ucap Haryanto menahan marah.


Roxana yang mendengar dibalik pintu kamarnya pun semakin kecewa dan sakit hati,ia menangis tanpa henti, betapa pentingnya Rosite dibanding dirinya.


"Kami semua juga bingung pa! tiba-tiba surat lamaran datang setelah pak Bayu Mahardika bertemu dengan kami dimuseum waktu itu!" ucap Rian serba salah.


"Itu urusan kamu dengan putri sambungmu. Dan tidak ada hubungannya dengan Xana karena pak Bayu tidak melihat Xana! Aku akan membawa Xana pergi dari rumah ini untuk selamanya." ucap Haryanto tegas.


Haryanto pun mengetuk pintu kamar Xana dan tidak lama Xana membuka pintu untuk kakeknya dengan berderai air mata. Namun terlihat Rian semakin marah kepada Haryanto dan Xana.


"Papa tidak punya hak membawa Xana keluar dari rumah ini! dia putriku bukan putri papa, jadi lebih baik papa tidak usah ikut campur dalam urusan keluarga Rian!" teriak Rian marah.


"Dasar anak tidak tahu diri!" ucap Haryanto.


"Papa yang tidak tahu diri!" kata Rian sambil menarik tangan Xana.


Haryanto pun sangat terkejut dia tidak menyangka bahwa putranya yang selalu patuh dengan ucapannya kini membantah bahkan marah kepada dirinya. Dada Haryanto terasa sangat sakit dan kolaps pun terjadi.


"Kek! kakek!" teriak Xana.


"Kek,bangun kek! kakek kenapa?" teriak Xana di iringi tangis yang memilukan.


Roxana pun menyuruh pembantunya memanggil ambulan dan berniat membawa sang kakek ke Rumah Sakit. Rian dan Roland pun terkejut melihat Haryanto pingsan.


"Pa kita bawa kakek ke Rumah Sakit dulu ya!" ucap Roland panik.


"Baik,ayo kita bawa kakek dulu!" ucap Rian.


Setelah mobil ambulan tiba, Haryanto pun dibawa kerumah sakit dan hanya Roxana yang naik ke mobil ambulan bersama Haryanto. Sedangkan Rian dan tiga orang lainya menaiki mobil pribadi.


Saat di dalam ambulan Haryanto pun sempat tersadar untuk beberapa waktu. "Sayang!" panggil Haryanto kepada Xana.


Haryanto hanya mengangguk menenangkan Xana yang waktu itu masih terisak tangis.


"Cucu tersayang kakek hiduplah dengan bahagia sesuai keinginanmu!" ucap Haryanto."


"Iya,iya kek! Xana akan hidup dengan sangat bahagia bersama kakek." ucap Xana menahan tangis.


Haryanto pun merasa tenang dan juga lega mendengar perkataan cucu tersayangnya itu.Haryanto hanya mengulas senyum di bibirnya saat Xana terlihat gelisah.


Sesampainya mereka di rumah sakit,Haryanto langsung di larikan ke ruang ICU, Xana pun menunggu dengan gelisah di luar ruangan itu. Tak lama kemudian Rian dan keluarga lainnya pun tiba dan menghampiri Xana.


"Jika bukan karena kak Xana kakek nggak akan masuk rumah sakit!" ucap Rosite.



"Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu! ini semua justru karena kamu tau nggak?" ucap Xana tegas.


Rosite pun merasa itu sebagian memang karena dirinya.Rosi pun terlihat sedikit kecewa.


"Sudah cukup! kalian berdua jangan bertengkar." ucap Rian.


Mereka semua pun masih menunggu dengan sangat cemas di luar ruang ICU, dalam benak Xana ia tak akan mampu menanggung semua rasa kecewa dari keluarganya jika tidak ada Haryanto di sisinya.


Ketika sedang menunggu tiba-tiba seorang suster keluar dari ruangan tersebut,seketika Roxana bangkit dari duduknya dan bertanya kepada suster tersebut.


"Sus! bagaimana keadaan kakek saya?" tanya Xana.


"Anda tenang dulu ya! kami akan berusaha yang terbaik." kata suster tersebut.


Roxana hanya mengangguk pelan tanda mengerti, ia tak mau bertanya lebih jauh lagi karena ia tak mau mengganggu pekerjaan suster tersebut.


...****...


Setelah lama menunggu akhirnya dokter pun keluar dari ruang ICU itu.Namun dari wajah sang dokter sudah terlihat bahwa sudah tidak ada harapan bagi Haryanto.


"Dok! bagaimana keadaan kakek saya?" tanya Xana.


"Iya, Dok! bagaimana papa saya?" tanya Rian.


"Maaf! kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi Allah berkehendak lain,semoga anda sekeluarga di beri ketabahan." ucap Dokter tersebut.


"Nggak! Nggak mungkin kakek ninggalin Xana!" ucap Roxana histeris dan berlari menghampiri jenazah sang kakek.


Roxana menangis sejadi-jadinya karena ia tak menyaka kakek yang selalu ada di sisinya, kakek yang selalu perhatian dan sayang kepadanya telah pergi untuk selama-lamanya.


Xana terus memeluk tubuh kakeknya yang dibawa oleh para perawat menuju ke ruang jenazah.


"Nggak! jangan bawa kakek pergi! tolong biarkan aku ikut bersama kakek, aku mohon!" teriak Xana di iringi isak tangis.


Roxana pun menangis histeris dan sampai tersungkur dilantai ketika jenazah sang kakek di bawa pergi. Sepasang mata pun tertarik dengan suara tangisan Xana yang sangat pilu,ia memperhatikan Xana yang terus menangis.


Dalam hati pemuda itu timbul rasa iba yang sangat dalam, selama ia memperhatikan Xana menangis hatinya pun ikut terasa sesak.



"Kasihan sekali dia! ia menangis sampai seperti itu!" ucap Dante.


Saat mengambil hasil cek kesehatan neneknya yaitu Sukma,Dante yang waktu itu akan pulang tak sengaja melihat dan mendengar Xana menangis terisak-isak.Tangisan Xana pun menghentikan langkah kaki Dante.


^^^Bersambung😊😊^^^