
Seorang gadis bernama Roxana mendapat diskriminasi dari keluarganya, sejak ibu kandung dari Roxana meninggal dunia. Bahkan kakak kandung dari Roxana pun ikut mengabaikan dirinya sejak Rian Wiranata ayah dari Roxana Wiranata dan Roland Wiranata menikah lagi.
Marina wiranata adalah ibu dari Roxana dan Roland saat Xana berumur enam tahun dan Roland berumur emat belas tahun, Marina meninggal akibat sakit.
Satu tahun setelah kematian Marina, Rian Wiranata, ayah dari Roxana dan Roland menikah dengan seorang janda cantik yang mempunyai satu putri bernama Rosite. Sejak saat itulah kehidupan Roxana berubah.
"Roland, Xana! perkenalkan mereka berdua adalah ibu dan adik kalian."
Deg...Hati Xana dan Roland tiba-tiba terasa seperti ada sesuatu yang sulit dijelaskan.
Roland terpana melihat wajah imut dan cantik dari Rosite,sedangkan Xana terpana melihat wajah dari ibu tirinya yang sedikit mirip Marina.
"Halo!" sapa Rosite yang berumur enam tahun.
"Ha...Halo! Rosi, mulai sekarang aku dan Xana akan menjadi kakakmu." ucap Roland dengan penuh sayang.
Xana yang melihat sedikit perubahan dari kakaknya itu hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Sejak kehadiran Bella dan Rosi yang menjadi anggota baru dirumah keluarga wiranata, kehidupan Xana pun berubah drastis. Xana tak lagi mendapat perhatian dari ayah mau pun kakaknya.
Sosok putri dirumah Wiranata sepenuhnya terisi dan dipenuhi perhatian hanya untuk Rosite.
Suatu pagi dirumah Rian Wiranata, Xana baru bangun tidur dan turun untuk sarapan pagi. Di bawah sudah terlihat papa,mama, adik dan juga kakaknya yang sedang bercanda dan tertawa bahagia.
Perasaan sedih dan iri melintas di hati Xana yang masih berumur tujuh tahun.Xana juga berharap bisa bercanda dan tertawa dengan keluarga tercintanya.
"Pagi Pa, Ma!" sapa Xana.
"Oh! Pagi juga Roxana, kamu baru bangun?" tanya papa Xana.
"Iya Pa!" jawab Xana.
Rian pun mengajak seluruh keluarganya untuk sarapan pagi bersama. Ketika mereka sedang makan tiba-tiba Xana berbicara dengan papa dan mamanya.
"Pa! besok ada rapat wali murid disekolah Xana, kata bu Guru penting jadi papa disuruh hadir." ucap Xana.
"Besok? Oh, maaf Xana besok papa sama mama harus menghadiri acara disekolah Rosi!" jawab Rian.
"Oh, begitu!" kata Xana yang terlihat sedih.
Roxana selesai sarapan terlebih dulu dan kembali ke kamarnya, ia berniat meminta sang kakak untuk hadir di rapat tersebut. Setelah menunggu cukup lama Xana pergi menemui kakaknya.
tok,tok
Suara Xana mengetuk pintu kamar kakaknya. Setelah beberapa lama menunggu namun tidak ada jawaban Xana pun memutuskan masuk ke kamar kakaknya.
"Kak Roland!" panggil Xana
Xana pun terkejut melihat kakaknya sedang asik membacakan buku untuk Rosi di ruang membacanya.
"Oh, Xana! ada apa?" tanya Roland.
"Em! anu kak! apa kakak bisa hadir dirapat sekolah besok?" tanya Xana.
"Em...." pikir Roland.
Rosi yang melihat menjadi sedikit terganggu, Rosi berpikir bahwa kakaknya paling menyayangi dirinya tapi ternyata kakaknya masih tetap menyayangi Roxana.
"Tidak bisa! kakak harus hadir diacara sekolah Rosi!" rengek Rosite.
"Tapi kan Rosi, papa dan mama sudah hadir di acara Rosi, jadi biarkan kakak menghadiri rapat di sekolah kak Xana ya!" ucap Xana.
"Tidak bisa! pokoknya tidak." ucap Rosite sambil menahan air matanya.
"Hem! baiklah aku akan hadir di acara sekolah Rosi, jadi jangan menangis ya!" bujuk Roland.
"Kak Roland! lalu siapa yang hadir di rapat Xana besok?" tanya Xana.
Roland berpikir sejenak ia tidak mau mengecewakan Rosi yang dia anggap adik tercintanya.
"Xana! kamu kan sudah besar, jadi walau tidak ada yang hadir kamu pasti bisa kan, lagi pula itu hanya rapat biasa! kasihan Rosi jika aku tidak hadir." ucap Roland tanpa memikirkan perasaan Xana.
Setelah perkataan kakaknya Xana pun kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih, ia berpikir kalau semua orang dirumahnya berubah, Xana tidak lagi dipedulikan atau pun di anggap.
Waktu pun berlalu, selama berjalanya waktu yang dilalui Roxana selama itu juga dia harus selalu mengalah dan meralakan apa pun untuk adiknya Rosite. Kini Roxana sudah menjadi remaja yang amat sangat cantik.
Roxana selalu hidup dalam bayang-bayang Rosite, apa pun yang Xana inginkan dan sukai selama Rosite menginginkan dan menyukai apa pun itu Xana harus mengalah. Sejak kecil itu sudah menjadi penerapan dalam keluarga Wiranata.
Sesekali Roxana bisa menjadi dirinya sendiri saat ia bersama kakeknya, Haryanto Wiranata adalah kakek dari sang ayah, Haryanto sangat menyayangi Roxana karena dia sedikit tahu bahwa Xana mendapat perlakuan yang tidak adil dari keluarganya.
Di suatu sore saat libur sekolah, Xana sedang membaca dihalaman rumah dibawah pohon yang rindang nan sejuk, ia mendapat kiriman buku dari sang kakek.
"Kak Xana!" panggil Rosite.
"Iya, Rosi, ada apa?" tanya Xana.
"Keluar yuk!" ajak Rosi.
"Nggak ah! kata papa kan kita nggak boleh keluar kalo nggak izin dulu!"tolak Xana.
"Ya ampun kak, masak kakak masih takut aja sih!" kata Rosi.
Xana hanya mengangguk dan melanjutkan membaca bukunya.
"Huh!... itu buku apa kak?" tanya Rosi.
"Oh, ini hadiah dari kakek!" jawab Xana.
"Kok kakak dapat hadiah, sedangkan aku nggak, aku kan juga cucunya kakek!" geram Rosi.
Saat Rosi terlihat sedikit kesal tiba-tiba Roland datang menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ini? sepertinya putri kecil kakak terlihat kesal!" kata Roland.
"Itu,tuh kak! kak Xana dapat hadiah dari kakek sedangkan aku nggak dikasih! dan lagi sekarang aku sudah enam belas tahun kak, aku sudah besar." kesal Rosite.
"Baiklah-baiklah, kamu sudah besar, gimana kalo kakak ajak ke toko buku aja sebagai ganti hadiah dari kakek?" tanya Roland.
"Beneran nih kak! awas kalo bohong!" kata Rosite.
"Kapan sih kakak pernah bohong sama kamu sayang!" ucap Roland yang penuh kasih.
"Em, anu kak! apa boleh Xana ikut?" kata Roxana.
"Eh, nggak boleh kata kak Xana kan tadi nggak mau pas aku ajak keluar, katanya takut papa marah." ucap Rosi.
"Maaf Xana bukanya kakak nggak mau ajak kamu tapi hari ini kakak sudah janji mau ajak Rosi pergi berdua, lain kali nggak masalah kan!" ucap Roland.
"Baiklah kak!" kata Xana sambil mengangukan kepala dan tersenyum tipis.
Dalam pikiran Xana, lagi-lagi ia terabaikan oleh kakak kandungnya sendiri,sejak kecil sampai sekarang ia harus selalu menahan rasa kecewa dan iri karena Rosite.
Lebih dari sepuluh tahun ia bersabar dengan keadaan yang ia rasakan saat itu, ia hanya manusia biasa entah sampai kapan ia masih bisa bertahan dan bersabar dengan keadaan yang seperti itu.